Rentetan kejadian tak menyenangkan di awal tahun ini (beberapa) sungguh unexpected buat gw. Masalah besar di awal tahun ini membuat gw harus mengingatkan diri gw bahwa semuanya adalah bagian dari yg harus gw jalani. “Pemberi masalah” bukanlah “orang lain”. Mereka sangat mengasihi gw, adalah rasa kasih itu pasti juga jadi pertimbangan mereka. Namun saat sekembalinya gw ke Bpn dan dihadapkan ke masalah lain lagi, gw agak “limbung”. Perasaan kesal, marah, tidak berdaya, dan kecewa membuat gw bingung selama beberapa hari. Gw memikirkan bagaimana cara untuk tetap bersyukur dan bisa tersenyum tulus. Yah walaupun gw manusia biasa yg bisa kecewa, tapi gw juga mau belajar untuk tidak membuatnya menjadi suatu excuse dan penyangkalan diri.
Weekend kemaren gw nyiapin perayaan Natal kantor dengan beberapa anak2 yg kalau diitung2 secara umur lebih muda dari gw sekitar 7 tahunan (aja). Sungguh, suatu pengalaman yg menyegarkan. Gw penuh dengan aura kemudaan yg sangat gw perlukan saat ini. Gw kembali teringat sosok gw yg selalu ceria seakan tanpa beban di kala gw "lebih" muda. Pembelajaran hidup beberapa tahun ini membawa kematangan dan kedewasaan dalam menyikapi beberapa hal, namun sayangnya juga mengikis rasa ‘enteng’ dan rasa cuek dalam diri gw. Bukan gw tidak punya masalah, banyak. Tapi gw bisa tersenyum dan bisa berbagi waktu dan senyuman dengan orang2 yg menjadi tidak mampu tersenyum karna kondisi ataupun keadaan yg tidak memungkinkan. Bahkan Ella, seorang teman yg mengenal gw sejak SMA pernah “mengkritik” bagaimana mungkin gw bisa tersenyum saat kondisi sulit dan teman2 lainnya pun sulit untuk bisa tersenyum. Senyuman dan rasa pantang menyerah gw itu yg menularkan rasa semangat dan masalah pun dapat kami hadapi dengan baik.
Bukan hanya sekali saja senyuman itu membuktikan kemanjurannya. Banyak keputusan penting yg sudah gw ambil dalam hidup gw saat lebih muda dan membuat gw menjadi gw sekarang ini. Seiring waktu berlalu, masalah demi masalah pun terlewatkan dengan baik dan gw bisa tersenyum melihat betapa “kuatnya” semua itu bisa gw hadapi. Sekarang kalau orang lain mengambil keputusan atas diri gw, gw harus mau belajar untuk melihat dari kaca mata mereka.
Adakah ini bagian dari suara Tuhan yg membuat gw menuliskan “Everything Happened for a reason” di malam tahun baru 2006 lalu? Saatnya untuk berdiam diri, mengentengkan pikiran, tersenyum dan meyakini hari demi hari berlalu tanpa Dia melepas tanganNya. God knows all. Makanya gw nyindir diri gw banget, “Baru masalah segini aja, kog gak bisa cuek”.
Seorang teman ngimel gw dan bilang, “Ya mudah2an awal yang gak bagus pertanda bahwa tahun ini akan banyak hal yang bermanfaat buat elo…moga2 elo udah gak sedih lagi ya… “
Wissseee bangetttt!!! “Gw udah gak sedih lagi, fren. It’s over. No regrets whatsoever.”
Hadapi dengan senyuman
Semua yang terjadi biar terjadi
Hadapi dengan ringan jiwa
Semua akan baik baik saja
(“Hadapi dengan senyuman” sang by Dewa)