Terasa isak dalam hati gw mendengar pengakuan tersebut. Pengakuan yang Sangat Mengecewakan. Masih jelas teringat saat issue "bubar" hubungan RI 1-2: "Pers lah yang bertanggung jawab", ketika di awal tahun terjadi "hilangnya" premium: "Pertamina lah yang bertanggung jawab". Jadi, harusnya gw jangan heran kalau kembali terucap format tersebut, jawaban atas kekacauan penyelenggaraan pemilu: "KPU lah yang bertanggung jawab".
Jangan heran kalau pemenang pemilu ini sesungguhnya adalah golput 40%, dan janganlah heran kalau rakyat menjadi marah dan malah menampik kembali lemparan tanggung jawab tersebut, sebab kami memilih pemimpin untuk memimpin kami. Sebagai shareholder yg mengangkat CEO, telah kami serahkan amanah tersebut, permasalahan penyelenggaraan public service obligation, pemerintah lah yg bertanggung jawab.
Sang Jenderal bertanya, "dimana sikap ksatria yg ditanamkan selama di akademi?"
Ternyata di catatan recordnya, saat terjadi pemilihan prajurit untuk maju ke garis depan, ia masih terlalu sibuk membuat strategi2 tanpa menyiapkan senapannya, ia terlalu sibuk menggambar siapa teman dan siapa lawan, ia terlalu sibuk menganalisa dan mencari sebab2 kesalahan kekalahan perang sebelumnya... akhirnya sang ksatria pun tidak pernah berada di garis depan.Sang Jenderal menjadi sangat kecewa karena ia tidak mempunyai pilihan lain, prajurit2 terbaiknya gugur di garis depan, lalu dengan terpaksa disodorkannya prajurit yg tidak pernah merasakan getirnya memikul tanggung jawab untuk memutuskan antara bunuh teman atau bunuh negara. Tak sanggup dia memutuskan untuk menarik pelatuk pistol atau tidak, waktu pun diulur2, dan bila saat itu tiba, format di atas menjadi "Aku harus membunuhmu, Tuhan lah yg bertanggung jawab". OMiGod.