Monday, October 26, 2009

Tetaplah Berlari Anakku

Ini sebenarnya postingan adekku yg paling kecil. Tulisan ini ditulis oleh seorang Pendeta yg selain takut ama Tuhan juga sangat gaul dg anak muda, yg seakan balasan/jawaban surat yg diterimanya. Walaupun Dede gak bilang apakah surat tersebut ditujukan padanya atau memang tulisan umum, tapi yg jelas gw tahu pasti tulisan ini sangat menyentuh gw dan menguatkan langkah kaki gw. Harapan yg sama untuk Dede yg gw cintai, Tuhan beri kekuatan dia jadi lebih kuat. Aku mengenalnya sejak usianya beberapa jam dan sangat mengasihinya, sangat. Bahkan di usia balita pun, akulah yg menggendongnya kesana kemari. Aku mau dukung dia sebagai pelatih, pendukung setia hidupnya. Mari De' kita berjuang di pertandingan ini saling menguatkan, sampai di garis finish nanti dimana Tuhan menanti kita. Bagaimana pun kita dan apa pun yg terjadi dalam hidup kita, rencana Tuhan atas hidup kita MUSTAHIL gagal. Kita percaya ya De.


============================================


AnakKu yang terkasih, Aku hampir tidak percaya ketika membaca suratmu.

Bukankah baru beberapa minggu yang lalu engkau berjanji tidak akan menyerah?

Aku tahu, mungkin minggu-minggu ini terasa sangat sulit bagimu, tapi, anakKu, kuatkan hatimu. Tetaplah berlari dalam track yang sudah kusediakan karena Aku tahu yang terbaik bagimu.

Bila kau merasa lelah, berhentilah sejenak, ambil roti dan air hidup yang PutraKu telah tawarkan dan makanlah.

Aku yakin, setelah kau mendapatkan keduanya, kau akan merasa segar kembali.

Setelah itu, tarik nafas dalam-dalam dan mulai langkahkan kakimu untuk bergerak maju.

Fokuskan pandanganmu pada apa yang ada di depanmu, pada tujuan yang kau miliki, yaitu menyelesaikan perlombaan dan menjadi juara.


Buanglah kemarahan dan sakit hati yang menghantui pikiranmu.

Amarah dan sakit hati itu tidak ada gunanya, hanya menguras tenaga dan menghambatmu mencapai tujuan.

Terkadang Aku mengijinkan hal-hal yang buruk terjadi karena Aku ingin melatihmu.

Aku ingin kaki-kakimu menjadi lebih kuat daripada sebelumnya. Dengan begitu engkau dapat berlari dengan lebih cepat.

Berhentilah mengasihani dirimu sendiri, berdirilah tegap, dan punyailah mental seorang pemenang.

Seorang pemenang, bukan dilihat dari berapa kali ia sukses meraih gelar juara.

Di mataKu, seorang pemenang adalah seorang yang tidak pernah menyerah terhadap kegagalan, yang mau bangkit setiap kali ia jatuh.

Karena itu, jangan pernah menyerah ketika kau jatuh tersandung kerikil-kerikil di sepanjang jalanmu.

Jangan pula kau merasa malu terhadap dirimu sendiri.

Angkat kepalamu dan teruskan perjalananmu mencapai finish.



Ketika pertandingan dimulai, Kuharap kau bisa mengacuhkan omongan orang-orang yang menonton di bangku stadion.

Jangan merasa sombong karena pujian atau karena kau diunggulkan.

Pujian dan pengagungan yang keluar dari mulut mereka terkadang hanya sekedar basa-basi di depan para juara.

Tak jarang, kata-kata manis itu akan segera berubah menjadi kritikan pedas dan kecaman ketika para juara itu gagal.

Karena itu, kau juga tidak perlu risau ketika mendengar pernyataan-pernyataan skeptis yang mengatakan engkau pasti kalah. Kau bukan bertanding atas kemauan mereka. Kau juga tidak hidup berdasarkan omongan mereka.

Pelari yang berpengalaman tahu akan hal itu. Karena itu, tidak usah pusing dengan perkataan-perkataan mereka.

Fokuskan pikiranmu pada tujuan yang semula, bukan untuk mendapatkan pujian atau penghargaan dari orang lain, tapi untuk menyelesaikan pertandingan.


Aku, Pelatihmu, tidak pernah meragukan kemampuan yang kau miliki.

Aku tahu seberapa besar potensi yang ada padamu dan Aku tahu kau pasti bisa mencapai garis finish dengan gemilang.

Selamat berjuang anakKu, Aku menunggumu di garis finish.


Yang mengasihimu,

Pelatihmu, Sahabatmu, Penonton setiamu

Tuesday, October 13, 2009

Small Notes to Rehearse

My profession is petroleum engineer, but my interest beyond hydrocarbon.

Now I live, breathe and grow in energy environment. I studied chemical engineering at Institute Technology Bandung in Indonesia, internationally at Institute Francaise du Petrole for Reservoir Characterization Modeling Mastere Specialise in France, and recently I took Business Leadership MBA at SSBM-ITB. I enjoy engineering post from consider a very low position as field engineer (i.e. nuts and bolts of an engineer could be onboard oil platform) to now as ‘boardroom feeder’ in position as upstream consultant in PT. Pertamina Corporate Business Development Planning and Transformation division.

Type of energy that I have been associated with varies from hydrocarbon to earth thermal. I had experience in most harsh condition in many onshore and offshore fields in Indonesia, and also some international fields. Spent quite significant time in this profession, from one post to another, yet I consider myself is being afar from an expert, for I love learning by doing. I enjoy reading to the max and always think that I know very little. I am not afraid to fall and learn from other's experience at utmost. Never care about own station in career; I let my focus remains at attaining my ultimate goal instead. I consider myself as a lucky one and would like to pay it forward to the community where I am in, and a little bit wary with careless educated people. I am a hard worker and am not easily discouraged when receiving negative responses from others, though sometime a scratch remains but times usually heal it perfectly.

Born as a Christian and respect everyone as God's must-love creatures. My childhood education encouraged me not only to excel the required academic subjects but on top of that ‘teachers in life’ required me to integrate servicing others as part of the process. Serviam becomes my mantra since the first time I know the term in high school and continues as such to this day.

I assume that I have strong and bold character, but soft approach. My tendency to love-to-talk might prejudice some against me wrongly, yet I listen attentively to others with ears and heart, and not easily forgetting their body language message. I can make connection easily, so as for me everyone is a friend at first until proven otherwise. I devote myself to some ‘best friends forever’ who show me the way and eagerly walk beside me, whom I share laughs, tears and money. I respect everyone who is trustable. I am a loyalist and faithful to anyone who treats me equally, for I always aim to treat everyone with respect regardless of one’s station in life.

I like politics but dislike dirty and cheap politicians. Meantime I am a non-partisan, but respect other's ideology. I speak Bahasa Indonesia, Batak, English and French, and also a bit of Japanese & Mandarin that I spent significant time learning them during my teenage. I love most sports, yet golf badly. For me golf is not only a sport but also my life philosophy that all things need to be self-respected 'rules & regulations'. I also love to sing and talk.

I fall in love once to life: carpe diem. I believe in God's will for I only live for once to serve.

Monday, October 12, 2009

Rewind: One Moment in Time

Each day I live
I want to be
A day to give
The best of me
I'm only one
But not alone
My finest day
Is yet unknown

I broke my heart
Fought every gain
To taste the sweet
I face the pain
I rise and fall
Yet through it all
This much remains

I want one moment in time
When I'm more than I thought I could be
When all of my dreams are a heartbeat away
And the answers are all up to me
Give me one moment in time
When I'm racing with destiny
Then in that one moment of time
I will feel
I will feel eternity

I've lived to be
The very best
I want it all
No time for less
I've laid the plans
Now lay the chance
Here in my hands

Give me one moment in time
When I'm more than I thought I could be
When all of my dreams are a heartbeat away
And the answers are all up to me
Give me one moment in time
When I'm racing with destiny
Then in that one moment of time
I will feel
I will feel eternity

You're a winner for a lifetime
If you seize that one moment in time
Make it shine

Give me one moment in time
When I'm more than I thought I could be
When all of my dreams are a heartbeat away
And the answers are all up to me
Give me one moment in time
When I'm racing with destiny
Then in that one moment of time
I will be
I will be
I will be free
I will be
I will be free

Push and Pull Story

Dear chentil-ers...

makasih buat ketertarikannya akan berita kedua gw, tetep yaaa gw menunggu kabar teman2 yg terutama ada korban di Padang, atau Irvan Azhmier, moga2 bisa berkumpul kembali dg keluarganya.

Sehubungan dg move ke PT.Pertamina (Persero), betul ada push and pull, tapi untuk mengetahui seberapa kuat push dan pull faktor itu teman2 kudu kenal gw banget... sepaketnya, alias kecerewetannya, kecentilannya (kadang2), kejahilannya... yg semua itu 'menutupi' kegigihan, kekeraskepalaan dan 'kadar' keseriusan gw dalam menangani masalah... intinya, push & pull faktornya banyak & mostly personal dan bukan sesuatu yg instan, alias tiba2 aja dalam semalam pengen kerja ke Pertamina, bukan sama sekali.

Ada beberapa teman yg tahu bahwa kepedulian Artha akan bangsa ini jauh sebelum 'tulisan ttg bangsa' yg sebelum Pemilu Artha curhatkan juga ke chentil... walaupun itu juga salah satu push faktor. Gak usah dirunut jauh ke belakang karena it's a life story, tapi semakin gencarnya pull faktor dari teman2 'seide' untuk mewujudkan mimpi kami dulu, itu pull faktor terkuat.

Gw minta waktu sampai adek gw paling kecil lulus kuliah, karena idealisme bagaimanapun kalau berbenturan dg kampung tengah apalagi nasib sekolah adek gw, tetap gak akan jadi pilihan gw. Jadi, saat adek gw lulus Januari yg lalu, saat keputusan PNA masih belum berubah untuk 'mengajak' gw bergabung, saat it just feels right to join, jadilah gw join.

Prosesnya tidak sebentar, karena bagaimana pun gencarnya gw pengennya jadi pegawai kontrak dulu *namanya juga penjajagan*, tapi akhirnya gw menyerah pilihan teman2 untuk memperkuat barisan menjadi pegawai permanen, walaupun tetap Artha memilih non-struktural waktu join, untuk menjaga 'free-will' dulu, untuk berapa lama? ya sampai waktunya pas.

Jadi, yg bisa gw share,
-- push dan pull faktor personal
-- pull faktor dari teman2 yg sudah lebih dulu bergabung dg PNA
-- push faktor dari ledekan2 dosen2, termasuk jg ada dosen TK-ITB, 'kelamaan lo kerja di MNA... kapan dong bagi2 ilmu'

-- push faktor setelah 13 tahun di dunia perminyakan, rasanya pengen bagi pengalaman dg mereka yg tidak seberuntung gw dan mau berbagi semangat bahwa di luar PNA pun sebenarnya tidak SELALU lebih baik. Masih ada sisi positif PNA dan kenapa gak kita tingkatkan positifnya dan terus meminimalkan sisi negatifnya, yg most adalah opini. Pertamina dapat dipastikan sulit untuk 100% free dari pemerintahan, jadi kalau PNA sudah tahu kenyataan ini pastinya bisa bekerja within limitation tanpa perlu merasa 'negatif', sayangnya semangat sebagian teman2 sudah kendur. Pertamina banyak dianggap maju 2 langkah lalu mundur 1 langkah, gw melihat kenyataan ini sebagai at least masih maju... bagaiman kalau loncat 2 langkah lalu mundur setengah langkah saja ke depan..... kalau Tuhan ijinkan dan bangsa ini mau, pasti bisa.

Sayangnya terkadang kita terjebak 'stupidity', termasuk mengabaikan sinyal2 yg dikirimkan bumi kita sendiri. Peringatan dari negara lain soal gempa pun tidak digubris, memang takdir tak bisa kita gugat, tapi dg memperingati diri sendiri, mungkin saja di hari pertama di Padang dan Pariaman kita bisa memudahkan penderitaan mereka dg tersedianya dapur umum secara cepat, persedian bahan makanan instan yg cepat dll.. dll... berbuat salah adalah jalan untuk belajar, tapi tidak berbuat apa2 adalah sama dg jalan untuk tertinggal jauuuuhhhh.... Semoga Artha bisa 'bertahan' di dunia yg masih hutan belantara ini... hehehe, but i will survive... tapi tetap bro, profesionalitas dijaga dong, win-win situatio tetap gw mau jaga antara idealisme dan profesionalitas...

-- pull dari PNA: boss yg dedikasinya merekrut gw sangat tough... he shows the way and shows the leadership, it's all take for me not to refuse his offer.

Cita2 gw kan hitam/putih, jadi menteri energi atau pegolf pro... yg penting akan punya "one moment in time" kayak lagunya Whitney Houston sambil mengibarkan bendera merah putih.... hahaha, lebai.... but it's true.


a+

Saturday, October 03, 2009

Minangkabau Menangis

Gempa besar lagi!!!!!!!!!!! Berdasarkan pengalaman bersama IGCers (my new community in golf since out of Total Club):

1. Waktu gempa di Tasikmalaya, gw lagi ngabuburit golf, nothing harmed us - but snakes and ants did get out their homebase dan teman2 sepairing (terutama caddy) merasakan gempa saat meletakkan bola kembali di green tapi bolanya gak mau diem.

2. Waktu gempa di Padang Pariaman, gw lagi 'perpisahan dg weekdays farewell golf krn tgl 1nya mulai kerja lagi' dg IGCers (OmEka+Azzam), nothing harmed us - selain karena gempanya jauh tapi gak ada yg 'ngeh' ada gempa :( **no bb in the course **

Dua2nya di Emeralda!! Moral of the story? *Just to share*: berdasarkan dua pengalaman di atas, dimana saat kedua gempa tersebut sebenarnya nyokap gw nyariin dimana anaknya yg cerewet ini berada, namun beliau selalu (at least di 2 event di atas) mendapat jawaban telat setlh bbrp miscall dalamhitungan jam :(.

Tapi tadi malam, 'selipan ringan' nyokap agak 'perih': 'kamu kebanyakan main golf'. Dan makin mewek liat flash anak2 SD,SMP puluhan jadi korban gara2 mereka lagi les dan gempa.... Gw turut sangat bersedih atas banyak kemalangan akibat gempa di Sumatra. Turut simpati & dukacita mendalam bagi keluarga yg ditinggalkan.

Gempa kali ini membuat gw lebih miris, terungkap oleh media, a/l: 60 anak generasi penerus bangsa yang terperangkap gedung bimbingan belajar tempat mereka menuntut ilmu, dan beberapa anak yang tertimbun sewaktu les bahasa di gedung LIA, dll. *yang tabah ya, bu.............* teman2 yg punya anak mesti bisa turut merasakan kepedihan yg memilukan hati melihat ibu menangis meraung2 di bangunan tersebut*********************** oh God, helps.

-- quote --
Dalam setiap bencana, selalu ada cerita heroik tentang Ibu yang berani menghadang bahaya sampai terkadang mengorbankan jiwanya. Pagi ini saya membaca berita di Kompas sambil berlinang air mata. Ibu Kambang Manis (37thn) segera menyelamatkan anak2nya Cendra (10), Aldi (8) dan Chelsi (4) begitu gempa menggoyang rumahnya dengan dahsyat, dibantu oleh mertuanya. Selamat diluar rumah, Ibu Kambang teringat bahwa si bungsu Yudha (5 bulan) masih tertidur di ayunan. Naluri Ibu membuat dia kembali masuk ke rumah diikuti Mertua. Saat mereka masih di dalam, rumah pun ambruk dan menewaskan ketiganya.
-- unquote --


*kabar kedua yg gak penting, gw sejak 1Okt'09 lalu bergabung di PT.Pertamina (Persero) *
Not even me cares hari ini hr pertama gw di kantor, rasa deg2an gak ada artinya karena yg dibicarain lebih dominan, "gempa.gempa.gempa lagi"... it saved me even during dinner time.

Jadi ingat lagu yg sering kami nyanyikan saat bedoa utk bangsa:
"Ya Tuhan, ku mau lihat kemuliaanMu bersinar terang di atas negri kami, Ya Tuhan ku tidak akan tinggal tenang:
MengingatkanMu akan bangsaku, bekerjalah Allahku, tegakkanlah kemuliaanMu"

Tuhan, tolong selamatkan bangsaku, jg lewati bangsa besar ini, ada anakMu disini, please God I beg You.