Thursday, April 30, 2009

What do I want?

"The great question which I have not been able to answer, despite my thirty years of research into the feminine soul, is
What does a woman want"

-- Sigmund Freud, who originated psychoanalysis ! (1856-1939) --

Wednesday, April 22, 2009

oMiGod

Terasa isak dalam hati gw mendengar pengakuan tersebut. Pengakuan yang Sangat Mengecewakan. Masih jelas teringat saat issue "bubar" hubungan RI 1-2: "Pers lah yang bertanggung jawab", ketika di awal tahun terjadi "hilangnya" premium: "Pertamina lah yang bertanggung jawab". Jadi, harusnya gw jangan heran kalau kembali terucap format tersebut, jawaban atas kekacauan penyelenggaraan pemilu: "KPU lah yang bertanggung jawab".
Jangan heran kalau pemenang pemilu ini sesungguhnya adalah golput 40%, dan janganlah heran kalau rakyat menjadi marah dan malah menampik kembali lemparan tanggung jawab tersebut, sebab kami memilih pemimpin untuk memimpin kami. Sebagai shareholder yg mengangkat CEO, telah kami serahkan amanah tersebut, permasalahan penyelenggaraan public service obligation, pemerintah lah yg bertanggung jawab.
Sang Jenderal bertanya, "dimana sikap ksatria yg ditanamkan selama di akademi?"
Ternyata di catatan recordnya, saat terjadi pemilihan prajurit untuk maju ke garis depan, ia masih terlalu sibuk membuat strategi2 tanpa menyiapkan senapannya, ia terlalu sibuk menggambar siapa teman dan siapa lawan, ia terlalu sibuk menganalisa dan mencari sebab2 kesalahan kekalahan perang sebelumnya... akhirnya sang ksatria pun tidak pernah berada di garis depan.
Sang Jenderal menjadi sangat kecewa karena ia tidak mempunyai pilihan lain, prajurit2 terbaiknya gugur di garis depan, lalu dengan terpaksa disodorkannya prajurit yg tidak pernah merasakan getirnya memikul tanggung jawab untuk memutuskan antara bunuh teman atau bunuh negara. Tak sanggup dia memutuskan untuk menarik pelatuk pistol atau tidak, waktu pun diulur2, dan bila saat itu tiba, format di atas menjadi "Aku harus membunuhmu, Tuhan lah yg bertanggung jawab". OMiGod.

Auk ah Gelap (2)

Maaf Kartini, perbuatan2 gw juga ga sempurna, yg terkadang sulit dimengerti dan terdengar sangat ekstrem buat beberapa orang, tapi apalah daya, kami perempuan masih dijajah. Bukan oleh sesuatu yg kelihatan tapi oleh diri kami sendiri. Kesenangan kami, kepuasaan kami lah menjadi salah satu alasan mengapa pendidikan tinggi yg kami miliki, terkadang malah menjebak sebagian dari kami untuk "membodohi" orang lain, yg terkadang adalah kaum kami sendiri. Bagian perjuangan kami perempuan2 yg beruntung bersekolah di masa ini ini bukanlah terhadap kebodohan, bukan juga larangan untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi, melainkan perjuangan untuk memelihara hati nurani supaya tidak menjadi kebal terhadap kepura2an dan kemunafikkan yg saat ini dianggap suatu kewajaran. Semakin pintar dituntut untuk semakin bisa "diajak" kerjasama, bahkan untuk melakukan hal yg tidak benar.



Maaf Kartini, kalau saat komentar gw atas perbuatan2 tersebut adalah "auk ah gelap", menantikan kapan terang itu akan datang, atau malah di luar sana sudah terang, tapi di tempat dimana gw berada inilah yg gelap. Entahlah, gw akan terus mengeksplore hal ini dengan merefleksikan kejadian2 yg terjadi di sekeliling gw, menyaring apa yg perlu gw tahu dan memilih jelas dengan siapa gw "bergaul" dan membiarkan pemikiran orang tersebut memasuki ranah berpikir gw, namun tidak yg lain. Tidak dengan mereka yg pintar berpura2 tapi tanpa dasar integritas yg bagus. Tidak dengan mereka yg berpura2 untuk kepentingan pribadi. Tidak dengan mereka yg berpura2 untuk mengambil hak mereka yg tidak berdaya. Tidak.



Maaf Kartini, perempuan Indonesia saat ini memiliki hak yg sebenarnya sudah "lebih" dari perempuan2 Eropa yg dirimu kagumi dulu. Mereka memang lebih dulu bisa mengenyam pendidikan, tapi urusan berpartisipasi politik dalam demokarasi untuk memilih dalam pemilu, kami perempuan Indonesia malahan lebih dulu menikmatinya. Bahkan seorang perempuan Indonesia pernah menjadi presiden. Perempuan Indonesia memimpin gerakan aids dunia, memberikan pengajaran kepada orang2 terhina dan berjuang di tempat2 yg dahulu sangat maskulin.



Maaf Kartini, refleksi ini tidak sempurna dan tidak bisa dibandingkan dengan surat yg kau tulis di tengah2 perjuangan batinmu dulu. Gw juga mengalami perang batin mengenai pendidikan perempuan di negri kita ini, semoga bukan melalui ceramah atau pun nasehat, tapi melalui apa yg gw selalu usahakan memberi kepada mereka yg "ditidakmampukan oleh keadaan", yaitu semangat. Energi itu ada di gw, semangat untuk tidak munafik, semangat untuk tidak cinta status quo dan semangat untuk hidup yg lebih baik. Semangat inilah yg mau gw tularkan selalu, bukan kepada mereka yg bisa menyalahgunakan semangat ini, tapi justru di tempat2 dimana semangat ini nyaris hilang. Semangat itulah yg selama ini mendorong gw untuk menyelesaikan tugas sampai garis finish nanti, semoga Tuhan merestui gw untuk membawa semangat yg positif ini terus terpelihara dan terus bantu mengembalikan gw kapan pun kembali ke rel yg diinginkanNya.
Semangat serviam.

Tuesday, April 21, 2009

Auk ah Gelap

Hari ini diperingati sebagai hari ulang tahun R.A Kartini. Peringatan ulang tahunnya yg hampir selalu dirayakan kebanyakan perempuan perkotaan di Indonesia namun sebaliknya di luar perkotaan. Ini bisa dimaklumi sebab mereka tidak mengerti apa itu perjuangan gadis kecil itu di era penjajahan, sebab sekarang pun toh mereka tidak bisa mengenyam pendidikan.
Dalam acara peringatan hari Kartini tahun lalu, gw diingatkan kembali akan surat2 yg pernah dituliskan Kartini yg kemudian dibukukan. Saat itu bukanlah surat Kartini yg dibacakan, melainkan surat yg dibuat oleh petinggi kantor gw sebagai balasan dari surat2 Kartini ! Beliau bahkan menuliskannya dalam bahasa Perancis, yg kemudian diterjemahkan olehnya dalam bahasa Indonesia dan dikoreksi oleh "guru bahasa"nya... hehehe, segitunya boss gw itu, perhatiannya sama art emang rada kelebihan bobot.

Pada perayaan yg sama itulah kembali gw mendengarkan satu quote yg sangat populer. Pernah gw tuliskan di blog ini tentang quote ini, isinya "If it doesn't kill you, it will only make you stronger". Ya, kata2 itulah yg menampik niat gw untuk menerima tawaran yg masuk saat itu, dengan semangat, "ah mau pesta 40 tahun masa sich keluar, sayang banget ga ikutan pesta", secara emang gw akui gw suka suasana pesat ... (suasana pesta beneran bukan pesta buat2an).

Sayang sekali, pada perayaan Kartini tahun ini yg akan dirayakan besok di kantor gw, tadi siang tiba2 gw ilfil banget. Tiap2 divisi diminta menyuguhkan persembahan dalam bentuk "manggung" bisa puisi, pidato etc. Divisi tentunya berembuk dulu. Sayangnya saat rembukan itu, gw ga bisa hadir karena harus follow up bank waktu itu, tapi gw titip usul. Secara gw ga ikutan, tentunya gw punya semangat utk "ikut aja deh, terserah apa aja toh gw seneng".

Kemarin saat berpapasan dg ibu koordinator, beliau langsung ngingetin soal latihan bareng sore, tentu gw njawab "iya... iya..." Begitu balik ke kantor gw, ada email pagi2 deskripsi scenario drama tersebut. Alamaaak, kaget gw, seorang perempuan yg justru sangat merendahkan perempuan lainnya malahan "terpilih" sebagai supermom??? haaaaH! Sadarkah perempuan itu bahwa walau ia merasa "lebih", itu tidak membuat dia bisa membuat perempuan lain kehilangan haknya atas suaminya. Itu sama saja dengan "menjajah" perempuan yg sangat bergantung ekonomi pada suaminya itu untuk bertahan saat cinta itu sudah berpaling. Hmmm, menyedihkan, kenapa perempuan lain yg hadir saat rembukan itu "menetapkan" ia memegang peran sebagai supermom... please deh!

Saat gw menyatakan keberatan gw dg koordinator, beliau pun mengerti posisi gw dan menyatakan tidak keberatan dengan pilihan gw. Beliau sendiri sebenarnya weekend kemarin terganggu dengan "hal sepele" ini. Gw aja ga ambil pusing mau manggung apa, gw pikir fun fun aja lah, makanya gw baru ngecek emailnya tadi. Bukan membesar2kan masalah, "toh hanya drama", tapi justru penghormatan gw juga kepada para pejuang perempuan lainnya dimana pun berada. Penghormatan atas mereka yg tidak pernah memperjuangkan gender, melainkan memperjuangkan pendidikan, bukan hanya untuk dirinya tapi untuk lebih banyak orang. Tapi, ternyata lingkungan gw begitu menyepelekan esensi perayaan tersebut (atau sebenarnya gw mempersulit... hmmm). Tapi untuk merubah drama tidak mungkin karena itu sudah disetujui yg lainnya.

Dan lagi2 di gedung ini gw lihat tanpa surprise, lagi2 lingkungan gw membuktikan, betapa mudahnya memakai topeng berpura2 demi "keuntungan pribadi". Mereka tahu perempuan itu telah melukai hati "beberapa" perempuan karena berhubungan dengan istri orang lain, mereka tahu perempuan itu telah "menelantarkan" anaknya di rumah demi holiday terselubung dengan pria lain atas nama tugas. Mereka tahu bahwa itu tidak sesuai dengan "esensi perempuan maju akibat pendidikan", yg seharusnya membuat dunia menjadi lebih berarti. Sebelumnya gw ga terlalu peduli, tapi saat perempuan2 lain di kelompok tsb "mengapprove"nya memegang peran "supermom", rasanya kepura2an ini too much. Mereka yg gw tahu siang dan (malam) bergosip membicarakan hubungan "tidak bisa dibilang gelap" perempuan ini, tapi menutup hati dan telinga membiarkannya menyandang gelar tersebut, "toh cuma drama". Tapi gw gak bisa . Gw harus mengambil posisi dimana value gw gak bisa dipermainkan begitu saja sekedar untuk "hadiah" misalnya.

Itulah kepura2an hebat yg terlalu sering gw lihat di sekeliling gw. Ini bukan office politic, karena itu lain lagi ceritanya dan gw sendiri sudah terlanjur terlibat di dalamnya (secara toh gw masih kerja di company itu, kalo ga mau terlibat office politic ya di rumah aja), namun tidak sehebat kasus ini *menurut gw*. Dalam office politic, kita bisa lihat adanya kubu2 memihak pihak2 terntentu. Nah, yg ini politik apa namanya? Saat orang "mengaku" merasa benci perbuatan perempuan tersebut, "mengaku" terganggu dengan kelakuannya, "mengaku" tidak bisa berbuat apa2 bahkan "mengaku" kalau menegur pun tidak bisa. Selalu membicarakannya di saat makan siang, mengutuki perbuatannya, bahkan lewat jalur belakang bahkan ikut campur mengurusi rumah tangganya dengan menelpon pasangan masing2. Tapi apa yg dilakukan saat di hadapan perempuan itu?.... jangankan menegur, senyum itu pasti dan *pura2 wajar*, bahkan yg terakhir ini menganugerahinya supermom... mungkin bahasa inggris di jaman edan ini supermom adalah suckmom... Entahlah, besok mesti walk out.

Katanya sebenarnya hal tersebut sudah lumrah lah jaman sekarang, "2 dari 3 laki2 selingkuh" katanya, nah berarti ada perempuannya dong dg asumsi ga semuanya selingkuh karena hombreng. Gw juga punya teman yg selingkuh, tapi mereka tidak pura2 demi image. Yang gw hormatin adalah mereka yg "menghormati" cinta yg timbul dari kedekatan tapi "menghormati" cinta itu sehingga tidak menodai cinta lain yg sudah membuahkan anak, sampai misalnya saja waktu menghampiri dan mereka boleh bersatu. Tapi kepura2an ini adalah lateral movement dari kepura2an dalam banyak hal di gedung ini. Mereka pura2 senyum, padahal dalam hati ndongkol, wajar... mereka pura2 senyum, padahal mau marah, wajar... mereka pura2 senyum, padahal demi karir, wajar.... mereka pura2 senyum, demi popularitas, wajar... sayangnya, komunitas image ini sangat dominan dalam gedung ini, hingga mana yg tulus pun membutuhkan pengalaman yg sama dan kepekaan. Tidak pernah terpikirkan oleh gw untuk menginginkan suatu jabatan dengan mendiskreditkan orang lain, tapi tetap bisa senyum bercanda dan makan siang bersama... padahal di belakang orang tersebut baru saja ia "merebut" suatu jabatan miliknya... hahaha, di sini itu wajar.

Monday, April 20, 2009

Saturday, April 18, 2009

Tentang Bapak 1 & 2

Hari ini bapa ulang tahun, sementara bapa satu lagi sudah terkubur. Sudah cukup air matamenangisi yg perlu ditangisin, intinya, gw cukup sedih ga bisa hadir di pemakaman, tapi demi hormat gw, memang lebih baik begini.

Gw punya mixed feeling dg bokap gw. Gw memiliki semua sifat positif Bapa dalam bekerja. Keras kepala-"never give up"-pasti bisa, gigih, ulet, pintar ngomong, selalu belajar dan tidak takut tidak populer. Hari ini, spesial buat kami, setelah sekian tahun bokap ga gereja, Paskah kemarin beliau gereja. Beliau menjauhkan dirinya dari Tuhan karena kekecewaannya kalau imannya "berbuat baik tidak membuatnya sukses materi karena di depan matanya teman2 yg berbuat tidak baik malahan sukses"... itulah yg merubah dia sejak saat itu dan seperti orang bilang kalau terkadang kalau terlalu sama malahan akan sulit, ya benar itu yg ada di antara kami. Materi yg dicarinya itu katanya untuk menyekolahkan kami semua sampai S1, sesederhana itulah cita2nya dulu.

Kami terlalu sama. Gw mewarisi otak "serba bisa" nya Bapa ditambah lagi dengan pendidikan yg diberikannya, makin tambah point gw di matanya, tapi justru makin berubah dia makin sulit buat gw menerimanya. Gw mau tetap setia ama Yesus, apa pun yg terjadi walau karir taruhannya. Bapa pun demikian, tapi begitu mentok, ternyata dia kecewa. Padahal sudah tertulis demikian Pak.

Peristiwa terakhir ini membuatnya sadar, dunia sudah meninggalkannya saat dia "gagal". Orang2 yg dulu "membuai"nya dengan hormat telah memperdayanya dengan memanfaatkan kebaikan hatinya. Mereka yg licik tahu bagaimana memperdaya dia. Gw melihat di depan mata, ditegur pun tidak ditanggapinya lagi, sekarang terbuka semua yg gw dan keluarga omong. Beliau tersadar dari tidur lelap, dan terima kasih Tuhan kalau Paskah kemarin beliau pergi ke gereja, kado Paskah terbesar buat gw.

Di hari ulang tahunnya ini, spesial pesan sudah gw tuliskan. Peluk cium untuknya dan doa&janji sudah terucapkan. Gw sangat hormati Bapa. Sulit sebelumnya buat gw "memperingatin" Bapa karena posisi gw sebagai anak perempuan, itulah kenapa gw benci sistim patrenal walau sekarang gw bisa menerimanya dg sedikit taktik.

Sejak Bang Parlin meninggal karena bapa-mama tidak bisa membayar kelas RS yg lebih tinggi untuknya, satu2nya abang gw meninggal karena terlambat ditanganin dokter. Itu membuat gw pengen nyembuhin orang2 sakit yg tak berdaya secara ekonomi, ya itulah cita2 gw... lengkap gambaran gw dengan cita2 punya suami berseragam ala AMD dulu.... katro dan jadul banget deh, tapi sejak gw 5 tahun sampai gw SMA yg namanya itu cita2 tidak bergerak sedikit pun, sampai akhirnya harus gw "khianati" saat mengisi form UMPTN untuk teknik. Di malam pengisian form tersebut gw bergumul berat antara mengejar cita2 gw atau mengejar cita2 bokap dulu yaitu semua anak2nya nyampe gelar S1. Malam itu berkhir dg nazar bahwa gw relakan cita2 gw dan buat dulu adek2 sekolah & lulus S1, baru setelahnya gw kejar cita2 gw. Saat itu gw yakin banget dengan Tuhan, itu tahun 1993, saat gw menjelang usia 18 tahun.

Tahun ini adek gw yg terakhir sudah lulus, betapa senang dan meluap hati gw saat adek gw itu diwisuda jadi dokter, hanya keluarga gw yg tahu yg seenar2nya cita2 gw. Apa pun yg udah gw lalui di hutan Sumatra, di helicopter Gulf of Mexico, dihina orang, ditinggalkan sahabat, dikhianati dan didekati saat butuh dan lain lain, itu semua lenyap saat adek gw lulus. Semuanya untukmu, Pak.

Saat itu gw berpikir, oke sekarang gw siap mengejar cita2 gw... gubraks, langsung ada masalah keluarga yg harus gw take care lagi, teruuuusss hehehe.... ga cukup di situ sayang... Tapi bedanya sekarang gw sudah dewasa, sudah 33 tahun, sudah sangat mengerti beban hidup keluarga saat ini dan sudah mengerti arti hidup yg sebenarnya yaitu untuk melayani. Gw tahu bukan mudah buat Bapa merelakan semua harta yg sudah dikumpulkan seumur hidup untuk diwariskan ke anak2nya... tapi, warisan terbesar yg gw dapat dari mereka sebenar2nya adalah pengenalan akan Tuhan. Walau kadang gw masih nakal, tapi gw tahu pasti kalau gw kenal Tuhan gw, dan gw tahu betapa kuatNya Dia dan kekuatanNya itulah kekuatan gw. Toh, dibuktikanNya terus... apa lagi?

Jadi, bukan kebetulan kalau di ulang tahun Bapa hari ini, bank nelpon kalau pengajuan KPR disetujui jadinya kita bisa pindah ke rumah baru Pak. Bukan kebetulan dalam minggu sejak Paskah kemarin sampai minggu ulang tahun Bapa ini, gw jelas akan pindah ke company (lagi2) impian Bapa untuk gw. Pertama kali Bapa ngomong di malam tahun baru 2008 tentang impian Bapa ini, gw ga tertarik sama perusahaan ini, tapi ternyata mereka tertarik sama gw dan terus memantau perkembangan gw. Dosen2 pun seakan2 berkonspirasi sehingga saat tawaran pekerjaan begitu sesuai "cita2 gw" membuat gw berkata tidak pun akan membuat gw tidak punya dignity ke diri gw. Akhirnya, gw memang bisa mengejar cita2 gw menjadi dokter, untuk perusahaan yg tak berdaya secara ekonomi, persis dengan cita2 gw dulu. Gw mau dan siap dan yakin gw bisa. Walau mengandalkan gw sendiri ga akan bisa, tapi gw yakin out there masih ada orang2 yg "sudah ditentukan" untuk kami bisa bekerja sama, satu demi satu dipertemukanNya dg gw akhir2 ini dan sebagian adalah org dari masa lalu yg kenal berat beban yg gw tanggung. Bukan kebetulan pastinya. Sindiran dari mediocre tentang berapa lama lilin itu menyala, gw senyum dan berkeyakinan, kalau sejak usia 18 tahun gw hanya "pasrah" sama maunya Tuhan, sampai hari ini lilin itu tetap menyala. Lagi2, gw terlalu percaya Tuhan gw, ada di Kejadian 12:1-3 tentang janji Abraham, itulah yg senantiasa gw klaim.

Terimakasih Tuhan untuk Bapa, dari beliau lah gw belajar hidup. Beliau yg sudah pergi dari Aceh ke Papua untuk mencari penghidupan, beliau yg gigih memperjuangkan nasib orang2 baik di kantornya, saat ini berulang tahun di ujung hilangnya semua hartanya. Gw yakin percaya Tuhan tetap ada Janji di balik semua ini. Gw dah pasrah dan Bapa tetap memiliki kami anak2nya, walau dunia ninggalin dia. Kalau Bapa direndahin mereka, gw lah yg pertama gak akan rela, bukan karena gagah tapi karena gw takut Tuhan, sampai kapan pun gw akan bela Bapa.

Semoga kado rumah dan pekerjaan baru gw itu bisa menghibur Bapa. Amang, unang be sai marsak ho, nunga jadi sude sianakkon muna, tu Debata ma ta pasahat sudena, Imana do na umboto sudena, tu Imana ma ta pasahat tangiang ta, Imana ma na manuntun hami sasudena, pomparanmi. Doa dan janjiku untuk terus bela Bapa supaya pemulihan itu cepat dan terus bela Bapa dan selama aku ada tidak ada yg bisa ngerendahin Bapa, aku minta kekuatan Tuhan Yesus untuk bisa memenuhi janjiku ini. Bagian Bapa adalah jaga kesehatan ya.

Soal bapa yg kedua, sudah terlambat dia melihat gw bahagia. Dia sedih semuanya harus berakhir begini, tapi gw dan anaknya merelakan semuanya demi orang lebih banyak. Terimakasih untuk doa dan restumu, sayang terlalu cepat kau pergi, tapi aku juga ga rela engkau menderita karena tua. Selamat kembali pulang padaNya, kami berbahagia disini 'pa karena kami saling memiliki, itu saja yg penting buat kami saat ini.

God bless us all. Gw yakin banyak pelajaran penting dari kedua bapa gw ini yg Engkau pengen gw lewatin. Semuanya penting, baik itu membuat gw sedih, buat gw jatuh, buat gw kecewa... sampai hari ini pun "let Thy's will be done".

Love you both, guys.

Thursday, April 16, 2009

"Perfect Submission"

adalah tema kotbah d kebaktian kamis malam tadi. Paskah selalu menjadi momen, peringatan karya besar buat gw & kebanyakan umat Kristen. Tadu saat baru saja kotbah dimulai dengan kalimat pembukaan yg mengingatkan bahwa masa2 ini adalah masih dalam masa Paskah, tiba2 gw diingatkan kalau Paskah tahun ini spesial buat gw. Bukan karena banyaknya masalah secara bersamaan yg gw hadapi akhir2 ini, bukan karena beberapa momen2 penting yg terjadi dalam hidup gw saat ini, tapi entah apa sebabnya tiba2 gw teringat kalau saat ini gw merayakan Paskah gw berumur 33 tahun. Gw langsung nyambung dan teringat kalau di usia gw saat ini lah Yesus menjalani "vie de la rosa" yg berujung disalibkan. Di usia yg sama ini, gw merasakan the lowest point of my life, is it coincidence? I don't think so.

Banyak hal yg terjadi dalam hidup gw, baik berkat maupun cobaan yg kalau gw itung satu2 benar adanya kalau jauh lebih banyak berkat yg gw terima. Dalam setiap cobaan baik saat kekurangan ataupun kelebihan materi, saat dipuja puji maupun menerima hinaan, cacian bahkan direndahkan sekali pun (terutama soal penampilan... hehehe), selalu ada berkat yg membuat gw tersenyum dan menghapus sedih maupun air mata dan hancur hati sebelumnya. Bahkan buat gw yg sudah beberapa kali berada di situasi life-death situation, bisa tetap hidup pun bukan sekedar destiny yg sudah dituliskan, melainkan berkat yg tak ternilai buat gw. Dengan tetap hiduplah gw bisa menerima lebih banyak lagi berkat2Nya. Itulah yg membuat gw dah pasrah dan ga mau terlalu ngoyo buat banyak hal, apalagi menghamba untuk manusia apalagi uang. Hidup ini udah diatur, seperti butterfly. Kupu2 tidak pernah bertanya kenapa mesti menjadi ulat dulu, tidak mempersoalkan kenapa harus ngumpet dulu dalam kepompong, bahkan tidak bisa menyesal kalau "masa cantiknya" relatif singkat. Itu karena semuanya sudah ditentukan, ya begitulah hidup gw saat ini, sudah diatur dan ditentukan sesuai kehendakNya.

Perfect submission, ya itulah teladan Yesus saat doa di taman Getsemani, gw mesti ingat itu dan jangan lupa.... jangan lupaaaa, yaaah, Yesus juga punya rasa takut, rasa gentar, bahkan nawar, "Ya Bapa, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripadaku... but not my will but thy will be done". Sebelum memulai doaNya di taman Getsemani, Dia juga berkata kepada ketiga murid yg menyertaiNya berdoa, "Aku sedih..." Sebagai manusia biasa di usia 33 tahun, kalau di usia 33 tahun, gw bisa sangat merasakan bagaimana kalau misalnya gw tahu kalau gw akan disalibkan, gw mesti akan merasakan sedih dan ketakutan luar biasa, bahkan lebih dari seperti Yesus, mesti gw akan menangis histeris dan tidak bisa terima nasib, dan akan berdoa hal yg sama memohon Tuhan ambil cawan ini dari padaku.

Alkitab maupun buku sejarah mencatat bahwa hukuman yg paling hina di masa itu adalah disalibkan. Salib adalah tempat yg sangat lonely, orang yang disalib dipisahkan dari langit dan bumi, dipisahkan dari teman, sahabat, saudara2 yg dicintai bahkan ibuNya sendiri. Ya, salib lambang kesendirian. Dan sejarah mencatat kalau Yesus tetap mau disalibkan, Ia mau taat. Ya, Ia yg mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seperti manusia, mesti dalam kemanusiaanNya yg seumur gw saat ini, Ia dapat dipastikan merasakan sakit dan terluka luar biasa, bahkan Alkitab mencatatkan bahwa Ia berkata, "Eloi, Eloi, lama sabatani".

Renungan hari ini mengulang2 kata taat... Yesus taat hingga merelakan kemuliaanNya, hingga terluka, hingga dipisahkan secara hina di kayu salib, hingga wafat tergantung, ya itulah perfect submission. Dia menyerahkan diriNya taat pada "Thy's Will"... untuk apa Dia lakukan itu? ... untuk kita manusia, supaya genap apa yg tertulis,
-- Dia mati supaya hubungan manusia dg Allah reconcile,
-- supaya anakNya dihargai,
-- supaya melihat salib kita diingatkan akan bilur2Nya yg menyembuhkan, dan
-- supaya kita menerima hidup yg kekal.

Disadarkan akan hal itu, gw menjadi malu dan merasa sedih saat sering (bukan sekedar kadang) membuat perhitungan dengan Tuhan. Bahkan dengan alasan banyak kerjaan pun bisa buat gw ga kebaktian. Malu gw. Semoga saat gw di low point ini dan mau gw tuliskan refleksi malam ini supaya gw harus mau untuk mencoba terus taat. Karena di usia yg sama dg gw saat ini, Dia Yesus harus mengalami hal2 mengerikan tersebut, disalibkan. Dia yg sudah merelakan kemuliaanNya bahkan harus mati digantung, betapa hinanya. Dan Dia taat melalui itu untuk gw.

Jadi, ingatlah itu Artha, saat ini di usia yg sama dg Yesus boleh lo masih bisa senyum memikul salib walau ujungnya lo nereakin "Eloi, Eloi, lama sabatani", teladani Dia, "let Thy's will be done"... untuk apa? ... supaya genaplah apa yg tertulis. Period.

Tuhan, beri aku iman cukup untuk mengerti "Your Perfect Submission".

with no offense to Pemilu 2009

with no offense to anyone, gw punya keprihatinan yg sama dg mereka yg menyayangkan bangsa yg kembali terpecah2 ini. Di tengah2 suara serak2 marah editorial media Indonesia, dulu gw pernah mempertanyakan "What is Indonesia?"... jawaban gw saat ini, "Indonesia adalah suatu bangsa yg boleh ada saat ini hanya karena nostalgia masa lalu", ya itulah jawaban kemanusiaan gw, kalo jawaban terkait kepercayaan gw lain lagi dan ga usah dibahas di milis bebas gini.



with no offense to our community, gw kindly atau sweetly reminds everyone deh, menyatukan pendapat kelompok yg cuman "karena pernah satu kelas", "karena satu rahim ibu" adalah bukan hal mudah, tiap2 orang punya HAM untuk berpendapat, nah apalagi menyatukan pendapat 200 juta manusia, jadi baiklah kita cool down... gw aja bingung kog bisa2 nya DPT berantakan, bisa2nya satu partai melonjak ratusan persen... hahhh?? ngaciiiir....



memilih adalah indeed personal choice, some vote for money / political orientation / t-shirt / coffee / dang-dut and many more, ada yg memilih supaya bisa buat surat tanah coba. I vote for what I believe. Very enjoyable experience baca2 profil 38 partai supaya ngerti "partai apaan", sampai gw di kesimpulan partainya ga seru ideologinya banyakan ga jelas, "ngeri ngga"... *disuarakan seperti partai yg sering iklan itu lho... hahaha*



kalau ada yg memilih diving, biarlah dia diving, kalau dia melakukannya bertanggung jawab, kelak dia akan jadi penyelamat terumbu kerang, atau dia bisa ngobrol ngalor ngidul dengan bule lalu menambah bule2 datang ke Indonesia dan secara ga sadar membawa orang2 bule datang dan diving di Indonesia yg memang sangat cantik di bawah laut sana... moga2 diving bukan untuk nyabutin terumbu karang tentunya... sayang ya gw ga boleh diving lagi, kangen pulau we.



Sayang memang kalau rakyat kita mudah dibodoh2i tapi itu bukan karena mereka bodoh melainkan karena mereka tidak punya kesempatan... survey tahun 2007, kurang dari 10% rakyat Indonesia lulus S1, jadi kita nih masuk grup elite lho... jangan cap mereka bodoh, mereka tidak diberi kesempatan, mari beri kesempatan di lingkungan terkecil, keluarga kita



*buat nanang: jangan terlalu percaya angka2 di koran... cross check terus, dan update terus yaaaa, soal utang negara memang ga bisa dihindari... wong, banyak DAU parkir di SBI... hahaha, tapi dari sisi penting untuk dimengerti... Indonesia TIDAK PERNAH default lho bayar bunga obligasi negara, TIDAK PERNAH, apa pun yg terjadi. Bravo for that.



*jumlah DPR yg korupsi dan melakukan hal2 keji adalah kecil secara persentase, sayangnya yg kecil itu sesuai hukum20/80, 20% itulah yg menguasai gedung tersebut...*prihatin*



buat gw, adalah kembali ke laptop... kembali ngitung dimana ada energi tambahan buat masa depan anak dan cucu teman2 gw chentil tercinta dan buat bangsa yg gw cintain karena nostalgia masa lalu yaitu karena gw dilahirkan (tanpa memilih) di bangsa ini... dan gw dah pergi ke banyak negara, dan di usia yg bisa memilih untuk tinggal dimana pun, toh tetap memilihi di Indonesia.



-- energi kita pakai saat ini bukan warisan kakek nenek kita, tapi hutang kepada anak cucu kita, gunakan dengan bertanggung jawab.

-- indonesia adalah paru2 dunia... sebagaimana paru2, apa jadinya kalau paru2nya rusak... hehehe



Pemilu berantakan? ...sudah tertulis demikian... gw bertanggung jawab atas pilihan gw dan yg penting gw bertanggug jawab buat kerjaan gw dan gw yakin teman2 seperjuangan pun demikian.... yuk, kita kembali berkarya dan tetap optimis, yuk ya yuuuuks...

Wednesday, April 15, 2009

Indah Pada Waktunya

Terkadang gw lebai deh kalo dah lagi melo, dan salah satu obat mujarab buat gw menguatkan diri gw sendiri adalah dg mengklaim janji Tuhan dg cara yg paling gw suka yaitu menyanyikannya. Jadi, pagi ini saat gw renungkan kembali dan selama 5 hari terakhir ini gw hanya mau ketemu ring 1 gw... satu gw tahu pasti, mereka tidak pernah ninggalin gw di saat2 susah seperti saat ini.



Gw mau klaim janji Tuhan, gw mau tuliskan ini buat jadi satu milestone lagi dalam perjalanan hidup gw... dan seperti milestone lainnya yg sudah tersusun, semakin lama semakin terlatih lutut gw untuk melompat dan meraih janji2Nya... namun, saat muncul rasa gak paham dan pengen tahu "why", "why", langsung gw ditegur, diingatkan suara renyah Julita Manik dari speaker berkata,"terkadang dalam hidup ini kita mengalami yg tidak kita inginkan" ... rasanya pas banget lagu ciptaan Julita Manik ini dalam saat teduh saat ini, gw dengar berulang2 dalam tiga versi termasuk versi penyanyi favorit gw Dewi Guna...



Ada waktu ‘tuk berduka

Ada waktu ‘tuk bersuka

Ada waktu ‘tuk berdiam

Ada waktu ‘tuk berkata



Namun diatas segalanya

Ku tau Allahku bekerja

Mendatangkan kebaikan

Bagi yang mengasihiNya



Di saat yang kualami tak sperti yang kuingini

Di saat tiada jawaban, "mengapa harus terjadi?



Namun diatas segalanya

Ku tahu Allahku bekerja

Mendatangkan kebaikan

Bagi yang mengasihiNya



Mungkin tak kupahami

Apa yang kini aku alami

Namun ku tahu pasti

Kasih Allahku takkan berhenti

Kan kusrahkan semua

Pergumulanku padaMu Yesus

Kar’na ku tahu pasti

Semuanya kan jadi indah pada waktunya




Entah, walau semua yg terjadi menunjukkan Engkau Tuhan tidak meninggalkan gw, bahkan menjawab doa2 gw lebih dari yg gw harapkan, namun teteeeeppp aja di saat yg gw rasakan sebagai titik terendah dalam hidup gw ini dan tiap2 gw curhat akhir2 ini sama Tuhan, gw mesti selalu, selalu menangis... pagi ini semakin gw ulang nyanyi lagu ini gw merasa semakin gw dikuatkan. Gw mau nyatakan dalam reflection kali ini, seperti dalam lagu ini, "Mungkin tak kupahami apa yang kini aku alami, namun ku tahu pasti kasih Allahku takkan berhenti"



Rabu minggu lalu, komentar seorang ibu yg gw kagumi, "itulah Artha, what make you are different, cause you are a war survivor and have been through lots of thing with such responsibilities at your age"... I bet so bu, but inside me I stubbornly keep asking "why me?", her answer: "don't even care to find out from me or other people, I myself have gone thru 25years (?) difficult time until now I don't even care for people questioning me because they have not gone thru the life that I live in. You care too much 'bout others, they don't have yet that privilege to understand, so still strong Artha".



Thanks bu, sometime, though I have a mixed feeling 'bout you, though I sometimes "afraid" of you, but indeed, in my difficult times recently, you are always there and always have time for me, though I don't know why... (see... always why). Bahkan saat gw ajak makan sate padang di emperan pun rasanya gw ngajak enteng aja, I shouldn't ask that to you (how dare I am !). I don't mind to work with you though, but by now you know it for sure that is not what I want. Thank you bu, as simple as that.



I wish that I could be as strong as you one day at your age, just like I ever said, but I keep choose to faith in Jesus. I do envy and like your strength & can accept well your "weaknesses" hehehe... As other strong women whom I envy, you have shown me inner strength that can not be manipulated and indeed is not something develop overnight. I know that revenge will never be a good exit, but as I ever promised you that starting this year, I will do a good revenge but will keep the same Artha who like to say the truth than being a hypocrite, importantly is trust no one but Him. You did not comment when I said so, by experience I read your mind that I have your green light. All I can say for now, "thank you".



Satu lagi yg gw tahu pasti, gw harus kuat buat keluarga gw, yah inilah salib yg harus gw pikul. Dalam hidup gw, inilah masa terendah yg pernah gw alami tapi harus gw akui jujur kalau apa yg terjadi tahun 2008 dan menjelang masuk 2009 ini, sebenarnya gw dah "disiapin" untuk apa yg gw alami saat ini. Gw bersyukur dan ya gw harus akui itu secara jujur kalau gw udah disiapkan Tuhan *sebenarnya* untuk melewati apa yg gw harus lewati ini. Dan gw akuin juga kalau dalam 5 hari ini, Dia membuktikannya, iya kan... ca yo, smile... no more tears please...



Terimakasih Tuhan, gw yakin gw akan bisa lewatin ini. Engkau sudah tebus lunas semua di kayu salib dulu, dan apa pun itu gw pasti mampu mengatasinya... saat ini hanyalah saatnya gw kembali menguatkan lutut gw untuk bisa "habang mansai timbo... um timbo... um timbo..."

Tuesday, April 14, 2009

Carpe Diem

*akan datang hari mulut dikunci, kata tak ada lagi...
akan tiba masa tak ada suara dari mulut kita...*
(lagunya Chrisye...)

saat ini gw sedang berduka dengan kepergian ayah dari orang yg sangat gw cintai...
saat ini gw sedang berduka dengan kepergian barang2 kesayangan gw cintai...
tapi gw tidak mau berduka lebih lama, karena gw rela melepas mereka.

gw rela melepas amang pulang ke rumah, terlepas dari ketuaan yg sangat membatasinya dan inang pun terlepas dari kewajiban menjagai amang siang dan malam walau itu dilakukannya dengan tulus cinta.
gw rela melepas barang2 itu karena gw tahu, ada orang2 yg sangat gw cintai yg membutuhkan tempat tinggal yg layak *menurut gw* no matter what others may think.. they really deserved it, and I am here just as a blessing hands...

terlalu banyak untuk gw katakan saat ini, gw tidak mau melewatkan itu semua hanya mampir saja di kepala gw dan gw mau menuliskannya sebelum hari itu tiba...

easter... perayaan tentang kemenangan

tentang bapa itu... how a trust can break

tentang ibu itu... how a trust equal a shadow

banyak. terlalu banyak. terlalu sibuk pikiran ini menikmati hidup saat ini.

ternyata... betul apa yg disebut "hukum dunia", dibutuhkan pressure dan waktu yg tidak sebentar yg menempa karbon menjadi berlian, otherwise it is "just a carbon black"

Yesus pernah berkata, "Eloi, eloi, lama sabatani..." Bukan maksud walaupun gw mau sama dg Dia, tapi gw juga terakhir ini meneriakkan hal itu, keberatan-sedih-marah-hancur-kecewa semua nyampur jadi satu. Tapi gw mau belajar dari Dia yg kupercaya, "Jadilah padaku menurut kehendakMu", sampai nantinya gw tersenyum kalau meninggalkan dunia ini dan bisa berkata "Sudah selesai".

Wednesday, April 01, 2009

Getting close to Mulan

When I first saw this movie, deep down my heart somehow I felt as it was made for me...

Now it is what has been happening in my family...

The soundtrack represents the feeling I have now inside so well and I don't even know how to cry.



Look at me,

I will never pass

for a perfect bride or a perfect daughter.

Can it be I'm no meant to play this part?

Now I see, if I were truly to be myself,

I would break my family's heart.



Who is that girl I see,

Staring straight back at me?

Why is my reflection

Someone I don’t know?



Somehow I cannot hide

Who I am though I’ve tried.

When will my reflection show

Who I am inside?


(sang by Christina Aguilera for Mulan)

masih seputar pilih memilih

kenapa gw suka indonesia...
kita banyak pendapat, banyak pemikiran, banyak keselnya ama ini negara, banyak ragamnya, banyak suku dan banyak bahasa dan banyak lain2 deh.... tapi kalo keluar Indonesia kudu pake paspor yg depannya burung Garuda (ada yg ijo, ada yg biru dan ad juga yg coklat)...
sampe2 teman2 gw yg anaknya lahir d Perancis pun bela2in tuh anak punya itu passport supaya bisa bolak balik indo ga urus visa katanya...
ada juga yg nangis2 minta passport ijo kayak ida iasha, dan *bule2 yg mo gaji dollar tapi pengeluaran rupiah* juga maunya di HRD passportnya ijo...
udah ah, pokoknya nyatu aja tumplek2 orang2 indo yg berpendidikan dan punya banyak pemikiran ini kalo k luar negri pake passport yg garudaan itu, kalo ga pan dia mesti apply dulu (atau lotere lah) untuk passport negara lain.
itulah indonesia, rakyatnya sebenarnya bisa "diatur" kalo ga ada pilihan lain....
tapi kalo ada pilihan yg lain dan lebih baik buat pribadinya, tentunya dia milih passport lain dong... *manusiawi*

setlah panjang pembukaannya di atas,
Sistim demokrasi di Indonesia yg emang rada ngejlimet karena "kompromi" dan senengnya "gado2" atau "ga bisa tegas" entahlah, tapi yg nonjol adalah kita ga niru satu negara tertentu. Kalaupun ada kesamaan namuni kalo dicermati beda aja (wong keputusan MK aja bisa ga dijalankan malah usulnya ganti UUD supaya keputusan batal demi hukum... dimana? ya di Indonesia). Adopt sana sini dg background ceritana mau belajar dari negara2 lain yg katanya dah demokrasi duluaE. Wmang yg keliatan kasat mata gampangnya sistem senat dengan rakyat vote langsung (US) tapi presiden langsung (Perancis).

US jumlah partainya lebih sedikit dan ini sudah mengakar banget, pindah partai itu dalam beberapa kasus ekstrim adalah taboo, tapi bisa aja tuh, contoh nyata Hillary couples yg tadinya beda partai. Bahkan perdebatan beda partai ini ibaratnya di Indonesia itu ibarat perdebatan beda suku atau beda agama.... serius lho gw karena gw lihat langsung waktu gw tinggal di sono.buat pasangan aja masalah neda partai itu bisa kayak diabetes alias ga bisa saling nikah.

Sistim *tawar-menawar keputusan di senat yg akhirnya menentukan keputusan executive* baik di Indo, USA, maupun Perancis, Italia... dlll, semuanya sami mawon. Alias ada "take and give", ada "tawar menawar", ada "politik dagang sapi", ada "money politic" dan all good, bad and ugly di Indonesia semuanya ada di sana.
Kenapa kelihatannya ga ada.... ya karena mainnya dah halus... maklum ratusan tahun bow untuk contoh america, perancis, inggris, italia... ratusan tahun... gak comparable at all dengan kita... tapi, belajar dari pengalaman kita, alih2 kita ambil jalan short cut secara ati2, eh malah kita *ngulang kesalahan yg sama seperti awal2 mereka jadi negara demokrasi dulu...* yah, ratusan tahun lagi deh kalo gitu lihat politik cantik...cpd

kalo nonton film2 holywood, contoh gampang dan enak ditonton secara Michael Douglasnya gagah dan Anette Benning cakep, judulnya "American President" atau perdebatan "politik halus" ada di AirForceOne atau pun filmnya TomHanks yg dia jadi penasihat presiden, film JFK (demokrat), dll... dll....
semuanya kalo dipratiin bener2, garisnya sama --> politik = permainan kepentingan, dan demokrasi = kepentingan ditentukan oleh pilihan mereka yg mau memilih (bukan harus).

yg ga bisa dipilih cuma lahir dan mati, lain dari itu... "memilih itu pilihan"