Monday, October 31, 2005

Mimpi dan ambisi

Gw gak kaget waktu pertama kali mendengar berita perpindahan Pak Sas dari ITB ke desa Sitoluama untuk menjadi direktur Politeknik Informatika Del. Komentar gw saat itu, "Wah, Pak Sas pasti senang bisa mewujudkan mimpinya". Walaupun terkesan kalimat itu terlalu cepat diucapkan dan Pak Sas sendiri mungkin juga belum merasa mewujudkan mimpinya, namun itulah yg pertama kali terbersit di pikiran gw.

Beliau salah seorang dosen yg terus terang gw punya mix feelings, antara kesel, sebel, kagum, salut dan juga seneng lihat senyum manisnya (jg ge-er Pak!). Pak Sas lah dosen yg pertama kali memberikan nilai hasil ujian F, waktu itu gw tahunya nilai terburuk itu E. Gw langsung kaget aja dan ngerasa begoooo banget....:-)

Celetukan beliau yg terasa pedas ternyata bisa gw lihat 'mengganggu' telinga beberapa kalangan, baik mahasiswa maupun dosen. Pendapat2nya yg antik dan terkadang nyeleneh memang sulit dicerna. Bahkan di kalangan mahasiswa ada pendapat kalau bicara dengan Pak Sas berarti lawan bicara sedang mengalami pencucian otak.

Suatu pagi sebelum ujian akhir dibagikan, beliau bertanya kepada seorang mahasiswa:
"Kamu lulus ujian?"
"Lho, ini baru mau ujian kan Pak"
"Iya saya ngerti, tapi kamu lulus gak?"
"Belum tahu Pak"
"Ya berarti kamu gak lulus"
"Kenapa gitu Pak?"
Saat mengajukan pertanyaan ini muka sang mahasiswa sudah merah dan kesal. Kelas sangat tenang, kami menunggu jawaban beliau. Dengan santainya Pak Sas menjawab,
"Justru saya bertanya karna ini ujian akhir. Kalau kamu yakin dengan apa yg kamu pelajari selama ini, harusnya kamu yakin lulus. Kamu aja gak yakin, bagaimana bisa lulus?"

Kami terhenyak dan gw menebak2 mesti soal ujiannya susah deh, abis Pak Sas senyum2 gak jelas gitu. Dan ternyata, damn betul. Saat menjawab soal itu gw sendiri jadi gak yakin bakalan lulus. Selesai ujian ternyata temen2 lainnya juga ngerasa hal yg sama. Sebelllll banget saat itu. Syukurlah gw lulus walaupun gak ngerubah sebel gw waktu itu.

Kalau gw melihatnya, beliau memiliki dimensi pandang yg berbeda dengan orang kebanyakan. Namun seperti biasanya, hal yg tidak biasa tentu tidak selalu jadi populer. Beberapa menganggapnya idealis, dan mencap tidak realistis. Kekaguman gw sama dia juga karna dia bisa bertahan menjadi seseorang yg berbeda, yg menurut gw bukan berarti (selalu) lawan arus.

Namun, saat mimpi dan ambisi yg selalu didengung2kan bisa menjadi suatu kenyataan, mungkin ini bisa menjadi secercah harapan untuk bangkit dan membuat mimpi2 baru, mengejarnya, meraihnya dan menyerahkan semuanya pada Tuhan, sang arsitek mimpi.