Tuesday, May 29, 2007

Kapan kawin?

Pertanyaan tersebut dalam sebuah iklan rokok yg diperankan oleh Ringgo, dalam kehidupan sehari2 lebih sering ditujukan kepada kaum perempuan. Hal tersebut menimbulkan secara langsung (menurut gw kurang tepat kalau dibilang tidak langsung) pemikiran bahwa kapan seseorang kawin itu merupakan hal penting. Terkadang disertai dengan imbuhan, “jangan sampai kadaluwarsa lho...”

Yah demikianlah budaya “yg dianggap normal” sebagian besar suku2 di Indonesia, sejalan dengan rentetan pertanyaan2 yg sering terdengar sebagai berikut:
<20 tahun – kapan selesai sekolahnya?
>20 tahun – kapan kawin / menikah lah lebih halus
sesudah menikah – kapan punya anak?
sesudah punya anak – kapan mantu?
sesudah punya mantu – kapan momong cucu nih? Kapan nyusul yg lain?
sesudah punya cucu – udah berapa cucunya? Kapan yg lainnya nyusul
dstnya

Jadi sebenarnya, pertanyaan itu sendiri lah yg dalam konteks kehidupan di lingkungan penuh rasa ingin tahu di atas, menjadi penting. Sepertinya kalau pertanyaan tersebut belum terjawab mengakibatkan pertanyaan2 selanjutnya mandeg. Yah mungkin udah di ujung bibir kali yak :-) iya gak?

Menurut pengalaman gw, toh sebenarnya yg nanya juga terkadang sekedar basa basi. Tidak semuanya benar2 sebagai bentuk perhatian personal yg terdalam. Yang menanyakan pun terkadang sekedar kenalan yg belum tentu tahu sisi pribadi kita atau baru mengenal kita dalam waktu yg tidak terlalu cukup untuk saling mengenal dalam artian personal. Bahkan dalam beberapa kasus ekstrem, terkadang jawabannya pun tidak ditunggu lagi. Bila sang penanya merasa mengenal yg ditanya, ia pun sudah siap dengan rentetan nasihat, misalnya ”ingat lho udah kepala 3”, ”ingat lho ada jam biologi”, ”ingat lho kodrat”...

”Ibu/bapa/tante/om/saudara/teman/handai taulan yg saya hormati, kalau ibu/bapa/tante/om/saudara/teman/handai taulan saja di tengah kehidupan pribadi dan kesibukan masing2 mengurus pekerjaan dan rumah tangga ibu/bapa/tante/om/saudara/teman/handai taulan masih sempat2nya memikirkan umur saya, jam biologis saya, kodrat saya, saya cuman mau bilang: apalagi saya. Jadi terima kasih lho untuk perhatiannya.”

Tante gw pernah marah gara2 gw njawab gitu, katanya nge-nyek, kadang emang jalan pikiran gw yg ruwet ini gak kebaca sih ama mereka. Itu tandanya gw udah capek ditanyain mulu. Yah habis, mau dijawab kayak apa pun mesti ujung2nya sama. Kebanyakan memojokkan dengan ”kamu sih mikirin karir”, ”kamu sih terlalu mandiri". Padahal siapa juga yg mikirin karir, dan kalo dibilang mandiri yah menurut gw gak ada salahnya, toh buat yg kenal gw tahu banget kalo gw juga suka laki-laki – tentunya dalam porsi sewajarnya.

Katanya komentar/nasihat itu tanda sayang, terima kasih. Tanda perhatian, lagi2 terima kasih. Intinya, terima kasih buat rasa sayang dan perhatian semuanya. Gw cuman minta rasa sayang dan perhatian yg sama untuk diri gw, bukan untuk lembaga perkawinan itu sendiri. Sama dengan rasa sayang dan perhatian tersebut, boleh dong gw tetep disayang dan diperhatiin apa pun keputusan gw kalau toh membawa kebaikan buat gw. Sampai saat ini belom ada tuh yg bilang gini misalnya ”Ta, udah kamu pikirin masak2 belom untuk tidak menikah....” hahaha....

Keharusan kawin gw lihat membuat beberapa perempuan yg gw kenal menjadi terkurung dalam pola pikir yg sudah terbentuk sedemikian. Kebanyakan memang anak perempuan sejak masa remaja sudah mempunyai cita-cita (kalau bisa dibilang demikian) untuk menikah di usia tertentu. Kalau perempuan menginjak usia limit menurut pandangan masyarakat belom kawin, terus dibilang kadaluwarsa... kasihan deh yg punya pemikiran begitu, gw bilang sih pemikiran itu tuh yg dah kadaluwarsa.

Thank God yah at least sampai saat ini gw secara sadar belom mau untuk menjerumuskan diri dalam keharusan tersebut. Kalau ditanya mau kawin, ya masih mau sih... hehehe. Kenapa belum kawin, yah pilihan gw saat ini. Kalau gw kawin, maunya yah dengan semangat ”ibadah” dan ”partner in life” dan bukan karna keharusan. Bukan karena gw mandiri atau pun bukan karena udah terbiasa di lingkungan orang asing, walaupun ada hubungannya. Tapi untuk urusan kawin, menurut gw lebih baik kadaluwarsa umur biologis tapi perkawinan bahagia dengan partner in life daripada kawin demi supaya gak kadaluwarsa. Beberapa di tengah2 perkawinan harus bercerai dan (kebanyakan) orang2 toh tetep menyalahkan pihak perempuan ”terlalu mandiri sih”, ”gak mau ngalah sih”, ”mentingin karir sih”, ”gak bisa memaafkan suami sih”(walaupun jelas2 suaminya nakal)... So, what is the meaning of that big ceremony? Eh, abis itu kawin lagi... mandeg lagi, cerai lagi. Kawin lagi.... duh, kasihan deh ”masih belom tahu yah mbak apa yg dimau?”

Gw setuju dengan ide miss kadaluwarsa yg dipentaskan EKI production weekend lalu di GKJ, tema yg up-to-date, lagi in atau dengan kata lain bisa disebut tema yg tidak kadaluwarsa. Sinopsinya bisa lihat langsung di websitenya aja ya.

Hal2 yg kadaluwarsa selalu identik dengan sudah tidak layak. Makanan basi, minuman kaleng basi, obat basi contohnya adalah hal2 yg sudah tidak layak dikonsumsi. Bisa berhubungan dengan rasa (tentunya yg tidak disengaja basi rasanya tidak enak) ataupun berhubungan dengan berbahaya. Yah, obat kadaluwarsa bisa membahayakan kesehatan yg mengkonsumsinya.

Tapi seperti dikuti juga dalam script cerita, yah yg namanya kadaluwarsa gak selamanya gak enak toh, contohnya wine. Semakin kadaluwarsa, (biasanya) semakin enak. Gw pakai kata biasanya karena bagaimana pun juga kualitas wine yg bagus juga salah satu faktornya masih tergantung kondisi awal anggur yg digunakan. Contoh lainnya youghurt, keju dan beberapa produk fermentasi lainnya yg notabene adalah produk2 dari bahan dasar yg sudah basi. Contohnya yoghurt, untuk menghasilkan yoghurt yg enak, susu yg digunakan pun sedapat mungkin yg fresh, dan sama sekali belum basi. Jadi, kalau kondisi awal baik pemikiran, fisik, rohani-jasmani perempuan itu baik atau gak basi, gak ada masalah dong kalau diperam dulu... lhoooooo

Gw suka banget dengan tari2an dalam teater tersebut, sangat menarik. Gerakan tari dibawakan oleh para penari dengan sangat enak dilihat dan koreografer yg apik, tertata baik dengan pemilihan musik dan penguasaan panggung. yang gw agak kurang nyaman dan senang adalah seringnya asap rokok mengebul (emang sih tuntutan skenario yah, tapi pan GKJ itu harusnya bebas asap rokok bukan?), juga pemakaian percakapan dalam bhs inggris yg kadang terasa maksa (apalagi Fauzi itu lulusan Belanda bukan?). Gw sendiri juga sering make bahasa inggris dan gak ada maksud panggagahan atau apa gitu. Overall untuk pertunjukan EKI yg ketiga gw tonton ini tarian2nya selalu oke punya, two thumbs up, idenya juga ok, baik penari2 dan pemain2nya oke, pemain tamu nya pun tidak mengecewakan lah dalam penjiwaan peran. Yang membuatnya asyik banget ditonton itu yah si Sampek Entay yg berhasil membawa pertunjukan menjadi komedi, kocak tanpa perlu adegan2 slapstik gak perlu. Salut deh untuk Loro Blonyo berdua tuh, asliii lucu dan asyik.

Terkadang pemikiran akan keruwetan, kemandirian dan kesadaran penuh akan hak2 dan kewajiban2 yg gw emban sebagai seorang manusia lah, gw ada seperti gw ada. Maaf, gw memang tidak bisa menyenangkan semua orang. Pemikiran yg kadaluwarsa itulah yg selain sudah tidak layak, juga membahayakan. Yang gw percaya, everything happens for a reason.

Nunggu pementasan EKI berikutnya.

Thursday, May 24, 2007

Singing Queen

After Melinda checked out, one can guess that I vote for Jordin.
She's got the voice... though Melinda is much better.
She's got the look... not as skinny as barbie, but though sometimes got makeup like one :-)
She's got the move.
She is charming. Sometimes looks vulnerable but also strong at the same time. Her young blood show up everytime she got not-too-good remarks from Simon. Overall, she shines... have you noticed how often she smiles?

While watching she sang her winning song, I remember the lyrics below from ABBA 'Dancing Queen',

You are the dancing queen, young and sweet, only seventeen
Dancing queen, feel the beat from the tambourine
You can dance, you can jive, having the time of your life
See that girl, watch that scene, dig in the dancing queen

Seems like most american like her. For me, she is not the one with best voice, but overall (performance after performance) I think she deserve to be an idol, a singing queen. Young and sweet, only seventeen. This is her now.

Congratulations Jordin!

Monday, May 21, 2007

Di Bawah Laut Cina Selatan

Bukan pertama kali gw berada di bawah laut. Terowongan di bawah Eurostar juga di bawah Laut Utara, tapi tetep aja pas lewat bawah laut gw gak punya foto.... :-)
Artinya, gw belom bisa mengatasi rasa takut berada di bawah laut dengan baik.
Hayo ngaku... hehehe

Sunday, May 13, 2007

F.L.U kills

Gw flu berat tiga hari ini, bete banget. Tadinya sabtu ini gw mau ikutan bantuin acara mbak linda untuk les enfants dans la rue yg jadinya kudu gw batalin, gak mungkin deh jaga anak2 dalan kondisi meler2. Sebenernya gw tuh jarang banget jadi tepar gara2 flu, bukan takabur tapi fakta. Selama 4 tahun yg bisa gw inget di Balikpapan, paling banter bersin 1-2x langsung dopping EsterC 1-2hari biasanya gw langsung fit lagi tanpa harus pusing-demam-hidungmeler2. Tekanan darah rendah gw lah yg sering membuat gw tepar. Fenomena flu berat ini yg kedua sejak gw di Jakarta. Ada yg bilang karna pengaruh pancaroba dan udara Jakarta yg memang sangat terpolusi. Ada yg bilang "lo sibuk banget sih". Ada yg bilang "lo diet sih". Ada juga yg bilang "lo keluar malam mulu yah". Mereka yg bilang2 gitu bukanlah mereka yg nemenin gw nge-gym, bukanlah mereka yg nemenin gw keluar malam2, bukanlah mereka yg nemenin gw ngelembur, jadi segitu perhatiannya... jadi terharu, ihiks. Temen gw juga sudah lengkap listnya dengan "minum air putih, jus apple yg banyak, jangan nonton malem2, jangan nge-gym dulu, mau ditemenin?". Yang ada gw kangen ditemenin nyokap gw yg lagi nikmatin hari2 di pegunungan dengan adek gw... ma, i miss you so much.

Tapi yg tahu yg sebenarnya ya adalah gw. Gw inget banget kalo pertama kali gw bangkis itu saat latihan yoga hr senin yl. Waktu itu yoga dipindah ke ruangan berkarpet. Begitu gerakan plank dan hidung gw gak tercover matras, saat itu sontak mata gw ngeliat kalo karpetnya kotor. Gak lama kemudian gw bangkis yg pertama. Begitu selesai latihan, gw bilang karpetnya kotor. Itulah awalnya penderitaan seminggu ini. Dilanjutkan bangkis bangkis di senin sore, hari selasa mulai deh hidung meler2. Gw pikir ini reaksi biasa terhadap alergi debu gw yg konyol. Dan nakalnya gw tetep ikutan yoga hari rabunya dengan hidung meler, yg ada tuh setiap down facing dog gw kudu ngeluarin itu ingus dari hidung, gross banget gak seeeh. Barulah semuanya terasa di hari kamis, tapi gw jg ada vicon yg mengharuskan gw hadir, padahal pagi itu gw rada deman dan pusing2. Begitu selesai vicon tanpa ba bi bu gw ijin pulang, itu pun udah jam 5 sore. Langsung tidur dengan badan sedikit deman dibantu dengan neozep forte. Tapi tetep aja hari jumat itu badan gw agak pegel2 - kelamaan tidur kali yah - sampai2 gw gak sadar pas kamis malam itu Jakarta diguyur hujan deras dan sambaran petir yg dahsyat (katanya).

Yang menarik itu komentarnya Bang, "Kog jadi malah flu sih setelah disuntik vaksin flu?". Gw juga ngerti kalo divaksin harus dalam kondisi sehat, dan seinget gw pas divaksin kondisi gw sehat. Jadi??
Gw konsultasi ke dokter kantor deh hari jumat sehubungan dengan vaksin yg diberikannya, jawabnya "Ully, kalo kamu jarang flu ya jelas vaksin itu tidak dikenali oleh tubuh kamu. Jadi yah wajar tubuhmu bereaksi. Mungkin kamu capek pikiran juga. Sudah istirahat aja, akan lebih baik minggu depan". Weleh weleh, yaa ampun, tau gitu gw gak mau2nya deh divaksin flu. Memang gw butuh istirahat juga deh, tu dokter juga tau aja gw lagi capek pikiran... hehehe.

This flu really kills my activities this week. Tomorrow there's gonna be a big petroleum association event, hope this misery will end tonight.

Thursday, May 10, 2007

Office's Politics

Makin hari gw makin geli… terpingkal pingkal
Bahkan sampai tertawa menahan perut dengan air mata di pelupuk
Melihat orang menghalalkan segala cara demi dihormati
Melihat teman tak lagi berani mengatakan yang sebenarnya
Melihat itu semua terjadi di depan mata
Mengalami betapa sakitnya ditusuk dari belakang

Tolong aku, tak mau ada rasa mendendam
Tolong jauhkanlah rasa itu

Saat diri ini tak mampu, biarkanlah kata tolong terucap
Saat itu memang menjadi kemauanku, biarlah kuberkata ”aku mau”
Saat memang harus berkata benar, biarkanlah kubenarkan berita itu
dan setiap saat stand for my friend, aku mau tetap seperti aku adanya

Wednesday, May 02, 2007

Never Ending Battle


Hampir sebulan gw gak bikin posting di blog ini, sekarang pun american idol udah tinggal 6 doang. Gw ngapain aja yah sebulan kemaren kog gak sempat2nya ngeluangin waktu, eh hari ini mendadak jadi kangen nih.

Sometime I praise people.
Some other time I don’t like the same person.
Sometime I depend on prayer.
Some other time I am too much believe in me.
Sometime I have no problem at all to share.
Some other time I feel so egoist.
Sometime I feel that others like me.
Some other time I have only my best friends.
Sometime I don't trust these feet can run that far.
Some other time I forced them to climb the mountain.

Sometime I hate you, but I can't.
Sometime I lost my will, but I can't.
Sometime I fail to love you, but I can't.
Sometime I consciously forget who my biggest enemy is, but I can't.
Sometime I make a promise to always win this never ending battle, but I can't.
It is you, MYSELF, my biggest enemy, and I don’t want to loose so easy.