Wednesday, November 29, 2006

Tak kan kubiarkan

keponakan2 ku tercinta menjadi korban rating Smack Down.

Itulah janji yg gw buat ke diri gw beberapa minggu yl. Saat itu dengan lugasnya mereka bercerita tentang acara smack down. Duh, ciloko. Ternyata mereka memang tidak menonton (jelas2 sudah jam tidurnya), tapi apa mau dikata, ternyata teman2 di sekolahnya lah yg mengajarkan mereka apa itu dan bagaimana caranya meng-smack-down teman. Lagi lagi gw berpikir, duh ciloko.


Nasehat gw:.... (skip)
"... terus kalo aku dismack down temanku, harus gimana dong?"
Tollloooooooooong, saat itu hati gw berteriak.

Sesaat gw diam, lalu lanjut menjawab,
"Gini aja, uel ama uma lebih baik jangan maen dengan mereka yah".
Jawaban short cut yg gw pikir harus gw bilang itu, bisa ditebak dong kelanjutannya, dengan kritis mereka langsung menanyakan kenapa.
"Karena tante sayang kalian. Tante gak mau kalian jadi sakit gara2 maennya kayak gitu, nanti kalo sakit kan kita gak bisa berenang bareng2 lagi. Janji yah ama tante gak main begituan, oche?"
"Oche deh tante"

Gw pikir saat itu biarin deh ponakan2 gw dianggap gak gaul daripada jadi ngelakuin yang enggak enggak. Gw belum bisa menjelaskan alasan2 yg lebih "dewasa" atau yg katanya lebih rasional (catat: dalam kamus anak kecil belum ada kata rasional), biarlah seiring waktu akan mengajarkan mereka.

Hari ini ada laporan:
"Tante, tante, tadi temanku ngajakin main smack-down, tapi aku gak mau, kan aku dah janji 'tan mau berenang lagi di rumah tante."
Tanpa disadarinya senyum di wajah gw mendengarkan laporannya tersebut.

Terlebih setelah acara tersebut sudah jelas2 memakan korban. Apa sebegitu hausnya kah kita akan tontonan kekerasan sehingga dagelan pun harus bertemakan kekerasan? Dan ada lagi orangtua yg tidak mensensor tontonan anaknya... weleh weleh, ini pengenalan kekerasan yak?

Friday, November 24, 2006

Happy ThanksGiving

Although might not for all of us, thanksgiving day is still a good time to express thanks and appreciation.

So to the blog community, I'd like to thank
        • the blogger team for letting me advantage your service by writing whatever I like, and of course
        • to everyone who has been play a part in my life's journey. Cliche to say but true, without you guys I will not the way I am,
so .... thanks a bunch!

Lusi, riwayatmu kini

Lagi lagi ada dongeng yg menjadi kenyataan.

Sulit diterima akal yg sudah tumpul memang, saat orang bicara benar tapi disangka menakut-nakuti. Dan sulit dipercaya akal juga kalau urusan nyawa orang banyak menjadi bahan berantem.

Apa yg bisa gw lakukan? Jangan jadi businesswoman? too far to go. Sekarang at least gw mencoba sebarkan berita ini melalui blog gw ini. Lagi2 kami berduka bukan karna ketidak tahuan tapi lebih karna ignorance.

Turut berdukacita bagi keluarga para korban. God bless you.

Saturday, November 18, 2006

Bicara soal tamu,

gw memutuskan hari gw menerima tamu penting adalah malam minggu. Waktu itu tidak khusus untuk wakuncar, tapi juga untuk tamu2 spesial lainnya. Tanya kenapa? Malam minggu adalah saat dimana apartemen gw rapi, baju2 sudah tercuci bahkan sebagian sudah tersetrika rapi dan lantai pun masih mengkilap dan harum. Berbeda dg hari2 lainnya, tidak lain karena gw memang bertranformasi menjadi upik abu sejak jumat malam sampai sabtu pagi 07.50WIB.

Bicara soal tamu,
capeeeekkk deh (diucapkan dengan gaya yg lagi in) dengerin berita dimana2 cuman tentang tamunya Pak SBY yaitu Pak Bush, yg dari mulai protes sana sini, uang 6 milyard rupiah ludes buat persiapan yg cuman 6 jam, sampai2 katanya KiGendengP juga menyiapkan jurus2 pamungkasnya untuk membuat tamu katanya kehormatan itu tidak nyaman saat berkunjung nanti, tepatnya bagaimana gw gak ngerti juga apa doi jadi buang air kecil mulu, atau jadi gatel2, entahlah. Berlebihan memang, yah persiapannya, yah jurus2 penolakannya, yah semuanya deh. Sekolah yg diliburin gak lebih dari hitungan jari, tapi dalam seminggu ini banyak tuh mahasiswa dan pelajar meliburkan diri untuk berdemo, padahal mungkin saat hari-Hnya sekolah mereka tidak diliburkan secara resmi. Tanya kenapa?


Bicara soal tamu,
gw juga teringat di rumah bonyok gw. Kalau mau kedatangan tamu, mesti deh mama meminta kami beberes. Lantai harus disapu dan dipel bersih, mama akan memasak makanan khusus, dan seperti kebanyakan yg gw amatin setidaknya di lingkungan gw, peralatan makan dan minum untuk tamu hampir selalu berbeda dengan yg biasa dipakai sehari2. Waktu gw kecil dulu gw tanya kenapa, jawaban mama "piring ini, gelas itu, kobokan yg itu, piring saji ini sengaja memang mama beli buat tamu". Suatu hari waktu gw mengajak teman2 ke rumah, gw menyajikan es buah di mangkok coktail yg sering gw lihat dipakai untuk tamu (cocktail disini bukan berarti minuman beralkohol melainkan cocktail yg berarti es buah). Dua dari gelas coktail yg terbuat dari kaca warna warni itu pecah akibat kami asyik bersenda gurau dan menjatuhkannya tanpa sengaja. Mama tidak semarah yg gw duga waktu gw laporan, "yah sudahlah, kalian masih kecil untuk mengerti barang mahal" katanya. Tapi gw jadi tahu kalau gelas2 itu harganya tidak murah, itulah sebabnya lanjut Mama, beliau hanya menggunakannya untuk tamu2 spesial saja. Gw lega karena mama tidak marah dan sejak saat itu, kami anak2nya pun menggunakan barang2 khusus itu hanya untuk tamu2 khusus, termasuk di antaranya tamu2 penting kami di malam minggu. Setelah kami lebih besar, kami lah yg memutuskan tamu yg mana yg mendapatkan privilege menggunakan barang2 khusus tersebut. Kami pun bisa menggunakan barang2 khusus tersebut untuk kami sendiri, toh sekarang kami sudah mengerti caranya menjaga barang mahal.

Lagi bicara soal tamu di rumah gw,
kalau tamunya Pak RT misalnya, persiapannya tidaklah terlalu heboh. Tapi kalau tamunya pejabat kantor bapa, adalah beda persiapannya. Gw juga belajar kalo kedua ortu gw bukanlah orang gila hormat, apalagi mama seorang guru di sebuah SMP negri. Kalau yg bertamu teman2nya mengajar, mama pun memperlakukannya seperti menerima tamu pejabat kantor bapa itu. Namun kalau tamu2 nya saudara dekat, mesti deh persiapannya minimalis, alasannya mereka bisa menerima bagaimana pun keadaan di rumah. Toh mereka tidak berhenti di ruang tamu, melainkan tidur pun bersama2 dengan kami tanpa perlu mengganti sprei kalau memang masih bersih. Suatu hari persiapan menyambut tamu agak istimewa tapi kami jg gak heran, karena yg mau datang adalah keluarga calon kakak ipar gw untuk acara lamaran. Setelah kakak gw menikah, kedatangan keluarga dari suaminya berubah menjadi lebih biasa2 saja, pan sudah menjadi saudara dekat.

Jadi bicara soal tamu di lingkungan terdekat gw itu,
tamu2 disambut berdasarkan kepentingannya. Dalam banyak hal, yg tahu kepentingannya yah mereka itu, kedua ortu gw. Saat itu gw dan saudara2 hanya menjalankan tugas membantu menyiapkan rumah saja. Terkadang yg kami tahu pun hanya terbatas kalau yg mau datang adalah temannya bapa/mama tanpa tahu namanya, apalagi misi kedatangannya. Walau tamunya kami gak kenal, tapi dari persiapannya biasanya kami bisa menebak takaran kepentingan tamu tersebut. Tapi apa yg penting buat ortu gw waktu itu, belum tentu sama penting untuk gw dan saudara2 gw. Juga belum tentu gw mengerti, karna yah gw memang belom saatnya mengerti. Misalnya saja waktu gw masih kecil itu, kedatangan kepala sekolah tempat mama mengajar tentu penting buat mama, tapi buat gw dengan pengertian saat itu, kedatangannya mengganggu waktu gw nonton TV dan bikin capek nyapu dan ngepel rumah saja. Padahal, kalau kami menyambutnya dengan rumah berantakan misalnya saja, adalah mungkin kredibilitas mama sebagai guru bisa saja dipertanyakan dan selanjutnya bisa ditebak. Itu memang hal yg terkadang kami waktu kecil tidak mengerti, kenapa sih harus sudah mandi rapi sebelum jam rutin kami mandi, atau tidak boleh duduk/tiduran di lantai, atau TV yg harus dimatikan dan belajar di kamar, padahal pan enakan ngerjain pe-er sambil nonton misalnya. Tapi yah secara tv ada di ruang tamu, kami deh yg harus ngalah. Nah, begitu ortu bisa membeli rumah yg lebih besar dan ruang TV pun terpisah dari ruang tamu, mulai saat itu kami bisa tetap menonton TV saat bapa/mama menerima tamu.

Kalau gw sangkut pautin bicara soal tamu yg tadi itu tuh,
mungkin yg ngerti cuman Pak SBY dan teman2nya. Tapi, apa kepentingannya buat gw yah? Apa gw harus mendukung gara2 katanya ada kepentingan buat peningkatan kesehatan balita, peningkatan pendidikan, pemerataan kesejahteraan? Secara gw udah membaca "Confessions of an economic hit man" dan juga sering melihat Bush yg awalnya dicaci maki rakyatnya sendiri berubah menjadi super power man tapi dicaci juga, bahkan sekarang partainya mulai digoyang. Gw juga mempertanyakan banyak hal. Apakah hal2 yg dimaksud sebelumnya itu adalah benar bisa dilakukan oleh sang tamu? Walau bagaimana pun, mesti kepentingan yg berbicara, namun bukankan kepentingan adalah salah satu hal yg abadi dalam dunia ini?

Kalau doi namu di rumah ortu gw sih gampang kalau gw harus menentang tamu. Bisa saja dengan tetap menonton TV dan menyetel volumenya keras2 misalnya. Dengan berjalan mondar mandir mengganggu pembicaraan mereka dan membuat jengah sehingga tamu segera pamit. Dengan mencampurkan pencahar ke teh manis/kopi yg mama suruh kami sajikan. Dengan memecahkan peralatan makan/minum khusus secara sengaja, setidaknya mencoba membuat mama jera membeli peralatan makan yg lebih mahal dari yg biasa kami pakai. Namun itu pun tidak pernah bisa kami lakukan, karena pengajaran yg ditanamkan di rumah itu adalah kami harus menghormati tamu salah seorang anggota keluarga. Kalau memang tamunya tidak diundang dan tidak diinginkan, mesti sudah ditolak di pintu gerbang dan tidak bisa masuk ke rumah kog.

Tapi bicara soal tamunya negara,
kalau Indonesia memang benar adalah tanah air beta dan Pak SBY adalah presiden yg dipilih, tentunya berbeda dengan ortu yg tidak bisa dipilih, mempertanyakan kepentingan kedatangan tamunya adalah hal yg sah2 saja. Kalau memang ada kepentingan yg kami belum mengerti, tolonglah kami menjadi lebih dewasa untuk mengerti. Kalau memang kami belum dewasa, terima kasih untuk memperlakukannya dengan arif. Nah saat ini yg gw liat, 6 milyard buat kunjungan 6 jam kayaknya berlebihan deh.


Sunday, November 05, 2006

Je veux vivre

* Courtesy of Faudel

Pada suatu waktu di saat dingin sampai menusuk ke tulang di UK, room-mate gw asal Algeria NadiaLouail bersenandung lagu berbahasa arab dengan riangnya. Tanpa mengerti lagunya, senandung ini menemani kami (+ LiNing) melewati malam bersama bulan purnama (my favorite scene: full moon in winter!). Gw dan LiNing ngikutin senandungnya dengan berdengung2 aja.

Eh pas ngedengerin lagu ini, kebetulan di bawah sinar bulan purnama tapi tanpa winter dan kedinginan, kebetulan lagi penyanyinya rada2 mirip Nadia (pol dengan jaket kulit kebangsaannya), gw jadi teringat senandung itu... quite a chance.

{Refrain:}
Je veux vivre, vivre
Bahri n'hich, n'hich

Je veux vivre pour manger touts les livres
Je veux vivre pour connaître les enfants
De mes petits enfants, pour atteindre 100 ans
Pour atteindre 1000 ans, pour être heureux et libre

Je veux vivre pour courir sur la grève
Je veux vivre pour embrasser mes rêves
Pour embraser mes jours pour connaître l'amour
Et les heures qui enivrent, je veux vivre

{au Refrain, x2}

Je veux vivre toutes les joies de la terre
Je veux vivre et parcourir les mers
Je veux vivre pour sonner la planète
Sans en laisser une miette, je veux voir toutes les villes
Plonger de toutes les îles que leur ciel me délivre

{au Refrain}

Je veux vivre pour avaler le monde
Je veux vivre de mondes qui frissonnent
De milliers de pays de millions de personnes
D'un milliard de récit, je veux pouvoir les suivrent

Je veux vivre sans jamais m'assoupir
Je veux vivre sans jamais me trahir
Pour que chaque saison recolore mes passions
Pour dévorer le temps qui cesse de me poursuivre
Je veux vivre...
Bahri n'hich...

Pour ce que lorsque la mort viendra me faire, un sort
Elle ne puisse jamais, jamais déraciner tout ce que j'ai planté
Tout ce que j'ai semé qui me fera survivre

{au Refrain, x2}

D'après Faudel, cette chanson est écrite et composée par deux jeunes toulousains, est plus qu'une chanson : c'est un véritable hymne à la vie et à l'amour.