Thursday, December 21, 2006

me series (3)

I have answered you during lunch time, this also becomes the song of the day, "Yes, I have found it and enjoy it to the last, my greatest love of all. This is why I try to look no more. Then you asked where the ambition is, damn sure I know that it is still there."

I decided long ago,
Never to walk in anyone's shadows
If I fail, if I succeed
At least I'll live as I believe
No matter what they take from me
They can't take away my dignity


Because the greatest love of all
Is happening to me
I found the greatest love of all
Inside of me

The greatest love of all
Is easy to achieve
Learning to love yourself
It is the greatest love of all

* chorus of song title "Greatest Love of All", sang by Whitney Houston.

Monday, December 11, 2006

Sepenggal cerita yg telah lalu


Hari jumat kemarin gw menghadiri sebuah pertemuan penting setelah 20 tahun berlalu sejak lulus SMP, yaitu reuni informal anak2 SMP Lamaholot. Banyak cerita yg kami saling share. Banyak kejadian2 penting yg terlewat dan saling kami ceritakan. Wajah kami tidak banyak berubah, terus terang dari 15 yg hadir, kami dapat saling mengenali satu dengan yg lain walaupun beberapa baru bertemu kembali setelah hampir 20 tahun tidak bertemu. Satu yg kami yakini dalam pertemuan tersebut, ternyata sifat2 dasar yg kami kenal dahulu ternyata tidak berubah. Sepenggal cerita yg telah lalu, telah menjadi bagian dari hidup yg tidak dapat dipisahkan begitu saja. Terimakasih temans.

Wednesday, November 29, 2006

Tak kan kubiarkan

keponakan2 ku tercinta menjadi korban rating Smack Down.

Itulah janji yg gw buat ke diri gw beberapa minggu yl. Saat itu dengan lugasnya mereka bercerita tentang acara smack down. Duh, ciloko. Ternyata mereka memang tidak menonton (jelas2 sudah jam tidurnya), tapi apa mau dikata, ternyata teman2 di sekolahnya lah yg mengajarkan mereka apa itu dan bagaimana caranya meng-smack-down teman. Lagi lagi gw berpikir, duh ciloko.


Nasehat gw:.... (skip)
"... terus kalo aku dismack down temanku, harus gimana dong?"
Tollloooooooooong, saat itu hati gw berteriak.

Sesaat gw diam, lalu lanjut menjawab,
"Gini aja, uel ama uma lebih baik jangan maen dengan mereka yah".
Jawaban short cut yg gw pikir harus gw bilang itu, bisa ditebak dong kelanjutannya, dengan kritis mereka langsung menanyakan kenapa.
"Karena tante sayang kalian. Tante gak mau kalian jadi sakit gara2 maennya kayak gitu, nanti kalo sakit kan kita gak bisa berenang bareng2 lagi. Janji yah ama tante gak main begituan, oche?"
"Oche deh tante"

Gw pikir saat itu biarin deh ponakan2 gw dianggap gak gaul daripada jadi ngelakuin yang enggak enggak. Gw belum bisa menjelaskan alasan2 yg lebih "dewasa" atau yg katanya lebih rasional (catat: dalam kamus anak kecil belum ada kata rasional), biarlah seiring waktu akan mengajarkan mereka.

Hari ini ada laporan:
"Tante, tante, tadi temanku ngajakin main smack-down, tapi aku gak mau, kan aku dah janji 'tan mau berenang lagi di rumah tante."
Tanpa disadarinya senyum di wajah gw mendengarkan laporannya tersebut.

Terlebih setelah acara tersebut sudah jelas2 memakan korban. Apa sebegitu hausnya kah kita akan tontonan kekerasan sehingga dagelan pun harus bertemakan kekerasan? Dan ada lagi orangtua yg tidak mensensor tontonan anaknya... weleh weleh, ini pengenalan kekerasan yak?

Friday, November 24, 2006

Happy ThanksGiving

Although might not for all of us, thanksgiving day is still a good time to express thanks and appreciation.

So to the blog community, I'd like to thank
        • the blogger team for letting me advantage your service by writing whatever I like, and of course
        • to everyone who has been play a part in my life's journey. Cliche to say but true, without you guys I will not the way I am,
so .... thanks a bunch!

Lusi, riwayatmu kini

Lagi lagi ada dongeng yg menjadi kenyataan.

Sulit diterima akal yg sudah tumpul memang, saat orang bicara benar tapi disangka menakut-nakuti. Dan sulit dipercaya akal juga kalau urusan nyawa orang banyak menjadi bahan berantem.

Apa yg bisa gw lakukan? Jangan jadi businesswoman? too far to go. Sekarang at least gw mencoba sebarkan berita ini melalui blog gw ini. Lagi2 kami berduka bukan karna ketidak tahuan tapi lebih karna ignorance.

Turut berdukacita bagi keluarga para korban. God bless you.

Saturday, November 18, 2006

Bicara soal tamu,

gw memutuskan hari gw menerima tamu penting adalah malam minggu. Waktu itu tidak khusus untuk wakuncar, tapi juga untuk tamu2 spesial lainnya. Tanya kenapa? Malam minggu adalah saat dimana apartemen gw rapi, baju2 sudah tercuci bahkan sebagian sudah tersetrika rapi dan lantai pun masih mengkilap dan harum. Berbeda dg hari2 lainnya, tidak lain karena gw memang bertranformasi menjadi upik abu sejak jumat malam sampai sabtu pagi 07.50WIB.

Bicara soal tamu,
capeeeekkk deh (diucapkan dengan gaya yg lagi in) dengerin berita dimana2 cuman tentang tamunya Pak SBY yaitu Pak Bush, yg dari mulai protes sana sini, uang 6 milyard rupiah ludes buat persiapan yg cuman 6 jam, sampai2 katanya KiGendengP juga menyiapkan jurus2 pamungkasnya untuk membuat tamu katanya kehormatan itu tidak nyaman saat berkunjung nanti, tepatnya bagaimana gw gak ngerti juga apa doi jadi buang air kecil mulu, atau jadi gatel2, entahlah. Berlebihan memang, yah persiapannya, yah jurus2 penolakannya, yah semuanya deh. Sekolah yg diliburin gak lebih dari hitungan jari, tapi dalam seminggu ini banyak tuh mahasiswa dan pelajar meliburkan diri untuk berdemo, padahal mungkin saat hari-Hnya sekolah mereka tidak diliburkan secara resmi. Tanya kenapa?


Bicara soal tamu,
gw juga teringat di rumah bonyok gw. Kalau mau kedatangan tamu, mesti deh mama meminta kami beberes. Lantai harus disapu dan dipel bersih, mama akan memasak makanan khusus, dan seperti kebanyakan yg gw amatin setidaknya di lingkungan gw, peralatan makan dan minum untuk tamu hampir selalu berbeda dengan yg biasa dipakai sehari2. Waktu gw kecil dulu gw tanya kenapa, jawaban mama "piring ini, gelas itu, kobokan yg itu, piring saji ini sengaja memang mama beli buat tamu". Suatu hari waktu gw mengajak teman2 ke rumah, gw menyajikan es buah di mangkok coktail yg sering gw lihat dipakai untuk tamu (cocktail disini bukan berarti minuman beralkohol melainkan cocktail yg berarti es buah). Dua dari gelas coktail yg terbuat dari kaca warna warni itu pecah akibat kami asyik bersenda gurau dan menjatuhkannya tanpa sengaja. Mama tidak semarah yg gw duga waktu gw laporan, "yah sudahlah, kalian masih kecil untuk mengerti barang mahal" katanya. Tapi gw jadi tahu kalau gelas2 itu harganya tidak murah, itulah sebabnya lanjut Mama, beliau hanya menggunakannya untuk tamu2 spesial saja. Gw lega karena mama tidak marah dan sejak saat itu, kami anak2nya pun menggunakan barang2 khusus itu hanya untuk tamu2 khusus, termasuk di antaranya tamu2 penting kami di malam minggu. Setelah kami lebih besar, kami lah yg memutuskan tamu yg mana yg mendapatkan privilege menggunakan barang2 khusus tersebut. Kami pun bisa menggunakan barang2 khusus tersebut untuk kami sendiri, toh sekarang kami sudah mengerti caranya menjaga barang mahal.

Lagi bicara soal tamu di rumah gw,
kalau tamunya Pak RT misalnya, persiapannya tidaklah terlalu heboh. Tapi kalau tamunya pejabat kantor bapa, adalah beda persiapannya. Gw juga belajar kalo kedua ortu gw bukanlah orang gila hormat, apalagi mama seorang guru di sebuah SMP negri. Kalau yg bertamu teman2nya mengajar, mama pun memperlakukannya seperti menerima tamu pejabat kantor bapa itu. Namun kalau tamu2 nya saudara dekat, mesti deh persiapannya minimalis, alasannya mereka bisa menerima bagaimana pun keadaan di rumah. Toh mereka tidak berhenti di ruang tamu, melainkan tidur pun bersama2 dengan kami tanpa perlu mengganti sprei kalau memang masih bersih. Suatu hari persiapan menyambut tamu agak istimewa tapi kami jg gak heran, karena yg mau datang adalah keluarga calon kakak ipar gw untuk acara lamaran. Setelah kakak gw menikah, kedatangan keluarga dari suaminya berubah menjadi lebih biasa2 saja, pan sudah menjadi saudara dekat.

Jadi bicara soal tamu di lingkungan terdekat gw itu,
tamu2 disambut berdasarkan kepentingannya. Dalam banyak hal, yg tahu kepentingannya yah mereka itu, kedua ortu gw. Saat itu gw dan saudara2 hanya menjalankan tugas membantu menyiapkan rumah saja. Terkadang yg kami tahu pun hanya terbatas kalau yg mau datang adalah temannya bapa/mama tanpa tahu namanya, apalagi misi kedatangannya. Walau tamunya kami gak kenal, tapi dari persiapannya biasanya kami bisa menebak takaran kepentingan tamu tersebut. Tapi apa yg penting buat ortu gw waktu itu, belum tentu sama penting untuk gw dan saudara2 gw. Juga belum tentu gw mengerti, karna yah gw memang belom saatnya mengerti. Misalnya saja waktu gw masih kecil itu, kedatangan kepala sekolah tempat mama mengajar tentu penting buat mama, tapi buat gw dengan pengertian saat itu, kedatangannya mengganggu waktu gw nonton TV dan bikin capek nyapu dan ngepel rumah saja. Padahal, kalau kami menyambutnya dengan rumah berantakan misalnya saja, adalah mungkin kredibilitas mama sebagai guru bisa saja dipertanyakan dan selanjutnya bisa ditebak. Itu memang hal yg terkadang kami waktu kecil tidak mengerti, kenapa sih harus sudah mandi rapi sebelum jam rutin kami mandi, atau tidak boleh duduk/tiduran di lantai, atau TV yg harus dimatikan dan belajar di kamar, padahal pan enakan ngerjain pe-er sambil nonton misalnya. Tapi yah secara tv ada di ruang tamu, kami deh yg harus ngalah. Nah, begitu ortu bisa membeli rumah yg lebih besar dan ruang TV pun terpisah dari ruang tamu, mulai saat itu kami bisa tetap menonton TV saat bapa/mama menerima tamu.

Kalau gw sangkut pautin bicara soal tamu yg tadi itu tuh,
mungkin yg ngerti cuman Pak SBY dan teman2nya. Tapi, apa kepentingannya buat gw yah? Apa gw harus mendukung gara2 katanya ada kepentingan buat peningkatan kesehatan balita, peningkatan pendidikan, pemerataan kesejahteraan? Secara gw udah membaca "Confessions of an economic hit man" dan juga sering melihat Bush yg awalnya dicaci maki rakyatnya sendiri berubah menjadi super power man tapi dicaci juga, bahkan sekarang partainya mulai digoyang. Gw juga mempertanyakan banyak hal. Apakah hal2 yg dimaksud sebelumnya itu adalah benar bisa dilakukan oleh sang tamu? Walau bagaimana pun, mesti kepentingan yg berbicara, namun bukankan kepentingan adalah salah satu hal yg abadi dalam dunia ini?

Kalau doi namu di rumah ortu gw sih gampang kalau gw harus menentang tamu. Bisa saja dengan tetap menonton TV dan menyetel volumenya keras2 misalnya. Dengan berjalan mondar mandir mengganggu pembicaraan mereka dan membuat jengah sehingga tamu segera pamit. Dengan mencampurkan pencahar ke teh manis/kopi yg mama suruh kami sajikan. Dengan memecahkan peralatan makan/minum khusus secara sengaja, setidaknya mencoba membuat mama jera membeli peralatan makan yg lebih mahal dari yg biasa kami pakai. Namun itu pun tidak pernah bisa kami lakukan, karena pengajaran yg ditanamkan di rumah itu adalah kami harus menghormati tamu salah seorang anggota keluarga. Kalau memang tamunya tidak diundang dan tidak diinginkan, mesti sudah ditolak di pintu gerbang dan tidak bisa masuk ke rumah kog.

Tapi bicara soal tamunya negara,
kalau Indonesia memang benar adalah tanah air beta dan Pak SBY adalah presiden yg dipilih, tentunya berbeda dengan ortu yg tidak bisa dipilih, mempertanyakan kepentingan kedatangan tamunya adalah hal yg sah2 saja. Kalau memang ada kepentingan yg kami belum mengerti, tolonglah kami menjadi lebih dewasa untuk mengerti. Kalau memang kami belum dewasa, terima kasih untuk memperlakukannya dengan arif. Nah saat ini yg gw liat, 6 milyard buat kunjungan 6 jam kayaknya berlebihan deh.


Sunday, November 05, 2006

Je veux vivre

* Courtesy of Faudel

Pada suatu waktu di saat dingin sampai menusuk ke tulang di UK, room-mate gw asal Algeria NadiaLouail bersenandung lagu berbahasa arab dengan riangnya. Tanpa mengerti lagunya, senandung ini menemani kami (+ LiNing) melewati malam bersama bulan purnama (my favorite scene: full moon in winter!). Gw dan LiNing ngikutin senandungnya dengan berdengung2 aja.

Eh pas ngedengerin lagu ini, kebetulan di bawah sinar bulan purnama tapi tanpa winter dan kedinginan, kebetulan lagi penyanyinya rada2 mirip Nadia (pol dengan jaket kulit kebangsaannya), gw jadi teringat senandung itu... quite a chance.

{Refrain:}
Je veux vivre, vivre
Bahri n'hich, n'hich

Je veux vivre pour manger touts les livres
Je veux vivre pour connaître les enfants
De mes petits enfants, pour atteindre 100 ans
Pour atteindre 1000 ans, pour être heureux et libre

Je veux vivre pour courir sur la grève
Je veux vivre pour embrasser mes rêves
Pour embraser mes jours pour connaître l'amour
Et les heures qui enivrent, je veux vivre

{au Refrain, x2}

Je veux vivre toutes les joies de la terre
Je veux vivre et parcourir les mers
Je veux vivre pour sonner la planète
Sans en laisser une miette, je veux voir toutes les villes
Plonger de toutes les îles que leur ciel me délivre

{au Refrain}

Je veux vivre pour avaler le monde
Je veux vivre de mondes qui frissonnent
De milliers de pays de millions de personnes
D'un milliard de récit, je veux pouvoir les suivrent

Je veux vivre sans jamais m'assoupir
Je veux vivre sans jamais me trahir
Pour que chaque saison recolore mes passions
Pour dévorer le temps qui cesse de me poursuivre
Je veux vivre...
Bahri n'hich...

Pour ce que lorsque la mort viendra me faire, un sort
Elle ne puisse jamais, jamais déraciner tout ce que j'ai planté
Tout ce que j'ai semé qui me fera survivre

{au Refrain, x2}

D'après Faudel, cette chanson est écrite et composée par deux jeunes toulousains, est plus qu'une chanson : c'est un véritable hymne à la vie et à l'amour.

Sunday, October 29, 2006

A Day Like Today



I have to admit that a day like today is very difficult for me, may also be for others.

Start to work tomorrow, vacation days suspended until next ones.

vacation.vacation.vacation.vacation.just another vacation please...

Bus Sekolah

yg kutunggu kutunggu
tiada yg datang
ku telah lelah berdiri berdiri
menanti nanti

nyambung cerita tentang bus sekolah yg sempat gw nikmatin pas SMA, ternyata 'terdengar' juga ama yg berkepentingan (apa coba?)

ternyata, bus sekolah yg kutunggu kutunggu sedang dibuat
ku telah siap berdiri berdiri
abis geratis :-))

Tuesday, October 24, 2006

Hari Baik Bulan Baik

Selamat hari raya Idul Fitri 1427 H buat semua handai taulan/kenalan dan teman2 semua yg merayakannya.

Baiklah di hari baik bulan baik ini, Artha mohon maaf lahir dan bathin atas segala kesalahan ucap atau perbuatan yg mungkin telah terucap/terbuat kepada semua handai taulan/kenalan dan teman2 semua. Seperti ada tertulis dalam sebuah kartu ucapan lebaran di tahun ini, demikianlah hendaknya tali silahturahmi di antara kita,

Forgivenesss does not change the past,
but it does enlarge the future


I hope everyone has a good time today, Happy Eid Mubarrak. May God's blessings always be with us and our beloved family, and our beloved extended families, and our beloved nation, and our beloved world.


Sunday, October 22, 2006

Arti Kematangan

Gak tahu apa yg ada di pikiran Melly saat nerima orderan nyiptain lagu untuk film Heart, dan gimana rasanya saat ndengerin lagu ciptaannya sendiri. Tentunya cuma Melly yg tahu yg sesungguhnya. Namun, saat Melly harus ngomentarin cara penyanyi menyanyikan lagu tersebut, tentunya menarik, wajar kan kalau seorang pencipta lagu kurang lebih punya gambaran bagaimana lagunya dibawakan.

Barusan aja gw menyaksikan tatapan pandangan Melly saat lagu "Pencinta Wanita" dinyanyikan oleh Harvey yg berduet dengan Darius dalam acara selebriti jam di antv. Lagu itu aslinya dinyanyikan oleh aktor utama film tersebut, Irwansyah yg notabene baru masuk dunia nyanyi komersil. Tanpa menyaksikan acara itu, bisa ditebak dong kalau Harvey menyanyikannya berbeda dg sang penyanyi aslinya. Walau tidak dengan gaya festivalnya, namun jam terbang memang berbicara. Lagu yg tadinya gw anggap cuma kuat di liriknya - sederhana tapi gak biasa khasnya Melly - menjadi sangat menarik dan lebih enak didengar saat dinyanyikan dengan warna vokal Harvey, plus didukung penampilannya yg chic bergaya anak muda tadi - walau gw akui agak keganggu pas bagiannya Darius nyanyi sih (peace man, wajar aja lo pan bukan penyanyi :-)

Siapa yg bakal nyanyiin lagunya, sepertinya tidak mempengaruhi Melly saat mencipta lagu sesuai orderan. Dan buat Harvey, walau lagunya lagu abegedan selintas bukan "kelas"nya, ia tetap menyanyikannya dengan sangat baik. Keduanya menunjukkan arti kematangan yg jelas tidak didapat di bangku sekolahan, being profesional. Bravo Melly dan Harvey.

"Pencinta Wanita"

ku temukan dalam pencarian
cinta sejati untuk hidupku
kurang lebih yg spt dia
ku harap dlm cintaku

ku tak mau menjanjikannya
pasti bahagia bila denganku
biar dia rasakan sendiri
betapa gilanya cintaku

Chorus:
aku memang pencinta wanita
namun ku bukan buaya
yg setia pada seribu gadis
ku hanya mencintai dia

aku memang pencinta wanita
yg lembut spt dia
ini saat ku akhiri semua
pencarian dalam hidup
cintaku ternyata aku mau hanya dia


Setiawan Djody yg menjadi juri di acara tersebut pun memuji lirik lagu yg katanya rada2 ndalem - berdasarkan pengalaman nih, hahaha. Eniwei, penampilan Harvey membuat gw teringat what a wise man said, "You can take a man from a village, but you can't take a village from a man".

*setelah kejadian Harvey ini, pengen deh denger lagu MyHeart-nya ciptaan Melly untuk film ini juga dinyanyiin KD-Anang ... hehehe

Tuesday, October 17, 2006

Republik Citra

Tadi siang waktu Yanti menelpon khusus memberitahukan tentang keberadaan iklan layanan masyarakat yg gw ceritakan kepadanya sebelumnya, membuat gw cukup lega. Iklan yg dimaksud tentang himbauan pemerintah (BI) untuk tidak melipat ataupun meremas uang secara sengaja merusaknya. Ceritanya bermula saat gw melihat bunga uang di acara pernikahan lulu tobing-danny rukmana di televisi. Bukan kekaguman yg gw lontarkan atas yg (katanya) kreatifitas, melainkan ironi.

Saat menonton acara itu, gw teringat kalau beberapa hari sebelumnya gw baru saja menonton/membaca iklan layanan masyarakat tersebut. Pesan yg disampaikan di dalamnya ditekankan untuk menghargai uang sebagai penghargaan atas hasil keringat sendiri. Tapi selain uang berfungsi sebagai alat pembayaran yg sah seperti tertulis jelas di tiap lembar uang kertas tersebut, uang juga adalah barang kehormatan republik ini secara adanya lambang negara dan ttd pejabat negara. Sayangnya, waktu itu di antara beberapa teman, cuman gw yg merasa pernah melihat iklan tersebut. Ternyata iklan itu tidak setenar iklan layanan masyarakat tentang pengenalan uang palsu dengan kampanyenya yg cukup sering bergaung, "dilihat-diraba-diterawang". Jadi kepastian Yanti tadi cukup melegakan untuk topik yg nyaris terabaikan ini.

Menurut gw, bukan kapitalisasi uang sekedar menggantikan souvenir yg bisa saja dibeli dengan kapital yg sama. Tapi bayangkan, kalau gw gak salah liat waktu itu, berarti baru beberapa hari saja pemerintah berbicara eh tak lama kemudian himbauan tersebut langsung dilecehkan. Dipertontonkan kepada khalayak ramai lagi! Kalau itu dianggap sebagai guyonan saja, duh sayang sekali yah. Tapi toh, menteri2 ataupun tokoh masyarakat yg ada di acara tersebut pun sepertinya menerima saja, atau sudah ada delik aduan? Di tv juga terlihat pandangan celamitan seseorang bercerita tentang bunga uang yg sempat jadi rebutan itu. Duh! Juga kalau yg dipermasalahkan hanya citra keluarga tersohor ini, sayang sekali. Iklan tersebut toh jelas2 dikeluarkan oleh BI which is notabene pemerintahan RI, yg notabene langsung dilanggar oleh salah satu keluarga terpandang, ironi bukan?

Citra jugalah menurut gw yg terwakilkan oleh jajak pendapat 2th pemerintahan SBY-JK yg akhir2 ini dikutip dimana2. 67% rakyat menyatakan kepuasannya dalam hasil jajak pendapat yg dimotori LSI tersebut. Melalui blognya SBY, Pak Andi menyatakan bahwa SBY bersyukur atas dukungan rakyat dan kembali membuat janji untuk masa depan yg lebih sejahtera. Toh perlu dicermati juga bahwa sampai bulan Maret yl, hasil survey yg sama menyatakan penurunan kepuasan yg cukup berarti ke level terendah selama pemerintahan duet tsb. Baru setelahnya, dalam 2 bulan (April-Mei) angka kepuasan tersebut menanjak dan akhirnya mencapai level 67%. Coba liat potretnya di akhir tahun 2005. Oke2 saja sih kalau hasil baru ini menunjukkan peningkatan citra mereka di mata masyarakat saat ini, tapi apa angka tersebut betul adalah laporan pandangan mata rakyat terhadap hasil pemerintahan SBY-JK, atau lebih kepada citra atau karisma figurnya saja?

Sama seperti kamera gw yg memotret sunset yg indah di sebuah pantai yg sebenarnya tak terurus (misalnya). Toh pada kenyataanya, sunset tidak selalu seindah saat gw memotret itu, ada hari2 dimana matahari bersembunyi tanpa semburat warna yg spektakuler. Jika potret sunset yg pas kebetulan bagus itu diletakkan sebagai iklan pariwisata, tentunya akan menarik orang untuk datang berkunjung. Namun, jika yg dihadapinya adalah lokasi pantai yg kotor dan matahari pun bersembunyi, tentunya suasana sunset tidak seindah gambarnya. Hal itu tentu akan menimbulkan rasa kecewa dan tertipu. Nah, untuk bisa mengetahui kebenaran potret pantai tersebut, biasanya beberapa orang akan meminta pendapat teman yg tahu atau pernah ke pantai itu atau membekali diri dengan informasi2 lainnya tentang pantai tersebut.

Dengan analogi memotret pantai tersebut, atas nama perimbangan marilah kita tengok informasi2 lain selain rasa puas melihat gambar hasil pemotretan LSI tersebut. Masih banyak kasus2 yg harus dicermati, sedikit di antara beberapa koleksi potret yg gw kumpulkan,
  • Siapa sesungguhnya mayoritas penduduk negara ini? Kaum petani? Buruh? atau peminta2 terselubung (baca: peminta2 duit proyek).
  • Kasus kemiskinan sebagai centre masalah2 sosial. Pengangguran meningkat terus.
  • Kasus2 negara baik secara undang2 maupun praktisi kenegaraan. Reformasi hukum dan pemerintahan di semua level.
  • Kasus Munir.
  • Kasus Lusi.
  • Kasus Hamid.
  • Kasus Pak Jaksa. Sulitnya mendapatkan hakim agung di negara berpenduduk lebih dari 200juta ini.
  • Kasus Poso, baik sniper dan "penghilangan" orang. Bukan potret baru, sudah berulang kali marak sejak jaman orde baru. Yg sangat hangat di ingatan adalah penembakan seorang pendeta di lokasi umum yg disaksikan oleh istrinya sendiri. Tanya kenapa? Gak ada demonstrasi besar2an oleh pendukungnya atau televisi memang melakukan tebang pilih pengungkapan fakta pada prime time? Apa pendukungnya takut? Atau pengajaran kasih yg nyata dengan "ditampar pipi kiri lalu kita berikan pipi kanan"? Tentunya hal ini sama sekali bukan hal yg mudah dilakukan disaat banyak hal2 yg sudah dimaklumkan oleh rasa ketakberdayaan minoritas yg sudah terkondisikan. Suasana bertambah kisruh dengan keberadaan beberapa bom di beberapa tempat. Dimana rasa aman itu? Tolong Pak SBY-JK, terungkapnya kasus ini adalah secercah harap masih adanya keadilan dan NKRI tidak lagi menjadi wacana yg menyedihkan.
  • Kasus2 kaum minoritas, kaum perempuan dan anak2 misalnya. Persoalan2 sosial dan keadilan yg banyak "belum" menjamah komunitas ini, misalnya saja seputar hak anak, hak anak2 terlantar, hak buruh anak2, dan banyak hak2 lainnya. Toh mereka tidak memilih dilahirkan sebagai anak Indonesia. Jangan berdalih bahwa toh negara juga tidak ada pilihan, ini toh bukan pilihan kalau anak adalah titipanNya.
Tentunya kalau mau ngomongin masalah, itu banyak. Bukan di situ intinya pengumpulan potret2 ini, dan bukan sekedar untuk diklipping dalam album kenangan yg nantinya hanya akan berdebu di pojok lemari. Melainkan ada hal yg menarik gw dari kumpulan potret2 ini, yaitu keberadaan buku yg secara khusus memuat janji2 dan komitmennya duet SBY-JK untuk bangsa ini. Buku tersebut berjudul Janji dan Komitmen yg notabene adalah hasil pengumpulan berita2 di media2 baik saat kampanye maupun awal2 kepemimpinan duet SBY-JK. Disitu tertulis dalam hitam dan putih semua janji dan komitmen yg pernah dilontarkan. Janji dan komitmen yg secara nyata menegaskan bahwa pendidikan, kesehatan, pengangguran, kemiskinan dan reformasi hukum menjadi sasaran utama. Cocok seperti ide penulis, bagaimana bukti janji dan komitmen yg telah membawa mereka meraih suara terbanyak di putaran kedua pemilihan presiden? Bukankah orang dinilai dari apa yg dikatakannya? (atau politikus adalah pengecualian dari bagian hukum karma duniawi ini?)

Ada lagu Vina yg langsung gw ingat tentang citra, judulnya Citra Biru. Begitu liat syairnya, yah sepertinya ini cocok menggambarkan suasana saat gw berpikir tentang yg 67% itu.

Citra khayalku
Membawaku ke alam yang semu berkabut kelabu
Aku semakin ragu, semakin tak tahu
Citra biru datang berlalu
Meninggalkan satu kenangan
yang mungkin berkesan
untuk membuka jalan

Di masa depan sebelum prasangka mengganggu
kutahu ini tak selalu terlupa
menjadi satu kenyataan yang indah
kulihat hari semakin cerah
inikah jawaban bagi hati yang gundah



Moga2 masa depan yg lebih sejahtera ini bisa terealisasi di republik yg mulai meraih citranya di mata DK PBB, pan gak lucu Pak kok ngurusin keamanan dunia sementara keamanan rumah sendiri dipertanyakan. Dan kalau hanya mengandalkan citra, apa negara ini hanya sekedar republik citra?

Dimulai dengan citra yg baik, dilengkapi dengan rahmatNya, tentunya seseorang bisa menghasilkan pekerjaan lebih baik. Terlebih jika pekerjaan itu menyangkut hajat hidup orang banyak. Amin.

Monday, October 16, 2006

me series (2)

Ini di forward ama Nenny beberapa waktu yl.
Di Jepang, ramalan ttg seseorang lebih ditentukan oleh golongan darah daripada zodiak atau shio.
Kenapa?
Katanya, golongan darah itu ditentukan oleh protein-protein tertentu yang membangun semua sel di tubuh kita dan oleh karenanya juga menentukan psikologi kita.

Benar apa tidak?
kata Artha: terserah anda benar/tidak nya, namanya juga ramalan, dan case di Jepang kan belum tentu case di Indonesia atau pun negara2 lainnya. Tapi cukup interesting gw juga saat baca golongan darah O yg case gw banyak yg rada2 bener deh dengan deskripsi golongan darah O :-))

Kata ramalan orang Jepang,
in general
O
berjiwa besar, supel, gak mau ngalah, alergi pada yg detil,
kecenderungan politik: "centro"

Rank (out of 4 among A, B, AB and O blood types)
Yg paling gampang ngaret soal waktu :
--2 O (krn flamboyan)
Yg paling susah mentolerir kesalahan org :
--4 O (easy judging tapi juga easy pardoning)
Yg paling bisa dipercaya :
--2 O (demi menjaga balance)
Yg paling disukai utk jadi teman :
--1 O (orangnya sportif)
Kebalikannya, teman yg paling disebelin/tidak disukai:
--4 O (sulit mengalah)

Brain and Capabilities
Yg paling mudah kesasar/tersesat :
--3 O
Yg paling banyak meraih medali di olimpiade olah raga :
--1 O (jago olah raga)
Yg paling banyak jadi direktur dan pemimpin :
--1 O (krn berjiwa leadership dan problem-solver)
Yg jadi PM jepang rata2 bergolongan darah :
--1 O (berjiwa pemimpin)
Yg paling gampang nabung :
--2 O (suka melihat prospek)
Yg paling kuat ingatannya :
--1 O

Health
Yg paling panjang umur :
--1 O (gak gampang stress, antibodynya paling joss!)
Yg paling gampang gendut :
--1 O (nafsu makan besar, makannya cepet lagi)
Paling gampang digigit nyamuk :
--O (darahnya manis)
Yg paling gampang flu/demam/batuk/pilek :
--3 O (makan apa saja enak atau nggak enak)
Apa yg dibuat pada acara makan2 di sebuah pesta :
--O (banyak ngambil protein hewani, pokoknya daging2an)
Yg paling cepat botak :
--1 O
Yg tidurnya paling nyenyak dan susah dibangunin :
--4 O (baru tidur kalau benar2 capek dan membutuhkan)
Yg paling cepet tertidur :
--2 O (Kalau lagi capek dan gak ada kerjaan mudah ken ngantuk)
Penyakit yg mudah menyerang :
--O (gangguan pencernaan dan mudah kena sakit perut)
Apa yg perlu dianjurkan agar tetap sehat :
--O (Krn daya konsentrasi tinggi, maka perlu juga mengobrol santai, jalan-jalan)
Yg paling sering kecelakaan lalu lintas (berdasarkan data kepolisian) :
--3 O

Sunday, October 15, 2006

C1000

Am I on vacation?
-- no, it's just a sunday

Am I in heaven?
-- not that luck, still on earth

Bali, Maldive, Bahamas kind of place?
-- nope, liquid in my apartment and parents house.

So?

Yeah, this feels like a 1000mg vitamin C. After a busy saturday, today is a kind of self-healing process all over my body and soul. I called this as one of my best days in life.

Started late sunday wake up (which lately difficult to have one), a healthy breakfast with banana-chocolate lumpia and a cup of coffee. Spend morning with mom. Lunch with my lovely one served by my best cook, which is only cook whatever in the fridge that turns to be (just) a nasi goreng. A gooood creambath massage. Full blessing of church service. Eating out for dinner. Listening to Audy singing in antv.

Just as 1000mg vitamin C, I don't take it every day. Only days when I really need it. Days when this body feels tired and exhausted. Days when I am trying to get better after sick.

Love it. Take it. This 1000mg vitamin C which keep me steadfastly cheerful, though in tough times.

Just in time for sleep.

Monday, October 09, 2006

Monday Break



















YOU MOVE

Life is a game, PLAY IT
Life is a challenge, MEET IT
Life is an opportunity, CAPTURE IT

*) phrase quoted from an inspirational card

Dedicated to my best friend in her time of trouble.

You called me in the middle of the night.
Told me problems you have had.
It's just you and I who understand how this feels.
When things go smooth and sunshine, we share smiles.
And when things just like nightmares in the line,
we share the tears.

Go and fight!

Monday, October 02, 2006

Why men need a map?

"maybe because he lives in Jakarta... hehehe"


Weekend lalu gw sempat muter2 di daerah Mampang. Gara2 mau menghindari macet, gw maen belok aja ke salah satu jalan yg entah karna sok tahu atau ngerasa familiar, gw merasa akan terhindar dari macet. Gw mulai nginget2 jalan yg beberapa tahun yl sering gw lewatin secara gw pernah tinggal di Jl.Prapanca. Ternyata, bukannya selamat dari macet, malahan gw cuman muter2 doang selama sejam dan balik2 ke jalan yg sama. Menyebalkan. Et, voila, hari ini gw dapet hibahan map Jakarta dari seorang expat yg mudik ke kampungnya. Segeralah gw buka dan sekarang bisa ngerti deh salahnya dimana. Map online

Itulah, walau ngerasa familiar dalam hal jalanan, Jakarta sudah banyak berubah. Transportasi umum pun demikian. Trayek2 langganan gw dulu sudah tergusur oleh bus2 yg lebih baru dan (tentunya) tarifnya lebih mahal. Ke arah yg lebih baik? Only heaven knows, but let's hope for a better and have trust on it.

Kenapa jalanan di Jakarta semrawut?

Waktu gw SMA, seinget gw ada beberapa jenis bus. Bus sekolah, tentunya sesuai namanya ini bus khusus buat anak sekolahan. Model kedua adalah bus2 kecil seperti kopaja, metro mini dan bus yg biru itu (duh lupa namanya). Bus2 kecil ini terkadang nolak pelajar, kecuali yg mau bayar harga penumpang umum, tentunya bukan harga khusus anak sekolahan. Waktu itu anak sekolah/mahasiswa bayar Rp100,- sedangkan harga biasa Rp 250,-. Yang ketiga, bus tingkat. Bus ini bersahabat dengan pelajar dan termasuk yg paling murah dan pantang menolak penumpang. Nah, akibatnya bus sering (atau selalu) penuh. Bus ini juga bus yg paling lelet, ya karna bentar2 ambil penumpang. Yg berikutnya bus patas biasa. Walau nerima pelajar, terkadang tarifnya kudu tarif normal saat jam2 rame. Bus ini jalannya lebih cepat dibanding bus tingkat. Dan yg terakhir, waktu gw kelas 2 SMA atau tahun 1992 deh baru mulai ada bus Patas AC, jenis ini jelas2 menolak tarif pelajar. Bahkan sangking gak percayanya ada pelajar mau bayar harga normal, bus jenis ini jarang berhenti kalo distop pelajar. Jadi, tentunya sebagai pelajar waktu itu, gw akan memilih bus sekolah atau bus tingkat, sangat jarang gw naik bus patas atau boro2 patas AC yg 10x lebih mahal dibanding tarif bus anak sekolahan yg jadi Rp 100 tahun 1992 (sebelumnya Rp 50:-). Terus sekitar tahun 93-an (ntar deh kalo salah, gw koreksi) baru ada bus gandeng (masih ada gak yak?), sayangnya bus ini gak punya trayek sampai Cengkareng, jadi jarang banget gw naikin waktu itu kecuali mau ke Senen buat ngejar bus tingkat no.26.

Gw bukan orang satu2nya yg memilih bus sesuai dengan keperluan dan juga kemampuan bayar. Jadi, jelas2 bus tingkat itu bus ekonomi dan bus patas dan AC adalah bus eksekutif. Itu juga sesuai dengan fasilitasnya, bus patas ataupun patas AC saat itu jarang sesak2an dibandingkan bus kecil ataupun bus tingkat. Tapi hal itu gak berlaku lagi beberapa tahun kemudian. Banyak orang mulai rela membayar lebih mahal walau berdesak2an di patas AC. Yah, Jakarta mulai macet gak karu2an, tentunya walaupun harus berdiri berdesak2 an masih lebih baik di udara sejuk dibandingkan dengan bus tanpa udara mengalir sama sekali. Ya toh?

Kenapa jalanan di Jakarta semrawut? Kembali ke pertanyaan itu. Menurut gw dan beberapa teman lainnya yg sependapat saat diskusi kemaren, penyebab awalnya adalah jumlah orangnya dah kebanyakan. Akibatnya, jumlah kendaraan umum sudah sangat sulit mengimbangi pertambahan demand, ditambah lagi kendaraan pribadi yg terus bertambah. Rencana kota2 satelit sekarang menjadi agak basi dengan ide "kembali ke kota" seiring maraknya pembangunan apartemen. Mengusir orang2 tak ber-KTP hanya sebulan lah paling lama dilakukan setelah lebaran, setelahnya Pemda hanya bisa mengelus dada karna banyak yg memang masih terpesona dengan lenggak lenggok Jakarta. Walau ibukota itu kejam dan tak menjanjikan pekerjaan atau pun hidup yg lebih baik, tapi yg penting "gak tinggal di kampung" masih terdengar menjadi alasan. Masalah sosial udah seperti "chicken and egg" problem deh, jadi yg mana yg mau diselesaikan duluan?

Mangga Pak Sutiyoso dipraktekkan hasil study bandingnya ke kota2 megapolitan. Tapi, untuk itu butuh map juga tuh Pak, biar gak berantakan kayak sekarang. Syukurlah dengan semakin terbukanya meja gubernur buat masyarakat, hanya sayang penerapannya yg kurang merakyat. Bang Yos, mana jalur penghijauan yg dijanjikan? Mana peta jalur trotoar buat pejalan kaki yg aman dan gak berlobang2? Yang utama, mana jalur penyandang cacat yg selama ini sepertinya selalu kelupaan... kalo kelupaan (lagi), coba ditambain deh di rencana (katanya) keren Jakarta 2010 yg penuh dengan besi2 itu. Yang ditiru jangan modernisasinya kota2 besar itu, tapi juga sisi humanisasinya Bang! Goodluck.

Sapa suruh datang Jakarta
Sapa suruh datang Jakarta
Sandiri suka sandiri rasa... edoe sayang...
*lagunya mama waktu gw kecil... terngiang2 terus di telinga gw kalo pas menghadapi ruwetnya Jakarta ... hehehe

Tuesday, September 26, 2006

Keheranan (semi) permanen

Hari ini gw heran menyaksikan seseorang berusaha "sangat keras" memenuhi suruhan bosnya. Bukan apa2, "orderan" tersebut di luar konteks kewajibannya sebagai karyawan, alias urusan pribadi. Ditambah lagi cara bos yg kurang simpatik saat menyuruh "pekerjaan" tersebut. Awalnya gw pikir dia mau do the best whatever the order. Tapi, lebih2 gw terheran heran saat melihat dia langsung menyuruh orang lain dengan meniru cara bosnya yg kurang simpatik itu, padahal kali ini untuk urusan pekerjaan. Yg ada gw jadi bingung. Apa karna dia (sering) diperlakukan tidak simpatik, sehingga pada saatnya dia bisa "ngerjain" orang lain dengan "membalas" cara yg diperlakukan kepadanya? Padahal jelas2 pada situasi yg sama dia mengeluhkan cara yg kurang simpatik tersebut.

Ini semata2 revenge atau human survivor instinc alias = natural?

Kadang gw bertanya, apakah ini yg harus kita "tanggung" dari cerita2 jaman penjajahan kakek nenek kita - atau mungkin kakek/nenek buyut. Gak keren banget kan setelah 61 tahun (katanya) merdeka. Orang2 seumuran gw tentunya tidak pernah berada dalam penjajahan dalam arti kolonial. Kadang gw mau mengambil kesimpulan, mungkin sangking terbiasanya dengan mental dijajah ditambah lagi seringnya pengalaman tak berdaya oleh "penjajahan" orang lain, apakah itu membuat seseorang menganggap bahwa ia boleh juga menjajah orang lain yg tidak berdaya? Tentunya itu HANYA bisa dilakukannya saat punya "kekuasaan". Gitu yah? *mode heran on*

Pffffff, apakah keheranan ini semi permanen, sebab kog rasanya cukup sering gw dalam kondisi terheran2 model beginian dan kayak gak belajar deh dari pengalaman. Mungkin kalo gw bisa menerima dengan lapaaaaaaaaaaannnnnnnnngggggggggggg dada pengalaman2 selama ini dan menganggapnya sebagai guru terbaik, gw gak harusnya seheran hari ini, dan gak harus heran kenapa saat ini banyak orang2 yg "powerful" dan semena2.

Ah, gw gak mau larut dalam keheranan gak penting ini... hehehe...

Get away from heran gak penting itu, hari ini gw berkenalan dengan beberapa tetangga yg tinggal sekompleks. Kami bertemu di kelas aerobik (cieee...). Ada wanita asal Serbia yg telah menetap 4 bulan di Indonesia dengan suami dan anak perempuannya, ada wanita setengah baya Chinese asal Beijing yg sudah menetap 7 tahun, dan seorang wanita cantik asal India yg ayah ibunya sudah menetap lama. Berkenalan dengan mereka membuat gw mempunyai rasa heran yg menyenangkan, yaitu betapa semakin connectednya bumi ini dalam "dunia" gw. Bayangkan, kami berempat tidak mempunyai bahasa yg sama. Hanya saling pengertian untuk mendengarkan bahasa Inggris dengan logat yg berbeda2 dan terkadang terpatah2, we're connected. Waktu kecil gw dah cukup terheran2 ada teman yg rumahnya jauh dari sekolahan. Ternyata waktu gw SMA, giliran ada seorang teman gw yg terheran2 dengan rumah gw yg menurut dia di ujung bumi - hiper banget yak padahal masih sama2 di Jakarta tuh - emang sih rumah gw di Cengkareng sementara sekolah di Lapangan Banteng :-). Then, one day gw juga pernah terheran2 bisa mewujudkan impian masa kecil untuk bisa berada di suatu tempat yg jauh banget dari tanah air beta dan waktu itu cuman jadi hapalan mata pelajaran IPS tentang negara2 di dunia... hehehe...

Ini keheranan yg gw mau jadi permanen. Dengan menyadari bahwa this world is unlimited, that really makes me live.

Saturday, September 23, 2006

Post ke 100

Hmmm, menyenangkan ini postingan ke 100 sejak gw punya blog ini. Buat gw, artinya gw dah meluangkan 100 kali untuk menuliskan apa yg ingin gw tulis di sini, dan itu merupakan suatu kemajuan buat gw :-)

Minggu ini sangat menyenangkan. Banyak kebetulan2 yg terjadi dan terbukti bukan sekedar kebetulan. Gw percaya things happen for a reason, tapi saat banyak hal yg terjadi di sekeliling gw tanpa disengaja dan semuanya berhubungan dengan sangat baik, hmmm senangnya.

Dimulai hari selasa yl, gw terima pemberitahuan untuk melaksanakan transaksi di balikpapan hari kamis. Harusnya ini terjadi minggu lalu, tapi berhubung ditunda2 jadinya gw belum beli tiket. Gw gak menyangka (alias gak kepikiran juga) kalo minggu ini penumpang pesawat banyak. Menurut pegawai Garuda, banyaknya penumpang diperkirakan berhubungan dengan dimulainya bulan Ramadhan. So, gw merasa beruntung banget bisa dapetin tiket, walaupun baru hari Selasa jam 13.45 gw mendapatkan jawaban positif atas waiting-list gw.

Hari Rabu gw juga merasa beruntung karna Jl.H.Rasuna Said gak semacet yg gw kira, jadinya malahan gw kudu nunggu 2 jam di airport. Tapi waktu menunggu itu sama sekali tidak masalah, kebetulan di Periplus Terminal2 CGK gw mendapatkan novel gak-terlalu-baru-tapi-gw-belum-baca R.Ludlum (judulnya Ambler Warning). Jadi yah gw bisa menikmati waktu menunggu dengan menyenangkan, walaupun seperti yg seringkali sudah terjadi, Garuda telat lagi. Huuuuuuhh.

Sampai di Balikpapan, dengan setia Yanti telah menjemput gw di airport. Lalu, lagi2 gw consider sebagai beruntung bisa ngedapetin hotel dengan harga promo walaupun tadinya dibilang penuh. Kami makan di bubur ayam langganan dan waktu Yanti nanya apa gw merasakan ada yg beda dengan Balikpapan sejak gw tinggal kira2 dua minggu yl, gw menjawab enggak... hehehe.

Hari Kamis lagi2 gw diuntungkan... Hesti meminjamkan mobilnya. Ini membuat gw senang karna memang banyak urusan yg harus gw lakukan hari itu dan tentunya keberadaan mobil sangat menolong. Juga, ini mengukuhkan arti pertemanan yg beberapa waktu yg lalu sempat gw bingung, tapi kesimpulan gw tetep sama, A true friend is indeed a friend in need.

Dan malamnya bertemu dengan kolega2 dan teman2 di Balikpapan, yah ada senangnya ada juga gak senangnya, tapi yah memang kudu begitu kan. Senangnya yah pertukaran cerita, senyum cemerlang teman2, kita saling tertawa dan bercanda sambil makan yamin tentunya. Gak senangnya karna selalu ada aja yg berkomentar gak perlu. Tapi, untungnya banyakan cerita senangnya... whadeday!

Hari ini senang juga. Dimulai di pagi hari di kelas yoga, gw ketemu sama kakaknya teman lama di Bandung. Langsung deh ngobrol2 dilanjutkan dengan nelpon teman tersebut. Hari gw lanjutkan dengan mengajar. Pengalaman mengajar hari pertama ini penuh deg2-an, untungnya semua bisa berjalan dengan baik. Lalu selesai mengajar, gw kursus bahasa perancis, rame deh teman2 kursus gw, gw merasa ini bukan kebetulan kalau kami sekelas. Topiknya pun lucu hari ini yaitu tentang "escort-boy"... hahaha... hiburan diskusi akhir pekan. Malamnya gw jjm rame2 ke mal dan kebetulan lagi bertemu dengan seorang teman. Sungguh, kebetulan2 yang menyenangkan di hari2 belakangan ini.

How much we needed some little bit of faith to hold on to
When it seems like everything we believed in is about to sleeve away
(quoted from "The Sisterhood of the Travelling Pants").


Special thank for
Yanti, Hesti, Evi, Nenny, JC, m'Dewi, m'Nanis, Nanda, Erly, Butet, Visca.
It was you gals, I could not say thank enough for your accompany in my life's journey and y'all become that little bit of faith for me to hold on to.

Tuesday, September 12, 2006

E s c a p e

Last night I saw a French movie in TV5 (réalisée par Jeromé Angre mais j’oublie le titre). The story is around one family. Started by a man who met a woman he crazy in love with and let his dream to be a priest slipped away to marry her. They have one daughter and one son. His wife died young and left him deeply heartbroken. He escapes from his children by working like hell and let the daughter takes her mother role for her brother. Being a perfect father as he wanted to be becomes not longer interesting.

Times passed by then he realizes that he has nothing but him. He calls God to his frustration. He (again) escapes from his responsibilty as a father, he escapes from the "world" and live in the monastery. The daughter’s life is also miserable, by the fact that her husband is unemployed and her "obligation" to take care her daughter and also her spoiled brother who paralyzed by an accident. She escapes from herself and blaming everyone for her misfortune, but not to her father. She loves him very much. The later-be-handicapped son becomes a mean-spoiled attitude person. He has hatred to his handicap and moreover to his father who "escape from the world"; for him he was dead. He abandons an unconditional love from his girlfriend and sister. He escapes from the reality.

Weird as a French movie, this one has an ending! Just before his vow’s time, the father re-comes back to the "world" for his granddaughter’s baptism. That experience teach him an expensive lesson. Throughout several denials, at the end it is strengthen his will to be a priest in peace. The daughter decides not to give herself for everyone which indeed good for everyone. The son accepts his handicap is not a death sentence; he gets a job and has a boy! So, as I said earlier, this movie is a kind of weird French movie, it’s happy ending – although not as fancy as Hollywood’s ending.

So as yesterday, I attended a company function and found that escape is no longer unfamiliar issue. Woman escapes from the reality that she is a woman, who can fall in love, who can smile easily and cost nothing, who can be a mother, who can be bitchy in a charming way, who can also be professional! Nothing in between should be a conflict. Be it for the sake of career or for the sake of money. We can choose our situation but not escaping from one to another, neither from the responsibilities lying in front of us. That’s a peachy world, 'hon. Don't push that too hard!

There is some woman who does think that we have to be a superwoman. I know some of them. I would not support that idea when the definition means that we (as a woman) can do everything at the same time in expense of nobody but ourselves. "Super" is not always means tough or even perfect. I would rather be a happy flexible professional. Though loosing the opportunity to go overseas for my love ones, it's not at all at the expense of my career development, it's my conscious choice. Escape from the destiny as a woman, God helps, should never be exist in my option list.

Same thing as a working mother. Can't believe it's still a hot topic among woman. When you feel guilty working and leaving your kids with somebody else, then don't. It won't make any better to anyone. When you choose to work then do it profesionally. But that doesn't mean that you can escape from the responsibilities being a mother, neither an employee. Being late because of your kid suddenly have a fever - don't just leave, s/he needs you. Be there on important meetings. Murphy's law sometimes fools your nerves. Shits happens. Mistakes done. Acccept the imperfection, take it easy. There is no such perfect mother, neither perfect employee, neither perfect employer, neither perfect world. So, there is no perfect woman.

I believe whatever her state, working or not, a responsible mother knows their children at best, why?? Because she is the mother! Not because she spend more time with her kids. Though indeed helps. Quantity or quality times won't change a mother nature, we ourselves who make the definition. Other woman who thinks that a working mother abuse company rules just because she has a kid, when you know that you work hard to do your job profesionally then ignore her.

For my friends on maternity leave, there is nothing wrong at all be a working mother. My mom is a full time teacher, the only profession she worked for about 40 years. That's her choice. She choosed to move schools closer to home everytime our address changes. I can only hope someday be just like her.

For my friend who choose to suspend work to follow her husband and taking care her baby. Don't feel guilty at any expense! You know the best for you and family at this time. Just believe what you're doing. Don't escape from the reality, things will go to your turn one day. Encourage him. Love your daughter. Love to see you back happy as usual.

Though escape sometimes could be a retreat, but escaping from your own values points you nowhere but a loser.

*who will deny an Rp50.000, - to get a bunch of good channels through cable?
Welcome to the digital world!

Friday, September 08, 2006

me series

if you happen to know a person who has "almost" all of traits below, please introduce me to him/her:

Outgoing personality. Takes risks. Feeds on attention. No self-control. Kind hearted. Self-confident. Loud and boisterous. Very revengeful. Easy to get along with and talk to. Has an "every thing's peachy" attitude. Likes talking and singing. Loves music. Daydreamer. Easily distracted. Hates not being trusted. Big imagination. Loves to be loved. Hates studying. In need of "that someone". Longs for freedom. Rebellious when withheld or restricted. Lives by "no pain no gain" caring. Always a suspect. Playful. Mysterious. "Charming" or "beautiful" to everyone. Stubborn. Curious. Independent. Strong willed. A fighter.

Some good and some bad, just to make it playful :-)
*dedicated to someone who use frequently me series shirt from Giordano.