Monday, July 24, 2006

My Shares

Selain motret model, selama dua minggu ini gw nyobain motret moving object dengan kamera Powershot A620 andalan gw selama pertandingan 17-an di kantor. Sadar juga dan udah tahu seeeh, kalo digital zoom emang gak bisa diandalin. Atau emang belom bisa? Ihiks. ..

Ada yg bilang gak fokus megangnya... hu uh
*lensa-nya A620 itu 7.2-29.3mm (equivalent dengan 35-140mm). Nah kalo focal length-nya 17.342mm, berarti masih di sekitar 90mm. So... masih bisa dibuat lebih jauh besar lagi zoom-nya. Thumbs Rule-nya, speed minimum = 1/focal length, tapi untuk kasus pocket kamera menurut gw aturan ini harus ditambah, mungkin sampai 1/(2x focal length) atau 1/(3x focal length). Nah...dari data exif foto ini sudah memenuhi itu semua. Kenapa kok kurang tajem, barangkali waktu motret gak fokus kali mbak he..he.. :P*

Yo wes, cari obyek2 yg mungkin aja kali yeee, contohnya yg satu ini, dengan filter IR (infra-red) pinjeman dari Pudz hasilnya kan lumayan cakep :-)

Lamaru beach


Di flickr gw deh udah ada beberapa foto tuh yg di-upload hasil jalan kesana kemari - mana tahu jadi terinspirasi :-P

More to come.

Enjoy!

Sunday, July 16, 2006

Kecantikan Alternative

update 18/7/06
ternyata, lagi2 seru juga yah seliweran milis tentang putri Indonesia Nadine ini... hehehe, artinya banyak yg peduli lho, walaupun kita sama2 tahu kalau cibiran gak pernah bisa menyelesaikan masalah. Ini catatan terakhir gw tentang hal ini, setelahnya move on, Indo banyak masalah bo, gempa lagi!

"Hujatan" terhadap Artika juga gak kalah dahsyat tahun lalu tapi dia pan tidak menangis dan mundur begitu saja. Saya berharap Nadine berhasil pun bukan di ajang MU ini saja, bahkan selama menjalankan "tugas"nya sebagai PI dan juga seterusnya.

Dengan sudah "mengalahkan" ribuan (bahkan mungkin jutaan!) kontestan PI, Nadine (atau siapa pun yg jadi putri Indonesia) mestinya memiliki modal (apapun itu) yg diharapkan pantas menyandangnya ataupun berada dipentas internasional begini.

Nadine tidak perlu saya bela, dia akan mampu membela dirinya sendiri.

-Artha-
lebih sering dalam keprihatinan saya tertawa *sigh*
======================================================

original posting:

Seru juga yah, di antara heboh2nya "kekonyolan" Nadine di ajang miss universe, siang ini di Oprah show ada enam orang perempuan - yg menurut gw sangat berani - mempromosikan kecantikan "orang biasa". Bentuk tubuh mereka memang tidak seperti yg dimiliki kebanyakan model yg mempromosikan sebuah produk kosmetik. Lebih2 jangan bandingin deh dengan para kontestan miss universe! Namun sang pemiliknya merasa dirinya cantik. Keenamnya di amrik dikenal sebagai Dove's girls, melalui mereka, perusahaan kosmetik Dove memang gencar2nya mempromosikan pesan secara cukup provokatif (even di US sana!). Sebenarnya bukan pesannya tapi caranya. Disebut provokatif lebih kepada penampilan keenam model tersebut dalam iklan billboard memakai underwear putih dengan tubuh yg menurut seorang street-comentator di acara itu "tidak menarik". Diantaranya ada yg memiki perut pasca melahirkan, berwarna kulit terlalu pucat, berbokong bulat, berdada tidak proposional, dlsbnya. Hal2 yg biasa dimiliki perempuan kebanyakan yg memang bukanlah ciri2 seorang model kebanyakan. Namun, hal itu memang disengaja oleh Dove untuk mempromosikan pesannya tentang "real beauty" dan "love your body" attitude. Mengutip penjelasan Oprah, Dove juga melakukan survey sebelumnya dimana hanya 2% perempuan saja yg mengaku dirinya cantik - termasuk ke-50 miss USA kali ya :-) Seru aja sih kalau ada perusahaan kosmetik yg take a risk dan memulai (kembali) this new age in commercial product publication. Will this last soon (like before) or can it survive to be a competitor to provocative "make yourself a barbie" publication? ... hehehe... will see.

Terlepas dari spekulasi komersial semata, gw membuat catatan kalau Oprah juga bilang kalau dia mau jadi bintang iklan produk kosmetik hanya bila perusahaan itu mempromosikan "love your body" attitude. Oprah sendiri pernah gemuk dan she admits that. Billions of woman, at once mesti pernah membandingkan dirinya dengan perempuan lainnya, be it bentuk tubuhnya, kecantikannya, bagian tubuhnya dll. Menurut gw, itu wajar, alamiah, natural, woman-being, tapi harus diakui juga bahwa ada bahaya laten dibalik perasaan alamiah itu. Tanpa "love yourself" and "love your body" attitude, banyak perempuan yg merasa tubuhnya jelek hanya karena "tidak berukuran 2", paha/perut gelambir, muka tidak mulus, warna kulit yg "terlalu", dstnya. Sebagian terbawa pesan komersial semata yg menyatakan harus begini dan begitu dengan tubuhnya. Sebagian bahkan go overboard dan menjadi seseorang yg anti, misalnya anti-kegemukan, anti-kecantikan, dan banyak anti2 lainnya bahkan anti-kekurusan! Padahal semuanya yg anti kan gak selalu bagus. Untuk kasus ini misalnya, kecantikan lahiriah kan anugrah dan menyenangkan untuk dilihat, apalagi kalau sang pemilik menyadarinya dengan sangat baik dan tidak anti orang jelek... hehehe...

Kalau gw sebel dengan kekonyolan Nadine yg bilang kalau Indonesia itu adalah "city", dan Mother Theresa itu adalah "him", itu karna gw menyayangkan kekonyolan tersebut dilakukan oleh seorang putri Indonesia! What a shame! Jangan2 dia gak kenal MotherTheresa? asbun? gak fasih English? nervous? bahkan "ada yg sarkastik bilang" sengaja?. Mendingan pake bahasa Indonesia biar gak belepotan gitu. Emangnya Indonesia ngarepin menang Miss Universe dengan perwakilan kayak gini?

Memang ajang miss2-an gini kadang suka menciptakan persepsi yg berbeda2, misalnya gak penting lah, gak mutu lah, sekelompok barbie melangkah di catwalk lah dan cibiran2 lainnya yg keluar dari orang2 anti. Tapi buat gw, dengan kecantikan lahiriah yg begitu, dengan uang hasil2 promosi sana sini, dengan kesempatan melanglang buana domestik maupun internasional, berbicara di ajang2 penting, - walau hanya setahun - seorang seperti Nadine ataupun kontestan miss2 lainnya itu bisa merubah "dunia". Namun sayangnya, itu hanya bisa terjadi - if and only - dia mau.

Salut untuk Jonathan Pradana Mailoa yg menjadi absolute winner di Olimpiade Fisika dan Indonesia menjadi juara pertama di Oliampiade tersebut dengan meraih 4 medali emas dan 1 medali perak. Menurut Pak Yohanes Surya sang pembina, Jonathan itu baik dalam ujian teori maupun eksperimental. Beliau juga menambahkan kalau siswa2 Indonesia tidak kalah dengan siswa2 di negara2 lebih maju (Olimpiade ini internasional!) asalkan mereka dilatih dan dipersiapkan dengan baik... dalem banget kan komentarnya itu...

Walau jadi juara Olimpiade gak menjadikan Jonathan "Mister Universe", tentunya semoga dia akan bisa merubah dunia lewat dunianya itu. Nah, miss universe juga bisa tuh merubah dunia, tentunya dengan cara yg berbeda. Masa semua orang harus cantik lahiriah, masa semua orang harus jago fisika... hehehe. Ayo Nadine belajar lagi ah supaya bisa berbahasa Inggris dengan fasih, banyak membaca supaya sedikitnya menguasai pengetahuan umum populer dan jangan lupa juga belajar mengatasi nervous di panggung (asking too much?). Nah, dengan modal yg sebenarnya tidak sedikit itu mesti kamu bisa menjawab dengan baik. Pasti bisa, kalau mau. Goodluck.

I need one hectare

Gw baru tahu kemarin kalau beruang madu (in english name as sun bear, latin name: Helarctos malayanus) membutuhkan ruang kurang lebih satu hektar untuk habitat hidupnya. Dalam areal satu hektar itulah ia ber"sosialisasi" dengan dirinya, mencari makanan lewat kulit pohon dan serangga2 tanah yg ada di "daerah kekuasaan"nya itu.

Untuk berbagai tujuan yg semata2 menguntungkan manusia, jenis beruang yg berasal dari pulau Kalimantan ini banyak diburu orang. Mereka diambil dari habitatnya dan hidup dalam habitat baru yg bukan milik mereka. Mereka menjadi tidak lagi mengerti cara hidup di alam, di tempat tinggalnya sendiri. Hal itulah yg memicu Yayasan BOS (the borneo orangutan survival foundation) untuk memelihara dan membina mereka untuk nantinya dilepaskan kembali ke habitat asalnya di hutan. BOS Samboja Lestari yg terletak di Samboja (+/-38km(?) dari Balikpapan) menyediakan tidak kurang dari 58 ha plus suaka beruang madu untuk menampung beruang2 titipan hasil penangkapan liar. Selain beruang madu dan orangutan, kemarin gw juga melihat elang yg terluka sayapnya sedang dalam perawatan. Kalau ingin tahu lebih lanjut tentang apa saja yg dilakukan yayasan ini dan (misalnya) ingin mengadopsi orangutan ataupun berdonasi, silahkan lihat di website yayasan ini, sangat informatif. Menurut Winda yg menjadi guide kami, binatang2 ini sesungguhnya tidak mengganggu manusia, asal saja mereka tidak diusik. Spesies2 ini merupakan kekayaan alam dan kebanggaan pulau Kalimantan, mari kita bantu mereka untuk tetap ada di habitat mereka. Give their one hectare needs!

Gw berseloroh tentang satu hektar tersebut dengan seorang teman. Beberapa bulan ini gw memang mengeluhkan "agak" kehilangan privacy. Bukan gw gak berbuat apa2 untuk itu, gw udah bilang terus terang bahwa ada hal2 yg bukan untuk konsumsi publik. Kalau pun ada yg over-hearing telpon gw atau pembicaraan gw dengan orang2 lain, jadwal2 gw mau kemana aja, biarlah itu menjadi pengetahuan semata. Sekarang ini gw cenderung menjaga jarak dan melakukan saran untuk memperlakukan orang2 sesuai dengan fungsi mereka masing2 (thanks ya Ratih). Ya karena itu, meski gw bukan beruang tapi gw juga butuh that "one hectare". So does everybody. Ini salah satu value yg gw junjung: everyone needs privacy, wherein s/he feels more of themselves, value what they believe, dream what they want, share things they have in passion. Then if we do respect this one hectare, quote and quote what have been said "world peace". We have more than enough space for this. You are you.

Ironis memang saat pelanggaran privacy menjadi persoalan dunia. Ada yg bilang tindakan Zizou kekanak2an. Kalau benar pernyataannya bahwa Materazzi said thing that serious and very personal dan itulah yg membuatnya marah, gw bisa mengerti banget. Dan bila seorang Zinedine Zidane mempertaruhkan "kebesaran" namanya dan rasa cintanya to the game melakukan itu, tentunya tidak main2. Gw memang tidak selalu mengikuti pertandingan sepakbola, tapi gw pernah menyaksikan sendiri betapa French mengelu2kan Zizou dan "seakan2" melupakan kehadiran orang2 lainnya dalam timnya. Mengutip satu tulisan di Kompas 16/7/06 tentang dirinya, Zinedine Zidane disebut sebagai seorang gelandang yg memiliki kemampuan menggiring (dribbling) bola dengan elegan, keseimbangan namun kelincahan luar biasa serta akurasi tembakan tepat. Bahkan ia disebut juga mungkin sebagai salah satu pemain hebat yg pernah ada. Pendapat yg sama bahkan sudah gw dengar sebelumnya lewat Mas Gaby setelah pertandingan France-Brazil di pertandingan perdelapan final. Dia bilang, "nggiring bola kayak gitu cuman punyanya Zidane". Nah, apa yg kayak gitu kekanak2 an. Suatu misteri yg belum benar2 selesai.

Gw juga baru mengalami suatu kemarahan akibat rasa sakit yg tak tertahankan. Mungkin orang lain gak akan bisa mengerti kalau tidak merasakannya sendiri. Yah demikian juga dengan Zizou, kita gak akan bisa merasakan kemarahan yg membuatnya harus "menanduk" Materazzi karna kita tidak merasakan apa yg dia rasakan saat itu. Saat diwawancarai Canal Plus hari Rabu yl, ia mengakui kalau perbuatannya itu unforgivable. Ia meminta maaf kepada anak2 yg seharusnya tidak menerima "pendidikan" seperti itu, namun ia juga menyatakan "but I don't regret anything that happenned, I accept it". Ia merasa harus melakukannya supaya yg melakukannya tidak menganggap bahwa perbuatannya benar.

Saat main bowling sabtu malam yl, ada yg menanyakan kenapa gw bisa marah sebegitunya, gw menjawabnya dengan kalem bahwa dia tidak mengerti masalah yg sesungguhnya. Untuk bisa mengerti alasan kenapa gw bisa sebegitu marahnya, gw menawarkannya untuk melakukan hal yg membuat gw sangat sakit. Sayangnya dia menyerah, jadi (mungkin) dia tidak akan bisa mengerti kenapa gw marah. Namun dia mengakui kalau dia tahu bahwa itu mesti sangat sakit. Terlepas dari rasa bersalah sudah marah2 dan gw jg sudah minta maaf untuk itu, tapi rasa ini gw kenal dengan baik, inilah rasa marah akibat kesakitan.

Tiap2 orang mempunyai ambang marah yg berbeda, ada yg marah karena hal2 sepele, ada yg sangking halusnya mengaku tidak bisa marah, dan ada juga yg tidak bisa mengungkapkan kemarahannya. Kemarahan gw dan Zizou adalah akibat telah lewatnya ambang batas kami, as simple as that. Zizou juga bilang, "Above all, I'm human". So? me too! Above all I'm human, so I do beg you to give my one hectare need. I need it badly. No worries, I'll never take yours.

Tuesday, July 04, 2006

Adu Penalti di Ujian Akhir Nasional ?

Apa persamaan eksekusi adu penalti pada pertandingan sepakbola dengan ujian akhir nasional?

Dua2nya punya aturan main.
Dua2nya membutuhkan keahlian.
Dua2nya membutuhkan courage (baca: readiness to face).
Dua2nya membutuhkan mental.
Dua2nya menentukan kemenangan.
Dan pada saat eksekusi itu tidak berhasil, dua2nya "kalah" !

Hilang sudah keahlian yg sebelumnya ditempa dan dimiliki.
Hilang sudah aturan main yg selama ini dimengerti.
Hilang sudah courage (baca: readiness to face) untuk menang.
Hilang sudah mental yg dipersiapkan.
Hilang sudah semua yg ada di belakang.
Hilang sudah kemenangan itu !

Kontroversi ujian nasional sebagai penentu kelulusan, pada kenyataannya memang mengundang protes sebelum dilaksanakan. Suaranya memang tidak secara terus menerus dan berulang2 di media2 sebagaimana halnya dengan protes ketidaklulusannya akhir2 ini. Walau sebenarnya, menurut Kompas (20/6), siswa yang tidak lulus kurang dari 10% dari keseluruhan yang mengikuti ujian. Itu juga berarti, yang lulus lebih dari 90% dan dengan nilai rata2 yg lebih baik dibandingkan dengan ujian tahun sebelumnya.

Apakah mereka yg gagal melakukan eksekusi itu, yg katanya sebagian notabene anak2 "pintar" dan pemain2 "kelas dunia"*) menyepelekan adu penalti itu dan merasa pasti lulus?

Lain halnya dengan peraturan eksekusi adu penalti pada pertandingan sepakbola yg cukup jelas, ternyata aturan main unas tidaklah jelas. Ini “mengutip” banyak pihak yg merasa baru tahu setelah ujian, bahwa ujian ini (lagi2 ternyata) merupakan penentu kelulusan. *Katakan tidak setuju sebelum terlambat. Jangan No Action Talk Only*

Di pertandingan quarters-final piala dunia 2006 antara England vs Portugal - pertandingan pertama yg gw tonton dengan full, ke-fair-an wasit asal Argentina juga dipertanyakan. Sama halnya dengan kontroversi bahwa sebagian soal2 unas itu "cocok" dengan soal2 Bimbel, ini juga mengundang pertanyaan. Sekedar kesamaan kurikulum yg jadi acuan atau? Bagaimana dengan mereka yg menyontek? Bagaimana dengan kecurangan2 pemain yg tidak terlihat wasit? Misalnya, ada yg menendang sebelum peluit dibunyikan, disengajakah untuk mengecoh kiper? Bagaimana dengan berita salah kertas ujian?

Setelah menonton dan menyaksikan dua perhelatan akbar yg mendapat porsi cukup banyak di televisi2 nasional, terlepas dari kontroversi maupun kecurangan2 yg adalah sah2 aja untuk dipertanyakan, pendapat gw adalah: dua2nya adalah pertandingan. Ada yg menang dan ada yg kalah. Maka, bersiaplah!

Penting untuk tahu medan laga. Faktor apa yg menentukan kemenangan. Siapa sang wasit. Siapkan mental dengan mengetahui aturan mainnya, mencari tahu keahlian2 apa yg diperlukan yg terkadang tidak tertulis. Tak kalah penting dan terkadang menjadi faktor kunci, siapkan mental-bagaimana yg dibutuhkan, tahu dan sadar 100% untuk mempersiapkan diri bahwa eksekusi itu akan menjadi penentu kemenangan!

Kemenangan dalam adu penalti pada pertandingan sepakbola menyangkut bermilyard2 uang taruhan, gengsi sang pemain, gengsi sang pelatih, gengsi negara dan pol dengan gengsi para pendukung fanatiknya di seluruh dunia. Masih dengan analogi yg sama, kemenangan "adu penalti" dalam unas juga menyangkut masa depan sang eksekutor. Jadi, lakukanlah dengan bertanggung jawab!

Courtesy of fifaworldcup.

*) Setelah nonton England vs. Portugal yg dimenangkan 3-1 oleh Portugal melalui adu penalti, Sabtu 1 Juli 2006.

* Penulis adalah seseorang yg pernah mempersiapkan eksekusi "adu penalti" di UMPTN 1993, ujian komprehensif untuk kelulusan Teknik Kimia - keduanya serupa tapi tak sama dengan unas. Dan saat ini mempersiapkan untuk banyak lagi adu-penalti2 lainnya yg menunggu hari ini, besok dan seterusnya.

Sunday, July 02, 2006

Kunci Jawaban

Tanggal 1 Juli identik dengan harinya Polisi. Menurut pengakuan mantan Kapolda Metro Jaya, Pak Firman Gani, rasio jumlah polisi dengan penduduk di DKI Jakarta 1:700 dengan angka kejahatan 120-200 kasus per harinya!

Apa ini kunci jawaban pertanyaan tentang keberadaan polisi pada saat dibutuhkan?

Jadi, kalau lagi ada masalah dan (dengan sangat) mengharapan pertolongan polisi dengan segera, tetapi nihil alias tidak kunjung datang, artinya dia sedang menangani salah seorang di antara 699 orang lainnya.

Sedangkan kalau distop polisi dan kena tilang (yg katanya "lagi apes" padahal udah jelas2 tahu kalo mo nyetir kudu punya sim), artinya sedang menjadi satu orang yg kena perhatiannya polisi, sedangkan diantara 699 orang lainnya bisa saja sedang mempertanyakan "duh, dimana sih polisi saat saya membutuhkannya?"

Atau, masih ada jawaban2 lainnya yg bisa dibenarkan... pan pertanyaannya bukan pilihan ganda atau benar/salah :-)

Hmm, kayaknya gak bisa deh nunggu polisi ada di tempat mulu, saingannya berat. Mendingan lakukan sesuatu supaya gak butuh polisi, yah kalo emang lagi apes memang udah digariskan begitu. hihihi.

Nah, pake helm kan untuk keslamatan sendiri yah, nah misalnya gini terus ada apa2 (misalnya), apa masih nyariin polisi? atau didaerahnya "kapak merah" yah jangan dong pake hp.

Peace yo' bantu polisi!