"Terhadap semua intelijen itu, saudara-saudara, apakah terkait dengan aksi pemboman hari ini atau tidak terkait, saya menginstruksikan kepada semua jajaran penegak hukum untuk menjalankan tugasnya dengan benar, objektif, tegas, dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum."
Presiden SBY tidak dalam kapasitas cuti saat menyampaikan kutipan pidato di atas, jadi pernyataan beliau adalah sbg Presiden (bukan capres). Pernyataan beliau di layar kaca hanya beberapa jam setelah bom diledakkan di hotel JWMariott-RitzCarlton (2 BOM!!). Teks pidato lengkapnya sudah beredar hanya bbrp menit setelah dibacakan, jadi kalo ada yg dibilang dipuntir dari pidatonya, toh bisa cek saja langsung. Kutipan sangat singkat di atas adalah susunan kata yg dalam bahasa Indonesia sederhana pun IMHO bisa dikatakan bahwa pernyataan yg sebelum kalimat tsb belum diketahui apakah terkait/tidak dg aksi bom, alias pernyataan tanpa bukti!.
Bukan masalah jika pernyataan2 sebelumnya hanya sekedar pernyataan 'ada org membawa tas merah merk A/B/C sesaat sebelum bom' atau 'ada org lari pagi di depan hotel yg tiba2 nyelonong'. Yang menjadi masalah adalah pernyataan sebelumnya adalah sangat tendensius dan menyeramkan.
Gw sendiri tidak terlalu mengikuti masalah intelejen negara walau sehari2 berkutat dg masalah intelejen energi, yg walaupun sudah lebih dari dua tahun ini gw berkutat dg info koran, analisa kebijakan energi, analisa hukum energi, analisa cause-of pengambilan atau penyusunan kebijakan, analisa segala macam deh sampe2 analisa moodnya pak menteri dalam menyikapi satu masalah bagaimana, moodnya pak A/B/C gimana soal berita A/B/C baiknya disampaikan pagi/siang/malam... itulah kerjaan 'intelegen' gw. Berani gw klaim kalo gw 'gak banyak miss-hit' walaupun masih terus gali potensi, gali pengetahuan dan asah lagi kritis untuk petunjuk sekecil apapun. Walau di antara analisa yg banyak benar tetap ada saja yg analisa yg 'miss' hit, dan no surpise kalo itu bisa2 hanya karena satu saja fakta berita yg terlewatkan. Kira2 gimana intel bekerja sekarang gw dah paham karena gw sedikit banyak melakukannya, tapi apa semua orang melakukan kegiatan 'intelegen' tsb sehingga bisa mempunyai analisa yg benar soal keamanan negara, jawabannya adalah tidak. Bahkan boss gw sendiri pun pernah meragukan analisa gw, tapi akhirnya hanya fakta lah yg membuktikan kebenaran analisa tsb.
Ancaman fisik kepada Presiden adalah faktor yg melekat secara otomatis kepada pribadi siapapun yg menjadi Presiden di negara manapun, dan bukanlah satu yg harus dishare secara emosional kepada rakyatnya. Itulah salah satu sebab ada PasPamPres (Pasukan Pengamanan Presiden) yg tugasnya murni mengamankan Presiden, secara fisik! Rakyat telah share penghasilannya utk membiayai pasukan tersebut, jadi rakyat tidak usah lagi dishare haru biru jadi presiden. Capek jadi preseiden, kita tahu. Yang anehnya, di USA kog Obama jadi kurus kayak kecapean ya, tapi Presiden2 di Indonesia rata2 kelihatannya tambah berbobot setelah menjabat, 'analisa' murahan ini masih perlu laporan kesehatan before & after.
Keberadaan inteligen negara pun adalah hal yg biasa. Inteligen membutuhkan bukan sekedar baca koran, dll, tapi juga bergaul, berada di momen2 penting, tidak melewatkan sedikitpun peristiwa penting yg pada waktunya memang belum kelihatan pentingnya. Memang betul pernyataan Presiden tsb bukanlah gosip karena ada hard case yaitu betul, ada laporan inteligen dan betul, ada org2 yg bergerak dalam inteligen (salah satunya BIN, namun inteligen negara harusnya bukan satu sumber - di perusahaan aja banyak sumber). Tapi, Bapak SBY, Presiden RI, tolong jangan sebarkan sesuatu yg sangat sensitif di suasana keruh seperti ini. Gw mengharapkan seorang pemimpin yg bijak, tenangkanlah kami... malahan sekarang gw yg jadi bingung dg adanya skenario "revolusi" baru yg disebut2 Presiden nih, pegimana ceritanya?? Sayangnya, pidato dilengkapi catatan manis di ujungnya yg nantinya bisa dipakai membersihkan nama jika memang ini sekedar 'bunga2 pidato' seperti yg terungkap dari pembelaan salah seorang tokoh mengenai asbun tersebut: terkait/tidak masih perlu dibuktikan.
Weleh.weleh, apaan nih? Kalo belom terbukti, mbok ya jangan disebarkan ke seluruh rakyat.
Sy mengutuk perbuatan pengecut dg bom yg tidak pernah bisa diketahui siapa teman/lawan, namun tidak menerima dg mudah implan skenario2 yg status keterkatitannya pun belum jelas. Gw berharap laporan ini tidak sama atau analog dg "blue energy" ataupun "padi superletoy" versi baru... yg keduanya dulu juga berdasarkan laporan "inteligent" ala istana (pakai bracket).
Ada kutipan awam menulis di internet: "tapi sebagai rakyat yang mencintai perdamaian dan buta akan masalah intelejen, sekiranya Presiden Yudhoyono memilah informasi mana yang pantas dikonsumsi masyarakat pada saat genting seperti itu..." Sayangnya, terlambat sudah 'Bung, nasi sudah menjadi bubur. Sayang sekali, figur yg sempat gw kagumi lagi2 tertelan emosinya belaka.
Gw juga adalah orang yg ekspresif, untungnya usia gw masih di bawah rata2, sifat mengekspresikan emosi ini memang tidak lazim di lingkungan yg majemuk dan high konteks di Indonesia. Tapi, di lingkungan low konteks seperti lingkungan suku gw, tanpa ekspresi adalah sikap 'no-no' alias pengecut, tak tahu mengungkapkan mau. Tidak bisa diingkari bahwa kalau mau bertahan di lingkungan keraton ini gw harus dan gw memang sudah mau untuk belajar dg semakin bertambahnya usia gw ini untuk lebih bisa menata ekspresi emosi di lingkungan high kontes. Bukan 'menyimpan/memendam' emosi alias tidak mengekspresikannya, yg menurut gw berbahaya sebab bisa2 terikut arus, yg gw mau lebih ke 'memanagemen' ekspresi emosi sehingga bisa melawan arus tanpa harus tenggelam. Dalam permainan judi karonya orang Batak, ini dikenal sebagai 'mukamu jg terlalu kelihatan kau punya joker', belajar lah memasang ekspresi tipu... hahaha, gak lah, gw gak mau belajar pasang ekspresi tipu, wong gw jujur aja kadang dikira pasang muka tipu... itulah kalo orang biasa nipu jadinya suka ngirain orang lain nipu... hahaha...
Gw pernah harus melawan arus untuk bisa bertahan hidup th 2006 saat berenang mau menyebrang Sungai Maiting di Sulawesi Selatan, tapi ternyata tiba2 arus menjadi sangat deras. Mereka di tepian yg melihat mengaku langsung lemas, dan seorang yg memang lebih kuat nyaris mau nyebur menjemput gw. Katanya gw terbawa arus sgt cepat, mereka melihat gw berusaha ke tepian tapi katanya arusnya kuat & kelihatan gw tetap berenang seakan gak tahu terbawa arus dan tetap saja ingin segera turun takut gw menyerah kelelahan sebelum tiba. Gw berasa saat arus itu datang & langsung teringat untuk tidak melawan frontal, gw bertahan berenang supaya tetap di permukaan tapi tidak memotong arus, gw berusaha ngambang dg kuat karena saat itu tidak memakai pelampung dan akhirnya sampai di tepian dg selamat.
Melalui pengalaman tersebut, gw belajar bagaiman melawan arus supaya tidak tenggelam adalah dg mengikuti arus tersebut dg tetap fokus menuju tempat ke arah yg kita mau. Untungnya gw gak paksakan 90 derajat memotong sungai, toh mengalah >45 derajat pun gw bisa tetap sampai di tepian tanpa habis tenaga untuk tetap di permukaan. Yang terpenting saat itu gw ingat adalah keinginan kuat untuk bisa berenang dg nafas di atas & sampai di tepian dan ada rasa percaya yg tiba2 muncul bahwa gw belum saatnya mati. Kepercayaan itulah yg menghasilkan tenaga dan keinginan surviving yg ternyata bisa mengalahkan derasnya Maiting saat itu. Gw yakin bukan masalah 'mengalahkan' arus, tapi pengalaman itu membuat gw belajar untuk tidak pernah lagi menyepelekan sungai yg terlihat tenang dan belajar bagaiman melawan arus yg tiba2.... Thanks God, You must be behind that lesson. Tuhan bener2 tahu deh kalo terkadang gw harus ngalamin sendiri. But, it was fun. Yeah, give me a sense of life-surviving & experience of die hard before Thy will complete upon me.
Satu hal dari kejadian bom Mariott jilid 2 tsb yg buat sedikit senyum miris adalah kemenangan tim Garuda dg membuat MU kalah WO. Huh, padahal dah dapat tiket gratis. Indonesia, mari kita bertahan & sigap segera menyusun strategi ke depan. Gw percaya pemimpin dipilih oleh Tuhan (itu sudah tertulis dan bukan untuk gw pertanyakan). Maunya Tuhan, siapa pun Presiden RI harus didukung dalam menjalankan tugas sebaik2nya. Namun gw tidak akan segan untuk 'mengingatkan' jika ada hal yg mengganjal. Gw msk kategori nonpartisan & punya niat mendukung Presiden RI secara berimbang yg mengandung unsur memuji yg benar & mengingatkan yg tidak benar, tentu siapa saya yg hanya bisa menganalisa dalam koridor yg saat ini sgt terbatas.
Silahkan lanjutkan dan perlahan gw memilih mundur saja, tapi tidak mundur untuk mendukung kebijakan pemerintahan yg baik bagi rakyat banyak stakenya, dan kritis terhadap kebijakan bagi stake terbatas ataupun pembunuhan karakter rakyatnya. Kalau ada rakyat yg salah, ingatkan, tangkap & (masyarakatkan) di LP. Jangan umbar ancaman via konferensi pers, sudah basi dan terlalu biasa konferensi dalam lima tahun ini yg tujuannya tidak murni informatif, kita semua sudah tahu yg terbaca di layar kaca. Gw yakin dalam waktu dekat akan ada 'klarifikasi' dari pidato tersebut. Toh, isinya high konteks alias bisa diputarbalikkan (catat: oleh siapa saja) baik oleh pembuat teks pidato, pembaca teks (alias Presiden SBY sendiri) , juga oleh analis kacangan seperti gw.
Hidup NKRI. Mari bertahan, bersama Tuhan kita PASTI bisa. Bukankah masih ada orang2 yg percaya akan keberadaan bangsa ini? Tentunya. Sebab gw adalah salah seorangnya, dan gw tahu ada teman2 gw yg juga percaya bahwa bangsa Indonesia masih ada, bangsa yg bhinneka tunggal ika, perbedaan lah yg harusnya menjadi kekuatan kita. Justru karena perbedaan itu kita bersatu dan itu yg ditakuti oleh negara2 adidaya, ya kita ditakuti saat kita bersatu. Arus terlalu kuat saat ini untuk mencerai beraikan pegangan tangan kita. Tepian impian itu ada yaitu dimana bangsa kita bisa kembali berkarakter kuat di antara bangsa2 lain, bukan bangsa pecundang, bukan juga bangsa budak dari kerakusan akan materi, kekuasaan dan nama baik (hamoraon, hagabeon, hasangapon).