Thursday, June 28, 2007

teman


kata orang kalo kita lama gak melakukan satu aktivitas tapi gak ada rasa rindu yg berarti, itu sebenarnya kita gak terlalu suka melakukan aktivitas itu. toh kalau kita benar2 suka kita akan rindu melakukannya. kalo itu benar, berarti gw gak benar2 rindu nih nulis di blog, artinya... hehehe
itulah akibatnya kalo sukanya banyak... lagi lagi... padahal waktunya tetep aja 24 jam, artinya...

udah ah, kepanjangan pendahuluannya,
artinya, kalo gw bener2 have passion, ya PASSION untuk menulis blog, mesti gw akan melakukannya sesering mungkin, tapi toh kenyataannya, terkadang waktu menulis blog gw ganti dengan ngedit foto, ngegym, ngobrol di cafe, diskusi yg penting dan gak penting.. de el el de el el

nulis di blog beda dengan teman
terkadang gw mengorbankan menulis di blog demi mendengarkan curhatan teman gw yg sebenarnya sudah berulang kali gw dengar, karena memang gw punya passion tentang pertemanan, itulah sebabnya gw lebih mentingin dengerin curhatan teman2 gw sekali pun gw capek kayak tadi... hehehe, big hug. Sebenarnya tadi tuh gw gak ngomongin soal pertemanan tapi secara ada telpon dari seorang teman di tengah2 pembicaraan tadi, jadinya kita ngobrolin masalah ini. Menulis di blog katanya bisa jadi therapy juga, jadinya gw nulis deh refleksi ini, supaya gak lupa besok2 dan supaya gw bener2 gak sedih lagi..., jangan bilangnya gak sedih lagi tapi setiap ngomongin bikin gw jadi sedih... apaan tuh? hehehe

Apa sih arti pertemanan?

There are many things that catch your eyes, but only few that catch your heart. Pursue those - NN

Gw gak tahu dan gak bisa ingat kapan gw mendapatkan kartu bertuliskan kalimat tersebut, tapi yg jelas udah lama banget. Dan itu (ternyata) berbekas sekali dalam hidup gw, lebih tepatnya terefleksikan dalam hidup gw, salah satu passion itu adalah pertemanan.

Really, gw nerima apa pun yg terjadi dengan teman gw, sekali pun dia berubah atau membuat keputusan bodoh. Tapi hubungan pertemanan bukan hubungan agape, bukan hubungan yg needs no return seperti dengan Tuhan atau ibu. kalo ada yg bilang gitu, sorry, itu bullshit.

Pertemanan adalah seutas tali yg selalu kita pegang dua arah. Tadi Nina bilang pertemanan adalah ship that never sink. Buat beberapa yg mengenal gw, determinasi gw tentang pertemanan agak aneh, sebab gw benar2 membedakan teman dengan kenalan.
jika orang yg gw gak kenal nyebrang mau ketabrak mobil,
paling gw berusaha teriak mengingatkan.
jika ia adalah seorang kenalan,
gw akan meneriakkan namanya.
jika ia adalah seorang teman,
gw berusaha menubrukkan badan gw dan menyelamatkan kami.
dan jika ia cinta agape dalam hidup gw,
gw janji akan berdiri di depannya dan berusaha menyetop mobil tersebut berapa pun harganya.

seorang teman bertanya, REALLY?? my answer is always, "try me, if you're my real friend"

Pertemanan yg gw tahu adalah teman yg menerima gw apa adanya dan demikian juga gw, pertemanan yg bukan berarti harus selalu sepaham, pertemanan yg saling mengisi dan menguatkan, pertemanan yg tidak "aji mumpung", pertemanan yg tak lekang oleh jarak dan waktu, dan yg penting adalah saat kita pegang tali itu kita tidak melepaskannya. Begitu pegangan terasa lemah, yg ada adalah saat saling menguatkan dan bukan menjauh apalagi melepaskannya, karena kita teman, dan itu cukup untuk saling mengingatkan untuk "eratkan peganganmu".

Waktu berlalu, real pertemanan mengisi hidup gw. Terus terang yg gw akui sebagai teman memang tidak banyak, kurang dari 10, tapi mereka benar2 TEMAN yg gw bisa datang ke mereka dalam suasana hati yg senang atau pun amburadul, untuk bercerita, dikuatkan, "dirajam" dengan kritikan, dicela2 bahkan nyombong atau pun narsis2an sekali pun. Menangis bersama, bersedih bersama itu beberapa kali gw lewati dengan teman. Walau gw tetep gw, seorang Artha tanpa embel2, yg tak malu menceritakan cela, namun terkadang sok2 misterius katanya, tapi gw mau ada untuk mendengarkan venting teman2 gw, apa pun itu. Cara berpikir yg kadang nyeleneh dan aneh dan gak ada malunya (which is kalo bukan temen gw pasti akan merasa ter-insult walau gw gak bermaksud gitu), katanya bikin pendapat gw jadi Artha banget... hehehe. Ciri2 khas teman2 gw, cara mereka tertawa, raut muka mereka saat sedih, gembira atau pun surprise, kesukaan2 mereka yg terkadang mereka tidak sadari, hal2 kecil yg membuat mereka senang ataupun sedih, semuanya itu terekam dengan baik di memori gw.

Tapi apa gw pernah gagal?
Jawabannya pernah dan gw merasa sangat sedih. Saat pertama bertemu, gw bener2 gak berniat menambah jumlah teman. Teman gw udah cukup "banyak" untuk menjalaninya dengan full hearted. Namun sejalan dengan sharing stories, spent time together terjalinlah hubungan pertemanan itu, dan itu TIDAK berlangsung singkat. Tapi ternyata hubungan pertemanan itu tidak cukup kuat, atau sebenarnya memang tidak pernah ada. Mungkin ada kebutuhannya yg terpenuhi saat gw ada dulu. Mungkin saat itu dia bertopeng (gak kegerahan yah?). Gw gak tahu jawaban yg sesungguhnya karena memang tidak ada penjelasan. Saat ada teman baru apalagi saat jarak memisahkan, menurut gw saat itulah pertemanan diuji. Dan gw saat ini merasa bersyukur dan tidak mau lagi sedih atau sakit hati karena pertemanan itu tidak lagi terjalin karena ibaratnya I'm not invited in her new world. Gw dah bisa nerima sekarang, ya karena gw toh tetap punya mereka yg benar2 teman2 real sebelum dia masuk dalam hidup gw. Namun tidak gw sesali, karena itu memang pembelajaran hidup. Tanpa itu gw gak akan pernah tahu bahwa sebenarnya hubungan ini satu arah. Gw malah bersyukur kalau ini tidak berlangsung dalam hitungan century seperti teman2 yg udah masuk dalam hidup gw jauh sebelum dia.

Dari obrolan tadi dengan teman gw yg juga adalah seorang psikolog, gw mendapat penjelasan akan pembelajaran tersebut. Kalau dia "berubah" hanya karena bertemu komunitas baru dan tidak lagi "dia" yg dulu kita kenal saat menjadi teman kita, dan however dia tidak mau kita ada dalam dunianya yg baru dinikmatinya itu, ya mungkin itulah kualitasnya. Pertemanan lebih kuat dari sekedar itu. Mungkin nanti saat dia dihadapkan dengan dunia baru dan bertemu dengan komunitas baru lagi, dia akan melakukan yg sama, yaitu melupakan teman2 barunya yg sekarang. Jadi, tidak ada gunanya gw sesali. Mungkin pertemanan yg pernah terjalin dengan gw dulu yah karena dia butuh teman saja di dunia yg dulunya baru buatnya dan kebetulan aja ada gw saat itu, kalau ada orang lain mungkin dia tidak akan pernah jadi teman gw.

Berubah, boleh dong, cuman yg bikin gw masih rada surprise-bingung-gak percaya adalah kenyataan kalau dengan teman2 barunya dia malah melakukan hal2 yg dulu diklaimnya tidak disukainya dengan sangat firm. Kalau dia tiba2 suka hal2 yg awalnya diklaimnya tidak disukainya tapi belakangan jadi disukainya, gw pikir cuman berubah pikiran aja. namun saat dia mengingkarinya harusnya gw dah bisa baca tuh. Nah pengingkaran2 itu, dan beberapa evidences lately kog rada membingungkan yah. Artinya, dia dulu pake topeng atau dia lagi make topeng baru lagi sekarang, atau?

Buka dulu topengmu, buka dulu topengmu, agar ku lihat wajahmu, agar ku lihat wajahmu...

Namun satu hal dalam hubungan pertemanan dengan dia itulah gw mengenal seorang teman yg sampai saat ini tetap menjadi teman gw. Itulah salah satu buah manis peninggalannya dan gw berterima kasih untuk itu dan juga untuk pembelajaran ini. Selamat tinggal sedih.