Saat gw denger tentang gempa pagi itu lewat sms ibunya Mia, ada rasa tak percaya. Tapi itu mengukuhkan pertanyaan dan rasa yg ada pagi itu, saat gw ngerasa gelapnya gak biasa. Gw nelpon dan berbincang bincang sejenak dengan ibu yg sangat bijak, mama. Gw utarakan rasa sedih. Gw pertanyakan kenapa gelap di luar sana, saat harusnya secercah sinar sudah ada di ujung ufuk. Mungkin hanya rasa saja, katanya. Mungkin hanya yah, rasa biru yg sedang menyelimuti lubuk hati gw yg terdalam.
Berat rasa meninggalkan tempat tidur pagi itu. Menunggu dan menunggu, sang mentari keluar dari persembunyiannya di balik awan. Tak ditunjukkannya kepalanya, hanya sinar nya di balik awan mengisi relung di antara pegunungan indah di pulau Lombok. Bahkan Puncak Rinjani pun tak sudi memperlihatkan dirinya. Persis seperti mimpi itu. Tapi, laut tak apa-apa. Oo, iya benar kata mama, mungkin hanya rasa saja.
Hati tak tenang, berenang menjadi pilihan. Bahkan untuk snorkeling pun gw takut. Rasa yg sangat jarang gw rasakan. Ah, mungkin faktor usia - uuh, berlebihan rasanya - dan benar, bagai degup jantung terkeras mendengar ada gempa di Yogya. Itu pun gw tahu saat di laut.
Rasa panas menyerang. Oo, mentari memang terik. Ternyata bukan itu. Gelombang kuat karna mau hujan. Oo, bukan itu. Saat turun dari perahu, rasa sangat tenang. Tapi, gelombang seakan mencengkram kuat, sampai2 cadik perahu pun menjadi tujuan. Gw lihat ikan setrip kuning dan ungu mencoba menghibur, tapi tak bisa. Dengan sisa tenaga, gw minta sang pelaut untuk mengangkat naik. Nggak mau gw bertaruh dengan alam. Bukan saat yg tepat. Tolong, kembalikan gw ke darat.
Gelombang tenang walau hujan mengguyur. Terima kasih Tuhan. Tapi hati tetap tak tenang. Daratan. Satu demi satu kabar teman2 di Yogya berdatangan via sms yg telah penuh sinyal. Satuan menjadi puluhan lalu ratusan dan hari ini telah menjadi ribuan.
Mereka tidak buta tapi tak bisa melihat.
Mereka tidak bisu tapi tak bisa berkata.
Mereka kehausan, kelaparan, dan mendadak papa, butuh makan.
Berat rasa meninggalkan tempat tidur pagi itu. Menunggu dan menunggu, sang mentari keluar dari persembunyiannya di balik awan. Tak ditunjukkannya kepalanya, hanya sinar nya di balik awan mengisi relung di antara pegunungan indah di pulau Lombok. Bahkan Puncak Rinjani pun tak sudi memperlihatkan dirinya. Persis seperti mimpi itu. Tapi, laut tak apa-apa. Oo, iya benar kata mama, mungkin hanya rasa saja.
Hati tak tenang, berenang menjadi pilihan. Bahkan untuk snorkeling pun gw takut. Rasa yg sangat jarang gw rasakan. Ah, mungkin faktor usia - uuh, berlebihan rasanya - dan benar, bagai degup jantung terkeras mendengar ada gempa di Yogya. Itu pun gw tahu saat di laut.
Rasa panas menyerang. Oo, mentari memang terik. Ternyata bukan itu. Gelombang kuat karna mau hujan. Oo, bukan itu. Saat turun dari perahu, rasa sangat tenang. Tapi, gelombang seakan mencengkram kuat, sampai2 cadik perahu pun menjadi tujuan. Gw lihat ikan setrip kuning dan ungu mencoba menghibur, tapi tak bisa. Dengan sisa tenaga, gw minta sang pelaut untuk mengangkat naik. Nggak mau gw bertaruh dengan alam. Bukan saat yg tepat. Tolong, kembalikan gw ke darat.
Gelombang tenang walau hujan mengguyur. Terima kasih Tuhan. Tapi hati tetap tak tenang. Daratan. Satu demi satu kabar teman2 di Yogya berdatangan via sms yg telah penuh sinyal. Satuan menjadi puluhan lalu ratusan dan hari ini telah menjadi ribuan.
Mereka tidak buta tapi tak bisa melihat.
Mereka tidak bisu tapi tak bisa berkata.
Mereka kehausan, kelaparan, dan mendadak papa, butuh makan.