Dari ibu2 SD 13 gw tahu keadaan yg sebenarnya terjadi hari Senin minggu lalu di Gunung Bakaran Balikpapan. Di suratkabar daerah memang dituliskan peristiwa angin puting beliung, tapi cerita mereka ini ibaratnya laporan pandangan mata yg tentu buat gw lebih akurat. Saat itu memang terjadi angin "deras" dari arah laut. Percaya akan ada tsunami orang2 berlarian ke daerah yg lebih tinggi ataupun atas rumahnya. Apa mau dikata, ternyata yg datang bukan tsunami melainkan angin puting beliung, mereka pun terluka oleh atap rumah ambruk atau melayang. Barulah terpikirkan bahwa mungkin lebih aman di bawah saja, toh tidak ada air. Tapi kalau benar tsunami, mungkin memang lebih aman di atas. Bagaimana ini? Apa atau siapa pemberi warning yg paling ampuh?
Tiga kejadian besar ini dimulai tanggal 12,
12 Mei 1998 - Tragedi Trisakti
12 Okt 2002 - Bom Bali
12 Jul 2006 - Dimulainya Perang Israel-Libanon
Mahasiswa dan orang2 sipil pun menjadi korban. Mungkin bukan tanggal 13 yg seharusnya ditakuti. Mungkin 12. Mungkin 9. Mungkin juga 31. Atau mungkin sebenarnya setiap hari selalu ada saja "kejahatan" menanti dan tak pandang bulu lagi. Oleh karenanya menurut Bang Napi: WASPADALAH.
Dunia menjadi tidak aman. Kita menjadi benar2 tidak berdaya. Tak mudah untuk benar2 tahu siapa teman atau lawan. Jangankan skala dunia, di sekeliling kita saja menjadi tidak aman. Ada gempa dan letusan gunung api yg setiap saat bisa menghadang. Bukan mau menyalahkan kuasaNya, tapi memang betul2 tidak tertebak "pergerakannya". Belum lagi banjir dan tanah longsor yg adalah notabene ulah manusia juga. Setelah membaca email pertanyaan dan gerutuan seorang teman tentang masalah Israel-Libanon yg semakin brutal, gw menanyakan, "Pembenaran bagaimana kalau perang adalah sama dengan membunuh?"
Penculikan anak yg sedang marak di Jakarta, pemberian narkoba dalam bentuk permen manis atau pun perkenalannya di jajanan anak2, penjambretan membabi buta, bahkan di headline suratkabar daerah "Garong semakin berani". Bagaimana mungkin ini terjadi? Himpitan ekonomi kah sehingga menculik/merampok/menggarong menjadi pembenaran?
Tiga kejadian besar ini dimulai tanggal 12,
12 Mei 1998 - Tragedi Trisakti
12 Okt 2002 - Bom Bali
12 Jul 2006 - Dimulainya Perang Israel-Libanon
Mahasiswa dan orang2 sipil pun menjadi korban. Mungkin bukan tanggal 13 yg seharusnya ditakuti. Mungkin 12. Mungkin 9. Mungkin juga 31. Atau mungkin sebenarnya setiap hari selalu ada saja "kejahatan" menanti dan tak pandang bulu lagi. Oleh karenanya menurut Bang Napi: WASPADALAH.
Dunia menjadi tidak aman. Kita menjadi benar2 tidak berdaya. Tak mudah untuk benar2 tahu siapa teman atau lawan. Jangankan skala dunia, di sekeliling kita saja menjadi tidak aman. Ada gempa dan letusan gunung api yg setiap saat bisa menghadang. Bukan mau menyalahkan kuasaNya, tapi memang betul2 tidak tertebak "pergerakannya". Belum lagi banjir dan tanah longsor yg adalah notabene ulah manusia juga. Setelah membaca email pertanyaan dan gerutuan seorang teman tentang masalah Israel-Libanon yg semakin brutal, gw menanyakan, "Pembenaran bagaimana kalau perang adalah sama dengan membunuh?"
Penculikan anak yg sedang marak di Jakarta, pemberian narkoba dalam bentuk permen manis atau pun perkenalannya di jajanan anak2, penjambretan membabi buta, bahkan di headline suratkabar daerah "Garong semakin berani". Bagaimana mungkin ini terjadi? Himpitan ekonomi kah sehingga menculik/merampok/menggarong menjadi pembenaran?
-my two cents on this-
Dengan banyaknya kejadian yg berlangsung ini, sungguh bak oase tadi pagi membaca a touching story from India. Walaupun ini fiksi atau bukan memang tidak jelas, tapi sungguh touchy. Gw percaya masih banyak Sindu2 lain di muka bumi ini, to make this world a better place for EVERYONE.
- kutipan cerita dimulai:
Janji
Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran, "Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan."
Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu, tampak ketakutan air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India /curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno dan mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada "cooling effect".
Aku mengambil mangkok dan berkata, "Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah." Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku.
Dengan banyaknya kejadian yg berlangsung ini, sungguh bak oase tadi pagi membaca a touching story from India. Walaupun ini fiksi atau bukan memang tidak jelas, tapi sungguh touchy. Gw percaya masih banyak Sindu2 lain di muka bumi ini, to make this world a better place for EVERYONE.
- kutipan cerita dimulai:
Janji
Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran, "Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan."
Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu, tampak ketakutan air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India /curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno dan mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada "cooling effect".
Aku mengambil mangkok dan berkata, "Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah." Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku.
Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata, "Boleh ayah, akan aku makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta..." agak ragu2 sejenak... "... akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaanku?"
Aku menjawab, "Oh pasti sayang".
Sindu tanya sekali lagi, "Betul ayah?"
"Yah pasti.." sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.
Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, "Janji" kata istriku.
Aku menjawab, "Oh pasti sayang".
Sindu tanya sekali lagi, "Betul ayah?"
"Yah pasti.." sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.
Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, "Janji" kata istriku.
Aku sedikit khawatir dan berkata: "Sindu jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang." Sindu menjawab, "Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang2 mahal kok."
Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya.
Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya.
Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin pada hari Minggu.
Istriku spontan berkata, "Permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin!" Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita. Aku coba membujuk: "Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak." Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, "Tidak ada 'Yah, tak ada keinginan lain," kata Sindu.
Aku coba memohon kepada Sindu, "Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami." Sindu dengan menangis berkata, "Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya aku menghabiskan nasi susu asam itu Dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan aku kenapa ayah sekarang mau menarik perkataan Ayah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala ) untuk memenuhi janjinya raja rela memberikan tahta, kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri."
Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, "Janji kita harus ditepati." Secara serentak istri dan ibuku berkata apakah aku sudah gila.
"Tidak," jawabku, "Kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri."
"Sindu permintaanmu akan kami penuhi."
Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus. Hari Senin aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya Dan melambaikan tangan kepadaku sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya. Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak, "Sindu tolong tunggu saya." yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki2 itu botak, aku berpikir mungkin "botak" model jaman sekarang.
Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata, "Anak anda Sindu, benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya. Dia menderita kanker leukemia." Wanita itu berhenti berkata-kata, sejenak aku melihat air matanya mulai meleleh dipipinya. "Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena chemotherapy kepalanya menjadi botak, jadi dia tidak mau pergi kesekolah takut diejek oleh teman2 sekelasnya.
Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus. Hari Senin aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya Dan melambaikan tangan kepadaku sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya. Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak, "Sindu tolong tunggu saya." yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki2 itu botak, aku berpikir mungkin "botak" model jaman sekarang.
Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata, "Anak anda Sindu, benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya. Dia menderita kanker leukemia." Wanita itu berhenti berkata-kata, sejenak aku melihat air matanya mulai meleleh dipipinya. "Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena chemotherapy kepalanya menjadi botak, jadi dia tidak mau pergi kesekolah takut diejek oleh teman2 sekelasnya.
Nah, Minggu lalu Sindu datang ke rumah Dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia."
Aku berdiri terpaku dan tidak terasa air mataku meleleh. Malaikat kecilku tolong ajarkanku tentang arti sebuah kasih.
Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
Aku berdiri terpaku dan tidak terasa air mataku meleleh. Malaikat kecilku tolong ajarkanku tentang arti sebuah kasih.
Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)