email teman2 lama ring a bell in my heart....
gw teringat
kala dimana gw bercanda bebas dengan alam,
menikmati senyuman anak2 kecil dan alunan gitar alam,
bersatu dengan gemericiknya air, hamparan sawah,
merambah gunung, menapaki lembah, menyusuri pantai, sungai dan rawa
bersama dengan dia dan mimpi2 kami ...
gw punya mimpi, dia pun punya mimpi
gw punya ambisi, dia pun punya ambisi
masa muda kami lalui dengan ambisi2 dan impian2 kami yg sama... saat itu.
memandang alam dari atas bukit
sejauh pandang kulepaskan
sungai tampak berliku
sawah hijau membentang
bagai permadani di kaki langit
gunung menjulang, berpayung awan
oh, indah pemandangan
ternyata sang waktu menginginkan lain.
layaknya mendengar petir di siang bolong, berita itu mengagetkan.
gw dibawa ke suatu kondisi yg gw gak bisa tolak saat itu,
harus menerima untuk membunuh dan mengubur beberapa bagian dari mimpi2 yg sudah terekam kuat dan menjadi bagian hidup gw saat itu.
itu yg harus gw jalani dan itulah hidup, bukan satu episode film yg bisa dipotong/dihilangkan saat editing. bohong kalau gw bilang gw gak kecewa.
thanks God, kekecewaan itu sedikit demi sedikit terobati walau kadang, luka yg gw anggap sudah kering itu ternyata bisa (kembali) basah ...
gw telah meminta maaf kepada orang2 yg menjadi saksi betapa kuatnya ambisi gw untuk mewujudkan mimpi2 itu, namun mereka pun tak bisa melawan takdir.
mereka terus meyakinkan kalau keputusan yg gw ambil itu tepat. mungkin bukan buat gw - yah tepatnya memang bukan buat gw -
mereka tetap mendukung, mendoakan, dan membantu gw untuk menyatakan mimpi itu dalam pengertian2 baru.
mereka setia sampai gw kembali berdiri dan tegar,
menyusun puzzle satu demi satu untuk mencoba menyusun mimpi2 yg sama dengan pengertian2 yg baru dan cara yg berbeda.
lalu gw bertemu dengan seseorang yg tulus iklas melewati hari2 bersama dan
mencoba merajut mimpi yg belum terselesaikan.
gw punya mimpi, dia pun punya mimpi
gw punya ambisi, dia pun punya ambisi
(kembali) masa muda kami lalui dengan ambisi2 dan impian2 kami yg sama... saat itu.
ternyata (kembali) sang waktu menginginkan lain
harapan dapat mengejar mimpi2 itu menjadi samar2 ...
gw menemukan diri gw melakukan penyangkalan terhadap mimpi2 itu dan ragu harus bagaimana melangkah
tak ada lagi denting gitar dan tak ada lagi ayunan langkah di pematang sawah,
namun ada janji untuk mengatasi segala masalah,
ada doa untuk menguatkan dan minta petunjukNya.
walau mimpi itu, ambisi itu, saat ini semua samar-samar....
tapi, semuanya begitu nyata buat gw ...
you really have touched the point that I have been trying to avoid for years...
gw teringat
kala dimana gw bercanda bebas dengan alam,
menikmati senyuman anak2 kecil dan alunan gitar alam,
bersatu dengan gemericiknya air, hamparan sawah,
merambah gunung, menapaki lembah, menyusuri pantai, sungai dan rawa
bersama dengan dia dan mimpi2 kami ...
gw punya mimpi, dia pun punya mimpi
gw punya ambisi, dia pun punya ambisi
masa muda kami lalui dengan ambisi2 dan impian2 kami yg sama... saat itu.
memandang alam dari atas bukit
sejauh pandang kulepaskan
sungai tampak berliku
sawah hijau membentang
bagai permadani di kaki langit
gunung menjulang, berpayung awan
oh, indah pemandangan
ternyata sang waktu menginginkan lain.
layaknya mendengar petir di siang bolong, berita itu mengagetkan.
gw dibawa ke suatu kondisi yg gw gak bisa tolak saat itu,
harus menerima untuk membunuh dan mengubur beberapa bagian dari mimpi2 yg sudah terekam kuat dan menjadi bagian hidup gw saat itu.
itu yg harus gw jalani dan itulah hidup, bukan satu episode film yg bisa dipotong/dihilangkan saat editing. bohong kalau gw bilang gw gak kecewa.
thanks God, kekecewaan itu sedikit demi sedikit terobati walau kadang, luka yg gw anggap sudah kering itu ternyata bisa (kembali) basah ...
gw telah meminta maaf kepada orang2 yg menjadi saksi betapa kuatnya ambisi gw untuk mewujudkan mimpi2 itu, namun mereka pun tak bisa melawan takdir.
mereka terus meyakinkan kalau keputusan yg gw ambil itu tepat. mungkin bukan buat gw - yah tepatnya memang bukan buat gw -
mereka tetap mendukung, mendoakan, dan membantu gw untuk menyatakan mimpi itu dalam pengertian2 baru.
mereka setia sampai gw kembali berdiri dan tegar,
menyusun puzzle satu demi satu untuk mencoba menyusun mimpi2 yg sama dengan pengertian2 yg baru dan cara yg berbeda.
lalu gw bertemu dengan seseorang yg tulus iklas melewati hari2 bersama dan
mencoba merajut mimpi yg belum terselesaikan.
gw punya mimpi, dia pun punya mimpi
gw punya ambisi, dia pun punya ambisi
(kembali) masa muda kami lalui dengan ambisi2 dan impian2 kami yg sama... saat itu.
ternyata (kembali) sang waktu menginginkan lain
harapan dapat mengejar mimpi2 itu menjadi samar2 ...
gw menemukan diri gw melakukan penyangkalan terhadap mimpi2 itu dan ragu harus bagaimana melangkah
tak ada lagi denting gitar dan tak ada lagi ayunan langkah di pematang sawah,
namun ada janji untuk mengatasi segala masalah,
ada doa untuk menguatkan dan minta petunjukNya.
walau mimpi itu, ambisi itu, saat ini semua samar-samar....
tapi, semuanya begitu nyata buat gw ...
you really have touched the point that I have been trying to avoid for years...