Wednesday, March 28, 2007

Siapa Mereka Pak?

Karakter Manusia Indonesia Picik dan Tak Mau Kalah - ref. Laporan Wartawan Kompas M Zaid Wahyudi

JAKARTA, KOMPAS--Manusia Indonesia dicirikan dengan karakter yang picik, solidaritas rendah, serba instan, dan sulit menerima kekalahan. Kondisi tersebut membuat keadilan dan kesejahteraan sosial di Indonesia sulit diwujudkan.
Penggiat filsafat kebudaayan Tony Doludea di Jakarta, Jumat (16/3) sore mengatakan karakter manusia Indonesia adalah mudah iri hati, picik, dan tidak menyadari solidaritas untuk tujuan bersama. Mereka juga suka memperoleh sesuatu secara instan, mengabaikan proses dan kerja keras, percaya terhadap klenik, dan tidak dapat menerima kekalahan.
”Karakter itu ada dalam diri seluruh manusia Indonesia, mulai dari politisi, akademisi, intelektual, pemimpin, tokoh agama, hingga orang awam dan rakyat miskin,” kata Tony.
Mental manusia Indonesia tersebut membuat masyarakat tidak lagi percaya kepada kebenaran, keadilan, dan kebaikan. Kondisi tersebut membuat keadilan dan kesejahteraan sulit diwujudkan di Indonesia. Artikel

Siapa mereka Pak?

Tentu tidak semua orang harus setuju dengan pendapat bapak itu, nah karna ini blog pribadi sy, saya mau ikutan nulis pendapat saya ah. Saya jg gak ngarepin orang lain pada setuju kok.

Sy keberatan tuh kalo ciri2 yg Pak Tony bilang adalah ciri2 seluruh manusia Indonesia. Sy memang bukan psikolog apalagi ahli filsafat, tapi kayaknya ciri2 itu umum deh, diakuin dong ciri2 (baca: picik dan tak mau kalah) tersebut ada (atau mungkin saja ada) dalam diri siapa pun yg tak mesti manusia Indonesia. Namun seberapa ciri tersebut menjadi dominan dalam pembentukan karakter, pan tidak menjadikan seluruh manusia Indonesia hanya menjadi picik dan tak mau kalah saja. Toh banyak juga yg bisa meredam atau mengendalikan sifat dasar manusia yg memang pada intinya membantunya bertahan hidup sebagai the great survivor di muka bumi ini.

Kalo menurut saya, menurut SAYA lho pake huruf besar, manusia Indonesia adalah manusia yg kebetulan lahir di wilayah teritorial NEGARA Indonesia, atau bapak/ibunya yg lahir di Indonesia. Bagaimana karakternya, menurut SAYA, tergantung bagaimana org tersebut menyikapi kebetulan itu, dan juga bagaimana ia diajar dan dididik menyikapinya. Dan menurut pengamatan sy yg terbatas ini (maksudnya terbatas 32 tahun juga belom nyampe), di antara orang2 sekeliling saya, ada tuh yg menyikapinya sebagai anugerah, dan karakter yg terbentuk dalam diri mereka adalah hasil refleksi penyikapan yg ditanamkan dan disadari benar olehnya. Sungguh jauh dari sekedar picik dan tak mau kalah. Ada juga yg menyikapi kebetulan itu sebagai cobaan, sehingga ia lebih memilih menjalaninya dengan pasrah dan menunggu masa pencobaan itu berakhir meski tanpa tahu kapan dan harus bagaimana (ada juga tuh). Memang sy akui ada juga yg menyikapinya sebagai kebetulan lainnya, misalnya saja yg bapak kutip,

kebetulan aja dia jadi politikus... jadi dia harus licik
kebetulan aja dia jadi akademis... jadi dia harus keliatan pintar dong
kebetulan aja dia jadi intelektual... jadi dia harus keliatan intelek dong
kebetulan aja dia jadi pemimpin... jadi dia harus jaim dong di depan umum
kebetulan aja dia jadi tokoh agama... jadi dia harus rajin2 menjalankan agamanya
kebetulan aja dia jadi orang awam... jadi dia gak harus mikirin yg aneh2 kayak kesejahteraan sosial buat orang lain, apaan tuh?
kebetulan aja dia jadi orang miskin... ya iya lah, siapa yg kalo gak kebetulan mau jadi orang miskin


Jadi, siapa mereka Pak?
mbok yah jangan bilang seluruh manusia indonesia dong - terkesan kog lagi rada emosi jiwa ya (nebak aja sih, biasa pan kalo lagi emosi mungkin pendapatnya subyektif) ... jangan2 nanti komentar saya ditanggapin "tak mau kalah" - cocok kan masuk dalam portfolionya... hehehe (tertawa meringis)

Gw baru pulang dari suatu diskusi dengan beberapa orang yg dengan kapasitasnya sebenarnya bisa merubah negara ini (moga2) ke arah yg lebih baik. Namun kebetulan aja posisinya kurang tepat, dan adalah kebetulan kejegal sama orang2 yg kebetulan ada di posisi yg dinilai penting. Lagi-lagi kebetulan, orang2 penting ini lagi gak mikirin apa yg katanya kesejahteraan bersama, tapi lagi lebih mikirin kesejahteraan kampung tengahnya biasa aji mumpung euy...

Jadi pas kebetulan nih sambil nunggu, gw baca2 koran dan nemuin tulisan di atas. Gemes deh ngeluangin waktu nulis tulisan yg semuanya serba kebetulan ini. Menambah deretan kebetulan, pas gw mencet2 channel tv setelah sedih denger diskusi tentang not-yet-ending-Lusi, eh lewat acara 4Mata dan pas omTukul bilang "no pain no gain"... rasanya kog lama nih gak denger kata2 ini yah (?). Frase itu seringannya sih gw denger dari temen2 gw etnis Cina yg kebetulan nenek-kakeknya udah pada lahir di Indonesia, jadi deh kami manusia Indonesia.

Di kantor gw lagi ada lomba foto yg diberit tema "beauty of Indonesia". Dua hari lagi menjelang penutupan sungguh gw bener2 hilang konsep menerjemahkan "beauty of Indonesia" itu selain panorama yg indah yg kebetulan Tuhanlah penciptanya.

Kebetulan kah gw lahir di Indonesia?
Di pertemuan tadi itu gw ditegur bahwa semuanya yg terjadi di Indonesia dan pertanyaan2 "kenapa gw?" adalah bukan kebetulan. Tapi, pas gw njawab "kebetulan buat gw masih sulit menerimanya" sontak pada tertawa walau ujung2nya dinasehatin. Makasih yaaa for the light at the end of the island.

Sekarang mah daripada musingin kebetulan2 yg nyapein gitu, kebetulan gw mau karaokean bareng, jadi mendingan karaokean dulu aaaaahhhhhhhhhh... Get the music on.