Satu hal yg selalu didengung2kan orang2 bijak ke gw,
Tulislah kebaikan di batu karena walau ombak menghantam batu, tulisan kebaikan itu tetap ada dan kau akan terus mengenang kebaikan orang tersebut.
Namun jika kau harus menuliskan kejahatan, tulislah di pasir sehingga saat ombak menyapu pasir, tulisan tersebut akan hilang dan kau pun akan melupakan kejahatan orang tersebut.
Saat ini gw di persimpangan untuk menentukan cara melihat dan melupakan rasa sebel sama orang yg gw anggap melakukan backstabbing ke gw berulang kali. Emosi sesaat seakan membuat gw ingin menuliskan dg cara lain saat ini. Gw pengen menulis kejahatan2 tersebut di sebuah batu sehingga pada saat gw dijahatin (lagi lagi lagi) gw akan bisa lihat batu itu dan mendapatkan kekuatan:
Bahwa ini bukan pertama kali orang itu melakukan hal ini.
Bahwa ini bukan pertama kali orang itu melakukan hal ini.
Bahwa ini bukan pertama kali orang itu melakukan hal ini.
Bahwa ini adalah ”hal biasa”
Orang tersebut toh akan tetap melenggang seperti biasa, berbicara seperti biasa, bahkan ngobrol dan tersenyum manis seakan ”pengkhianatan” itu tidak pernah ada, atau sebenarnya menunggu saat untuk melakukannya kembali?
duh, pikiran gw jahat banget yak
duh, pikiran gw jahat banget yak
Sekali lagi, tetep aja pendapatnya Babang, "Sudahlah, kerja yg maksimal bukan buat manusia... ihiks... dan tambahnya "toh jawabannya sudah diberikan dalam kotbah kemarin 8/7/7"... hayo, hayo baca lagi catatan kotbahnya... hehehe
Ef.6:10-20 (menjadi kuatlah di dalam Tuhan karena perjalanan kita panjang dan musuh kita jahat)
Luk 17:7 (tuluslah – berilah tanpa mengharap – itu akan membuatmu tidak pernah lelah menunggu balas)
Yoh 5: 19, 30 (bergantunglah pada sumber kekuatan yaitu Tuhan yg hanya sejauh doa)
Mazmur 45:8 (minta urapan Tuhan)
I Tes 5:16 (bersukacitalah senantiasa)
Oke deh, hayo ini hal biasa dan gw sudah melewatinya berulang kali... belajar terus untuk forgiven AND forgotten, ca yo God bless!