Tuesday, September 26, 2006

Keheranan (semi) permanen

Hari ini gw heran menyaksikan seseorang berusaha "sangat keras" memenuhi suruhan bosnya. Bukan apa2, "orderan" tersebut di luar konteks kewajibannya sebagai karyawan, alias urusan pribadi. Ditambah lagi cara bos yg kurang simpatik saat menyuruh "pekerjaan" tersebut. Awalnya gw pikir dia mau do the best whatever the order. Tapi, lebih2 gw terheran heran saat melihat dia langsung menyuruh orang lain dengan meniru cara bosnya yg kurang simpatik itu, padahal kali ini untuk urusan pekerjaan. Yg ada gw jadi bingung. Apa karna dia (sering) diperlakukan tidak simpatik, sehingga pada saatnya dia bisa "ngerjain" orang lain dengan "membalas" cara yg diperlakukan kepadanya? Padahal jelas2 pada situasi yg sama dia mengeluhkan cara yg kurang simpatik tersebut.

Ini semata2 revenge atau human survivor instinc alias = natural?

Kadang gw bertanya, apakah ini yg harus kita "tanggung" dari cerita2 jaman penjajahan kakek nenek kita - atau mungkin kakek/nenek buyut. Gak keren banget kan setelah 61 tahun (katanya) merdeka. Orang2 seumuran gw tentunya tidak pernah berada dalam penjajahan dalam arti kolonial. Kadang gw mau mengambil kesimpulan, mungkin sangking terbiasanya dengan mental dijajah ditambah lagi seringnya pengalaman tak berdaya oleh "penjajahan" orang lain, apakah itu membuat seseorang menganggap bahwa ia boleh juga menjajah orang lain yg tidak berdaya? Tentunya itu HANYA bisa dilakukannya saat punya "kekuasaan". Gitu yah? *mode heran on*

Pffffff, apakah keheranan ini semi permanen, sebab kog rasanya cukup sering gw dalam kondisi terheran2 model beginian dan kayak gak belajar deh dari pengalaman. Mungkin kalo gw bisa menerima dengan lapaaaaaaaaaaannnnnnnnngggggggggggg dada pengalaman2 selama ini dan menganggapnya sebagai guru terbaik, gw gak harusnya seheran hari ini, dan gak harus heran kenapa saat ini banyak orang2 yg "powerful" dan semena2.

Ah, gw gak mau larut dalam keheranan gak penting ini... hehehe...

Get away from heran gak penting itu, hari ini gw berkenalan dengan beberapa tetangga yg tinggal sekompleks. Kami bertemu di kelas aerobik (cieee...). Ada wanita asal Serbia yg telah menetap 4 bulan di Indonesia dengan suami dan anak perempuannya, ada wanita setengah baya Chinese asal Beijing yg sudah menetap 7 tahun, dan seorang wanita cantik asal India yg ayah ibunya sudah menetap lama. Berkenalan dengan mereka membuat gw mempunyai rasa heran yg menyenangkan, yaitu betapa semakin connectednya bumi ini dalam "dunia" gw. Bayangkan, kami berempat tidak mempunyai bahasa yg sama. Hanya saling pengertian untuk mendengarkan bahasa Inggris dengan logat yg berbeda2 dan terkadang terpatah2, we're connected. Waktu kecil gw dah cukup terheran2 ada teman yg rumahnya jauh dari sekolahan. Ternyata waktu gw SMA, giliran ada seorang teman gw yg terheran2 dengan rumah gw yg menurut dia di ujung bumi - hiper banget yak padahal masih sama2 di Jakarta tuh - emang sih rumah gw di Cengkareng sementara sekolah di Lapangan Banteng :-). Then, one day gw juga pernah terheran2 bisa mewujudkan impian masa kecil untuk bisa berada di suatu tempat yg jauh banget dari tanah air beta dan waktu itu cuman jadi hapalan mata pelajaran IPS tentang negara2 di dunia... hehehe...

Ini keheranan yg gw mau jadi permanen. Dengan menyadari bahwa this world is unlimited, that really makes me live.