Thursday, April 16, 2009

"Perfect Submission"

adalah tema kotbah d kebaktian kamis malam tadi. Paskah selalu menjadi momen, peringatan karya besar buat gw & kebanyakan umat Kristen. Tadu saat baru saja kotbah dimulai dengan kalimat pembukaan yg mengingatkan bahwa masa2 ini adalah masih dalam masa Paskah, tiba2 gw diingatkan kalau Paskah tahun ini spesial buat gw. Bukan karena banyaknya masalah secara bersamaan yg gw hadapi akhir2 ini, bukan karena beberapa momen2 penting yg terjadi dalam hidup gw saat ini, tapi entah apa sebabnya tiba2 gw teringat kalau saat ini gw merayakan Paskah gw berumur 33 tahun. Gw langsung nyambung dan teringat kalau di usia gw saat ini lah Yesus menjalani "vie de la rosa" yg berujung disalibkan. Di usia yg sama ini, gw merasakan the lowest point of my life, is it coincidence? I don't think so.

Banyak hal yg terjadi dalam hidup gw, baik berkat maupun cobaan yg kalau gw itung satu2 benar adanya kalau jauh lebih banyak berkat yg gw terima. Dalam setiap cobaan baik saat kekurangan ataupun kelebihan materi, saat dipuja puji maupun menerima hinaan, cacian bahkan direndahkan sekali pun (terutama soal penampilan... hehehe), selalu ada berkat yg membuat gw tersenyum dan menghapus sedih maupun air mata dan hancur hati sebelumnya. Bahkan buat gw yg sudah beberapa kali berada di situasi life-death situation, bisa tetap hidup pun bukan sekedar destiny yg sudah dituliskan, melainkan berkat yg tak ternilai buat gw. Dengan tetap hiduplah gw bisa menerima lebih banyak lagi berkat2Nya. Itulah yg membuat gw dah pasrah dan ga mau terlalu ngoyo buat banyak hal, apalagi menghamba untuk manusia apalagi uang. Hidup ini udah diatur, seperti butterfly. Kupu2 tidak pernah bertanya kenapa mesti menjadi ulat dulu, tidak mempersoalkan kenapa harus ngumpet dulu dalam kepompong, bahkan tidak bisa menyesal kalau "masa cantiknya" relatif singkat. Itu karena semuanya sudah ditentukan, ya begitulah hidup gw saat ini, sudah diatur dan ditentukan sesuai kehendakNya.

Perfect submission, ya itulah teladan Yesus saat doa di taman Getsemani, gw mesti ingat itu dan jangan lupa.... jangan lupaaaa, yaaah, Yesus juga punya rasa takut, rasa gentar, bahkan nawar, "Ya Bapa, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripadaku... but not my will but thy will be done". Sebelum memulai doaNya di taman Getsemani, Dia juga berkata kepada ketiga murid yg menyertaiNya berdoa, "Aku sedih..." Sebagai manusia biasa di usia 33 tahun, kalau di usia 33 tahun, gw bisa sangat merasakan bagaimana kalau misalnya gw tahu kalau gw akan disalibkan, gw mesti akan merasakan sedih dan ketakutan luar biasa, bahkan lebih dari seperti Yesus, mesti gw akan menangis histeris dan tidak bisa terima nasib, dan akan berdoa hal yg sama memohon Tuhan ambil cawan ini dari padaku.

Alkitab maupun buku sejarah mencatat bahwa hukuman yg paling hina di masa itu adalah disalibkan. Salib adalah tempat yg sangat lonely, orang yang disalib dipisahkan dari langit dan bumi, dipisahkan dari teman, sahabat, saudara2 yg dicintai bahkan ibuNya sendiri. Ya, salib lambang kesendirian. Dan sejarah mencatat kalau Yesus tetap mau disalibkan, Ia mau taat. Ya, Ia yg mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seperti manusia, mesti dalam kemanusiaanNya yg seumur gw saat ini, Ia dapat dipastikan merasakan sakit dan terluka luar biasa, bahkan Alkitab mencatatkan bahwa Ia berkata, "Eloi, Eloi, lama sabatani".

Renungan hari ini mengulang2 kata taat... Yesus taat hingga merelakan kemuliaanNya, hingga terluka, hingga dipisahkan secara hina di kayu salib, hingga wafat tergantung, ya itulah perfect submission. Dia menyerahkan diriNya taat pada "Thy's Will"... untuk apa Dia lakukan itu? ... untuk kita manusia, supaya genap apa yg tertulis,
-- Dia mati supaya hubungan manusia dg Allah reconcile,
-- supaya anakNya dihargai,
-- supaya melihat salib kita diingatkan akan bilur2Nya yg menyembuhkan, dan
-- supaya kita menerima hidup yg kekal.

Disadarkan akan hal itu, gw menjadi malu dan merasa sedih saat sering (bukan sekedar kadang) membuat perhitungan dengan Tuhan. Bahkan dengan alasan banyak kerjaan pun bisa buat gw ga kebaktian. Malu gw. Semoga saat gw di low point ini dan mau gw tuliskan refleksi malam ini supaya gw harus mau untuk mencoba terus taat. Karena di usia yg sama dg gw saat ini, Dia Yesus harus mengalami hal2 mengerikan tersebut, disalibkan. Dia yg sudah merelakan kemuliaanNya bahkan harus mati digantung, betapa hinanya. Dan Dia taat melalui itu untuk gw.

Jadi, ingatlah itu Artha, saat ini di usia yg sama dg Yesus boleh lo masih bisa senyum memikul salib walau ujungnya lo nereakin "Eloi, Eloi, lama sabatani", teladani Dia, "let Thy's will be done"... untuk apa? ... supaya genaplah apa yg tertulis. Period.

Tuhan, beri aku iman cukup untuk mengerti "Your Perfect Submission".