Friday, October 14, 2005

Pengamen Juga Manusia

Tadi pas makan siang, gw agak2 terganggu dengan pengamen.
Suaranya sih gak jelek2 amat, hanya sayang lagu dan suasananya sangat gak mendukung. Mungkin suasana hujan mengguyur Balikpapan dari siang tadi dan keinginan menikmati bakso dengan nyaman, membuat gw merasa terganggu.

Tapi gw sadar kalo pengamen juga manusia, gak bermaksud untuk ikutan latah lho. Jadi yah wajar2 aja lah kalo dia juga mau hidup dengan kemampuan mengamennya, tapi menurut gw mbok yah rada menghibur gitu nyanyinya. Gw minta terlalu banyak yah :-)

Suatu waktu di bus Patas AC08 jurusan Rawa Mangun-Blok M, gw 'kedapetan' pengamen yang suaranya bagus, terus lagu2 pilihannya juga asyik. Gw sangat menikmati. Di lagu terakhir, sang pengamen menawarkan lagu 'pilihan penumpang'. Penumpang ditawarkan memilih satu lagu dari tiga lagu yg bisa dipilih. Seruu kan. Penumpang pun jadi heboh. Ada yg langsung meneriakkan lagu pilihannya, ada juga yg senyum2 saja dengan tetangga kiri kanannya (sekalian JP kali yee). Untuk mengatasi kehebohan sesaat itu, dengan semangat demokrasi yg lagi hot2nya waktu itu, Jakarta 2002, kami diminta voting. Akhirnya terpilih lah satu lagu, sayangnya gw lupa saat ini :-( kalo ingat ntar gw tulis deh.

Setelah selesai menyanyikan lagu terakhir itu, diiringi permainan gitar melodi yang asli assyik, saweran pun diedarkan dan tanpa ragu2 uang 500-an logam pun gw masukkan (pediiit.... iya, harusnya 1000 lho, apalagi itung2 si pengamen dah memberikan hiburan). Ada juga yg kasih 1000-an tanpa ragu2. Ada juga sih, seperti biasa, yang senyum2 aja.

Pengalaman bertemu pengamen bersuara merdu itu menjadi biasa di masa itu. Sehubungan dg krisis ekonomi dan sulitnya mencari kerja, profesi pengamen musiman menjamur rupanya. Bahkan ada beberapa kelompok yang well-equipped, lengkap dengan tamborin, dan drum kecil.

Nah, sayangnya ada juga pengalaman gw dengan pengamen yg reseh. Kalo gw gak ngasih saweran, gw biasanya default bilang "Maaf, Mas". Lebih sering sih, yah karna gw gak merasa terhibur. Jawaban sang pengamen bervariasi, antara lain yg suka bikin spaneng misalnya:
"Mbak, minta maafnya ke Tuhan aja",
"Belum gajian yah, Mbak",
"Ooh, gajiannya yg tanggal 5 yah".

Bahkan pernah gw lagi tidur di KA Bandung-Yogya, dibangunin untuk dimintain saweran. Gw bilang maaf. Reaksi sang pengamen di luar dugaan gw. Dengan tidak sopannya, setengah berteriak, dia bilang ,"Pelit banget sih Mbak, dah capek2 dibangunin!". Aneh gak sih?
Gw kan juga sama2 manusia, yg sama2 punya hak untuk mencari uang dan memberi uang kepada siapa. Saat itu, tanpa peduli gw melotot dan bilang, "Terserah mau dibilang pelit, saya mau tidur, tolong jg ganggu. Saya juga tidak ganggu kamu nyanyi!". Untung cowok di sebelah gw saat itu kooperatif dengan ikutan melotot juga.

Ya gitulah, namanya juga usaha 'Ta.

Anyway, di Balikpapan sih gw belum pernah (yah sampai saat ini sih) ketemu pengamen yg asyik. Yah, mana tahu gw aja yg kurang bergaul di daerah2 yg pengamennya asyik kali yah. Yg jelas, gw gak suka ketemu pengamen yg mengharuskan gw membayar mereka, dengan pelototan kek, apalagi dengan ancaman. Jangan lah ada premanisme di dalam proses ini.

Kalo gw suka, pasti gw sawer :-)