Look at me,
You may think you see who I really am,
but, you'll never know me.
Every day, it's as if I play a part.
When will my reflection show, who I am inside... (C.Aguilera)
Thursday, March 31, 2005
Live life to the fullest
ihik ihik ihik... hujan rintik rintik dari subuh tadi, seakan alam pun turut merasakan rasa kehilangan gw, sejak gue ke Kebun Sayur untuk beli sampek untuk Madame, ke BC beli liontin untuk Anneke, bahkan saat gue bungkus kado2 itu pun, rasa itu pun pelan-pelan tapi pasti bisa gw rasakan, melo banget gak sih gw...
somehow, pagi ini, gw kembali diingatkan... bukankah dalam hidup gw sudah sangat terbiasa dengan perpisahan... dengan keluarga, dengan teman, dengan lingkungan bahkan dengan sahabat2 gw...
dan justru, perpisahan2 itu lah yang selama ini menguatkan gw, bikin gw lebih tough dalam hidup dan lebih menghargai apa yang gw miliki at this moment... live life to the fullest...
Wednesday, March 30, 2005
Lelah
“Naik apa kita kesana?”
“Naik boat, kebetulan temen gw ada yg pernah jadi guide”
“Oke deh…I’m in, tapi gw sibuk (basi – red), elo atur aja semuanya yah!"
Bermula dari ajakan singkat di atas, perjalanan ke Melak dimulai.
"Ada apa yah di Melak?" pertanyaan itu malahan baru timbul di benak gw malam sebelum hari-H. Gw teringat ada teman yang bilang kalau di Melak ada anggrek sama air terjun. Oke deh, sampai besok aja lah…
Kami berempat: gw, Ilan, Yanti dan Martin menuju Melak dalam satu Kijang th’98. Gak jadi naek boat, sebab kalau dihitung-hitung waktunya bakalan terlalu singkat, cuman 2 hari sedangkan hari Minggu kami sudah kudu balik. Mungkin bisa lain kali naik boat.
Setelah melewati hutan Kalimantan, yg sekarang cukup gersang, akhirnya kami sampai juga di Melak. Sumpah. Gak kebayang deh, kalau Melak itu kotanya bagus (versi gw lho). Terus terang gw gak nyangka kalau Melak ternyata memiliki pemandangan yg kurang lebih sama seperti yg bisa gw lihat di daerah Kamal, yang notabene masih bagian dari ibukota. Perusahaan kayu dan batu bara tampaknya membawa dampak kemajuan di kota yang out of nowhere ini.
Satu lagi yang bikin gw impress banget, di jejeran toko-toko dekat “pelabuhan” ada toko dengan plang HIPERPRO … Himpunan Perempuan Produktif, *kerreeen kan..*
Rumah sakitnya juga bikin lidah berdecak… dibandingkan RSU Balikpapan, tampak luar RS di Sendawar jauh lebih bagus. Sayang deh gak kefoto, abis pas lewat yah gw cuman bisa bengong ngeliatinnya doang ^-^.
Melak itu adalah nama kabupatennya – gw baru tahu nih – sedangkan nama kotanya sendiri adalah Sendawar. Pas di simpang liat gak ada nama Melak, sempet bingung juga, apa salah belok, untung ada Petrus, guide kami. Ia sudah tinggal di Kalimantan selama 30 tahun. Petrus berasal dari Ende, Flores, dan seperti kebanyakan orang pada jamannya, mereka migrasi ke Kalimantan untuk bekerja di pabrik kayu.
Sepanjang perjalanan kebanyakan hutan di kiri kanan, sesekali kelihatan penambangan batu bara, bahkan sempat lihat ada illegal logging (katanya) dan pembakaran hutan (atau terbakar?).
Perjalanan 14 jam dari Balikpapan – mampir dulu di Samarinda – akhirnya berakhir juga di penginapan Anugerah, yang jauh dari kesan sederhana, melati 3 lah ukurannya, dan ada Tv pake parabol…. *Kata Yanti, TV di Nuansa Indah aja kalah* Syukurlah malam itu tidak hujan, jadi kata Pak Petrus, kami bisa mengunjungi kebun anggrek, namanya Kersik Luwai yang dalam bahasa Dayak, Kersik artinya pasir dan Luwai artinya putih.
Esoknya, begitu masuk ke perkebunan itu, disambut hamparan pasir putih yang ternyata memang perkebunan ini memiliki tanah yg berupa pasir putih.
"Ah masa sih", gw raba2, pegang, lihat, emang pasir…. dan warnanya putih, sama seperti pasir di pantai Parangtritis…. tapi apa iya ada yang nutupin tanahnya dengan pasir… kenapa cuman di bagian itu. Biarlah pertanyaan gw itu tetep jadi misteri alam…
Kalau alam mengijinkan, anggrek itu bisa tumbuh, gak mesti di arang, gak mesti dijagain, disiramin, cukup matahari, dipetikin, dikasih ajinomoto dan lain lain, seperti kata penjual anggrek di deket RingRoad. Di Kersik Luwai, anggrek hitam – yg ternyata warna benang sarinya yang hitam – bisa saja tumbuh dengan suburnya, dengan perlindungan dari pepohonan di sekelilingnya dan siraman hujan alami. Sangking penasarannya mencari anggrek yang merekah, selama 15 menit kami berputar-putar mencarinya, akhirnya dapet juga.. ternyata - gila, gw banyakan gak tahunya - anggrek merekah itu mengeluarkan bau yg khas. Gw langsung coba mengendus-ngendus dan ternyata bener juga sih. Gw harus akui kalau gw agak-agak gapbung juga, ternyata yg disebut anggrek hitam itu karena benangsarinya yg hitam, jadi kalo anggrek yg kelopaknya hitam itu kayak yg pernah gw liat di kebun anggreknya Bu Tien – namanya apa yah, auk ah gelap.
Kami juga berkunjung ke Lamin Papas Eheng. Lamin itu artinya rumah panjang, Papas Eheng adalah nama suku yang menempati lamin tersebut. Dalam satu Lamin tinggal puluhan keluarga yang hidup bersama. Jadi teringat rumah kos gw di Bandung :-(
Yang kami kunjungin dibangun tahun 1960an, dan saat ini menjadi tempat bernaung 30an keluarga.
Sewaktu kami di sana, mereka sedang mempersiapkan upacara kematian salah seorang penghuni. Upacaranya akan berlangsung pada hari Senin, jadi yang kami bisa saksikan hanyalah persiapannya saja. Mereka mengukir beberapa batang kayu utuh untuk nantinya bakal jadi batang tempat kerbau korban diikatkan, selanjutnya kerbau terbut akan ditusuk. Ada juga batang kayu untuk meletakkan barang-barang kesukaan almarhum, misalnya rokok kegemarannya, makanan-makanan kecil, dan terlihat oleh gw ada aqua juga. Mereka mempercayai barang2 tersebut untuk “bekal di jalan” nanti. Ada kesamaan lah dengan beberapa ritual-ritual di daerah lain.
Kami juga mengunjungi kuburan tulang. Setelah 2-3 tahun dikubur, kuburan dibuka dan tulang-tulang dikumpulkan, dimasukkan dalam satu “peti” yang terbuat dari batang pohon yang diukir, yang dipercaya sebagai tempat akhir perjalanan, a.k.a nirwana. Namun, ritual ini haya bisa dilakukan oleh yang orang mampu saja.
Sempet gw bertanya ke anak-anak yang tinggal di sana, "Apa mereka sekolah?" Mereka menjawab iya sambil tersenyum malu-malu. Mereka terlihat sangat polos pada umurnya dan beberapa di antaranya sangat senang difoto. “Mbak, foto aku dong” katanya sering.
Saat itu gw kehilangan mood untuk keliling-keliling lamin adat itu, karna cuacanya sangat panas, sehingga bikin gw rada pusing namun suasana duka sepertinya masih menyelimuti suasana di dalam lamin. Beberapa ibu-ibu didampingi anak-anak kecil berkumpul, saling mengobrol di ruang tamu yang bisa disebut selasar panjang. Terlihat tanduk kerbau asli dipancangkan di batang pohon yang diukir.
Lamin itu terlihat sangat kokoh, dengan pancang-pancang yang terbuat dari kayu ulin yang ditanamkan sekitar 1.5m. Menurut Petrus, lamin sepanjang ini sudah tidak banyak lagi dan sudah tidak populer. Sudah banyak suku dayak yang hidup di rumah biasa, walaupun bentuknya tetap rumah panggung, namun tidak lagi tinggal bersama dengan keluarga-keluarga lainnya.
Rencana untuk mengunjungi suku dayak lainnya terpaksa urung karna kondisi jalan yang tergenang air. Kami takut kalau saja mobil tidak dapat melaju kami akan sulit untuk minta bantuan, sepanjang mata memandang saja di daerah itu, hanya mobil kami yang melintas.
Akhirnya kami putuskan untuk melihat air terjun. Seterik-teriknya matahari, air terjun di Barong Tongkok akan terus mengalir dengan derasnya. Air itu sangat jernih dan sudah ada selama mereka bisa mengingat dan akan tetap ada ratusan tahun ke depan, mungkin…
Perjalanan menuju ke air terjun cukup menarik dengan pemandangan yang tidak biasa. Kami lihat ada Posko ambalat dengan poster-poster yang cukup provokatif, ada lapangan tenis, dan hebatnya ada tugu politeknik Sendawar. Kalau dipikir-pikir, Balikpapan sudah lama mau rencana bikin Politeknik, sedangkan di Sendawar, sudah berdiri tugunya, yang terletak di samping Sendawar Skill Training Center… beneran, di plangnya ada bahasa Inggrisnya…
Kota kecil ini membuat gw kagum, moga-moga aja pemerintah kabupatennya terus memenuhi harapan anak-anak kecil yang tadi gw ketemu itu untuk bisa punya masa depan yang cerah…
Perjalanan pulang sama melelahkan dengan perginya, ditambah lagi radiator yang sempat overheating dan perjalanan sempat macet akibat ada truck yang selip, wong jalanannya kecil kok ada 2 truck mau lewat, yang pastinya satu pasti akan tergelincir ke luar jalan. Setelah berunding dan bisa dimajuin pelan-pelan, disetujui untuk melewatkan mobil-mobil kecil, sehingga akhirnya kami dapat melanjutkan perjalan kembali. Sekitar lima jam dari insiden itu akhirnya nyampe juga gw di rumah mungilku tercinta….
Melak – you have impressed me – dan gw bakalan balik lagi ke sana, bahkan mungkin lebih jauh lagi, Long Iram, Long Banung … bahkan ide menyusuri Sungai Mahakam lalu lanjut Sungai Kapuas cukup menggoda small parts of my brain…J
foto
Ngeblog
Satu, yah karna lagi nge-trend... telat bu!
Dua, almamater gw, namanya Lusia a.k.a Loucee, just married, baru-baru ini menang kompetisi nge-blog dan blognya ok banget... www.loucee.com (thanks Ce, gw jadi terilhami) ada beberapa blog kiriman yang gw suka, favoritenya gw www.cookingforengineers.com... yah, ketebak kan hobby terpendam gw :-)
Tiga... Empat.... Lima dst alasan-alasan basi yg menunda2 gw nge-blog.
Gw makin dikuatin tadi malem, gara-gara mati lampu, gw ngobrol ngalor ngidul di rumah temen deket gw di Bpn, sampai ke masalah nulis menulis.
Gw seneeng banget nulis, sampe2 dimana-mana dan kapan pun gw akan menulis, apa pun. yah corat-coret pas meeting, pas ngelamun terus nulis-nulis tentang perasaan gw, yah harapan2 dan mimpi2 gw (ceillee...!), bahkan walaupun abis baca majalah gossip pun, gw suka iseng2 nulis komentar2 selebritis... jadi kadang kalo gossip nya berubah, gw suka nyeletuk dengan bilang "lho, tahun lalu dia bilang bla bla bla..." seringannya ke-gap mereka ama tulisan2 gw (gak penting banget gak sih)
anyway, gw akan mulai... satu, dua, tiga....