Thursday, May 26, 2005

Hikmah macetnya Jakarta

Macetnya Jakarta selalu menjadi momen yang menyebalkan buat beberapa orang.

Nah, waktu kemarin di Jakarta, gw kedapetan di-curhatin supir taxi pada saat jalanan macet. Pak supir, namanya Pak Aziz.
Mobil Pak Aziz kami stop di pertigaan dekat rumah, gw dengan adek gw. Kami meluncur segera setelah memberitahu tujuan kami, yaitu ke Imperium lalu lanjut ke Plaza Senayan.

Sepanjang perjalanan menuju Imperium, gw share ama adek gw tentang kiat2 menghadapi TOEFL, dia waktu itu mau mengikuti ujian tsb di Imperium. Gw juga cerita2 tentang betapa bosannya gw di Balikpapan dan gw mau lamar2 kerja lagi. Dia pun bercerita tentang pekerjaannya, kecemasannya tentang rencana ke USA dan banyak hal lainnya yg kami perbincangkan.
Begitu adek gw turun, Pak Aziz mengeluarkan komentar "wah senangnya Mbak kompak dengan adiknya" dan tanpa menunggu komentar dari gw, dia langsung menambahkan "saya iri lihat Mbak bisa begitu kakak beradik"

Pembicaraan kami mengalir dengan lancar, bertolak belakang dengan suasana jalan raya yg tetap saja padat, walaupun belum jam makan siang yang memang jam lumrahnya kemacetan. Namun berhubung pembicaraan kami cukup menarik, kemacetan itu menjadi tidak menyebalkan. Sedikit berbagi dengan Pak Aziz rupanya menimbulkan motivasinya untuk segera ber"damai" dengan kakak satu2nya. Yah, moga2 saat ini diantara kedua kakak beradik itu sudah bisa menyelesaikan masalahnya.

Waktu sampai Plaza Senayan ternyata kami sudah menempuh 1.5 jam perjalanan (!) dan gw harus membayar 50 ribu, uuuhh sebal juga macet!