Friday, May 27, 2005

MBA in a Box

Gue ngelamar kerja, tapi kualifikasi yang diminta adalah lulusan MBA.
Gue tetep nekat aja sih ngirim lamaran, bossnya ade gw bilang kalo mereka seriously lagi mau ngisi posisi itu dan maunya lulusan MBA.
Apa dengan membaca buku MBA in a box terus gw bisa dapet gelar MBA... tentu tidaaaakkk...
tapi kalo di Balikpapan mulu juga gimana mau dapet MBA.... ihik2...

Haruskah gelar menjadi patokan?
tapi, bukankah itu merupakan salah satu tolak ukur?
Lalu, bagaimana mengukur suatu experience?

hanya track-record lah yang akhirnya berbicara....

Mau jadi MBA? siapa takuttt.... hehehe...
tapi sebelumnya, gw kayaknya harus ngabisin dulu deh baca buku "MBA in a Box"nya, biar mantap kalau memang mau memilih untuk kembali ke bangku kuliah.... okeh deh

Thursday, May 26, 2005

Hikmah macetnya Jakarta

Macetnya Jakarta selalu menjadi momen yang menyebalkan buat beberapa orang.

Nah, waktu kemarin di Jakarta, gw kedapetan di-curhatin supir taxi pada saat jalanan macet. Pak supir, namanya Pak Aziz.
Mobil Pak Aziz kami stop di pertigaan dekat rumah, gw dengan adek gw. Kami meluncur segera setelah memberitahu tujuan kami, yaitu ke Imperium lalu lanjut ke Plaza Senayan.

Sepanjang perjalanan menuju Imperium, gw share ama adek gw tentang kiat2 menghadapi TOEFL, dia waktu itu mau mengikuti ujian tsb di Imperium. Gw juga cerita2 tentang betapa bosannya gw di Balikpapan dan gw mau lamar2 kerja lagi. Dia pun bercerita tentang pekerjaannya, kecemasannya tentang rencana ke USA dan banyak hal lainnya yg kami perbincangkan.
Begitu adek gw turun, Pak Aziz mengeluarkan komentar "wah senangnya Mbak kompak dengan adiknya" dan tanpa menunggu komentar dari gw, dia langsung menambahkan "saya iri lihat Mbak bisa begitu kakak beradik"

Pembicaraan kami mengalir dengan lancar, bertolak belakang dengan suasana jalan raya yg tetap saja padat, walaupun belum jam makan siang yang memang jam lumrahnya kemacetan. Namun berhubung pembicaraan kami cukup menarik, kemacetan itu menjadi tidak menyebalkan. Sedikit berbagi dengan Pak Aziz rupanya menimbulkan motivasinya untuk segera ber"damai" dengan kakak satu2nya. Yah, moga2 saat ini diantara kedua kakak beradik itu sudah bisa menyelesaikan masalahnya.

Waktu sampai Plaza Senayan ternyata kami sudah menempuh 1.5 jam perjalanan (!) dan gw harus membayar 50 ribu, uuuhh sebal juga macet!

Wednesday, May 18, 2005

Rasa sayang itu butuh latihan

Gw lagi sebel banget sama salah satu adik gw. Dia minta miles frequent flyer gw buat jalan2. Katanya "sekalian outbound company". Sungguh, sedikit pun gak ada rasa sayang gw dengan miles gw, berapa pun dia minta gw akan kasih. Adek gw ini udah mandiri kok dan gak pernah nyusahin gw secara finansial.
Hanya gw agak concern dengan cara dia menggunakan uangnya. Selalu ada aja alasannya untuk "gak jadi kredit mobil" lah, "gak jadi DP apartment" lah, de el el yang sifatnya investasi. Tapi kalo yang namanya untuk jalan2, kok cepet banget dia rela mau spend uangnya.

Gw ngingetin dia kalo kita lagi bakalan banyak pengeluaran untuk adik yang paling kecil yang bakal masuk universitas tahun ini. Gw sendiri dah mulai kebayang pengeluaran2 buat dia. Sebenarnya concern gw ini karna gw sayang ama dia dan gw gak mau dia kecewa di kemudian hari. Boleh jadi uangnya banyak saat ini, tapi kalo gak wise-spending, nanti akan ada penyesalan.

Duh, gw kok dipusingkan dengan hal ini. Gw gak mau dia sedih dengan kenyataan - toh memang begini - tapi gw juga gak mau dia gak jalan2, tapi (menurut gw) mungkin gak sekarang sementara menurut dia gak demikian.

Ah sudahlah... biarlah nanti perjalanan hidup akan mengajarkan dia. Gw sebagai kakak melakukan bagian gw untuk ngasih tahu dia, ngingetin dia, tanpa kehilangan rasa sabar dan kehilangan rasa sayang gw ke dia.
Toh, surat pernyataan tentang miles itu tetap gw fax untuk dia. Ada yang bilang kalau cara gw itu malah gak nge-didik, tapi entah kenapa saat ini nurani gw tidak melarang gw untuk membiarkan dia jalan2 saat ini.

Gw boleh kesal dan pusing hari ini, tapi gw berjanji gak akan kehilangan sabar dan tetep sayang dia, bagaimana pun, sama dengan adik2 gw yang lain. Rasa sayang itu butuh latihan... terus dan terus lagi... jangan bete dan menyerah.Buat adik2 ku semua, "Kak Papat sayang kalian semua"

Monday, May 16, 2005

French nightmare

Baca blognya loucee yang lagi ngapalin angka2 bahasa perancis, gw jadi cekikikan sendiri... she is not the only one who gets crazy 'cause of french this week.

ada yang bilang bahasa ajaib (Olin)
ada yang bilang bahasa gebleg (**)
ada yang bilang the best creature of human (of course, the French!)

Weekend kemarin, sepulang ngajar bahasa Inggris (ehem2, udah sebulan lebih lho...), gw (berusaha) untuk belajar bahasa reseh ini, tapi nggak sukses2 amat, keasyikan nonton kejuaraan bulutangkis piala Sudirman.

Bangun pagi2 di hari Minggu, di otak gw muncul semangat 45, "mau belajar ah".
Eh bete banget gak sih, begitu mulai buka buku, otak gw susah banget diajak kompromi... lambatttttt betul... (ada yg bilang kalau umur 30 tahun konsentrasi kita mulai melemah, gw setuju banget!)
Setelah sedikit memaksakan diri, gw bisa belajar selama sejam (uehek!), itupun dibarengin dengan nonton tv, bentar2 bikin teh, dan bentar2 bebenah... payah deh pokoknya.

Akhirnya gw memutuskan untuk keluar dulu buat ganti suasana. Gw menuju tempat pencucian mobil. Gw pikir sementara nunggu mobil dicuci, gw toh bisa sambil belajar. Begitu masuk ruang tunggu.... ya ampunnn, gw ketemu Felisia, lengkap dengan buku perancis dan catatan2 nya yang memenuhi satu meja, sedang belajar bahasa perancis!!

What a 'frenchy' weekend!

Friday, May 13, 2005

Famous to Famous

Di acara Metro TV tadi malam, F to F, Bpk Menteri BUMN Sugiharto menjadi bintang famous. Beliau bertutur tentang pengalaman hidupnya. Pak Menteri menjadi juru parkir di sore dan malam hari untuk membiayai sekolahnya. (SMAnya SMA 13 di Tanjung Periok, gw jadi teringat Daul, temen kuliah gw almamater SMA 13 juga). Setelah lulus, ia harus menghidupi ibu dan ketiga adiknya, sementara bekerja dan kuliah.

Perjalanan karir Pak Menteri tidak singkat. Cita2 orangtuanya melalui namanya pun sudah berhasil diraihnya. Pak Sugiharto telah menjadi (sangat) sugih dengan penghasilan rata-rata 50,000 USD per bulan selama 4 tahun menjabat sebagai CEO di PT. Medco, plus beliau termasuk dalam jajaran CEO sukses di Asia. 'Track record' yang bersih ini lah yang menarik hati SBY untuk menempatkan beliau sebagai Meneg BUMN di kabinet.
Namun dengan menerima posisi tersebut, ia bergaji 19 juta rupiah 'saja' dan melewatkan (sementara) kesempatan untuk bergaji jauh lebih besar. Ia berujar wajar bahwa hal itu demi rakyat banyak dan sesuai dengan ideologi yang dianutnya.

Pak Sugih, nama kita mempunyai elemen yg sama, yaitu harta.
Kalau nama bapak "Sugih-Harto" (= kaya harta), sedangkan nama saya "Ully-Artha" (= harta yg cantik/baik). Semoga kesamaan tersebut bisa menjadi inspirasi saya untuk bisa sesukses Bapak... Amin...

Saya pun punya mimpi yang kurang lebih sama dengan yg Bapak tuturkan semalam. Bukan untuk menjadi kaya materi (saja), tetapi mewujudkan apa yang saya cita2kan. Bukan harus melalui diri saya, melainkan juga dengan melihatnya melalui orang-orang yang kita kasihi.

Tadi malam saya sangat tergugah.

Mungkin itu hanya sebagian kecil pengenalan saya akan Bapak, tapi by somehow, you have told me what I should do and reflect. Terima kasih banyak untuk pencerahannya. Kalau ada kesempatan, saya ingin bertemu Bapak dan menyampaikan secara pribadi bahwa saya tergugah dan Bapak 'pernah' menjadi salah seorang figur yang ikut 'menentukan' cara berpikir saya.

Thanks again and good luck untuk membawa BUMN di negeri ini menjadi milik rakyat yang bisa dibanggakan. Banyak PR yang harus Bapak kerjakan, namun saya yakin, dengan ideologi yang Bapak share semalam, asal tidak lupa jabatan, Bapak mesti bisa membenahi - walaupun mungkin tidak seluruhnya - but I do beg you, "please use this 5 years at your best! "

Good luck, God bless you!

**sebelum acara F to F gw sempet nonton ganda campuran Indonesia di Piala Sudirman, top abis, walau kalah di tangan juara dunia dari Cina, salut untuk Yunita!**

Oleh2 dari Yogyakarta

Minggu lalu gue ke Yogya.

Berikut cuplikan 'cerita' selama gw di Yogya. Sayangnya gak ada foto2 saat gw makan2 di sana, padahal mungkin itu yang 'malahan' can tell much more,hahaha... since everyday in Yogya I was very much satisfied with my 'culinerary' trip.

Ratri - Phillipe setelah Ratri mbasuh kakinya Phillipe. Selamat menempuh hidup baru yah. Bon courage!
Image hosted by Photobucket.com

Becak2 masih menghiasi suasana jalan Malioboro.
Image hosted by Photobucket.com
Puing2 reruntuhan sisa musholla Sultan di Tamansari, rencana mau dipugar tahun depan.
Image hosted by Photobucket.com
Gw sempet berwisata ke pemandian Taman Sari. Tempat ini konon adalah tempat pemandian keluarga kerajaan. Sementara ratu dan/atau selir2 Sultan mandi di kolam yang disediakan untuk mereka, Sultan memantau dari "singgasana"nya di ujung kolam (kalau di-analogikan mirip "peep show" lho - ternyata bukan budaya barat saja!). Lalu Sultan memilih salah seorang diantara para selir itu yang akan mandi bersama dengannya di kolam khusus. Konon di tempat ini dibuat "laut buatan" untuk penampungan air keperluan tempat pemandian ini.

"Gerbang Tamansari" - Ratu terpilih sedang berpose :-)

Image hosted by Photobucket.com
Makan kwetiau goreng enak - Jalan2 di Malioboro pastinya - ke pasar BeringHarjo (beli gula batu buat Imran!) - ke Mirota juga - ngirim bakpia 75 ke Bandung ;-) - makan burung dara deket UKDW - ke LIP - ke Galleria cari Bodyshop! - makan es di jl.Sagan - makan empek2 Bu Kamto - makan bakso di RS Bethesda + pecel Bandeng yg sambelnya uennakk tenan...

Makasih banget to Sherly that make my trip very much enjoyable.


Yogya 5-8 May 2005