Wednesday, April 22, 2009

Auk ah Gelap (2)

Maaf Kartini, perbuatan2 gw juga ga sempurna, yg terkadang sulit dimengerti dan terdengar sangat ekstrem buat beberapa orang, tapi apalah daya, kami perempuan masih dijajah. Bukan oleh sesuatu yg kelihatan tapi oleh diri kami sendiri. Kesenangan kami, kepuasaan kami lah menjadi salah satu alasan mengapa pendidikan tinggi yg kami miliki, terkadang malah menjebak sebagian dari kami untuk "membodohi" orang lain, yg terkadang adalah kaum kami sendiri. Bagian perjuangan kami perempuan2 yg beruntung bersekolah di masa ini ini bukanlah terhadap kebodohan, bukan juga larangan untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi, melainkan perjuangan untuk memelihara hati nurani supaya tidak menjadi kebal terhadap kepura2an dan kemunafikkan yg saat ini dianggap suatu kewajaran. Semakin pintar dituntut untuk semakin bisa "diajak" kerjasama, bahkan untuk melakukan hal yg tidak benar.



Maaf Kartini, kalau saat komentar gw atas perbuatan2 tersebut adalah "auk ah gelap", menantikan kapan terang itu akan datang, atau malah di luar sana sudah terang, tapi di tempat dimana gw berada inilah yg gelap. Entahlah, gw akan terus mengeksplore hal ini dengan merefleksikan kejadian2 yg terjadi di sekeliling gw, menyaring apa yg perlu gw tahu dan memilih jelas dengan siapa gw "bergaul" dan membiarkan pemikiran orang tersebut memasuki ranah berpikir gw, namun tidak yg lain. Tidak dengan mereka yg pintar berpura2 tapi tanpa dasar integritas yg bagus. Tidak dengan mereka yg berpura2 untuk kepentingan pribadi. Tidak dengan mereka yg berpura2 untuk mengambil hak mereka yg tidak berdaya. Tidak.



Maaf Kartini, perempuan Indonesia saat ini memiliki hak yg sebenarnya sudah "lebih" dari perempuan2 Eropa yg dirimu kagumi dulu. Mereka memang lebih dulu bisa mengenyam pendidikan, tapi urusan berpartisipasi politik dalam demokarasi untuk memilih dalam pemilu, kami perempuan Indonesia malahan lebih dulu menikmatinya. Bahkan seorang perempuan Indonesia pernah menjadi presiden. Perempuan Indonesia memimpin gerakan aids dunia, memberikan pengajaran kepada orang2 terhina dan berjuang di tempat2 yg dahulu sangat maskulin.



Maaf Kartini, refleksi ini tidak sempurna dan tidak bisa dibandingkan dengan surat yg kau tulis di tengah2 perjuangan batinmu dulu. Gw juga mengalami perang batin mengenai pendidikan perempuan di negri kita ini, semoga bukan melalui ceramah atau pun nasehat, tapi melalui apa yg gw selalu usahakan memberi kepada mereka yg "ditidakmampukan oleh keadaan", yaitu semangat. Energi itu ada di gw, semangat untuk tidak munafik, semangat untuk tidak cinta status quo dan semangat untuk hidup yg lebih baik. Semangat inilah yg mau gw tularkan selalu, bukan kepada mereka yg bisa menyalahgunakan semangat ini, tapi justru di tempat2 dimana semangat ini nyaris hilang. Semangat itulah yg selama ini mendorong gw untuk menyelesaikan tugas sampai garis finish nanti, semoga Tuhan merestui gw untuk membawa semangat yg positif ini terus terpelihara dan terus bantu mengembalikan gw kapan pun kembali ke rel yg diinginkanNya.
Semangat serviam.