Sunday, July 16, 2006

I need one hectare

Gw baru tahu kemarin kalau beruang madu (in english name as sun bear, latin name: Helarctos malayanus) membutuhkan ruang kurang lebih satu hektar untuk habitat hidupnya. Dalam areal satu hektar itulah ia ber"sosialisasi" dengan dirinya, mencari makanan lewat kulit pohon dan serangga2 tanah yg ada di "daerah kekuasaan"nya itu.

Untuk berbagai tujuan yg semata2 menguntungkan manusia, jenis beruang yg berasal dari pulau Kalimantan ini banyak diburu orang. Mereka diambil dari habitatnya dan hidup dalam habitat baru yg bukan milik mereka. Mereka menjadi tidak lagi mengerti cara hidup di alam, di tempat tinggalnya sendiri. Hal itulah yg memicu Yayasan BOS (the borneo orangutan survival foundation) untuk memelihara dan membina mereka untuk nantinya dilepaskan kembali ke habitat asalnya di hutan. BOS Samboja Lestari yg terletak di Samboja (+/-38km(?) dari Balikpapan) menyediakan tidak kurang dari 58 ha plus suaka beruang madu untuk menampung beruang2 titipan hasil penangkapan liar. Selain beruang madu dan orangutan, kemarin gw juga melihat elang yg terluka sayapnya sedang dalam perawatan. Kalau ingin tahu lebih lanjut tentang apa saja yg dilakukan yayasan ini dan (misalnya) ingin mengadopsi orangutan ataupun berdonasi, silahkan lihat di website yayasan ini, sangat informatif. Menurut Winda yg menjadi guide kami, binatang2 ini sesungguhnya tidak mengganggu manusia, asal saja mereka tidak diusik. Spesies2 ini merupakan kekayaan alam dan kebanggaan pulau Kalimantan, mari kita bantu mereka untuk tetap ada di habitat mereka. Give their one hectare needs!

Gw berseloroh tentang satu hektar tersebut dengan seorang teman. Beberapa bulan ini gw memang mengeluhkan "agak" kehilangan privacy. Bukan gw gak berbuat apa2 untuk itu, gw udah bilang terus terang bahwa ada hal2 yg bukan untuk konsumsi publik. Kalau pun ada yg over-hearing telpon gw atau pembicaraan gw dengan orang2 lain, jadwal2 gw mau kemana aja, biarlah itu menjadi pengetahuan semata. Sekarang ini gw cenderung menjaga jarak dan melakukan saran untuk memperlakukan orang2 sesuai dengan fungsi mereka masing2 (thanks ya Ratih). Ya karena itu, meski gw bukan beruang tapi gw juga butuh that "one hectare". So does everybody. Ini salah satu value yg gw junjung: everyone needs privacy, wherein s/he feels more of themselves, value what they believe, dream what they want, share things they have in passion. Then if we do respect this one hectare, quote and quote what have been said "world peace". We have more than enough space for this. You are you.

Ironis memang saat pelanggaran privacy menjadi persoalan dunia. Ada yg bilang tindakan Zizou kekanak2an. Kalau benar pernyataannya bahwa Materazzi said thing that serious and very personal dan itulah yg membuatnya marah, gw bisa mengerti banget. Dan bila seorang Zinedine Zidane mempertaruhkan "kebesaran" namanya dan rasa cintanya to the game melakukan itu, tentunya tidak main2. Gw memang tidak selalu mengikuti pertandingan sepakbola, tapi gw pernah menyaksikan sendiri betapa French mengelu2kan Zizou dan "seakan2" melupakan kehadiran orang2 lainnya dalam timnya. Mengutip satu tulisan di Kompas 16/7/06 tentang dirinya, Zinedine Zidane disebut sebagai seorang gelandang yg memiliki kemampuan menggiring (dribbling) bola dengan elegan, keseimbangan namun kelincahan luar biasa serta akurasi tembakan tepat. Bahkan ia disebut juga mungkin sebagai salah satu pemain hebat yg pernah ada. Pendapat yg sama bahkan sudah gw dengar sebelumnya lewat Mas Gaby setelah pertandingan France-Brazil di pertandingan perdelapan final. Dia bilang, "nggiring bola kayak gitu cuman punyanya Zidane". Nah, apa yg kayak gitu kekanak2 an. Suatu misteri yg belum benar2 selesai.

Gw juga baru mengalami suatu kemarahan akibat rasa sakit yg tak tertahankan. Mungkin orang lain gak akan bisa mengerti kalau tidak merasakannya sendiri. Yah demikian juga dengan Zizou, kita gak akan bisa merasakan kemarahan yg membuatnya harus "menanduk" Materazzi karna kita tidak merasakan apa yg dia rasakan saat itu. Saat diwawancarai Canal Plus hari Rabu yl, ia mengakui kalau perbuatannya itu unforgivable. Ia meminta maaf kepada anak2 yg seharusnya tidak menerima "pendidikan" seperti itu, namun ia juga menyatakan "but I don't regret anything that happenned, I accept it". Ia merasa harus melakukannya supaya yg melakukannya tidak menganggap bahwa perbuatannya benar.

Saat main bowling sabtu malam yl, ada yg menanyakan kenapa gw bisa marah sebegitunya, gw menjawabnya dengan kalem bahwa dia tidak mengerti masalah yg sesungguhnya. Untuk bisa mengerti alasan kenapa gw bisa sebegitu marahnya, gw menawarkannya untuk melakukan hal yg membuat gw sangat sakit. Sayangnya dia menyerah, jadi (mungkin) dia tidak akan bisa mengerti kenapa gw marah. Namun dia mengakui kalau dia tahu bahwa itu mesti sangat sakit. Terlepas dari rasa bersalah sudah marah2 dan gw jg sudah minta maaf untuk itu, tapi rasa ini gw kenal dengan baik, inilah rasa marah akibat kesakitan.

Tiap2 orang mempunyai ambang marah yg berbeda, ada yg marah karena hal2 sepele, ada yg sangking halusnya mengaku tidak bisa marah, dan ada juga yg tidak bisa mengungkapkan kemarahannya. Kemarahan gw dan Zizou adalah akibat telah lewatnya ambang batas kami, as simple as that. Zizou juga bilang, "Above all, I'm human". So? me too! Above all I'm human, so I do beg you to give my one hectare need. I need it badly. No worries, I'll never take yours.