Friday, May 08, 2009

Why, oh why?

AA bikin kasus (lagi), tapi kali ini bukan kasus AA yg berceramah tapi AA yg bercengkrama!
Satu lagi bedanya sama AA di kasus sebelumnya, AA yg satu ini dari dulunya emang dah dah terlanjur dikenal gak "bersih2" amat. Yang menarik di balik riuhnya analisa soal motif di balik penangkapan AA, yg akhir2 ini terlanjur menjadi terkenal sebagai "anti-koruptor", ternyata menimbulkan efek langsung ke gw (hah?), yg antara lain jdai mau2nya meluangkan waktu untuk menulis posting ini.

Efek euforia AA ternyata sama sama dg AA sebelumnya, yaitu berakibat langsung & mengena langsung ke komunitas istri. Satu saja contoh langsung dan nyata yg gw saksikan hari minggu yl dan itu sempat menyiratkan rasa "tak percaya tapi nyata". Fenomena tersebut adalah berdatangannya istri2 menjemput suami2nya yg bermain golf di turnamen resmi perminyakan indonesia yg rutin diselenggarakan setahun sekali. Selesai turnamen dilanjutkan dengan makan siang bersama sekaligus pengumuman pemenang & lucky draw. Tapi siang itu tidak terlalu banyak yg ikutan makan siangnya, atau makan siang terburu2, mereka mohon ijin ga bisa ikutan makan siang bersama atau lebih lama di acara yg diselenggarakan panitia itu dg alasan "sudah dijemput keluarga". Di clubhouse terlihat istri2 yg menjemput suami2nya main golf tentu terlihat sambil bergosip *Oops bukan ngossip, ngobrol*... halah ...

Pemandangan yang tidak biasa. Secara ini acara resmi tahunan diadakan komunitas perminyakan ini, yang walaupun tahun ini jauh dari hadiah2 menarik tapi tetap menyenangkan sebagai ajang reuni. Kapan lagi ketemuan mereka di suasana santai sambil menikmati pujian diselingi tentunya keluhan2 dan evaluasi (tetep) permainan selama 5 jam sebelumnya. Pukulan2 mantap atau hancur saat bermain sebelumnya, dan tentunya soal caddy yg turut membantu keberhasilan atau pun sebaliknya malah bikin gak pede. Namun, penting dicatat, gak pernah dalam acara golf ada caci maki antar pemain yang benar2 golfer - for the love of the game, not business - ungkapan rasa keki biasanya lebih ke diri sendiri yg 'banyak lakukan salah pukul' atau pun 'ah, belum beruntung aja'. Kebanyakan tersenyum gembira, menyalami yg menang, memuji yg longest drive, terdengar tantangan untuk uji keberuntungan lagi di turnamen berikutnya, dan janji untuk bermain lebih baik. Tapi, tidak siang itu. Walau tetap ada keceriaan itu, tapi agak sepi karena banyak yang sudah pulang.

Gw sangat memaklumi tindakan istri2 teman2 itu. Sangat2 dapat dimaklumi kalau di tengah ramainya perbincangan tentang olahraga yg satu ini. Gw sangat setuju dg mereka yg tetap mengijinkan suaminya bermain, sebab "efek bahaya"nya justru bukan saat main golf, tapi memang (terbukti) sesudahnya... hahaha. Boleh dong gw bilang kalau fenomena tersebut adalah bagian dari efeknya Rani, hehehe, kenal Rani Juliani? O,o,siapa dia? Orang terkenal kah yg saudaranya "j"uiliani New York yg terkenal pasca 9-11 kah? Siapa pun yg menonton siaran televisi nasional dalam minggu ini, walau sebelumnya tidak pernah mengenalnya tapi mesti pernah mendengar nama ini yg jelas2 dihubungakan dg AA yg terkenal itu. Perempuan muda yg saat ini menjadi buah bibir nasional.Ada yg memujinya cantik, putih, tapi tidak sedikit yg mencibir. Lagi2 terbukti, lebih sulit buat perempuan untuk mempercayai perempuan lain, lho apa hubungannya yah, ntar deh posting terpisah kapan2.
Selain efek AA yg berasa langsung di atas, dalam euforia ini ada juga teman2 yg nanya langsung ama gw, "Kenapa sih pada suka main golf? Apa enaknya main golf 'tha, perasaan olahraga lo makin tua bolanya makin kecil aja..." Tentu seperti biasanya jawaban gw bisa muncul apa aja tergantung penanya & sikon saat ditanya. Namun semua jawaban bermuara ke satu inti, "Gw suka aja, *continue in whisper voice* so as to me, y'll have the equal right not to agree whatsoever."

Bayangkan! Saat pagi hari jam weker berbunyi tanda saatnya bangun. Setelah melakukan hal2 rutin, dengan spirit "hari ini gw akan mukul lebih baik", gw meluncur di jalan tol dengan jendela terbuka dan menjadi saksi menit2 bergantinya gelap menjadi terang. Terkadang kabut menutupi gunung, tapi lebih seringan enggak. Kurang dari satu jam, gw tiba di tempat tujuan yg disambut senyum teman2 dan memperbincangkan udara yg bagus, segar, mataharinya enak, wah cerahnya gunung, dll. Sepanjang mata memandang pun, hijau pepohonan, warna2 tanaman kacang, terkadang bunga terompet ataupun ada sesekali bunga matahari, air mancur yg gemericik dan juga air meluncur di bebatuan sungai2 di tengah2 padang. Udara pagi yg terhirup pun masih dibubuhi aroma kabut pagi dan menarik nafas dalam menjadi sangat menyenangkan untuk mengisi paru2 dengan udara baru yg jauh berbeda dari hari2 sebelumnya. Hati pun menjadi gembira apa pun masalah yg dialami di hari2 sebelumnya. Itulah suasana pagi yg gw sangat2 nikmatin di saat2 gw bermain golf pada akhir pekan. A true re-treat for my eyes, my lungs and my soul.

Inbox email gw dalam minggu ini menerima banyak email yg bertemakan golf. Ada aja yg meluangkan waktu menulis banyak hal ttg golf, pro-kontra, sejarah, dll. Ada yg mengingatkan kalau "golf effect" yg terungkit oleh kasus AA bukan semata2 terjadi di golf. Ada satu postingan yg menarik gw karena bawa2 fakta sejarah *gak penting banget* yg gw posting di bawah ini - versi ini gw edit sedikit layoutnya tanpa mengubah esensi dari isi email yg beredar di milis teman2 antar pemukul bola kecil di lapangan sangat luas itu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------quote------------------------------
Here are some questions taken from questionnaires in 1923.
Who was: (1.) President of the largest steel company?
2. President of the largest gas company?
3. President of the New York stock Exchange?
4. Greatest wheat speculator?
5. President of the Bank of International Settlement?
6. Great Bear of Wall Street?

These men were considered some of the world's most successful of their days.
That is now, 86 years later, history books owe us the meaning of being successful written in man history if we know: What ultimately became of them?

Here are the answers now, 85 years later:
1. The president of the largest steel company. Charles Schwab, died a pauper.
2. The president of the largest gas company, Edward Hopson, went insane.
3. The president of the e NYSE, Richard Whitney, was released from prison to die at home.
4. The greatest wheat speculator, Arthur Cooger, died abroad, penniless.
5. The president of the Bank of International Settlement, shot himself.
6 The Great Bear of Wall Street, Cosabee Livermore, also committed suicide

Some golfers found the questions are too complicated (yet the answers!). They asked question of what they know best, that is: "In that same year, 1923, the men considered the most successful golfer in that year, was Gene Sarazen, a PGA Champion and the winner of the most important golf tournament, the US Open. What became of him?"

Do take long breath 3 times to prepare for the answer!
**1x…... **
**2x…... **
**3x....... **


Here is the answer that history writes:
Gene Sarazen: played golf until he was 92 and died in 1999 at the age of 95. He was financially secure at the time of his death.

Source: taken from emails chain among golfers
---------------------------------------------------unquote------------------

Some agreed to conclude that the moral of above findings:
*u** work, (i) play golf.

In a golf competition, a golfer is not allowed to seek advise from your his/her pairing about which stick s/he should use to hit next. As this is not a friendly game, be confident, please do check the reality before taking our advise. Of course, please don't seek for us while you do the history checking, coz we're busy in the course playing golf.
For the love of the game, instead.