Dear chentil-ers...
makasih buat ketertarikannya akan berita kedua gw, tetep yaaa gw menunggu kabar teman2 yg terutama ada korban di Padang, atau Irvan Azhmier, moga2 bisa berkumpul kembali dg keluarganya.
Sehubungan dg move ke PT.Pertamina (Persero), betul ada push and pull, tapi untuk mengetahui seberapa kuat push dan pull faktor itu teman2 kudu kenal gw banget... sepaketnya, alias kecerewetannya, kecentilannya (kadang2), kejahilannya... yg semua itu 'menutupi' kegigihan, kekeraskepalaan dan 'kadar' keseriusan gw dalam menangani masalah... intinya, push & pull faktornya banyak & mostly personal dan bukan sesuatu yg instan, alias tiba2 aja dalam semalam pengen kerja ke Pertamina, bukan sama sekali.
Ada beberapa teman yg tahu bahwa kepedulian Artha akan bangsa ini jauh sebelum 'tulisan ttg bangsa' yg sebelum Pemilu Artha curhatkan juga ke chentil... walaupun itu juga salah satu push faktor. Gak usah dirunut jauh ke belakang karena it's a life story, tapi semakin gencarnya pull faktor dari teman2 'seide' untuk mewujudkan mimpi kami dulu, itu pull faktor terkuat.
Gw minta waktu sampai adek gw paling kecil lulus kuliah, karena idealisme bagaimanapun kalau berbenturan dg kampung tengah apalagi nasib sekolah adek gw, tetap gak akan jadi pilihan gw. Jadi, saat adek gw lulus Januari yg lalu, saat keputusan PNA masih belum berubah untuk 'mengajak' gw bergabung, saat it just feels right to join, jadilah gw join.
Prosesnya tidak sebentar, karena bagaimana pun gencarnya gw pengennya jadi pegawai kontrak dulu *namanya juga penjajagan*, tapi akhirnya gw menyerah pilihan teman2 untuk memperkuat barisan menjadi pegawai permanen, walaupun tetap Artha memilih non-struktural waktu join, untuk menjaga 'free-will' dulu, untuk berapa lama? ya sampai waktunya pas.
Jadi, yg bisa gw share,
-- push dan pull faktor personal
-- pull faktor dari teman2 yg sudah lebih dulu bergabung dg PNA
-- push faktor dari ledekan2 dosen2, termasuk jg ada dosen TK-ITB, 'kelamaan lo kerja di MNA... kapan dong bagi2 ilmu'
-- push faktor setelah 13 tahun di dunia perminyakan, rasanya pengen bagi pengalaman dg mereka yg tidak seberuntung gw dan mau berbagi semangat bahwa di luar PNA pun sebenarnya tidak SELALU lebih baik. Masih ada sisi positif PNA dan kenapa gak kita tingkatkan positifnya dan terus meminimalkan sisi negatifnya, yg most adalah opini. Pertamina dapat dipastikan sulit untuk 100% free dari pemerintahan, jadi kalau PNA sudah tahu kenyataan ini pastinya bisa bekerja within limitation tanpa perlu merasa 'negatif', sayangnya semangat sebagian teman2 sudah kendur. Pertamina banyak dianggap maju 2 langkah lalu mundur 1 langkah, gw melihat kenyataan ini sebagai at least masih maju... bagaiman kalau loncat 2 langkah lalu mundur setengah langkah saja ke depan..... kalau Tuhan ijinkan dan bangsa ini mau, pasti bisa.
Sayangnya terkadang kita terjebak 'stupidity', termasuk mengabaikan sinyal2 yg dikirimkan bumi kita sendiri. Peringatan dari negara lain soal gempa pun tidak digubris, memang takdir tak bisa kita gugat, tapi dg memperingati diri sendiri, mungkin saja di hari pertama di Padang dan Pariaman kita bisa memudahkan penderitaan mereka dg tersedianya dapur umum secara cepat, persedian bahan makanan instan yg cepat dll.. dll... berbuat salah adalah jalan untuk belajar, tapi tidak berbuat apa2 adalah sama dg jalan untuk tertinggal jauuuuhhhh.... Semoga Artha bisa 'bertahan' di dunia yg masih hutan belantara ini... hehehe, but i will survive... tapi tetap bro, profesionalitas dijaga dong, win-win situatio tetap gw mau jaga antara idealisme dan profesionalitas...
-- pull dari PNA: boss yg dedikasinya merekrut gw sangat tough... he shows the way and shows the leadership, it's all take for me not to refuse his offer.
Cita2 gw kan hitam/putih, jadi menteri energi atau pegolf pro... yg penting akan punya "one moment in time" kayak lagunya Whitney Houston sambil mengibarkan bendera merah putih.... hahaha, lebai.... but it's true.
a+