Dua2nya punya aturan main.
Dua2nya membutuhkan keahlian.
Dua2nya membutuhkan courage (baca: readiness to face).
Dua2nya membutuhkan mental.
Dua2nya menentukan kemenangan.
Dan pada saat eksekusi itu tidak berhasil, dua2nya "kalah" !
Hilang sudah keahlian yg sebelumnya ditempa dan dimiliki.
Hilang sudah aturan main yg selama ini dimengerti.
Hilang sudah courage (baca: readiness to face) untuk menang.
Hilang sudah mental yg dipersiapkan.
Hilang sudah kemenangan itu !
Kontroversi ujian nasional sebagai penentu kelulusan, pada kenyataannya memang mengundang protes sebelum dilaksanakan. Suaranya memang tidak secara terus menerus dan berulang2 di media2 sebagaimana halnya dengan protes ketidaklulusannya akhir2 ini. Walau sebenarnya, menurut Kompas (20/6), siswa yang tidak lulus kurang dari 10% dari keseluruhan yang mengikuti ujian. Itu juga berarti, yang lulus lebih dari 90% dan dengan nilai rata2 yg lebih baik dibandingkan dengan ujian tahun sebelumnya.
Apakah mereka yg gagal melakukan eksekusi itu, yg katanya sebagian notabene anak2 "pintar" dan pemain2 "kelas dunia"*) menyepelekan adu penalti itu dan merasa pasti lulus?
Lain halnya dengan peraturan eksekusi adu penalti pada pertandingan sepakbola yg cukup jelas, ternyata aturan main unas tidaklah jelas. Ini “mengutip” banyak pihak yg merasa baru tahu setelah ujian, bahwa ujian ini (lagi2 ternyata) merupakan penentu kelulusan. *Katakan tidak setuju sebelum terlambat. Jangan No Action Talk Only*
Di pertandingan quarters-final piala dunia 2006 antara England vs Portugal - pertandingan pertama yg gw tonton dengan full, ke-fair-an wasit asal Argentina juga dipertanyakan. Sama halnya dengan kontroversi bahwa sebagian soal2 unas itu "cocok" dengan soal2 Bimbel, ini juga mengundang pertanyaan. Sekedar kesamaan kurikulum yg jadi acuan atau? Bagaimana dengan mereka yg menyontek? Bagaimana dengan kecurangan2 pemain yg tidak terlihat wasit? Misalnya, ada yg menendang sebelum peluit dibunyikan, disengajakah untuk mengecoh kiper? Bagaimana dengan berita salah kertas ujian?
Setelah menonton dan menyaksikan dua perhelatan akbar yg mendapat porsi cukup banyak di televisi2 nasional, terlepas dari kontroversi maupun kecurangan2 yg adalah sah2 aja untuk dipertanyakan, pendapat gw adalah: dua2nya adalah pertandingan. Ada yg menang dan ada yg kalah. Maka, bersiaplah!
Penting untuk tahu medan laga. Faktor apa yg menentukan kemenangan. Siapa sang wasit. Siapkan mental dengan mengetahui aturan mainnya, mencari tahu keahlian2 apa yg diperlukan yg terkadang tidak tertulis. Tak kalah penting dan terkadang menjadi faktor kunci, siapkan mental-bagaimana yg dibutuhkan, tahu dan sadar 100% untuk mempersiapkan diri bahwa eksekusi itu akan menjadi penentu kemenangan!
Kemenangan dalam adu penalti pada pertandingan sepakbola menyangkut bermilyard2 uang taruhan, gengsi sang pemain, gengsi sang pelatih, gengsi negara dan pol dengan gengsi para pendukung fanatiknya di seluruh dunia. Masih dengan analogi yg sama, kemenangan "adu penalti" dalam unas juga menyangkut masa depan sang eksekutor. Jadi, lakukanlah dengan bertanggung jawab!
* Penulis adalah seseorang yg pernah mempersiapkan eksekusi "adu penalti" di UMPTN 1993, ujian komprehensif untuk kelulusan Teknik Kimia - keduanya serupa tapi tak sama dengan unas. Dan saat ini mempersiapkan untuk banyak lagi adu-penalti2 lainnya yg menunggu hari ini, besok dan seterusnya.










