Sunday, October 29, 2006

A Day Like Today



I have to admit that a day like today is very difficult for me, may also be for others.

Start to work tomorrow, vacation days suspended until next ones.

vacation.vacation.vacation.vacation.just another vacation please...

Bus Sekolah

yg kutunggu kutunggu
tiada yg datang
ku telah lelah berdiri berdiri
menanti nanti

nyambung cerita tentang bus sekolah yg sempat gw nikmatin pas SMA, ternyata 'terdengar' juga ama yg berkepentingan (apa coba?)

ternyata, bus sekolah yg kutunggu kutunggu sedang dibuat
ku telah siap berdiri berdiri
abis geratis :-))

Tuesday, October 24, 2006

Hari Baik Bulan Baik

Selamat hari raya Idul Fitri 1427 H buat semua handai taulan/kenalan dan teman2 semua yg merayakannya.

Baiklah di hari baik bulan baik ini, Artha mohon maaf lahir dan bathin atas segala kesalahan ucap atau perbuatan yg mungkin telah terucap/terbuat kepada semua handai taulan/kenalan dan teman2 semua. Seperti ada tertulis dalam sebuah kartu ucapan lebaran di tahun ini, demikianlah hendaknya tali silahturahmi di antara kita,

Forgivenesss does not change the past,
but it does enlarge the future


I hope everyone has a good time today, Happy Eid Mubarrak. May God's blessings always be with us and our beloved family, and our beloved extended families, and our beloved nation, and our beloved world.


Sunday, October 22, 2006

Arti Kematangan

Gak tahu apa yg ada di pikiran Melly saat nerima orderan nyiptain lagu untuk film Heart, dan gimana rasanya saat ndengerin lagu ciptaannya sendiri. Tentunya cuma Melly yg tahu yg sesungguhnya. Namun, saat Melly harus ngomentarin cara penyanyi menyanyikan lagu tersebut, tentunya menarik, wajar kan kalau seorang pencipta lagu kurang lebih punya gambaran bagaimana lagunya dibawakan.

Barusan aja gw menyaksikan tatapan pandangan Melly saat lagu "Pencinta Wanita" dinyanyikan oleh Harvey yg berduet dengan Darius dalam acara selebriti jam di antv. Lagu itu aslinya dinyanyikan oleh aktor utama film tersebut, Irwansyah yg notabene baru masuk dunia nyanyi komersil. Tanpa menyaksikan acara itu, bisa ditebak dong kalau Harvey menyanyikannya berbeda dg sang penyanyi aslinya. Walau tidak dengan gaya festivalnya, namun jam terbang memang berbicara. Lagu yg tadinya gw anggap cuma kuat di liriknya - sederhana tapi gak biasa khasnya Melly - menjadi sangat menarik dan lebih enak didengar saat dinyanyikan dengan warna vokal Harvey, plus didukung penampilannya yg chic bergaya anak muda tadi - walau gw akui agak keganggu pas bagiannya Darius nyanyi sih (peace man, wajar aja lo pan bukan penyanyi :-)

Siapa yg bakal nyanyiin lagunya, sepertinya tidak mempengaruhi Melly saat mencipta lagu sesuai orderan. Dan buat Harvey, walau lagunya lagu abegedan selintas bukan "kelas"nya, ia tetap menyanyikannya dengan sangat baik. Keduanya menunjukkan arti kematangan yg jelas tidak didapat di bangku sekolahan, being profesional. Bravo Melly dan Harvey.

"Pencinta Wanita"

ku temukan dalam pencarian
cinta sejati untuk hidupku
kurang lebih yg spt dia
ku harap dlm cintaku

ku tak mau menjanjikannya
pasti bahagia bila denganku
biar dia rasakan sendiri
betapa gilanya cintaku

Chorus:
aku memang pencinta wanita
namun ku bukan buaya
yg setia pada seribu gadis
ku hanya mencintai dia

aku memang pencinta wanita
yg lembut spt dia
ini saat ku akhiri semua
pencarian dalam hidup
cintaku ternyata aku mau hanya dia


Setiawan Djody yg menjadi juri di acara tersebut pun memuji lirik lagu yg katanya rada2 ndalem - berdasarkan pengalaman nih, hahaha. Eniwei, penampilan Harvey membuat gw teringat what a wise man said, "You can take a man from a village, but you can't take a village from a man".

*setelah kejadian Harvey ini, pengen deh denger lagu MyHeart-nya ciptaan Melly untuk film ini juga dinyanyiin KD-Anang ... hehehe

Tuesday, October 17, 2006

Republik Citra

Tadi siang waktu Yanti menelpon khusus memberitahukan tentang keberadaan iklan layanan masyarakat yg gw ceritakan kepadanya sebelumnya, membuat gw cukup lega. Iklan yg dimaksud tentang himbauan pemerintah (BI) untuk tidak melipat ataupun meremas uang secara sengaja merusaknya. Ceritanya bermula saat gw melihat bunga uang di acara pernikahan lulu tobing-danny rukmana di televisi. Bukan kekaguman yg gw lontarkan atas yg (katanya) kreatifitas, melainkan ironi.

Saat menonton acara itu, gw teringat kalau beberapa hari sebelumnya gw baru saja menonton/membaca iklan layanan masyarakat tersebut. Pesan yg disampaikan di dalamnya ditekankan untuk menghargai uang sebagai penghargaan atas hasil keringat sendiri. Tapi selain uang berfungsi sebagai alat pembayaran yg sah seperti tertulis jelas di tiap lembar uang kertas tersebut, uang juga adalah barang kehormatan republik ini secara adanya lambang negara dan ttd pejabat negara. Sayangnya, waktu itu di antara beberapa teman, cuman gw yg merasa pernah melihat iklan tersebut. Ternyata iklan itu tidak setenar iklan layanan masyarakat tentang pengenalan uang palsu dengan kampanyenya yg cukup sering bergaung, "dilihat-diraba-diterawang". Jadi kepastian Yanti tadi cukup melegakan untuk topik yg nyaris terabaikan ini.

Menurut gw, bukan kapitalisasi uang sekedar menggantikan souvenir yg bisa saja dibeli dengan kapital yg sama. Tapi bayangkan, kalau gw gak salah liat waktu itu, berarti baru beberapa hari saja pemerintah berbicara eh tak lama kemudian himbauan tersebut langsung dilecehkan. Dipertontonkan kepada khalayak ramai lagi! Kalau itu dianggap sebagai guyonan saja, duh sayang sekali yah. Tapi toh, menteri2 ataupun tokoh masyarakat yg ada di acara tersebut pun sepertinya menerima saja, atau sudah ada delik aduan? Di tv juga terlihat pandangan celamitan seseorang bercerita tentang bunga uang yg sempat jadi rebutan itu. Duh! Juga kalau yg dipermasalahkan hanya citra keluarga tersohor ini, sayang sekali. Iklan tersebut toh jelas2 dikeluarkan oleh BI which is notabene pemerintahan RI, yg notabene langsung dilanggar oleh salah satu keluarga terpandang, ironi bukan?

Citra jugalah menurut gw yg terwakilkan oleh jajak pendapat 2th pemerintahan SBY-JK yg akhir2 ini dikutip dimana2. 67% rakyat menyatakan kepuasannya dalam hasil jajak pendapat yg dimotori LSI tersebut. Melalui blognya SBY, Pak Andi menyatakan bahwa SBY bersyukur atas dukungan rakyat dan kembali membuat janji untuk masa depan yg lebih sejahtera. Toh perlu dicermati juga bahwa sampai bulan Maret yl, hasil survey yg sama menyatakan penurunan kepuasan yg cukup berarti ke level terendah selama pemerintahan duet tsb. Baru setelahnya, dalam 2 bulan (April-Mei) angka kepuasan tersebut menanjak dan akhirnya mencapai level 67%. Coba liat potretnya di akhir tahun 2005. Oke2 saja sih kalau hasil baru ini menunjukkan peningkatan citra mereka di mata masyarakat saat ini, tapi apa angka tersebut betul adalah laporan pandangan mata rakyat terhadap hasil pemerintahan SBY-JK, atau lebih kepada citra atau karisma figurnya saja?

Sama seperti kamera gw yg memotret sunset yg indah di sebuah pantai yg sebenarnya tak terurus (misalnya). Toh pada kenyataanya, sunset tidak selalu seindah saat gw memotret itu, ada hari2 dimana matahari bersembunyi tanpa semburat warna yg spektakuler. Jika potret sunset yg pas kebetulan bagus itu diletakkan sebagai iklan pariwisata, tentunya akan menarik orang untuk datang berkunjung. Namun, jika yg dihadapinya adalah lokasi pantai yg kotor dan matahari pun bersembunyi, tentunya suasana sunset tidak seindah gambarnya. Hal itu tentu akan menimbulkan rasa kecewa dan tertipu. Nah, untuk bisa mengetahui kebenaran potret pantai tersebut, biasanya beberapa orang akan meminta pendapat teman yg tahu atau pernah ke pantai itu atau membekali diri dengan informasi2 lainnya tentang pantai tersebut.

Dengan analogi memotret pantai tersebut, atas nama perimbangan marilah kita tengok informasi2 lain selain rasa puas melihat gambar hasil pemotretan LSI tersebut. Masih banyak kasus2 yg harus dicermati, sedikit di antara beberapa koleksi potret yg gw kumpulkan,
  • Siapa sesungguhnya mayoritas penduduk negara ini? Kaum petani? Buruh? atau peminta2 terselubung (baca: peminta2 duit proyek).
  • Kasus kemiskinan sebagai centre masalah2 sosial. Pengangguran meningkat terus.
  • Kasus2 negara baik secara undang2 maupun praktisi kenegaraan. Reformasi hukum dan pemerintahan di semua level.
  • Kasus Munir.
  • Kasus Lusi.
  • Kasus Hamid.
  • Kasus Pak Jaksa. Sulitnya mendapatkan hakim agung di negara berpenduduk lebih dari 200juta ini.
  • Kasus Poso, baik sniper dan "penghilangan" orang. Bukan potret baru, sudah berulang kali marak sejak jaman orde baru. Yg sangat hangat di ingatan adalah penembakan seorang pendeta di lokasi umum yg disaksikan oleh istrinya sendiri. Tanya kenapa? Gak ada demonstrasi besar2an oleh pendukungnya atau televisi memang melakukan tebang pilih pengungkapan fakta pada prime time? Apa pendukungnya takut? Atau pengajaran kasih yg nyata dengan "ditampar pipi kiri lalu kita berikan pipi kanan"? Tentunya hal ini sama sekali bukan hal yg mudah dilakukan disaat banyak hal2 yg sudah dimaklumkan oleh rasa ketakberdayaan minoritas yg sudah terkondisikan. Suasana bertambah kisruh dengan keberadaan beberapa bom di beberapa tempat. Dimana rasa aman itu? Tolong Pak SBY-JK, terungkapnya kasus ini adalah secercah harap masih adanya keadilan dan NKRI tidak lagi menjadi wacana yg menyedihkan.
  • Kasus2 kaum minoritas, kaum perempuan dan anak2 misalnya. Persoalan2 sosial dan keadilan yg banyak "belum" menjamah komunitas ini, misalnya saja seputar hak anak, hak anak2 terlantar, hak buruh anak2, dan banyak hak2 lainnya. Toh mereka tidak memilih dilahirkan sebagai anak Indonesia. Jangan berdalih bahwa toh negara juga tidak ada pilihan, ini toh bukan pilihan kalau anak adalah titipanNya.
Tentunya kalau mau ngomongin masalah, itu banyak. Bukan di situ intinya pengumpulan potret2 ini, dan bukan sekedar untuk diklipping dalam album kenangan yg nantinya hanya akan berdebu di pojok lemari. Melainkan ada hal yg menarik gw dari kumpulan potret2 ini, yaitu keberadaan buku yg secara khusus memuat janji2 dan komitmennya duet SBY-JK untuk bangsa ini. Buku tersebut berjudul Janji dan Komitmen yg notabene adalah hasil pengumpulan berita2 di media2 baik saat kampanye maupun awal2 kepemimpinan duet SBY-JK. Disitu tertulis dalam hitam dan putih semua janji dan komitmen yg pernah dilontarkan. Janji dan komitmen yg secara nyata menegaskan bahwa pendidikan, kesehatan, pengangguran, kemiskinan dan reformasi hukum menjadi sasaran utama. Cocok seperti ide penulis, bagaimana bukti janji dan komitmen yg telah membawa mereka meraih suara terbanyak di putaran kedua pemilihan presiden? Bukankah orang dinilai dari apa yg dikatakannya? (atau politikus adalah pengecualian dari bagian hukum karma duniawi ini?)

Ada lagu Vina yg langsung gw ingat tentang citra, judulnya Citra Biru. Begitu liat syairnya, yah sepertinya ini cocok menggambarkan suasana saat gw berpikir tentang yg 67% itu.

Citra khayalku
Membawaku ke alam yang semu berkabut kelabu
Aku semakin ragu, semakin tak tahu
Citra biru datang berlalu
Meninggalkan satu kenangan
yang mungkin berkesan
untuk membuka jalan

Di masa depan sebelum prasangka mengganggu
kutahu ini tak selalu terlupa
menjadi satu kenyataan yang indah
kulihat hari semakin cerah
inikah jawaban bagi hati yang gundah



Moga2 masa depan yg lebih sejahtera ini bisa terealisasi di republik yg mulai meraih citranya di mata DK PBB, pan gak lucu Pak kok ngurusin keamanan dunia sementara keamanan rumah sendiri dipertanyakan. Dan kalau hanya mengandalkan citra, apa negara ini hanya sekedar republik citra?

Dimulai dengan citra yg baik, dilengkapi dengan rahmatNya, tentunya seseorang bisa menghasilkan pekerjaan lebih baik. Terlebih jika pekerjaan itu menyangkut hajat hidup orang banyak. Amin.

Monday, October 16, 2006

me series (2)

Ini di forward ama Nenny beberapa waktu yl.
Di Jepang, ramalan ttg seseorang lebih ditentukan oleh golongan darah daripada zodiak atau shio.
Kenapa?
Katanya, golongan darah itu ditentukan oleh protein-protein tertentu yang membangun semua sel di tubuh kita dan oleh karenanya juga menentukan psikologi kita.

Benar apa tidak?
kata Artha: terserah anda benar/tidak nya, namanya juga ramalan, dan case di Jepang kan belum tentu case di Indonesia atau pun negara2 lainnya. Tapi cukup interesting gw juga saat baca golongan darah O yg case gw banyak yg rada2 bener deh dengan deskripsi golongan darah O :-))

Kata ramalan orang Jepang,
in general
O
berjiwa besar, supel, gak mau ngalah, alergi pada yg detil,
kecenderungan politik: "centro"

Rank (out of 4 among A, B, AB and O blood types)
Yg paling gampang ngaret soal waktu :
--2 O (krn flamboyan)
Yg paling susah mentolerir kesalahan org :
--4 O (easy judging tapi juga easy pardoning)
Yg paling bisa dipercaya :
--2 O (demi menjaga balance)
Yg paling disukai utk jadi teman :
--1 O (orangnya sportif)
Kebalikannya, teman yg paling disebelin/tidak disukai:
--4 O (sulit mengalah)

Brain and Capabilities
Yg paling mudah kesasar/tersesat :
--3 O
Yg paling banyak meraih medali di olimpiade olah raga :
--1 O (jago olah raga)
Yg paling banyak jadi direktur dan pemimpin :
--1 O (krn berjiwa leadership dan problem-solver)
Yg jadi PM jepang rata2 bergolongan darah :
--1 O (berjiwa pemimpin)
Yg paling gampang nabung :
--2 O (suka melihat prospek)
Yg paling kuat ingatannya :
--1 O

Health
Yg paling panjang umur :
--1 O (gak gampang stress, antibodynya paling joss!)
Yg paling gampang gendut :
--1 O (nafsu makan besar, makannya cepet lagi)
Paling gampang digigit nyamuk :
--O (darahnya manis)
Yg paling gampang flu/demam/batuk/pilek :
--3 O (makan apa saja enak atau nggak enak)
Apa yg dibuat pada acara makan2 di sebuah pesta :
--O (banyak ngambil protein hewani, pokoknya daging2an)
Yg paling cepat botak :
--1 O
Yg tidurnya paling nyenyak dan susah dibangunin :
--4 O (baru tidur kalau benar2 capek dan membutuhkan)
Yg paling cepet tertidur :
--2 O (Kalau lagi capek dan gak ada kerjaan mudah ken ngantuk)
Penyakit yg mudah menyerang :
--O (gangguan pencernaan dan mudah kena sakit perut)
Apa yg perlu dianjurkan agar tetap sehat :
--O (Krn daya konsentrasi tinggi, maka perlu juga mengobrol santai, jalan-jalan)
Yg paling sering kecelakaan lalu lintas (berdasarkan data kepolisian) :
--3 O

Sunday, October 15, 2006

C1000

Am I on vacation?
-- no, it's just a sunday

Am I in heaven?
-- not that luck, still on earth

Bali, Maldive, Bahamas kind of place?
-- nope, liquid in my apartment and parents house.

So?

Yeah, this feels like a 1000mg vitamin C. After a busy saturday, today is a kind of self-healing process all over my body and soul. I called this as one of my best days in life.

Started late sunday wake up (which lately difficult to have one), a healthy breakfast with banana-chocolate lumpia and a cup of coffee. Spend morning with mom. Lunch with my lovely one served by my best cook, which is only cook whatever in the fridge that turns to be (just) a nasi goreng. A gooood creambath massage. Full blessing of church service. Eating out for dinner. Listening to Audy singing in antv.

Just as 1000mg vitamin C, I don't take it every day. Only days when I really need it. Days when this body feels tired and exhausted. Days when I am trying to get better after sick.

Love it. Take it. This 1000mg vitamin C which keep me steadfastly cheerful, though in tough times.

Just in time for sleep.

Monday, October 09, 2006

Monday Break



















YOU MOVE

Life is a game, PLAY IT
Life is a challenge, MEET IT
Life is an opportunity, CAPTURE IT

*) phrase quoted from an inspirational card

Dedicated to my best friend in her time of trouble.

You called me in the middle of the night.
Told me problems you have had.
It's just you and I who understand how this feels.
When things go smooth and sunshine, we share smiles.
And when things just like nightmares in the line,
we share the tears.

Go and fight!

Monday, October 02, 2006

Why men need a map?

"maybe because he lives in Jakarta... hehehe"


Weekend lalu gw sempat muter2 di daerah Mampang. Gara2 mau menghindari macet, gw maen belok aja ke salah satu jalan yg entah karna sok tahu atau ngerasa familiar, gw merasa akan terhindar dari macet. Gw mulai nginget2 jalan yg beberapa tahun yl sering gw lewatin secara gw pernah tinggal di Jl.Prapanca. Ternyata, bukannya selamat dari macet, malahan gw cuman muter2 doang selama sejam dan balik2 ke jalan yg sama. Menyebalkan. Et, voila, hari ini gw dapet hibahan map Jakarta dari seorang expat yg mudik ke kampungnya. Segeralah gw buka dan sekarang bisa ngerti deh salahnya dimana. Map online

Itulah, walau ngerasa familiar dalam hal jalanan, Jakarta sudah banyak berubah. Transportasi umum pun demikian. Trayek2 langganan gw dulu sudah tergusur oleh bus2 yg lebih baru dan (tentunya) tarifnya lebih mahal. Ke arah yg lebih baik? Only heaven knows, but let's hope for a better and have trust on it.

Kenapa jalanan di Jakarta semrawut?

Waktu gw SMA, seinget gw ada beberapa jenis bus. Bus sekolah, tentunya sesuai namanya ini bus khusus buat anak sekolahan. Model kedua adalah bus2 kecil seperti kopaja, metro mini dan bus yg biru itu (duh lupa namanya). Bus2 kecil ini terkadang nolak pelajar, kecuali yg mau bayar harga penumpang umum, tentunya bukan harga khusus anak sekolahan. Waktu itu anak sekolah/mahasiswa bayar Rp100,- sedangkan harga biasa Rp 250,-. Yang ketiga, bus tingkat. Bus ini bersahabat dengan pelajar dan termasuk yg paling murah dan pantang menolak penumpang. Nah, akibatnya bus sering (atau selalu) penuh. Bus ini juga bus yg paling lelet, ya karna bentar2 ambil penumpang. Yg berikutnya bus patas biasa. Walau nerima pelajar, terkadang tarifnya kudu tarif normal saat jam2 rame. Bus ini jalannya lebih cepat dibanding bus tingkat. Dan yg terakhir, waktu gw kelas 2 SMA atau tahun 1992 deh baru mulai ada bus Patas AC, jenis ini jelas2 menolak tarif pelajar. Bahkan sangking gak percayanya ada pelajar mau bayar harga normal, bus jenis ini jarang berhenti kalo distop pelajar. Jadi, tentunya sebagai pelajar waktu itu, gw akan memilih bus sekolah atau bus tingkat, sangat jarang gw naik bus patas atau boro2 patas AC yg 10x lebih mahal dibanding tarif bus anak sekolahan yg jadi Rp 100 tahun 1992 (sebelumnya Rp 50:-). Terus sekitar tahun 93-an (ntar deh kalo salah, gw koreksi) baru ada bus gandeng (masih ada gak yak?), sayangnya bus ini gak punya trayek sampai Cengkareng, jadi jarang banget gw naikin waktu itu kecuali mau ke Senen buat ngejar bus tingkat no.26.

Gw bukan orang satu2nya yg memilih bus sesuai dengan keperluan dan juga kemampuan bayar. Jadi, jelas2 bus tingkat itu bus ekonomi dan bus patas dan AC adalah bus eksekutif. Itu juga sesuai dengan fasilitasnya, bus patas ataupun patas AC saat itu jarang sesak2an dibandingkan bus kecil ataupun bus tingkat. Tapi hal itu gak berlaku lagi beberapa tahun kemudian. Banyak orang mulai rela membayar lebih mahal walau berdesak2an di patas AC. Yah, Jakarta mulai macet gak karu2an, tentunya walaupun harus berdiri berdesak2 an masih lebih baik di udara sejuk dibandingkan dengan bus tanpa udara mengalir sama sekali. Ya toh?

Kenapa jalanan di Jakarta semrawut? Kembali ke pertanyaan itu. Menurut gw dan beberapa teman lainnya yg sependapat saat diskusi kemaren, penyebab awalnya adalah jumlah orangnya dah kebanyakan. Akibatnya, jumlah kendaraan umum sudah sangat sulit mengimbangi pertambahan demand, ditambah lagi kendaraan pribadi yg terus bertambah. Rencana kota2 satelit sekarang menjadi agak basi dengan ide "kembali ke kota" seiring maraknya pembangunan apartemen. Mengusir orang2 tak ber-KTP hanya sebulan lah paling lama dilakukan setelah lebaran, setelahnya Pemda hanya bisa mengelus dada karna banyak yg memang masih terpesona dengan lenggak lenggok Jakarta. Walau ibukota itu kejam dan tak menjanjikan pekerjaan atau pun hidup yg lebih baik, tapi yg penting "gak tinggal di kampung" masih terdengar menjadi alasan. Masalah sosial udah seperti "chicken and egg" problem deh, jadi yg mana yg mau diselesaikan duluan?

Mangga Pak Sutiyoso dipraktekkan hasil study bandingnya ke kota2 megapolitan. Tapi, untuk itu butuh map juga tuh Pak, biar gak berantakan kayak sekarang. Syukurlah dengan semakin terbukanya meja gubernur buat masyarakat, hanya sayang penerapannya yg kurang merakyat. Bang Yos, mana jalur penghijauan yg dijanjikan? Mana peta jalur trotoar buat pejalan kaki yg aman dan gak berlobang2? Yang utama, mana jalur penyandang cacat yg selama ini sepertinya selalu kelupaan... kalo kelupaan (lagi), coba ditambain deh di rencana (katanya) keren Jakarta 2010 yg penuh dengan besi2 itu. Yang ditiru jangan modernisasinya kota2 besar itu, tapi juga sisi humanisasinya Bang! Goodluck.

Sapa suruh datang Jakarta
Sapa suruh datang Jakarta
Sandiri suka sandiri rasa... edoe sayang...
*lagunya mama waktu gw kecil... terngiang2 terus di telinga gw kalo pas menghadapi ruwetnya Jakarta ... hehehe