Monday, December 19, 2005

Something Good in Monday

Absolutely rewarding being a woman when reading this line in Monday late-afternoon,

"Like anyone else, there are days I feel beautiful and days I don't and when I don't, I do something about it"
(Cherryl Tiegs - Model)

written at femina's give away new calendar 2006.
done by me by putting my lovely pearls' necklace to brighten my black wardrobe today.

Can't wait new year 2006 with its new hopessss(s) and new blessingsssssss(s)

Monday, December 12, 2005

Siapa yang Salah?

Heboh. Benar2 heboh. Saat dia bergoyang, penonton menjadi riuh. Saat dia bernyanyi, suara pas2an pun tak lagi menjadi persoalan. Lagu apa pun tidak menjadi masalah. Lebih penting saat dia bergoyang. Menguasai panggung dengan lekuk tubuhnya yang “tak bertulang”, dengan gerakan2 yg mengundang helaan nafas beberapa orang.

Yang menyukainya segera seakan berlari mendekati panggung. Yang benar2 tidak menyukainya segera beranjak pergi. Ada juga yang tidak mengerti apakah mereka suka atau tidak suka, dan memilih untuk tetap tinggal menonton demi rasa penasaran. Ada juga yang mengaku bingung untuk bereaksi. Dibilang suka tapi yah kog tidak suka. Dibilang tidak suka tapi masih “kuat” untuk menikmati hiburan yang dipertontonkan. Memang, ada yang tidak suka tapi tetap menonton demi rasa penasaran, tapi mungkin juga ada yang suka tetap menonton dengan diam termangu atas nama ja-im (jaga image). Ada juga yang terpaksa menonton demi menunggu pengumuman doorprize memperebutkan home theatre.

Itulah kondisi yang gw liat di penampilan seorang artis dangdut yg tengah naik daun di acara tahunan Ste.Barbe Day 2005 di kantor gw. Menurut sejarahnya. acara Ste. Barbe merupakan budaya di negara2 Eropa Barat (khususnya yg masyarakatnya mayoritas katolik). Pada "Ste.Barbe Day" menurut tanggalan katolik, masyarakat pertambangan (termasuk oil & gas industry) mengucap doa syukur atas hasil tambang selama setahun dan memohon perlindungan sang Sainte Barbe (= Santa Barbara) untuk masa tambang tahun berikutnya. Seiring jaman berlalu, pergerakan budaya pun berubah. Acara Ste.Barbe sekarang ini kebanyakan menjadi ajang pesta, walau tetap ada unsur "laporan hasil tambang" selama setahun. Hiburan dan makan-makan pun menjadi bagian yg lebih penting daripada doa permohonan dan ucapan syukur.

Sama halnya dengan perayaan Ste. Barbe di kantor gw yg sarat dengan suasana hiburan, makan-makan dan door prize. Meski pada hari itu juga, "Bapak Pimpinan" mengumumkan "hasil tambang" tahun lalu dan menghimbau para karyawan untuk bekerja lebih baik di tahun mendatang. Tak ada unsur agamis sama sekali. Wajar saja, Perancis sekarang pun sudah "laique" (= non-religious dalam kegiatan lain selain kegiatan yg ditujukan untuk keagamaan).

Sang artis membuat pernyataan bahwa dia hanya menghibur. Sementara penonton pun membuat pernyataan bahwa mereka hanya menonton sebuah hiburan. Urusan itu maksiat atau bukan, tidaklah menjadi tanggung jawab mereka. Menghibur adalah bagian dari pekerjaan hari2nya, periuk nasi sang artis. Tanpa melihat mengapa dia harus melakukan hiburan seperti "itu". Lalu, siapa yang salah?

Kontroversi berjalan terus tentang pantas atau tidaknya artis “panas” menghibur masyarakat yang (sebagian) mengaku bukan kelas “buruh”. Yang gw sesali, bukanlah nasi telah menjadi bubur karena kekurang pengetahuan penyelenggara tentang kebiasaan panggung sang artis, melainkan noda hitam oleh segelintir orang.

Beberapa menudingnya telah memanaskan birahi selama dua jam meliuk2-liuk. Ia pun dituding pantas menerima perilaku kurang ajar yang terekam oleh gambar2 yang telah beredar luas. Peredaran foto di jaman sekarang ini sangatlah mudah sejalan dengan internet dan email, tapi berpikirkah orang yang mengirim bahwa perbuatannya itu merubah nasib seseorang?

Gw jadi teringat pengalaman mewawancarai dan menyaksikan langsung kehidupan WTS yang dilokalisasi di Kali Jodoh, Jakarta. Walau tidak setuju dengan cara yg ditempuhnya, tapi begitu kuatnya keterdesakan yang membuat mereka mencari jalan keluar yg mudah demi kehidupan yg lebih baik. Kehidupan yang dirasa pantas untuk dirinya, keluarganya, kebanyakan dari mereka untuk anak2nya. Siapa yg salah?

Mungkin demikian halnya dengan para artis atau pun penari latar yang saat ini marak dengan baju minim dan gerakan meliuk2kan tubuh secara sensual. Menjual suara saja menjadi tidak cukup. Ada yang menjual tubuh dan lekukannya dengan elegan dan tidak menjadi tontonan publik, namun tidak sedikit pula yg menjualnya untuk kalangan jutaan penonton televisi.

Masyarakat awam pun mempunyai beragam reaksi. Ada yg suka ada yg tidak suka. Siapa yg salah kalau pornografi dan pornoaksi begitu sulit dihapuskan?
Bukankah ini aksi dan reaksi? Ada gula ada semut.
Salahkah mereka yg menyukai tontonan itu?
Salahkan mereka yg terpaksa mempertontokan tubuhnya (yg awalnya) demi sesuap nasi?
Bisakah mereka yg mencemooh membantu mereka keluar dari lingkaran setan? Bukan dengan doa, namun dengan perbuatan nyata.
Bisakah mereka membantu dengan memutuskan rantai mafia perdagangan artis atau pun WTS?
Bertanggung jawabkah masyarakat terhadap kehidupan anak mereka?

Waktu gw sendiri berada berhadap2an dengan mereka, gw bener2 speechless. Gw gak bisa membenarkan pilihan mereka, tapi saat itu gw juga gak bisa menolong mereka. Namun, saatnya sekarang gw bisa menolong mereka. Gw memang gak bisa terjun langsung seperti beberapa teman gw, tapi moga2 kesempatan membantu di belakang layar bisa memberi mereka pengetahuan, menuju hidup yang lebih bermartabat dan "socially correct".

Gw jadi teringat lagu lama “Kupu-kupu Malam" oleh Mbak Titiek Puspa, yg dinyanyikan (kembali) oleh Ariel Peterpan,

Ada yang benci dirinya
Ada yang butuh dirinya
Ada yang berlutut mencintanya
Ada pula yang kejam menyiksa dirinya

Ini hidup wanita si kupu-kupu malam
Bekerja bertaruh seluruh jiwa raga
Bibir senyum, kata halus merayu memanja
Kepada setiap mereka yang datang

Dosakah yang dia kerjakan
Sucikah mereka yang datang
Kadang dia tersenyum dalam tangis
Kadang dia menangis di dalam senyuman

Oh .. apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tau Tuhan penyayang umatnya
Oh .. apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tau hanyalah menyambung nyawa

7 Desember 2005, Ste.Barbe Day