Monday, June 29, 2009

Akhirnya Nangis Juga

Setelah beberapa bulan ini gw terkadang ingin sekali menangis secara 'normal', maksud gw menangis dengan keluar air mata. Banyak peristiwa yg seakan beruntun yg membuat gw lebih menyukai kesendirian, bahkan keberadaan babang pun terkadang membuat gw jadi merasa bersalah krn tidak mampu mengusir rasa ingin tenang dan istirahat.

Kemarin seperti biasa gw gereja bersama teman baik gw dan mendengarkan kotbah yg sebelumnya menurut gw sangat biasa, mengenai 'be a master of our life'. Waktu pengkotbah bilang kalau ada masalah cukup menangis, tapi percaya ada maksud Tuhan dan minta Dia memimpin kita melalui pelajaran menjadi master ini. Langsung gw berbisik ke temen gw, "Vis, sekarang nangis pun gw gak bisa, gak keluar air mata".

Saat kotbah selesai, sebelum doa pendeta mengajak umat merenung sambil mengingatkan halus menyadari penyertaan dan ajaran Tuhan dalam menghadapi masalah dalam hidup. Gw yg tetap percaya Tuhan ada dalam setiap masalah gw, sesaat berguman "Tuhan, kenapa mesti begini 'terus' dan gw gak merasa memenangi ujian2Nya, tapi kog sekarang saat gw sangat2 sedih pun kog gw gak bisa nangis?"

Dalam perbincangan dg Tuhan itulah, gw menyadari betapa hancurnya hati gw dan ternyata saat itulah air mata mulai mengalir sedemikian dan membuat gw terisak dan keluarlah air mata memenuhi rongga di antara mata dan kaca mata gw. Syal yg gw pakai pun berubah fungsi menjadi selampe sesaat.

Akhirnya gw merasa tenang, karena akhirnya gw bisa nangis normal lagi.
Terimakasih Tuhan.

Monday, June 22, 2009

Life is indeed not fair

Hari sabtu gw dating makan siang dengan dua dokter cantik teman2 SMA gw. Udah lama gw pengen makan siang ama mereka tapi jadwal di antara kami susah match, sore mereka praktek sementara sabtu biasanya gw (dulu) kuliah atau sekarang golfing.

Kami ngobrol ngalor ngidul, saling ngupdate, cerita soal diet dan gigi, dan update teman2 lainnya. Sekian jam berlalu ditemani makanan dan minum di sebuah kafe yg lumayan nyaman.



Saat kami berpisah, salah seorang di antara mrk bilang, "what a life, you could have been a doctor like us. We've been known each others for eras, and we know well how much you wanted it."



I said, "hey, I once regret it, but not anymore. I'm moving on. Life indeed is not fair, but I trust God. Look at me now, not bad than a doctor rite and surrounded by you all. Plus, I got very nice bonus, not one but two, God has showed me how to help two of His man become doctors. This even more than an answer to my prayer. Please don't feel sorry for me. I made it this far only by and for His will."



Still the answer, "Lo emang kuat banget 'tha. Good luck 'tha, as you said life isn't fair. Look at those who still gone shopping in spite of economy crisis."



Final answer as I have to go, "Dearest, please stop doing such comment, nobody - not even God - ever promised that our life would be just fair. Bukan kuat gw, but we just have to accept it, our part is just don't do anymore damages to whom feels not as lucky as us. You guys are doctor, be a good one. Not only for me, but also for others."



Cupika cupiki and bye. Yuks, kita stop doing such. Be blessed at anytime, dear. It's true that I once regret it, but I know that my life now surrounded by trusted experts and love. Only God who is able to let me know you both and thanks to Him.



If my life was fair,
I know for sure that I could have lost this excitement of staying alive.

Wednesday, June 10, 2009

Seruuuu

Malam ini gw memutuskan nonton siaran langsung deklarasi pemilu damai dibandingkan tadinya mau makan di luar. Tiap2 pasangan kandidat menyuguhkan 'pertunjukkan kesenian' dan orasinya. Favorit gw dari pertunjukkan yg disajikan adalah:

-- monolog Butet
kreatif menggelitik, sarat 'kritik', disampaikan dg ringan walaupun penuh konten

-- gerak tari dinamis dg irama musik nusantara.
tidak mewakili satu propinsi tertentu, memakai pakaian yg tidak perlu disewa/beli melambangkan kesederhanaan, namun koreografer sulit.

-- orasi JK - Pak Wiranto... JK yg selalu memakai KAMI dan Pak Wiranto yg tanpa nada menggurui, tanpa kilas jumawa, melainkan mengutip apa yg menjadi 'ajakan' umum, seperti bangsa besar adalah bangsa yg menghormati pahlawan, yg ingin hari esok yg lebih baik (bukan yg sama) dan hari esok yg lebih baik. Justru yg umum itulah yg terasa lebih sejuk dibandingkan orasi yg terdengar sebelum2nya. Orasi Ibu Mega terasa emosi 'ndalem', orasi Pak SBY penuh dg janji namun ajakan 'kosong' - wong jabat tangan aja enggak kog apalagi silahturahim.


Duh!


Walau apa yg pernah ditandatangani terkadang dilupakan, dengan amat sangat, jangan berdamai di depan tv saja, dan jangan bosan damai.Terutama ajaklah tim kampanye atau siapa pun yg mendukung untuk damai. Asal jangan 'damai aja lah Pak' sambil menyodorkan uang - seperti saat melanggar peraturan lalu lintas (oops).

Walau kata 'damai' dekat kekerabatannya dengan 'perang', dalam hal ini adalah perang suara rakyat. Jadi, agaklah aneh kalau pemilu yg satu sisi adalah pesta rakyat, di lain sisi adalah 'perang' jendral - mengutip kata2 media. Deklarasi damai yg diselenggarakan KPU ini, buat gw, adalah bukti bahwa betul adanya pemilu adalah peperangan.

Jangan bosan damai Pak, Bu.
Seruu juga 'perang' nya tadi dalam deklarasi damai... hehehe