Wednesday, August 02, 2006

Doing Some Homeworks

Minggu ini adalah minggu medis. Dimulai dengan medical check-up (mcu) tahunan yg harus gw jalanin tgl 25 yl yg dilanjutkan dengan beberapa follow-upnya. Usia bertambah memang. Jika dibandingkan dengan mobil standard sih, onderdil2 tubuh gw masih jauh lebih baik untuk usia yg sama, cuman yah terkadang sang pemiliknya ini lho yg suka masukin bensin kotor, oli2 gak bener, tune-upnya gak teratur, ngukur pressure bannya jg sesekali... intinya, cuman maintenance taonannya doang yg bisa di-two thumbs up. Huuh, mengutip iklan shampo di tv, andai onderdil2 itu bisa bicara... hehehe... dan sekarang, ia mulai berbicara dan gw pun mencoba untuk mendengarkannya.

Seorang teman setelah divaksinasi melihat kejanggalan di pembuluh darahnya yg menjadi terlihat lebih jelas di permukaan kulit. Tentu saja terjadi reaksi jawab gw, vaksin itu kan memasukkan "bibit penyakit" yg telah dilemahkan supaya tubuh membentuk antibodi untuk penyakit tersebut. Maunya sih tubuh benar2 dalam kondisi prima dulu pas dimasukin "bibit penyakit". Namun setelah dilakukan sesuatu yg baik namun sederhana, hal tersebut menghilang. Mau tau lebih lanjut tentang vaksin, ada di sini di antaranya.

Tepat setelah mcu, gw dihadapkan pada seseorang yg kalau dilihat kapasitasnya *menurut gw* seharusnya berpikir dulu sebelum berbicara. Sayangnya lawan bicaranya adalah gw yg tidak dengan mudah menerima mentah2 omongonnya. Please deh areee gene...

"Emang dia ngomong apa sih 'Tha?"
"Dia bilang tanpa ba bi bu kalau gw gak harus konsul ke dokter A, dan dia mempertanyakan keputusan TS-nya di depan gw (TS=teman sejawat). Padahal dia mereksa gw juga kagak dan tahu apa dia tanpa meriksa, toh bukan sesuatu yg kelihatan dengan kasat mata. Duh, kog gak berpikir dulu sebelum bicara yah?"

Omongannya dan omongan2 tanpa berpikir seperti itu, buat gw cukup dikaliin nol aja, yg berarti sama dengan nol.

Kecewa.kecewa.kecewa... Untuk kesekian kalinya dengan orang yg sama, padahal bukan sekali ini saja feedback dilontarkan kepadanya. Gw bilang, tolong jangan asal ngomong dong. Apa salahnya kalau saya ke dokter A untuk memastikan buatanNya masih dalam kondisi baik2 saja, toh dr.A adalah ahlinya yg lebih pantas memastikan jika memang ada apa2. Terlebih gw ngebandingin dengan dia yg hanya ngomong bahkan memeriksa pun enggak. Dia terdiam. Diam. Diam.

Syukurlah gw mengalikan nol omongannya, karena setelah berkonsultasi dengan ahlinya terbukti jelas kalau omongan asbun tersebut (maaf) adalah sampah, dan jika mempercayainya mungkin adalah kesalahan tak termaafkan buat gw. *toeng toeng*

Berpikir dulu sebelum berbicara memang sulit, terutama apabila kita kurang informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam proporsi yang tepat. Gw terkadang terjebak dengan "proporsi yg tepat" ini. Misalnya saja kutipan posting yg diimel teman gw beberapa waktu yl tentang seseorang yg berkomentar "Avian flu saja kok ditakuti, wong cuma 30-an orang yang mati di Indonesia." Komentar tersebut jelas dibahas oleh orang2 yg lebih mengerti hal tsb dg "proporsi yg tepat" yg gw kutip berikut: "Jelas komentar tersebut tanpa berpikir sama sekali karena ia tidak mengenai dasar historis tentang flu yang mematikan (seperti Spanish Flu 1918 yang memakan jutaan korban) dan betapa virus flu yang telah bermutasi akan sangat mudah menular di antara sesama manusia (bayangkan dengan hanya menghirup udara di mana seorang penderita hirup, maka kita semua akan tertulari)". Waduh... bahaya juga yah kalau yg ngomong gak takut itu jadi strategi kesehatan nasional. Berlebihan juga sih kalau terlalu paranaoid, tapi for most of things principal such one's life, better preventive than sorry *I think*.

Gw berusaha at least yah untuk "do my homework", berusaha mengenali latar belakang apa yang dibicarakan, apa suasana berbicara dan dengan siapa gw bicara sebelum membuka mulut. Terkadang with love ones, family and friends, we (somehow allow) to do (lots of) mistakes, but (for example) that will not be the case with the immigration - no visa means no entry *full stop*

Kalau di-ricek ulang hal ini sih pengaruh kebiasaan di rumah dan juga di sekolah, terutama saat gw SMA (dulu). Itu terekam dengan jelas sampai saat ini. Di atas meja kepala sekolah ada plakat bertuliskan "FIKIR" dengan huruf besar, teman2 satu sekolah gw mesti mengenali plakat tersebut dengan sangat baik. Terlepas dari sang kepsek yg memang strength dalam banyak hal, namun satu hal yg melekat di antara kami adalah di saat kami mau menghadap beliau, kami kudu mikir dulu apa yg mau kami omong. Kami tahu kalau asbun mesti kami akan keluar dengan dongkol dan tidak menyenangkan. Kami mencoba mempelajari dulu moodnya beliau walau hal ini sering agak sulit dijadikan patokan. Bahkan ada beberapa teman saat itu melakukan rehearsal dulu sebelum meminta ijin untuk satu acara OSIS atau pun untuk keluar kota dengan orangtua walau ijin orangtua di tangan. Rumit banget yah buat remaja ibukota seusia kami dulu *bandel2 lagi*. Tapi ternyata banyak gunanya setelah menjalani hidup dan di usia saat ini gw sangat bersyukur kalau hal itu gak telat diajarkan. Gw bersyukur kalau itu telah terjadi saat otak ini masih sangat fresh dan mudah diinjeksi hal2 baik.

Kebiasaan itu ternyata telah menjadi suatu kepercayaan. Kejengkelan menghadapi yg tidak berpikir dahulu sebelum berbicara terkadang menjadi sangat mengganggu. Juga keharusan menghadapi pertanyaan2 yg jawabannya sudah ada di depan mata, "kalau saja mau meluangkan waktu untuk membaca baik2 sebelum bertanya, tentu pertanyaan2 seperti itu tidaklah muncul". Yah *sambil menghela nafas* namanya juga pembelajaran. Hanya yg gw sangat sayangkan jika itu dilakukan berulang2 oleh orang yg sama dengan kapasitas yg tidak sembarangan. Lewat pengalaman yg berulang2 tersebut, yah kalau ada postingan yg secara tidak langsung dapat diinterpretasikan ke gw pol dengan "missing the points" tentang apa yg gw sampaikan, sungguh buat gw hal2 seperti itu yah dikaliin nol aja. Toh yg berkomentar telah terbukti berulang2 untuk tidak berpikir dahulu sebelum berbicara dan terlalu sering "missing the points" untuk kapasitasnya yg sekarang gw pertanyakan "tidak sembarangan" itu. So, gw kaliin nol aja kali yeee... yuuks.

Apalagi kalau terjadi ke gw, mesti gw bilang "Stupid doesn't play". Itulah frase joke yg sering gw lontarkan ke diri gw kalau mempertanyakan hal yg padahal gw udah tahu atau gw tahu kemana mencari jawabannya. Jawaban itu bisa saja didapat dengan "mudah" di buku, intranet, internet ataupun kalau mentok2 yah bertanya kepada orang2 yg memang berkapasitas menjawab pertanyaan tersebut. Membaca pun bukan sekedar membaca, tapi berusaha untuk mengerti supaya tidak "missing the points", toh bukan baru belajar membaca. Ada paragraf dan ada inti kalimat, nah intinya yg perlu berusaha dimengerti.

Kemarin ada yg bertanya tentang seringnya gw jalan dengan seorang teman akhir2 ini. Hahaha tertawa juga sih kemaren itu, dan teman gw itu jg langsung nimpalin "huh, kog gak riset dulu sih". Gw jg njawab, "ya ampun, gw kenal dia sejak 2003, tepatnya di airport lounge BS, dia itu temennya temen yg gw kenal di Bpn. Sejak saat itu gw sering banget bareng meluangkan waktu untuk hobi kami ngobrol membahas artikel2, ngopi, nyalon, makan dan berolahraga, dan akhir2 ini hobi kami memotret. Jadi, sebelum lo tuh di Bpn, gw udah sering banget jalan ama dia. Bukan baru akhir2 ini aja". Dijawabnya "oo, gitu toh, kirain..." Hmmm, sepertinya makin banyak nih yg missing the points... hehehe

Tadi siang jg ada kolega yg merasa dirinya selalu menjadi tertuduh jika ada suatu kesalahan, dan ini bukan pertama kali ujarnya. Tanpa mencari tahu lebih lanjut, buat pak boss ternyata seseorang yg salah akan salah terus dan seseorang yg benar *mungkin menurut dia* akan benar terus. "huh, kog gak riset dulu sih, bukan siapa yg salah atau benar, tapi emang enak dituduh mulu'. yg sabar yah.

Setelah kejadian2 yg terjadi berulang2 dalam waktu yg bersamaan ini, gw pikir worth lah to be written that clear (hahaha...). Ini jg buat gw supaya gak jadi amnesia selektif kalau besok2 hal2 yg seperti ini terjadi lagi, tinggal mengalikannya dengan nol saja. Sama dengan nol.

As a wise man said, "be aware of what others think of you based on what you do: the good, the bad and the ugly". Hal yg jg gw sadari adalah bahwa kecerdasan seseorang adalah lewat apa yg tersurat. So, to be able to make a good "suratan", doing some homework will cost exactly nothing but a smart "suratan".