Euforia piala dunia diakui dapat membuat sebagian masyarakat larut dalam suasana pesta dunia tersebut. Bencana gempa di Yogya maupun telah dimulainya “langganan” penyakit deman berdarah pun menjadi berita sampingan di media2. Foto ini gw ambil sebelum memasuki stadion Senayan tempat pelaksanaan pertandingan Persija-Persipura th.2005 yl. Para pendukung Persija rela "menyabung" nyawa dengan duduk di atas bus demi membela kesebelasan tercinta. Yah, demikianlah kalau euforia merasuki raga, terkadang pikiran jernih pun terpengaruhi.
Ada tulisan di Tempo yg mengajak mereka yg tidak menyukai pesta tersebut untuk dapat menerimanya dengan lapang dada dan berlaku santai. Dihimbau untuk tidak mengganggu apalagi menentang mereka yg sedang berpesta. Ada juga seliwerin email yg bertajuk peraturan piala dunia, yang isinya adalah petunjuk berperilaku bagi istri, sahabat dan pacar yg cukup lengkap dengan tindakan2 apa yg harus dilakukan ataupun apa yg tabu dilakukan selama periode satu bulan ke depan ini terhadap para penggemar nonton bola.
Yah, dunia memang begini, asal jangan kebablasan lah santainya toh suasana masih berkabung (belum 40hari-an). Boleh untuk menjadi hiburan sesaat (para pengungsi pun mengakuinya), namun jg berlebihan apalagi sampai membawa bencana baru hanya gara2 keasyikan berpesta.
Sebagai selingan diantara euforia itu, silahkan dibaca artikel berikut yg juga merupakan petunjuk berperilaku jika bumi berpesta seiring irama yg sulit ditebak manusia. Pergerakannya seiring irama waltz yg tiap tiga ketukan, atau 8 beat atau 16beat? Hanya Tuhan yg tahu, namun kita bisa menggunakan ilmu pengetahuan untuk tidak meratapi musibah hanya karna ketidaktahuan.
Senin 12/6/2006 pukul 06:43 WIB gempa tektonik dengan kekuatan 5.9 skala richter dengan episentrum 530km laut barat daya Lampung *petunjuk alam untuk jangan terlena dalam pesta*
Buat mereka yg berpesta, jg sampai mabuk dan lupa pulang ke rumah. Kalau ada panggilan pulang ke rumah sebelum pesta selesai, segeralah pulang.