Tuesday, April 21, 2009

Auk ah Gelap

Hari ini diperingati sebagai hari ulang tahun R.A Kartini. Peringatan ulang tahunnya yg hampir selalu dirayakan kebanyakan perempuan perkotaan di Indonesia namun sebaliknya di luar perkotaan. Ini bisa dimaklumi sebab mereka tidak mengerti apa itu perjuangan gadis kecil itu di era penjajahan, sebab sekarang pun toh mereka tidak bisa mengenyam pendidikan.
Dalam acara peringatan hari Kartini tahun lalu, gw diingatkan kembali akan surat2 yg pernah dituliskan Kartini yg kemudian dibukukan. Saat itu bukanlah surat Kartini yg dibacakan, melainkan surat yg dibuat oleh petinggi kantor gw sebagai balasan dari surat2 Kartini ! Beliau bahkan menuliskannya dalam bahasa Perancis, yg kemudian diterjemahkan olehnya dalam bahasa Indonesia dan dikoreksi oleh "guru bahasa"nya... hehehe, segitunya boss gw itu, perhatiannya sama art emang rada kelebihan bobot.

Pada perayaan yg sama itulah kembali gw mendengarkan satu quote yg sangat populer. Pernah gw tuliskan di blog ini tentang quote ini, isinya "If it doesn't kill you, it will only make you stronger". Ya, kata2 itulah yg menampik niat gw untuk menerima tawaran yg masuk saat itu, dengan semangat, "ah mau pesta 40 tahun masa sich keluar, sayang banget ga ikutan pesta", secara emang gw akui gw suka suasana pesat ... (suasana pesta beneran bukan pesta buat2an).

Sayang sekali, pada perayaan Kartini tahun ini yg akan dirayakan besok di kantor gw, tadi siang tiba2 gw ilfil banget. Tiap2 divisi diminta menyuguhkan persembahan dalam bentuk "manggung" bisa puisi, pidato etc. Divisi tentunya berembuk dulu. Sayangnya saat rembukan itu, gw ga bisa hadir karena harus follow up bank waktu itu, tapi gw titip usul. Secara gw ga ikutan, tentunya gw punya semangat utk "ikut aja deh, terserah apa aja toh gw seneng".

Kemarin saat berpapasan dg ibu koordinator, beliau langsung ngingetin soal latihan bareng sore, tentu gw njawab "iya... iya..." Begitu balik ke kantor gw, ada email pagi2 deskripsi scenario drama tersebut. Alamaaak, kaget gw, seorang perempuan yg justru sangat merendahkan perempuan lainnya malahan "terpilih" sebagai supermom??? haaaaH! Sadarkah perempuan itu bahwa walau ia merasa "lebih", itu tidak membuat dia bisa membuat perempuan lain kehilangan haknya atas suaminya. Itu sama saja dengan "menjajah" perempuan yg sangat bergantung ekonomi pada suaminya itu untuk bertahan saat cinta itu sudah berpaling. Hmmm, menyedihkan, kenapa perempuan lain yg hadir saat rembukan itu "menetapkan" ia memegang peran sebagai supermom... please deh!

Saat gw menyatakan keberatan gw dg koordinator, beliau pun mengerti posisi gw dan menyatakan tidak keberatan dengan pilihan gw. Beliau sendiri sebenarnya weekend kemarin terganggu dengan "hal sepele" ini. Gw aja ga ambil pusing mau manggung apa, gw pikir fun fun aja lah, makanya gw baru ngecek emailnya tadi. Bukan membesar2kan masalah, "toh hanya drama", tapi justru penghormatan gw juga kepada para pejuang perempuan lainnya dimana pun berada. Penghormatan atas mereka yg tidak pernah memperjuangkan gender, melainkan memperjuangkan pendidikan, bukan hanya untuk dirinya tapi untuk lebih banyak orang. Tapi, ternyata lingkungan gw begitu menyepelekan esensi perayaan tersebut (atau sebenarnya gw mempersulit... hmmm). Tapi untuk merubah drama tidak mungkin karena itu sudah disetujui yg lainnya.

Dan lagi2 di gedung ini gw lihat tanpa surprise, lagi2 lingkungan gw membuktikan, betapa mudahnya memakai topeng berpura2 demi "keuntungan pribadi". Mereka tahu perempuan itu telah melukai hati "beberapa" perempuan karena berhubungan dengan istri orang lain, mereka tahu perempuan itu telah "menelantarkan" anaknya di rumah demi holiday terselubung dengan pria lain atas nama tugas. Mereka tahu bahwa itu tidak sesuai dengan "esensi perempuan maju akibat pendidikan", yg seharusnya membuat dunia menjadi lebih berarti. Sebelumnya gw ga terlalu peduli, tapi saat perempuan2 lain di kelompok tsb "mengapprove"nya memegang peran "supermom", rasanya kepura2an ini too much. Mereka yg gw tahu siang dan (malam) bergosip membicarakan hubungan "tidak bisa dibilang gelap" perempuan ini, tapi menutup hati dan telinga membiarkannya menyandang gelar tersebut, "toh cuma drama". Tapi gw gak bisa . Gw harus mengambil posisi dimana value gw gak bisa dipermainkan begitu saja sekedar untuk "hadiah" misalnya.

Itulah kepura2an hebat yg terlalu sering gw lihat di sekeliling gw. Ini bukan office politic, karena itu lain lagi ceritanya dan gw sendiri sudah terlanjur terlibat di dalamnya (secara toh gw masih kerja di company itu, kalo ga mau terlibat office politic ya di rumah aja), namun tidak sehebat kasus ini *menurut gw*. Dalam office politic, kita bisa lihat adanya kubu2 memihak pihak2 terntentu. Nah, yg ini politik apa namanya? Saat orang "mengaku" merasa benci perbuatan perempuan tersebut, "mengaku" terganggu dengan kelakuannya, "mengaku" tidak bisa berbuat apa2 bahkan "mengaku" kalau menegur pun tidak bisa. Selalu membicarakannya di saat makan siang, mengutuki perbuatannya, bahkan lewat jalur belakang bahkan ikut campur mengurusi rumah tangganya dengan menelpon pasangan masing2. Tapi apa yg dilakukan saat di hadapan perempuan itu?.... jangankan menegur, senyum itu pasti dan *pura2 wajar*, bahkan yg terakhir ini menganugerahinya supermom... mungkin bahasa inggris di jaman edan ini supermom adalah suckmom... Entahlah, besok mesti walk out.

Katanya sebenarnya hal tersebut sudah lumrah lah jaman sekarang, "2 dari 3 laki2 selingkuh" katanya, nah berarti ada perempuannya dong dg asumsi ga semuanya selingkuh karena hombreng. Gw juga punya teman yg selingkuh, tapi mereka tidak pura2 demi image. Yang gw hormatin adalah mereka yg "menghormati" cinta yg timbul dari kedekatan tapi "menghormati" cinta itu sehingga tidak menodai cinta lain yg sudah membuahkan anak, sampai misalnya saja waktu menghampiri dan mereka boleh bersatu. Tapi kepura2an ini adalah lateral movement dari kepura2an dalam banyak hal di gedung ini. Mereka pura2 senyum, padahal dalam hati ndongkol, wajar... mereka pura2 senyum, padahal mau marah, wajar... mereka pura2 senyum, padahal demi karir, wajar.... mereka pura2 senyum, demi popularitas, wajar... sayangnya, komunitas image ini sangat dominan dalam gedung ini, hingga mana yg tulus pun membutuhkan pengalaman yg sama dan kepekaan. Tidak pernah terpikirkan oleh gw untuk menginginkan suatu jabatan dengan mendiskreditkan orang lain, tapi tetap bisa senyum bercanda dan makan siang bersama... padahal di belakang orang tersebut baru saja ia "merebut" suatu jabatan miliknya... hahaha, di sini itu wajar.