Tanggal 17 yl sebagai bangsa, bangsa Indonesia merayakan peringatan HARI kemerdekaan. Ulasan di Tempo edisi khusus tentang kemerdekaan cukup membuat hati agak miris dengan kenyataan malam ini kemerdekaan gw untuk berada di rumah gw sendiri di-injak2 atas nama kemerdekaan bertetangga.
Tadi siang gw sudah membayangkan nge-net edisi-weekendnya telkomnet ditemani dengan secangkir kopi dan kripik singkong yg sengaja gw beli, sambil melihat kebolehan keempat raja/ratu SMS AFI di Indosiar. Suatu rencana sederhana untuk menikmati hari-hari terakhir berada di rumah itu. Betapa kagetnya gw saat pulang abis beli kripik singkong itu, menemukan carport rumah gw, yg jelas2 adalah wilayah teritorial rumah gw, sudah tersusun rapi meja2 lengkap dengan tenda di depannya. Tentunya gw yg merasa tidak punya hajatan menjadi heran, kaget namun sempat ge-er berpikir, "wah, ada surprise party nih".
Ternyata bukan surprise party buat gw *kirain, hehehe*, melainkan surprise surprise tetangga2 mau "party" dan pinjam carport rumah gw. *Mengutip istilah beken* IMHO, mbok ya kalau mau memakai teritorial tetangga adalah sepatutnya untuk meminta ijin terlebih dahulu. Ini namanya trespassing, bung.
Tentunya gw menegur dengan baik-baik. Jawaban yg gw terima tidak mengenakkan karna diucapkan dengan nada tinggi, "Lho, selama ini kan 'Mbak ijinkan kami pakai!". Mengulang nada heran yg sama tapi tidak tinggi gw menjawab, "Lho, selama ini kan bapak/ibu meminta ijin sebelumnya untuk memakai. Tentunya selama saya tidak terganggu, saya ijinkan. Tapi hari ini terus terang (maaf) saya kaget menemukan kondisi dalam rumah saya jadi begini. Padahal tadi sebelum saya pergi, saya masih bertegur sapa dengan bapak/ibu, tapi tidak ada pemberitahuan apa2". Jawaban balasannya sungguh mengejutkan, "Yah 'Mbak, beginilah artinya hidup bertetangga". Hmm, permintaan maaf yg sempat gw harapkan pun tidak ada.
Sungguh tidak masuk di akal gw. Namun bukan saat yg tepat kalau gw langsung marah2 dan mengobrak abrik meja2 dan tenda yg telah terpasang rapi. Mereka sedang merayakan arti kemerdekaan hidup bertetangga menurut definisi mereka, dan seakan memaksa gw menerima resiko kemerdekaan mereka itu. Gw tidak mau memperpanjang masalah ini, sebab gw tahu resikonya akan mengarah ke yg tidak2 di negri bhinneka tunggal ika ini. Ambil laptop dan langsung menuju nge-net yg gw idam2kan. Berusaha menikmati efek positifnya kalau gw bisa nge-net dengan sambungan LAN yg jauh lebih cepat dan gratis.
Hanya ijinkanlah gw untuk menjadi heran. Kalau memang inilah artinya hidup bertetangga, apakah sebegitu susahnya "meminta ijin" "kulonuwun" "punten" "permisi". Mereka jelas2 lebih tua dari gw dan sudah banyak makan asam garam kehidupan seperti yg sering dibangga2kan. Tentu banyaknya tidak sebanding dengan generasi tanpa bedil dan bambu runcing seperti gw. Tapi, toleransi bertetangga yg diajarkan di depan mata gw dan anak2 mereka pun menjadi mentah.
Hari ini, tiga hari saja sejak perayaan HUT (HARI ULANG TAHUN) kemerdekaan RI yg ke-61, gw mempertanyakan arti kemerdekaan bertetangga.*sigh*
Tadi siang gw sudah membayangkan nge-net edisi-weekendnya telkomnet ditemani dengan secangkir kopi dan kripik singkong yg sengaja gw beli, sambil melihat kebolehan keempat raja/ratu SMS AFI di Indosiar. Suatu rencana sederhana untuk menikmati hari-hari terakhir berada di rumah itu. Betapa kagetnya gw saat pulang abis beli kripik singkong itu, menemukan carport rumah gw, yg jelas2 adalah wilayah teritorial rumah gw, sudah tersusun rapi meja2 lengkap dengan tenda di depannya. Tentunya gw yg merasa tidak punya hajatan menjadi heran, kaget namun sempat ge-er berpikir, "wah, ada surprise party nih".
Ternyata bukan surprise party buat gw *kirain, hehehe*, melainkan surprise surprise tetangga2 mau "party" dan pinjam carport rumah gw. *Mengutip istilah beken* IMHO, mbok ya kalau mau memakai teritorial tetangga adalah sepatutnya untuk meminta ijin terlebih dahulu. Ini namanya trespassing, bung.
Tentunya gw menegur dengan baik-baik. Jawaban yg gw terima tidak mengenakkan karna diucapkan dengan nada tinggi, "Lho, selama ini kan 'Mbak ijinkan kami pakai!". Mengulang nada heran yg sama tapi tidak tinggi gw menjawab, "Lho, selama ini kan bapak/ibu meminta ijin sebelumnya untuk memakai. Tentunya selama saya tidak terganggu, saya ijinkan. Tapi hari ini terus terang (maaf) saya kaget menemukan kondisi dalam rumah saya jadi begini. Padahal tadi sebelum saya pergi, saya masih bertegur sapa dengan bapak/ibu, tapi tidak ada pemberitahuan apa2". Jawaban balasannya sungguh mengejutkan, "Yah 'Mbak, beginilah artinya hidup bertetangga". Hmm, permintaan maaf yg sempat gw harapkan pun tidak ada.
Sungguh tidak masuk di akal gw. Namun bukan saat yg tepat kalau gw langsung marah2 dan mengobrak abrik meja2 dan tenda yg telah terpasang rapi. Mereka sedang merayakan arti kemerdekaan hidup bertetangga menurut definisi mereka, dan seakan memaksa gw menerima resiko kemerdekaan mereka itu. Gw tidak mau memperpanjang masalah ini, sebab gw tahu resikonya akan mengarah ke yg tidak2 di negri bhinneka tunggal ika ini. Ambil laptop dan langsung menuju nge-net yg gw idam2kan. Berusaha menikmati efek positifnya kalau gw bisa nge-net dengan sambungan LAN yg jauh lebih cepat dan gratis.
Hanya ijinkanlah gw untuk menjadi heran. Kalau memang inilah artinya hidup bertetangga, apakah sebegitu susahnya "meminta ijin" "kulonuwun" "punten" "permisi". Mereka jelas2 lebih tua dari gw dan sudah banyak makan asam garam kehidupan seperti yg sering dibangga2kan. Tentu banyaknya tidak sebanding dengan generasi tanpa bedil dan bambu runcing seperti gw. Tapi, toleransi bertetangga yg diajarkan di depan mata gw dan anak2 mereka pun menjadi mentah.
Hari ini, tiga hari saja sejak perayaan HUT (HARI ULANG TAHUN) kemerdekaan RI yg ke-61, gw mempertanyakan arti kemerdekaan bertetangga.*sigh*