Sunday, August 27, 2006

Catatan Pinggir

Hari ini gw berulang tahun yg ke-31 dan offically join "over 30 club" - hehehe. Gw buka hari ini tepat jam 00:00 WITA dengan laporan kepada kepada Sang Pencipta atas keberadaan gw dan ucapan terima kasih untuk kesempatan setahun telah berlalu sejak laporan tahunan yg terakhir. Kami memperbincangkan hal2 yg menurut gw mengecewakan hatiNya karna kenakalan2 gw. Gw juga (tetep) mempertanyakan hal2 yg sampai sekarang pun gw gak ngerti kenapa harus terjadi. Gw minta ampunan untuk kenakalan2 gw, dan (tetep juga) minta pertolongan, perlindungan dan pengertian baru untuk satu tahun ke depan, kalau itu seturut kehendakNya.

Selesai acara ritual tahunan itu, hp gw nyalain dan mulailah masuk 2 sms, tentunya dari orang2 terdekat. Hmm, sempat sedih juga lho - kog sms? Seraya menghibur diri, yah kemajuan teknologi dong! Setelah mebaca dua sms selama beberapa menit, telpon berdering. Hmmm ternyata sms saat gw gak bisa dihubungi. Terima kasih yaa.

Pagi2 sekali gw dibangunkan oleh dering telpon dari mama tersayang. Selamat ulang tahun ya 'nak. Semoga kau senantiasa menghitung hari2mu dan berkat ditambahkan kepadamu. Mama yg tidak pernah berubah, selalu memohon berkat ditambahkan kepada gw terus. Terima kasih ya Ma.
Dilanjutkanlah hari ini dengan telpon, SMS, MMS, email bahkan notifikasi transfer uang hadiah ulang tahun! Ada rasa haru sekaligus bahagia, walau ada juga selintas sedih yg better keep away from this posting.

Seminggu kemaren ini gw habiskan dengan bersosialisasi dengan banyak kalangan yg berbeda2, dari satu farewell ke farewell yg lain sehubungan dengan kepindahan gw ke jakarta. Dari hingar bingar karaoke selama 5 jam nonstop, farewell ala photographer dengan memotret landmark Balikpapan yg telah berubah warna catnya, main bowling yg akhirnya kesampaian juga dengan seorang kenalan yg sudah beberapa kali mengajak dan juga berkenalan dg kenalan2 baru. Dan satu yang tak akan terlupakan tentunya makan2 sederhana masakan para guru SD13 yg mengamini kepergian gw sebagai yg terbaik buat gw walaupun mereka harus "kehilangan". Setelah semuanya itu happening in a short period, sungguh suatu kado ulang tahun yg berbeda, ucapan syukur yg berbeda, kalau di hari ultah gw ini gw pengen just with myself and be the real me. Thanks God It's My Birthday.

Hanya satu catatan pinggir yg sempat gw obrolin dengan seseorang, kog gw kangen yah dengan kartu2 ulang tahun yg sampai saat ini gw keep darinya maupun dari teman2 yg jauh sekali pun. Melo banget gak seh! Gw gak tahu keadaan yg sebenarnya saat teman2 gw itu memilih kartu, membuat kartu atau pun membeli kartu2 itu. Yg gw ingat dulu (gak terlalu lama sebenarnya), gw akan berjalan dari satu toko ke toko lain hanya sekedar mencari kartu yg pas untuk teman yg berulang tahun. Lalu kami masing2 akan menuliskan selamat dengan tulisan tangan masing2. Atau dengan (ya) kemajuan teknologi, gw akan browsing ke greeting card software da memilih kartu yg pas untuk sang penerima.

Dengan rasa penasaran ingin tahu, gw membuka kembali kartu2 yg sudah gw susun rapih untuk packing ke Jakarta dan membacanya kembali. Guess what! Of course, the most interesting are the ones sent by my best friends. Ada kartu yg depannya gambar snowy lagi ngangkat bulan. Gw ingat kartu itu bikin gw terharu banget. Ceritanya beberapa waktu sebelumnya waktu gw ditanya mau kado apa, jawaban gw "mau diambilin bulan". Satu jawaban yg memang ngaco tapi sebenarnya ada latar belakangnya waktu itu. Tapi, tanpa dinyana dan disangka, di hari ulang tahun itu gw beneran dikasih bulan. Tentu Bang senang banget yah waktu bisa nemuin kartu itu. Ada juga kartu dari Erly yg bikin gw terpingkal pingkal dengan gambar dua wanita tua di bagian sampul yg bertuliskan "Let’s be friends until we're old". Kartu tweety dari adek2 gw dengan komentarnya yg bikin gw terharu banget. Ada kartu Forget Me Not dengan ucapan yg gw banget... thanks John, I will stay warm! Ada hati dari karton tebal lengkap dengan gambar2 yg gw suka khasnya Lea-Ardi... uuuuh, miss you guys. Belum lagi Joyce yg memang gak pernah lupa ultah gw yg mengirimkan kartu kecil dengan alasan supaya gw bisa naronya di dompet. Jo, kartunya dah lecek jadinya dah gw laminating tapi gak gw taro di dompet lagi takut rusak, gpp yah. Ini kalo diterusin bisa panjang daftar kartu dan ucapan2nya walaupun daftar pengirimnya memang gak panjang, tapi kirimannya yg rutin dan celotehannya yg bukan contekan ataupun ucapan klasik, meneguhkan satu hal yg gw percaya bahwa true friends make a deep-hard-cement footprints in life.

Kebiasaan mengirim kartu ultah memang sudah gak happening lagi saat ini. Kemajuan teknologi menggantikannya dengan kiriman ucapan via email, SMS, MMS, dll. Sudah jarang (dan memang terbukti jarang) orang akan mencoba memberikan personal touch di hari yg pernah menjadi puncak kebahagiaan pasangan suami-istri yg melihat buah cintanya dalam wujud seorang bayi. Suatu hari yg sampai saat ini gw nikmati betul saat mengunjungi teman2 yg melahirkan dan melihat keajaiban aura muka seorang ibu baru yg tak akan terlupakan.

Gw bukan anti teknologi bahkan termasuk yg sangat peka teknologi untuk mewujudkan billions of possibility. Tapi gw juga orang yg menjunjung tinggi personal touch. Jadi, buat teman2 gw, kalau sampai suatu saat nanti gw ngasih ucapan selamat lewat apa pun: kartu, kado, bahkan email ataupun SMS, MMS tapi gak ada personal touchnya dan yg pasti ucapannya bukan gw banget, tolong diingetin yah :-))

*posting ini gw tuliskan sebelum barusan aja gw baca tulisan parodi gaya hidup ala Samuel Mulia yg di salah satu bagiannya mengutip hal yg kurang lebih sama tentang kiriman kartu ultah. Padahal lo dan gw kan gak kenal ya dan kenapa juga tulisan lo terbitnya pas gw ultah - buat gw ini so coincidence banget gak seehh - ... hehehe...

Sunday, August 20, 2006

Merayakan Kemerdekaan

Tanggal 17 yl sebagai bangsa, bangsa Indonesia merayakan peringatan HARI kemerdekaan. Ulasan di Tempo edisi khusus tentang kemerdekaan cukup membuat hati agak miris dengan kenyataan malam ini kemerdekaan gw untuk berada di rumah gw sendiri di-injak2 atas nama kemerdekaan bertetangga.

Tadi siang gw sudah membayangkan nge-net edisi-weekendnya telkomnet ditemani dengan secangkir kopi dan kripik singkong yg sengaja gw beli, sambil melihat kebolehan keempat raja/ratu SMS AFI di Indosiar. Suatu rencana sederhana untuk menikmati hari-hari terakhir berada di rumah itu. Betapa kagetnya gw saat pulang abis beli kripik singkong itu, menemukan carport rumah gw, yg jelas2 adalah wilayah teritorial rumah gw, sudah tersusun rapi meja2 lengkap dengan tenda di depannya. Tentunya gw yg merasa tidak punya hajatan menjadi heran, kaget namun sempat ge-er berpikir, "wah, ada surprise party nih".

Ternyata bukan surprise party buat gw *kirain, hehehe*, melainkan surprise surprise tetangga2 mau "party" dan pinjam carport rumah gw. *Mengutip istilah beken* IMHO, mbok ya kalau mau memakai teritorial tetangga adalah sepatutnya untuk meminta ijin terlebih dahulu. Ini namanya trespassing, bung.

Tentunya gw menegur dengan baik-baik. Jawaban yg gw terima tidak mengenakkan karna diucapkan dengan nada tinggi, "Lho, selama ini kan 'Mbak ijinkan kami pakai!". Mengulang nada heran yg sama tapi tidak tinggi gw menjawab, "Lho, selama ini kan bapak/ibu meminta ijin sebelumnya untuk memakai. Tentunya selama saya tidak terganggu, saya ijinkan. Tapi hari ini terus terang (maaf) saya kaget menemukan kondisi dalam rumah saya jadi begini. Padahal tadi sebelum saya pergi, saya masih bertegur sapa dengan bapak/ibu, tapi tidak ada pemberitahuan apa2". Jawaban balasannya sungguh mengejutkan, "Yah 'Mbak, beginilah artinya hidup bertetangga". Hmm, permintaan maaf yg sempat gw harapkan pun tidak ada.

Sungguh tidak masuk di akal gw. Namun bukan saat yg tepat kalau gw langsung marah2 dan mengobrak abrik meja2 dan tenda yg telah terpasang rapi. Mereka sedang merayakan arti kemerdekaan hidup bertetangga menurut definisi mereka, dan seakan memaksa gw menerima resiko kemerdekaan mereka itu. Gw tidak mau memperpanjang masalah ini, sebab gw tahu resikonya akan mengarah ke yg tidak2 di negri bhinneka tunggal ika ini. Ambil laptop dan langsung menuju nge-net yg gw idam2kan. Berusaha menikmati efek positifnya kalau gw bisa nge-net dengan sambungan LAN yg jauh lebih cepat dan gratis.

Hanya ijinkanlah gw untuk menjadi heran. Kalau memang inilah artinya hidup bertetangga, apakah sebegitu susahnya "meminta ijin" "kulonuwun" "punten" "permisi". Mereka jelas2 lebih tua dari gw dan sudah banyak makan asam garam kehidupan seperti yg sering dibangga2kan. Tentu banyaknya tidak sebanding dengan generasi tanpa bedil dan bambu runcing seperti gw. Tapi, toleransi bertetangga yg diajarkan di depan mata gw dan anak2 mereka pun menjadi mentah.

Hari ini, tiga hari saja sejak perayaan HUT (HARI ULANG TAHUN) kemerdekaan RI yg ke-61, gw mempertanyakan arti kemerdekaan bertetangga.*sigh*

Monday, August 07, 2006

Bukan 13

Dari ibu2 SD 13 gw tahu keadaan yg sebenarnya terjadi hari Senin minggu lalu di Gunung Bakaran Balikpapan. Di suratkabar daerah memang dituliskan peristiwa angin puting beliung, tapi cerita mereka ini ibaratnya laporan pandangan mata yg tentu buat gw lebih akurat. Saat itu memang terjadi angin "deras" dari arah laut. Percaya akan ada tsunami orang2 berlarian ke daerah yg lebih tinggi ataupun atas rumahnya. Apa mau dikata, ternyata yg datang bukan tsunami melainkan angin puting beliung, mereka pun terluka oleh atap rumah ambruk atau melayang. Barulah terpikirkan bahwa mungkin lebih aman di bawah saja, toh tidak ada air. Tapi kalau benar tsunami, mungkin memang lebih aman di atas. Bagaimana ini? Apa atau siapa pemberi warning yg paling ampuh?

Tiga kejadian besar ini dimulai tanggal 12,
12 Mei 1998 - Tragedi Trisakti
12 Okt 2002 - Bom Bali
12 Jul 2006 - Dimulainya Perang Israel-Libanon
Mahasiswa dan orang2 sipil pun menjadi korban. Mungkin bukan tanggal 13 yg seharusnya ditakuti. Mungkin 12. Mungkin 9. Mungkin juga 31. Atau mungkin sebenarnya setiap hari selalu ada saja "kejahatan" menanti dan tak pandang bulu lagi. Oleh karenanya menurut Bang Napi: WASPADALAH.

Dunia menjadi tidak aman. Kita menjadi benar2 tidak berdaya. Tak mudah untuk benar2 tahu siapa teman atau lawan. Jangankan skala dunia, di sekeliling kita saja menjadi tidak aman. Ada gempa dan letusan gunung api yg setiap saat bisa menghadang. Bukan mau menyalahkan kuasaNya, tapi memang betul2 tidak tertebak "pergerakannya". Belum lagi banjir dan tanah longsor yg adalah notabene ulah manusia juga. Setelah membaca email pertanyaan dan gerutuan seorang teman tentang masalah Israel-Libanon yg semakin brutal, gw menanyakan, "Pembenaran bagaimana kalau perang adalah sama dengan membunuh?"

Penculikan anak yg sedang marak di Jakarta, pemberian narkoba dalam bentuk permen manis atau pun perkenalannya di jajanan anak2, penjambretan membabi buta, bahkan di headline suratkabar daerah "Garong semakin berani". Bagaimana mungkin ini terjadi? Himpitan ekonomi kah sehingga menculik/merampok/menggarong menjadi pembenaran?
-my two cents on this-

Dengan banyaknya kejadian yg berlangsung ini, sungguh bak oase tadi pagi membaca a touching story from India. Walaupun ini fiksi atau bukan memang tidak jelas, tapi sungguh touchy. Gw percaya masih banyak Sindu2 lain di muka bumi ini, to make this world a better place for EVERYONE.


- kutipan cerita dimulai:
Janji

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran, "Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan."

Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu, tampak ketakutan air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India /curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno dan mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada "cooling effect".

Aku mengambil mangkok dan berkata, "Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah." Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku.
Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata, "Boleh ayah, akan aku makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta..." agak ragu2 sejenak... "... akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaanku?"

Aku menjawab, "Oh pasti sayang".
Sindu tanya sekali lagi, "Betul ayah?"
"Yah pasti.." sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.
Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, "Janji" kata istriku.
Aku sedikit khawatir dan berkata: "Sindu jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang." Sindu menjawab, "Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang2 mahal kok."

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya.

Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin pada hari Minggu.
Istriku spontan berkata, "Permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin!" Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita. Aku coba membujuk: "Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak." Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, "Tidak ada 'Yah, tak ada keinginan lain," kata Sindu.

Aku coba memohon kepada Sindu, "Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami." Sindu dengan menangis berkata, "Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya aku menghabiskan nasi susu asam itu Dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan aku kenapa ayah sekarang mau menarik perkataan Ayah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala ) untuk memenuhi janjinya raja rela memberikan tahta, kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri."

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, "Janji kita harus ditepati." Secara serentak istri dan ibuku berkata apakah aku sudah gila.
"Tidak," jawabku, "Kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri."
"Sindu permintaanmu akan kami penuhi."

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus. Hari Senin aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya Dan melambaikan tangan kepadaku sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya. Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak, "Sindu tolong tunggu saya." yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki2 itu botak, aku berpikir mungkin "botak" model jaman sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata, "Anak anda Sindu, benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya. Dia menderita kanker leukemia." Wanita itu berhenti berkata-kata, sejenak aku melihat air matanya mulai meleleh dipipinya. "Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena chemotherapy kepalanya menjadi botak, jadi dia tidak mau pergi kesekolah takut diejek oleh teman2 sekelasnya.
Nah, Minggu lalu Sindu datang ke rumah Dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia."

Aku berdiri terpaku dan tidak terasa air mataku meleleh. Malaikat kecilku tolong ajarkanku tentang arti sebuah kasih.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Wednesday, August 02, 2006

Doing Some Homeworks

Minggu ini adalah minggu medis. Dimulai dengan medical check-up (mcu) tahunan yg harus gw jalanin tgl 25 yl yg dilanjutkan dengan beberapa follow-upnya. Usia bertambah memang. Jika dibandingkan dengan mobil standard sih, onderdil2 tubuh gw masih jauh lebih baik untuk usia yg sama, cuman yah terkadang sang pemiliknya ini lho yg suka masukin bensin kotor, oli2 gak bener, tune-upnya gak teratur, ngukur pressure bannya jg sesekali... intinya, cuman maintenance taonannya doang yg bisa di-two thumbs up. Huuh, mengutip iklan shampo di tv, andai onderdil2 itu bisa bicara... hehehe... dan sekarang, ia mulai berbicara dan gw pun mencoba untuk mendengarkannya.

Seorang teman setelah divaksinasi melihat kejanggalan di pembuluh darahnya yg menjadi terlihat lebih jelas di permukaan kulit. Tentu saja terjadi reaksi jawab gw, vaksin itu kan memasukkan "bibit penyakit" yg telah dilemahkan supaya tubuh membentuk antibodi untuk penyakit tersebut. Maunya sih tubuh benar2 dalam kondisi prima dulu pas dimasukin "bibit penyakit". Namun setelah dilakukan sesuatu yg baik namun sederhana, hal tersebut menghilang. Mau tau lebih lanjut tentang vaksin, ada di sini di antaranya.

Tepat setelah mcu, gw dihadapkan pada seseorang yg kalau dilihat kapasitasnya *menurut gw* seharusnya berpikir dulu sebelum berbicara. Sayangnya lawan bicaranya adalah gw yg tidak dengan mudah menerima mentah2 omongonnya. Please deh areee gene...

"Emang dia ngomong apa sih 'Tha?"
"Dia bilang tanpa ba bi bu kalau gw gak harus konsul ke dokter A, dan dia mempertanyakan keputusan TS-nya di depan gw (TS=teman sejawat). Padahal dia mereksa gw juga kagak dan tahu apa dia tanpa meriksa, toh bukan sesuatu yg kelihatan dengan kasat mata. Duh, kog gak berpikir dulu sebelum bicara yah?"

Omongannya dan omongan2 tanpa berpikir seperti itu, buat gw cukup dikaliin nol aja, yg berarti sama dengan nol.

Kecewa.kecewa.kecewa... Untuk kesekian kalinya dengan orang yg sama, padahal bukan sekali ini saja feedback dilontarkan kepadanya. Gw bilang, tolong jangan asal ngomong dong. Apa salahnya kalau saya ke dokter A untuk memastikan buatanNya masih dalam kondisi baik2 saja, toh dr.A adalah ahlinya yg lebih pantas memastikan jika memang ada apa2. Terlebih gw ngebandingin dengan dia yg hanya ngomong bahkan memeriksa pun enggak. Dia terdiam. Diam. Diam.

Syukurlah gw mengalikan nol omongannya, karena setelah berkonsultasi dengan ahlinya terbukti jelas kalau omongan asbun tersebut (maaf) adalah sampah, dan jika mempercayainya mungkin adalah kesalahan tak termaafkan buat gw. *toeng toeng*

Berpikir dulu sebelum berbicara memang sulit, terutama apabila kita kurang informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam proporsi yang tepat. Gw terkadang terjebak dengan "proporsi yg tepat" ini. Misalnya saja kutipan posting yg diimel teman gw beberapa waktu yl tentang seseorang yg berkomentar "Avian flu saja kok ditakuti, wong cuma 30-an orang yang mati di Indonesia." Komentar tersebut jelas dibahas oleh orang2 yg lebih mengerti hal tsb dg "proporsi yg tepat" yg gw kutip berikut: "Jelas komentar tersebut tanpa berpikir sama sekali karena ia tidak mengenai dasar historis tentang flu yang mematikan (seperti Spanish Flu 1918 yang memakan jutaan korban) dan betapa virus flu yang telah bermutasi akan sangat mudah menular di antara sesama manusia (bayangkan dengan hanya menghirup udara di mana seorang penderita hirup, maka kita semua akan tertulari)". Waduh... bahaya juga yah kalau yg ngomong gak takut itu jadi strategi kesehatan nasional. Berlebihan juga sih kalau terlalu paranaoid, tapi for most of things principal such one's life, better preventive than sorry *I think*.

Gw berusaha at least yah untuk "do my homework", berusaha mengenali latar belakang apa yang dibicarakan, apa suasana berbicara dan dengan siapa gw bicara sebelum membuka mulut. Terkadang with love ones, family and friends, we (somehow allow) to do (lots of) mistakes, but (for example) that will not be the case with the immigration - no visa means no entry *full stop*

Kalau di-ricek ulang hal ini sih pengaruh kebiasaan di rumah dan juga di sekolah, terutama saat gw SMA (dulu). Itu terekam dengan jelas sampai saat ini. Di atas meja kepala sekolah ada plakat bertuliskan "FIKIR" dengan huruf besar, teman2 satu sekolah gw mesti mengenali plakat tersebut dengan sangat baik. Terlepas dari sang kepsek yg memang strength dalam banyak hal, namun satu hal yg melekat di antara kami adalah di saat kami mau menghadap beliau, kami kudu mikir dulu apa yg mau kami omong. Kami tahu kalau asbun mesti kami akan keluar dengan dongkol dan tidak menyenangkan. Kami mencoba mempelajari dulu moodnya beliau walau hal ini sering agak sulit dijadikan patokan. Bahkan ada beberapa teman saat itu melakukan rehearsal dulu sebelum meminta ijin untuk satu acara OSIS atau pun untuk keluar kota dengan orangtua walau ijin orangtua di tangan. Rumit banget yah buat remaja ibukota seusia kami dulu *bandel2 lagi*. Tapi ternyata banyak gunanya setelah menjalani hidup dan di usia saat ini gw sangat bersyukur kalau hal itu gak telat diajarkan. Gw bersyukur kalau itu telah terjadi saat otak ini masih sangat fresh dan mudah diinjeksi hal2 baik.

Kebiasaan itu ternyata telah menjadi suatu kepercayaan. Kejengkelan menghadapi yg tidak berpikir dahulu sebelum berbicara terkadang menjadi sangat mengganggu. Juga keharusan menghadapi pertanyaan2 yg jawabannya sudah ada di depan mata, "kalau saja mau meluangkan waktu untuk membaca baik2 sebelum bertanya, tentu pertanyaan2 seperti itu tidaklah muncul". Yah *sambil menghela nafas* namanya juga pembelajaran. Hanya yg gw sangat sayangkan jika itu dilakukan berulang2 oleh orang yg sama dengan kapasitas yg tidak sembarangan. Lewat pengalaman yg berulang2 tersebut, yah kalau ada postingan yg secara tidak langsung dapat diinterpretasikan ke gw pol dengan "missing the points" tentang apa yg gw sampaikan, sungguh buat gw hal2 seperti itu yah dikaliin nol aja. Toh yg berkomentar telah terbukti berulang2 untuk tidak berpikir dahulu sebelum berbicara dan terlalu sering "missing the points" untuk kapasitasnya yg sekarang gw pertanyakan "tidak sembarangan" itu. So, gw kaliin nol aja kali yeee... yuuks.

Apalagi kalau terjadi ke gw, mesti gw bilang "Stupid doesn't play". Itulah frase joke yg sering gw lontarkan ke diri gw kalau mempertanyakan hal yg padahal gw udah tahu atau gw tahu kemana mencari jawabannya. Jawaban itu bisa saja didapat dengan "mudah" di buku, intranet, internet ataupun kalau mentok2 yah bertanya kepada orang2 yg memang berkapasitas menjawab pertanyaan tersebut. Membaca pun bukan sekedar membaca, tapi berusaha untuk mengerti supaya tidak "missing the points", toh bukan baru belajar membaca. Ada paragraf dan ada inti kalimat, nah intinya yg perlu berusaha dimengerti.

Kemarin ada yg bertanya tentang seringnya gw jalan dengan seorang teman akhir2 ini. Hahaha tertawa juga sih kemaren itu, dan teman gw itu jg langsung nimpalin "huh, kog gak riset dulu sih". Gw jg njawab, "ya ampun, gw kenal dia sejak 2003, tepatnya di airport lounge BS, dia itu temennya temen yg gw kenal di Bpn. Sejak saat itu gw sering banget bareng meluangkan waktu untuk hobi kami ngobrol membahas artikel2, ngopi, nyalon, makan dan berolahraga, dan akhir2 ini hobi kami memotret. Jadi, sebelum lo tuh di Bpn, gw udah sering banget jalan ama dia. Bukan baru akhir2 ini aja". Dijawabnya "oo, gitu toh, kirain..." Hmmm, sepertinya makin banyak nih yg missing the points... hehehe

Tadi siang jg ada kolega yg merasa dirinya selalu menjadi tertuduh jika ada suatu kesalahan, dan ini bukan pertama kali ujarnya. Tanpa mencari tahu lebih lanjut, buat pak boss ternyata seseorang yg salah akan salah terus dan seseorang yg benar *mungkin menurut dia* akan benar terus. "huh, kog gak riset dulu sih, bukan siapa yg salah atau benar, tapi emang enak dituduh mulu'. yg sabar yah.

Setelah kejadian2 yg terjadi berulang2 dalam waktu yg bersamaan ini, gw pikir worth lah to be written that clear (hahaha...). Ini jg buat gw supaya gak jadi amnesia selektif kalau besok2 hal2 yg seperti ini terjadi lagi, tinggal mengalikannya dengan nol saja. Sama dengan nol.

As a wise man said, "be aware of what others think of you based on what you do: the good, the bad and the ugly". Hal yg jg gw sadari adalah bahwa kecerdasan seseorang adalah lewat apa yg tersurat. So, to be able to make a good "suratan", doing some homework will cost exactly nothing but a smart "suratan".