Monday, November 28, 2005

Kompak


Gw baru pulang dari sports meeting. Agak2 lucu memang di kantor ada "meeting" adu laga cabang2 olahraga. Gw jadi teringat classmeeting waktu jamannya SD/SMP/SMA dulu, dimana gw selalu antusias banget. Sekarang pun antusias gw dengan sports meeting sama aja. Apalagi, acaranya diadain di Lembang yg notabene kota kenangan masa2 indah dan tentunya Bandung, kota kita.

Salut untuk panitia yg telah merancang dan bisa menuntun peserta mengikuti jadwal acara yg padat dengan cukup baik. Thanks guys.

Satu yg gw lihat berbeda dari acara berbau urusan kantor atau pun acara yg melibatkan orang2 kantor, ternyata (memang) kesamaan hobi berolahraga membuat suasana silahturahmi sangat menyenangkan. Kami sangat kompak dalam berbagai hal. Kami bertanding, bertegur sapa, bercanda ria, dengan suatu semangat sportivitas yg kami kenal melalui pengalaman berolahraga.

Sungguh, suatu pengalaman yg menyenangkan. Tentunya dengan bonus foto2 indah trekking di Jayagiri, sekaligus mengenang nostalgia trekking thn 1995.

Monday, November 21, 2005

Tell Nothing but The Truth

It is true that sometimes I lie. In special circumstances, it is most likely because I have to do it. Be it not to hurt somebody or not to hurt myself. But I am not a good liar. Every time I had to lie, I am sad and have to convince myself that the opposite will be even worse. In the other side, when I tell the truth but they don't think that I am telling the truth, I am also sad. So???

Is it so difficult being a purely honest person? When somebody asks this question, I would answer 'yes', of course I am not denying that exceptions exist. But people deal with lies everyday and thank God that we have a choice to believe it or not. We have freedom to choose telling lie or not. Wondering if people always tell the truth I think is too naive.

It applies when we critique on others. Shall we tell the truth though it hurts? Or tell lie since we can't bear to see a disappointed face? When I have a choice, after thinking the consequences, I would rather tell the truth and offer myself to help him/her to remedy the pain it might causes. Though it hurts you, but believe me, I won't let you die *something poetic like that*

For me, it is an arguable statement that we have to accept all the constructive critique about ourselves or about our choice (in anything, most common in life) or about things we've taken for granted. Some say that we should accept constructive critiques for our own good, I agreed. But, who define whether or not it is constructive. When it comes to a personal choice of an adult-minded-person, I believe s/he is the only person who can make this decision, and not anybody else.

Why I say so? When people tend to critique somebody, I assume that it should be a constructive one, forget about an intentional mental-breakdown-er who like to see others fail. But, how the people accept it, is totally depend on his/her current well-being state.

It depends also on how it is delivered. And, who is the talker. One should not be a smoker when preaching a lung cancer prone by smoking hazard (a radical example). Some critique can be in a soft-spoken sound or in a thunder or desperate scream.

I would remind myself that:

1. In several cases it might started from us. We are in position to make others think that we are always in their side almost in anything (ref. Desperate-Housewives 17-11-05) . We have yet previous experience when we have a different opinion with the person.

2. Sometimes, we don't let others know us well to make our points clear. They misjudge that we are only imposing our beliefs and expecting them to be like us. Which is not always the case.

3. and some other times, we have selective amnesia by easily forgetting that we have changed, then so does other.

Oh myself, please remember these three points... always!

* for Inul, it's all up to you on how you accept the critique, but keep smiling and look forward.
** for Yanti, go go go, fight fight fight and WIN !
*** for Elly, my choices might not yours.
**** for my sister, Hana, I am happy that you made that decision.

Wednesday, November 16, 2005

Selingkuh

Ini topik basi setelah bertahun2 gw menyaksikan seliweran perselingkuhan.

Kira2 tiga minggu yg lalu, gw makan malem bareng temen lama yg sedang berkunjung ke Balikpapan. Kami saling mengupdate kehidupan masing2. Dia gak banyak berubah, masih tetap womaniser yg gw kenal; simpatik dan easy to talk to.

Pengalamannya melanglang dunia katanya somehow membuat dia yakin kalau dia harus mencari soulmatenya. Dia bilang, suatu hubungan harus membawa manfaat dan memberikan kebahagiaan *sama dengan prinsip silahturahmi yg baik yg saling membawa berkah*. Tambahnya, kalo hubungan tidak memberi kebahagiaan, alias bikin pusing, berarti hubungan itu harus berakhir. Nah, in the spirit mencari soulmate itulah dia gonta ganti “pacar”, atau yg biasanya dia sebut “teman”, teman tapi mesra.

“Yah, caranya gak gitu dong. Gimana elu mau ketemu yg pas kalo baru ada masalah dikit aja langsung bubar. Hubungan kan harus dipertahankan, bukan cuman dimulai, terus seneng2, eh pas gak cocok dikit aja langsung putus.”
"Iya sih 'Tha, tapi gw gak bisa tuh”
"Bukan gak bisa sih kalo kata gw. Elu aja yg nggak mau bertahan dan kompromi. Mau nyari yg ideal, nah elunya sendiri ideal kagak?”
"Gw nyari yg ideal buat gw”, jawabnya kalem dibarengi dengan senyumnya.

“Iya lah, gw ngerti. Tapi yah elu gak bisa dong baru kenal 2-3 bulan langsung ngarepin bisa ngertiin elu 100%. Butuh proses”, jawab gw berapi2.
“Iya, iya ‘Tha. Gw buktinya bisa cocok ama elu yah 'Tha, selingkuh aja yok”
“Udah deh, jg coba2 bikin gw nyesel nih kenal elu”
“Iya, iya, maap 'Tha. Jg marah yah, jg nyesel kenal gw. Bantuin gw dong nyariin yg cocok. Pliiiissss 'Tha. Pilihan elu kan pasti baik”
“Enggak ah. Elu cari ndiri aja, salah2 nanti pilihan gw dikadalin. Gak mau gw.”

Dia bilang dia merasa telah gagal mengenal perempuan, dan dia akan keep searching dan tetep jadi playboy. Suatu ikrar yg aneh. Gak nyambung deh. Kayaknya emang dia aja yg gak bisa lihat cewek cakep. Tapi biasanya ujung2 curhatnya ke gw akan bilang kalo si A gak enak diajak ngobrol lah, si B cemburuan lah sementara si C doyan belanja. *halah*

Cowok II.
“Halo. Eh, sayang“ ... “Iya, lagi sarapan ama Artha. Kamu dimana?”... “ehhm, bentar yah, ada telpon masuk...

“Halo. Eh, kamu“ ... “Lagi sarapan ama Artha. Kamu baik2 aja kan, suaranya kayak flu yah” …”Eh say, udah dulu yah, dah ditungguin nih buat bayar”

(kembali ke penelpon pertama)
“Maaf sayang, barusan telpon dari kontraktor. Biasa lah. Gimana tadi, kamu dimana?“
Huuuuu, sebel deh. Ngedengerin gombalan temen2 gw itu jadi hal biasa. Gw dah bilang ama temen2 gw yg tipe Don Juan alias buaya darat alias playboy ini kalo gw gak bisa terima dia mainin kaum gw, tapi di waktu yg sama gw juga gak bisa ngelarang. Mereka udah gede ah bahkan banyakan yg lebih tua dari gw. Tapi, gw gak bisa kompromi kalo mereka terus beraksi sesudah menikah. Saklar labrak langsung gw langsung ‘on’.

Bagaimana kalo kita jadi korban perselingkuhan? Kata-kata ini pernah gw berikan ke temen kuliah gw yg dikadalin cowoknya dan merasa dunia akan berakhir tanpa dia. “Ya ampun, masih banyak cowok lain lagi. Mulailah berteman lagi. Jangan berhenti mencinta hanya karna seseorang berhenti mencintaimu” easier to say than to do *sigh*
Dan saat ini dia bisa berbahagia dengan suami yg mencintainya, sementara sang mantan yg akhirnya menikahi selingkuhannya malahan diselingkuhin setelah mereka menikah. Nah lho!

Enggak aja. Gw gak mau selingkuh. Sama seperti kenapa gw gak mau ngerokok atau ngobat. Not even try. Menurut gw, selingkuh itu banyakan gak enaknya daripada enggak selingkuh. Efek samping dan akhirnya pun jelek, dan lebih2 menyakitkan banyak orang lain daripada diri sendiri.

Hindari sedini mungkin. Cobalah untuk setia. Pasti bisa. Kalo gak bisa dan pernah gagal, teruslah menghindar dan mencoba untuk tetap setia.

Stop perselingkuhan, prens.

Friday, November 11, 2005

Pertaruhan yang Mulia

Di era modern ini bisa dibilang menikah, melahirkan dan menjadi seorang ibu adalah suatu pilihan. Meski tidak demikian halnya di masa-masa sebelumnya ataupun di lingkungan masyarakat tertentu. Melahirkan dan menjadi ibu adalah kodrat yg harus dipenuhi seorang wanita dewasa. Ketidakmampuan menjadi seorang ibu pun dianggap suatu cacat.

Nining, teman dari sahabat gw, telah memilih untuk melakukan pertaruhan besar untuk menjadi seorang ibu. Anak pertamanya kembali ke pangkuan Tuhan setelah hanya dua bulan ditimang dan dipangkunya. Kemarin, Nining kembali melampaui pertaruhan mulia itu dengan melahirkan anak keduanya. Namun sebelum semuanya selesai, ternyata Tuhan punya rencana lain, ia harus kembali kepadaNya. Sang anak tidak akan pernah melihat raut wajah ibu yg telah berjuang keras dan kesakitan untuk melahirkannya di dunia ini.

Monic pun demikian. Sebelum semuanya selesai, dia harus pulang tanpa sempat melahirkan Aleyska. Mereka telah bersama abadi. Gw tahu betapa Monic sangat menyayangi Patrick dan meninggalkannya secepat itu mungkin tidak pernah terbayangkan.

Tadi malam dengan bodohnya gw sampai bertanya pada Tuhan, kenapa yah teman2 gw harus mengalami hal itu. Bukankah mereka melakukan pertaruhan nyawa tersebut bukan untuk kebahagiaan mereka semata. Meski gw percaya bahwa semuanya sudah diatur dan jadi seturut kehendakNya, gw masih butuh waktu untuk bisa memahaminya.

Mama, terimakasih yah telah melewati pertaruhan itu buat gw. Terimakasih telah memilih menjadi ibu dan melahirkan gw. Gw memang belum merasakan sendiri sakitnya persalinan, tapi gw tahu, pilihan yg Mama lakukan dengan sadar itu, mempertaruhkan nyawa mama sendiri. Terima kasih Tuhan buat mama.

Buat Nining dan Monic, tiba saatnya nanti, akan gw ceritakan pada anak-anak kalian betapa sayangnya kalian pada mereka. Gw akan tunjukin foto2 saat kita masih bersama, tertawa dan memimpikan mereka. Mereka harus tahu kalau keberadaan mereka adalah wujud cinta kalian yg bisa bersama dengan mereka selamanya. Walaupun bukan mau kalian untuk meninggalkan mereka dalam waktu yang sangat singkat, tapi gw akan sampaikan bahwa menjadi ibu mereka adalah pilihan mulia kalian. Selamat jalan teman, beristirahatlah dengan tenang.

Wednesday, November 09, 2005

Just Married

"At the end of the beginning, we don't know that there will be no the end. We keep continue to regard every step as the end of the beginning. This way we know that there will be no true the end other than faith"

[Artha for Dyah dan Krishna]

Tuesday, November 08, 2005

My simple wish

I'm not a holy one. I'm a sinner. I have God's words in my small brain but I do mistakes anyway. I am alive because I know God's wills have yet finished on me. I don't know why and when it will be. It's His secret. Nobody has right but His will.

I am deeply sad. I am not judging you either; please give me no war but peace and hope. My simple wish.

- In memoriam of two girls at their seventeen were shot by incognitos in Poso 8.11.2005 -

Monday, November 07, 2005

Writeless


Pictures tell thousand words?

My words might not enough to descripe things I explored in this trip. I tried to enjoy it to the fullest as usual though it's a bit pricy to my style. Last time I visited thousand islands was with a backpacker style, apparently not this time. I convinced myself that I deserve it :-)

Thank God, especially this time for the THR and the possibility to enjoy this beauty.

Pulau Putri, 4-6 November 2005

Thursday, November 03, 2005

Selamat Idul Fitri

Maaf. Bukan kata yg susah untuk diucapkan. Namun bukan kata untuk diumbar begitu saja. Kata maaf yg indah mewakili perasaan hati yg tulus dan ikhlas merasa bersalah memohon pengampunan. Saat kita sadar telah salah melangkah, alangkah indah menerima pengampunan dan pelukan erat yg hangat. Walau jarak memisahkan satu dengan yg lain, maaf yg tulus bisa menyatukannya kembali.

Orang marah saling berteriak sedangkan orang pacaran maunya dekat-dekat. Saat hati bersih dan tak terluka, memandang pun bisa menjadi ucapan. Namun saat hati marah dan terluka, sekedar bersuara pun menjadi tak cukup.

"Walau tangan tidak kuasa berjabat, setidaknya kata masih dapat terungkap, setulus hati mengucap: Selamat Idul Fitri, maaf lahir dan bathin."

Memang itu bukan kata-kata ciptaan gw sendiri - terimakasih untuk NN yg telah menuliskannya dengan indah. Tapi dibalik tulisan itu, adalah hati gw sendiri yg tulus meminta maaf lahir dan bathin.