-- monolog Butet
kreatif menggelitik, sarat 'kritik', disampaikan dg ringan walaupun penuh konten
kreatif menggelitik, sarat 'kritik', disampaikan dg ringan walaupun penuh konten
-- gerak tari dinamis dg irama musik nusantara.
tidak mewakili satu propinsi tertentu, memakai pakaian yg tidak perlu disewa/beli melambangkan kesederhanaan, namun koreografer sulit.
tidak mewakili satu propinsi tertentu, memakai pakaian yg tidak perlu disewa/beli melambangkan kesederhanaan, namun koreografer sulit.
-- orasi JK - Pak Wiranto... JK yg selalu memakai KAMI dan Pak Wiranto yg tanpa nada menggurui, tanpa kilas jumawa, melainkan mengutip apa yg menjadi 'ajakan' umum, seperti bangsa besar adalah bangsa yg menghormati pahlawan, yg ingin hari esok yg lebih baik (bukan yg sama) dan hari esok yg lebih baik. Justru yg umum itulah yg terasa lebih sejuk dibandingkan orasi yg terdengar sebelum2nya. Orasi Ibu Mega terasa emosi 'ndalem', orasi Pak SBY penuh dg janji namun ajakan 'kosong' - wong jabat tangan aja enggak kog apalagi silahturahim.
Duh!
Walau apa yg pernah ditandatangani terkadang dilupakan, dengan amat sangat, jangan berdamai di depan tv saja, dan jangan bosan damai.Terutama ajaklah tim kampanye atau siapa pun yg mendukung untuk damai. Asal jangan 'damai aja lah Pak' sambil menyodorkan uang - seperti saat melanggar peraturan lalu lintas (oops).
Walau kata 'damai' dekat kekerabatannya dengan 'perang', dalam hal ini adalah perang suara rakyat. Jadi, agaklah aneh kalau pemilu yg satu sisi adalah pesta rakyat, di lain sisi adalah 'perang' jendral - mengutip kata2 media. Deklarasi damai yg diselenggarakan KPU ini, buat gw, adalah bukti bahwa betul adanya pemilu adalah peperangan.
Jangan bosan damai Pak, Bu.
Seruu juga 'perang' nya tadi dalam deklarasi damai... hehehe
Seruu juga 'perang' nya tadi dalam deklarasi damai... hehehe