Wednesday, May 02, 2007

Never Ending Battle


Hampir sebulan gw gak bikin posting di blog ini, sekarang pun american idol udah tinggal 6 doang. Gw ngapain aja yah sebulan kemaren kog gak sempat2nya ngeluangin waktu, eh hari ini mendadak jadi kangen nih.

Sometime I praise people.
Some other time I don’t like the same person.
Sometime I depend on prayer.
Some other time I am too much believe in me.
Sometime I have no problem at all to share.
Some other time I feel so egoist.
Sometime I feel that others like me.
Some other time I have only my best friends.
Sometime I don't trust these feet can run that far.
Some other time I forced them to climb the mountain.

Sometime I hate you, but I can't.
Sometime I lost my will, but I can't.
Sometime I fail to love you, but I can't.
Sometime I consciously forget who my biggest enemy is, but I can't.
Sometime I make a promise to always win this never ending battle, but I can't.
It is you, MYSELF, my biggest enemy, and I don’t want to loose so easy.

Sunday, April 08, 2007

Gina Pulang

Gila! Setelah berhasil menahan temptation untuk tidak buka websitenya American Idol beberapa hari ini, hasilnya agak mengecewakan gw. Yang pulang minggu ini Gina Glocksen, si "rocker" yg masih bisa melantunkan lagu Smile menghantarnya pulang tersenyum meski air mata sempat menggenangi matanya - pengaruhnya Haley deh. Nama Gina diumumkan sebagai peraih vote terendah - hampir 33 juta votes! - diiringi Homenya Buble yg nyanyi juga di performance itu ngeggantiin Tony Bennet. Sebeeeeellllll deh, kenapa gak si "Incridible" itu sih yang pulang?

I kindda like Gina, but votes matters.
PF for Melinda, Jordin, Lakisha - you gals deserved those votes.
Men in this season, I am not very much impressed of them, but who I am gitu... hehehe

Kapan yak Indonesian Idol sekeren penampilan mereka yg understate dan lebih memperlihatkan kualitas vokalnya yak... kippon' wishing...

Tuesday, April 03, 2007

Ba-ti-tah Meng-ba-tah

Di kompas edisi minggu (1-apr-07) ada sepotong kalimat tentang anaknya Marcel-DewiLestari yang bisa membaca di usia 2.5 th. Walau artikelnya padahal bukan tentang anaknya, tapi cerita itu berkembang. Lalu di milis ada pertanyaan seputar metode glenn dolman yg katanya bisa ngajarin anak balita membaca. Gak tanggung2 metode itu lagi happening dalam pembicaraan beberapa ibu2 muda, yg notabene adalah temen2 gw :-)). Gak percaya? Coba deh dateng ke bazaar2, udah gencar tuh promosinya.

Tapi, tapi.... apa memang perlu yah anak bisa membaca di usia 2.5 th?
Itu mah jawabannya personal banget yah, terbukti beberapa teman2 gw tertarik tuh, malahan ada juga yg lagi bikin research... hehehe, big hug. Menurut Ruly yg udah mulai searching2, "ada yang bilang kalau teori bapak ini termasuk pseudoscience alias nggak bisa dipertanggungjawabkan, tapi ada juga yang bilang kalau teorinya oke dan bisa diterapkan".

Gimana gak bikin ibu2 muda kebat kebit dan jadi penasaran seeh
(sungguh mati aku jadi penasaran... sampai mati pun akan ku perjuangkan... lho??)

Secara gw belom punya anak tapi diajakin ngobrol yg kayak gini mah, yah pengalaman pribadia aja deh yg dishare.

Adalah bu Lucia - guru biologi gw waktu SMA dan wali kelas ku dulu pernah bercerita (hehehe) tentang ngajarin anaknya mbaca sejak batita. Ibu cantik ini bercerita dengan semangat, sementara kita2 mikir "Ya ampun bu, anak kok jadi sampel penelitian seeeh?!" tapi, hehehe, nyokap gw juga guru biologi dan mungkin gw termasuk sampel penelitian juga kali yah :-)

Pengalaman pribadi gw nih, pas mau masuk teka di usia 5th ternyata gw doang yang udah bisa baca koran, dan itu sudah aneh di masa itu, di TK Kristen Ketapang tahun 1980. Lalu gw dibolehin "skip" tk kecil. Waktu itu ada teka kecil - teka gede - baru SD, yg biasanya dimulai di usia 7 th. Jadi dianggapnya gw kecepetan.

Gw gak tahu nama metodenya apa (areee getoh?) yg gw inget dan selalu diulang2 ceritanya sama mama/tante2 gw, sejak umur 3tahun-an *th.78an, pokoknya sejak umur yg bisa gw ingat* sebelum bobo tiap harinya dibacain majalah bobo sama tante gw, yang menarik perhatian gw adalah cerita2 komik bobo, bona-rong2, donald bebek, dan sejenisnya yang kalimatnya pendek2 di tiap gambar. Pokoknya gak ada cerita tidur tanpa dibacain komik yg satu halaman itu.

Lama2, mungkin karena seringnya denger2, gw bisa melafalkan huruf sesuai dengan text-nya. Setelah bisa membaca pelan2, gw mulai baca text, terus nambah segala yg bisa dibaca jadinya dibaca, dan jadilah sebelum usia 5 tahun gw udah bisa baca koran. Nah, metode itu itu metode apa yah? Yg jelas udah terbukti tuh di gw di umur segitu - waktu itu belom biasa bisa membaca di umur 5 tahun. Menurut gw sih itu "metode bisa karena biasa", jadi yah biasa-biasa aja, kayaknya gak ada tuh metoda aneh2 :-) Gak tahu deh apa Dee ngebiasa-in juga anaknya membaca (secara dia penulis), atau ngikutin metode tertentu *mungkin research-nya temen gw nantinya bisa menjawabnya* Gw bilang ama temen gw, "lo biasain aja membaca buat anak lo ..."

Tapi tetep aja gw mempertanyakan apa perlu yah anak batita bisa membaca?

Gw pribadi sih gak menemukan kebisaan gw membaca sedemikian cepat itu menjadi istimewa (sekarang mah gak cepet yah membaca umur 5 tahun). Maaf lho bukannya gak berarti apa2, tapi malahan gw terkadang jengah pas disuruh mbaca buat contoh. Kelebihan yg terdevelop sih, mungkin/gak mungkin ada hubungannya dengan kecepatan bisa membaca, gw menjadi sangat senang membaca, dan bisa apa aja dari mulai yg ringan banget dan gak penting, sampai artikel "berat" dan penting2.

Gw liat sih ponakan gw yg waktu kecilnya senengnya maeeeennnn mulu dan gak ada deh tanda2 cepet mbaca, eehhh begitu sekolah -mulai usia 5 tahun- cepet banget bisa langsung membaca. Malahan sekarang yg namanya bikin pe-er dan belajar udah gak perlu disuruh2. Gw kadang jadi mikir kasian yah anak2 sekarang, bebannya semakin muda semakin nambah :-( Dulu tuh gw merasa teka = taman kanak2, nunggu ke sekolah buat minum susu bareng teman2, nyodor2in gelas kosong ke petugasnya yg selalu senyum, maeeennnn mulu, dengerin guru ngedongeng, dengerin kaset "sanggar cerita", dan nyanyi di depan piano sama ibu Dora.

Itu dulu deh, sementara sampel gw itu dah gw kasih tahu di milis, mana tahu ada psikolog sanur yg nanggepin :-)) Kalo ada pengalaman2 lainnya dan sampel2nya terus ditambahin, bukan gak mungkin kan bisa ada yang nerapin metode baru nih dan gak perlu import, bukan gak mungkin malahan udah ada yg punya ... hayo para pemerhati anak :-)

Friday, March 30, 2007

Selamat jalan Om!

Masa jatuh cinta adalah masa yg spesial. Gw rasa banyak orang setuju dengan pendapat di atas. Di masa spesial itu lah awal gw mengenal Chrisye lewat lagu2nya. Di lagu Chrisye yg terakhir ada lirik "lupakan aku, kupunya cinta lain yg tak bisa kutinggalkan", mungkin cinta itulah yg mengajakmu pulang pagi tadi. Selamat jalan om, walau kami akui adalah tak mungkin untuk melupakanmu.

Aura cinta dan kesendirian begitu lekat setiap dia menyanyi, walau di balik itu, ada keluarga yg hangat selalu setia menemaninya dan di masa sakitnya, Yanti istrinya terlihat begitu sabar dan "kuat". Seakan tahu bahwa waktu yg tersisa tidak lagi banyak, Yanti menuturkan di femina edisi minggu ini (bukan kebetulan bukan?), "Namun, jauh di lubuk hati saya ingin menemani Chris setiap saat, dengan cinta dan kesetiaan"... wow ibu, doamu menyertai kepergiannya.

Beberapa lagu Chrisye meninggalkan kenangan yg tak mungkin gw lupakan.

Gw masih ingat hari2 pulang sekolah bersama dengan beberapa teman, kami berlatih dan mengarang koreografi tari. Saat itu diantara banyak lagu yang menjadi pilihan, kami memilih lagu chrisye "hip-hip hura" sebagai lagu pengiring. Saat itu semuanya seperti biasa saja dan memang tidak mengherankan, karena lagu2nya Chrisye - Hip hip hura, Nona Lisa, Anak Sekolah - memang sedang in-in nya. Namun lirik di dalam lagu itu menjelaskan suatu rasa yg baru2 saja kami rasakan, yaitu rasa menyukai atau pun disukai lawan jenis. Seringkali lirik lagu tersebut menjadi bahan gurauan dan bagian dari pembicaraan kelompok2 anak muda yg saat itu baru mengenal rasa lain selain pertemanan dan persahabatan, misalnya saja "..ingin hatiku mencium pipinya, tapi malu rasanya" ... lho kog lirik lagunya sama dengan yg kami rasakan ya... hihihi...

Lagu Chrisye juga yang menjadi pilihan guru organ gw saat gw harus memainkan electone di konser pertama gw bersama dengan teman2 seperguruan Yamaha Daan Mogot. Berminggu2 suara organ di rumah cuma memainkan lagu "kisah cintaku".

Lagu Lilin2 Kecil juga punya kesan penting buat gw. Saat itu kelas 2SMP, kami mendapatkan tugas untuk bernyanyi dalam koor untuk perpisahan kakak2 kelas. Itulah kali pertama gw mengenal pembagian suara yang "serius". Gak gampang buat gw selain menghapal lirik juga harus menghapal suara duanya. Waktu itu gw bilang kalau gw lebih senang vokal group, tapi ternyata gw senang juga nyanyi dalam koor, dan selalu suara dua.

Gw bertambah umur dan beranjak dewasa, Chrisye pun tetap bernyanyi. Seakan mengikuti tren, lagu2nya banyak mengisi hari2 pernyataan cinta, patah hati, meninggalkan kekasih untuk merantau, dan banyak lagi. Tidak banyak penyanyi lama berkolaborasi dengan penyanyi2 baru, Chrisye termasuk yg melakukannya. Juga mengawinkan pop dengan musik2 tradisional, baik dengan gamelan maupun sindenan Waljinah.

Lagu "untukmu" juga lah yg menjadi lagu pertama gw merasakan bahwa main gamelan itu menyenangkan. Itu saat pertama gw mencoba memainkan saron dan mengarang aransemen untuk acara di kantor.

Aaah banyak lagi lagu yg kau nyanyikan dengan suara yg unik yg menjadi ciri khasmu, bagaimana mungkin kami melupakanmu. Berulang kali televisi menggunakan lagu2 yg pernah kau populerkan sebagai filling sutu peristiwa, misalnya lilin2 kecil, kidung, badai pasti berlalu, dan itu tidak akan berhenti walau kau tak lagi menyaksikannya. Tidak om, kami tak akan mampu melupakanmu, selamat jalan.

Wednesday, March 28, 2007

Siapa Mereka Pak?

Karakter Manusia Indonesia Picik dan Tak Mau Kalah - ref. Laporan Wartawan Kompas M Zaid Wahyudi

JAKARTA, KOMPAS--Manusia Indonesia dicirikan dengan karakter yang picik, solidaritas rendah, serba instan, dan sulit menerima kekalahan. Kondisi tersebut membuat keadilan dan kesejahteraan sosial di Indonesia sulit diwujudkan.
Penggiat filsafat kebudaayan Tony Doludea di Jakarta, Jumat (16/3) sore mengatakan karakter manusia Indonesia adalah mudah iri hati, picik, dan tidak menyadari solidaritas untuk tujuan bersama. Mereka juga suka memperoleh sesuatu secara instan, mengabaikan proses dan kerja keras, percaya terhadap klenik, dan tidak dapat menerima kekalahan.
”Karakter itu ada dalam diri seluruh manusia Indonesia, mulai dari politisi, akademisi, intelektual, pemimpin, tokoh agama, hingga orang awam dan rakyat miskin,” kata Tony.
Mental manusia Indonesia tersebut membuat masyarakat tidak lagi percaya kepada kebenaran, keadilan, dan kebaikan. Kondisi tersebut membuat keadilan dan kesejahteraan sulit diwujudkan di Indonesia. Artikel

Siapa mereka Pak?

Tentu tidak semua orang harus setuju dengan pendapat bapak itu, nah karna ini blog pribadi sy, saya mau ikutan nulis pendapat saya ah. Saya jg gak ngarepin orang lain pada setuju kok.

Sy keberatan tuh kalo ciri2 yg Pak Tony bilang adalah ciri2 seluruh manusia Indonesia. Sy memang bukan psikolog apalagi ahli filsafat, tapi kayaknya ciri2 itu umum deh, diakuin dong ciri2 (baca: picik dan tak mau kalah) tersebut ada (atau mungkin saja ada) dalam diri siapa pun yg tak mesti manusia Indonesia. Namun seberapa ciri tersebut menjadi dominan dalam pembentukan karakter, pan tidak menjadikan seluruh manusia Indonesia hanya menjadi picik dan tak mau kalah saja. Toh banyak juga yg bisa meredam atau mengendalikan sifat dasar manusia yg memang pada intinya membantunya bertahan hidup sebagai the great survivor di muka bumi ini.

Kalo menurut saya, menurut SAYA lho pake huruf besar, manusia Indonesia adalah manusia yg kebetulan lahir di wilayah teritorial NEGARA Indonesia, atau bapak/ibunya yg lahir di Indonesia. Bagaimana karakternya, menurut SAYA, tergantung bagaimana org tersebut menyikapi kebetulan itu, dan juga bagaimana ia diajar dan dididik menyikapinya. Dan menurut pengamatan sy yg terbatas ini (maksudnya terbatas 32 tahun juga belom nyampe), di antara orang2 sekeliling saya, ada tuh yg menyikapinya sebagai anugerah, dan karakter yg terbentuk dalam diri mereka adalah hasil refleksi penyikapan yg ditanamkan dan disadari benar olehnya. Sungguh jauh dari sekedar picik dan tak mau kalah. Ada juga yg menyikapi kebetulan itu sebagai cobaan, sehingga ia lebih memilih menjalaninya dengan pasrah dan menunggu masa pencobaan itu berakhir meski tanpa tahu kapan dan harus bagaimana (ada juga tuh). Memang sy akui ada juga yg menyikapinya sebagai kebetulan lainnya, misalnya saja yg bapak kutip,

kebetulan aja dia jadi politikus... jadi dia harus licik
kebetulan aja dia jadi akademis... jadi dia harus keliatan pintar dong
kebetulan aja dia jadi intelektual... jadi dia harus keliatan intelek dong
kebetulan aja dia jadi pemimpin... jadi dia harus jaim dong di depan umum
kebetulan aja dia jadi tokoh agama... jadi dia harus rajin2 menjalankan agamanya
kebetulan aja dia jadi orang awam... jadi dia gak harus mikirin yg aneh2 kayak kesejahteraan sosial buat orang lain, apaan tuh?
kebetulan aja dia jadi orang miskin... ya iya lah, siapa yg kalo gak kebetulan mau jadi orang miskin


Jadi, siapa mereka Pak?
mbok yah jangan bilang seluruh manusia indonesia dong - terkesan kog lagi rada emosi jiwa ya (nebak aja sih, biasa pan kalo lagi emosi mungkin pendapatnya subyektif) ... jangan2 nanti komentar saya ditanggapin "tak mau kalah" - cocok kan masuk dalam portfolionya... hehehe (tertawa meringis)

Gw baru pulang dari suatu diskusi dengan beberapa orang yg dengan kapasitasnya sebenarnya bisa merubah negara ini (moga2) ke arah yg lebih baik. Namun kebetulan aja posisinya kurang tepat, dan adalah kebetulan kejegal sama orang2 yg kebetulan ada di posisi yg dinilai penting. Lagi-lagi kebetulan, orang2 penting ini lagi gak mikirin apa yg katanya kesejahteraan bersama, tapi lagi lebih mikirin kesejahteraan kampung tengahnya biasa aji mumpung euy...

Jadi pas kebetulan nih sambil nunggu, gw baca2 koran dan nemuin tulisan di atas. Gemes deh ngeluangin waktu nulis tulisan yg semuanya serba kebetulan ini. Menambah deretan kebetulan, pas gw mencet2 channel tv setelah sedih denger diskusi tentang not-yet-ending-Lusi, eh lewat acara 4Mata dan pas omTukul bilang "no pain no gain"... rasanya kog lama nih gak denger kata2 ini yah (?). Frase itu seringannya sih gw denger dari temen2 gw etnis Cina yg kebetulan nenek-kakeknya udah pada lahir di Indonesia, jadi deh kami manusia Indonesia.

Di kantor gw lagi ada lomba foto yg diberit tema "beauty of Indonesia". Dua hari lagi menjelang penutupan sungguh gw bener2 hilang konsep menerjemahkan "beauty of Indonesia" itu selain panorama yg indah yg kebetulan Tuhanlah penciptanya.

Kebetulan kah gw lahir di Indonesia?
Di pertemuan tadi itu gw ditegur bahwa semuanya yg terjadi di Indonesia dan pertanyaan2 "kenapa gw?" adalah bukan kebetulan. Tapi, pas gw njawab "kebetulan buat gw masih sulit menerimanya" sontak pada tertawa walau ujung2nya dinasehatin. Makasih yaaa for the light at the end of the island.

Sekarang mah daripada musingin kebetulan2 yg nyapein gitu, kebetulan gw mau karaokean bareng, jadi mendingan karaokean dulu aaaaahhhhhhhhhh... Get the music on.

Tuesday, March 27, 2007

21

Minggu ini angka 21 tidak lagi dikait2kan hanya dengan merek dagang bioskop di beberapa kota yg belum lama ini membanting harga tiket masuknya. Namun angka tersebut dikaitkan dengan harga sebuah laptop, 21 juta. Laptop yang katanya ringan dijinjing, menggunakan processor canggih, full databasing dan real time capability, layarnya bisa dibalik2, bisa dipake nelpon, internet, a big joke of the week: termasuk bisa ngintip situs artis2 terkenal.

Membayangkan gw harus melakukan pekerjaan gw sekarang tanpa komputer areee gene kayaknya susah deh. Juga tanpa internet yg menyimpan sebegitu banyak informasi dan bisa benar2 membantu gw melakukan pekerjaan gw. Selain buat belajar, tentunya buat hiburan juga dong. Jadi, gw gak menyalahkan jika ada orang yg mau maju mempunyai pendapat kalau laptop bisa menjadi salah satu alat bantunya untuk maju. Apalagi orang2 itu karena pekerjaanya harus mobile. Gw setuju. Yang bikin gw bingung adalah pendapat ngotot bahwa untuk menjadi maju itu butuh laptop, sementara orang yg sama mengakui belom bisa memakai laptop. Katanya yg penting beli dulu, baru bisa belajar, itu kan urusan training saja nantinya. Jadi, mau beli laptop seharga 21 juta tapi gak bisa makenya, wuiiihhh sok kaya bener yak, padahal masih banyak pan pilihan yg jauh lebih murah. Iyaaaaa bukan???

Katanya sih budget ini sudah digodok selama setahun (ref.komentar ibu Dyah BURT-DPR di tv), cuman gw terkesan kalau berita ini terblowup di era komedian Tukul Arwana yg sedang happening dengan talkshownya yg menggunakan alat bantu laptop. Mungkin buat beberapa orang yg katanya petinggi itu, bete juga kali yah kalo "Tukul aja bisa dapet laptop, masa gw gak bisa!" (padahal dia tahu juga enggak kali yah apa Tukul bisa pake laptop atau enggak... hihihi)

Ada joke2 yg beredar akhir2 ini seputar isue laptop itu, satu diantaranya,


Anggota DPR: "Mba, kalau mau baca blognya si artist anu dimana ya?"
Customer Service: "Bapak cari aja di google."
Anggota DPR: "Tapi si artist anu nggak kerja di google kok mba, saya tahu persis."

Capeeek deeehhh....... !!!!


Konon kabar terakhir rencana pembelian ini tidak akan lagi menggerogoti budget negara, pembeliannya dibatalkan (katanya). Cuman yah - belajar dari pengalaman - kog gw agak yakin bakal ada yg memancing di air keruh dengan sukarela menyediakan laptop untuk 2009.... hehehe boleh2 aja toh?!

Monday, March 26, 2007

Derail

Hmmm, kejadian hari ini mengingatkan gw akan satu pertanyaan yg pernah gw dengar di kalangan orang Perancis di kantor,
"Apa persamaan polytechniciens dengan kereta api?"

(polytechniciens adalah sebutan untuk lulusan salah satu universitas terkemuka di Perancis yg notabene sangat kompetitif – jadi bisa ketebak duong segiumana orang2 lulusannya sudah melalui competitive benchmark :-).

Beberapa orang mencoba menjawab, namun tidak ada satu pun jawaban yg dinyatakan benar oleh si penanya.

Setelah semua menyerah, akhirnya dia menjawab,
"Pada saat kereta api derail (keluar dari rel-nya) dia tidak bisa kembali sendiri ke relnya, melainkan membutuhkan bantuan alat lain untuk meletakkannya kembali, barulah ia bisa melanjutkan perjalanannya. Demikian juga dengan polytechnician."

Kalo gw pikir2 hal tersebut bisa membantu gw mengerti beberapa orang di lingkungan gw selama ini. Terkadang gw merasa dikelilingi orang2 pintar yg beneran pintar, tapi kog jadi hostile atau neurotik saat menghadapi masalah. Mereka boleh jadi pintar dan sering berhasil melalui competitive benchmark, tapi at the time of trouble, ternyata banyak di antaranya yg tidak bisa mengangkat dagunya kembali dan "just be a human". Mereka butuh orang lain untuk membantu meletakkan mereka kembali di relnya, sebenarnya siapa sih yg gak perlu yah (?)
Hayo... hayo, cheer up. To be honest, I can not handle crystal at work place. It's a wild world out there. Hanging tough.

Sunday, March 25, 2007

a.k.a Pudar

Kurasakan pudar dalam hatiku
Rasa cinta kagum yg ada untuk dirimu
Kulelah ingin semua yg (pernah) ada
Ingin ku lepas semua

Setan dalam hati ikut bicara
Bagaimana kalo ku slingkuh lupakan saja
Ku punya banyak teman lelaki yg lain
Sepertinya ku kan bahagia

Mestinya kau ku cari pengganti diriku mu saja
Karna kita sudah tak saling jarang bicara
Pastikan cerita tentang kita yg tlah lalu
Hanya ada dalam ingatan hatimu

Maafkan aku jika kau kecewa (aku juga)
Cintamu dirimu bukanlah untuk diriku
Jika memang semua kan jadi cerita
Kutahu kau kita semakin terluka

* adopted lirik lagu "Pudar" dinyanyikan oleh Rossa

Tetap Berlanjut

Kira-kira sebulan yl gw mengupgrade blog ini, namun ternyata setelah migrasi yang gw dapati adalah blog yang berantakan dibuka di mac. Sebel dong. Setelah tadi "berjuang" dan mengembalikan template ke format lama yg sebelumnya dah gw backup, akhirnya tampilan blog ini bisa kembali ke template lama blog gw dulu dan untuk sementara tidak mengupgradenya ke sistem baru. Hanya sayangnya beberapa posting setelah migrasi yg belum sempat diback-up tidak bisa lagi ditampilkan, untuk ditulis ulang beberapa udah hilang deh momennya. Yah udah deh, di"rela"in aja.

Yg penting buat gw sih blog ini tetap berlanjut, untuk mencatat hal2 yg berlangsung dalam hidup gw, sebagian untuk gw refleksiin, dan sebagian besarnya untuk hal2 yg mungkin gak penting buat orang lain, tapi penting buat catatan gw, karna gw mau kalau gw gak ada nanti, at least ada yg ngangenin dari gw... hihihi, morbid banget gak seeeeh...

Wednesday, January 10, 2007

Live in Public Unease

I was waiting sometime to write my first blog in 2007 with a good news of finding adam air's airplane (that still missing (!) with 102 people onboard). It is damn too long to live in public unease like this, after 10 days it is yet found! Where are you?


That lost airplane accident happenned on the first day of 2007, and just the day before I closed 2006 with reflections of my own accident experiences. I was quite surprise. Life must goes on and it is so priceless.

My sympathy to the passenger's family onboard AdamAir and also to all survivors and family of senopati boat's, ferry's accidents, flood's victim both water and mud.

Welcome 2007

Quite surprisingly, in last few days Jakarta's sky was blue and clear.

Hope this will clearer all bad weather and all bad accidents in the first week of 2007. My great hope that all good things and faith bring a new hope for a better future.

If only I can still hope.

Sunday, December 31, 2006

There's something money can't buy

Akhir tahun 2000 gw lewati bersama pasangan berbahagia yg adalah teman dekat gw, John & Monique. Sungguh waktu yg sangat berarti walau sempat beberapa hari pertama gw mengeluhkan matahari yg hanya bisa gw liat tidak kurang dari setengah jam dan dingin yg sampai -23F. Tapi semangat John untuk mengabadikan momen2 tersebut dengan Patrick yg ternyata sangat kuat di usianya yg baru beberapa bulan, membuat kami selalu berjalan2 di luar rumah bahkan selama beberapa hari menginap di northpole demi melihat aurora.

Gw tidak punya firasat apa2 kalau itu akan menjadi pertemuan terakhir gw dengan Monique, karena di bulan February Monique dipanggil pulang, dan foto itu menjadi bahagian dari foto2 terakhir kami. Saat menjelang akhir tahun 2006 ini, dan menyaksikan bencana dan kecelakaan yg akhir2 ini rasa2nya sangat sering terjadi, hati ini mengingatkan betapa hidup gw ini benar2 priceless.

Sampai saat ini ada beberapa peristiwa yg masih lekat di otak gw tentang kesempatan hidup yg diberikan ke gw. Kecelakaan mobil di purwakarta dimana mobil yg gw tumpangin adalah yg paling ringsek, membuktikan bahwa hanya Tuhan yg mungkin memberikan kembali hidup itu ke gw. Masih teringat pandangan gw saat mobil meluncur ke jurang dan dalam hitungan detik saja ada mobil yg menabrak mobil kami kembali sehingga mobil entah bagaimana berputar dan mundur sehingga jurang pun terhindari. Juga saat helicopter yg membawa gw dan rombongan kembali dari rig di Gulf of Mexico terbawa badai selama 5 menit. Saat itu yg terlihat di mata gw hanya awan putih tanpa menyadari bahwa perjalanan selama 5 menit itu membawa kami seakan telah menempuh 30 menit perjalanan. Gw masih ingat sang pilot yg awalnya tenang menjadi agak panik saat hubungan telekomunikasi terputus dan gw hanya bisa menyebut namaNya. Terasa begitu tiba2 kami keluar dari awan dan cuaca di depan kami menjadi sangat tenang, namun saat gw menoleh ke belakang terlihat lah gulungan awan hitam. Tanpa disadari kami baru saja keluar dari gelombang awan pembawa badai. Tidak ada kata lain selain mensyukuri keajaiban tersebut. Begitu juga saat evakuasi rig setelah ada blow out alarm yg membuat gw kembali disadarkan betapa hidup hanya sekedar menjalankan tugas saja, kapan berakhir adalah bukan urusan gw. Peristiwa2 remarkable dalam hidup gw tersebut menjadi milestone di kala gw merenungi hidup gw yang salah satunya yah menjelang akhir tahun ini.

Di awal tahun 2006 gw mendapatkan rhema bahwa “everything happen for a reason”. Beberapa peristiwa penting dalam hidup gw di tahun ini menyangkut diri gw, keluarga gw dan juga orang2 di sekeliling gw, memang gw akuin happen for a reason, though some of those reasons still not yet clear but I learn (still do) to just accept. Gw belajar mengingatkan bahwa hidup gw ini bukanlah sekedar gw di dalamya tapi juga orang2 yg mencintai gw. Bulan demi bulan berlalu dengan beberapa ups and downs yg gw yakini berakhir dengan manis. Banyak perjalanan yg gw lakukan di tahun ini, dalam dan luar negri. Bisa melakukan hobi gw, bisa berbagi dengan banyak orang, bisa tetap mencintai dan dicintai, terutama bisa belajar mencintai hidup gw secara lebih dan lebih lagi... karena,

apartemen mahal... money can buy
vacation mahal... money can buy
kamera mahal... money can buy

but my life... it's so priceless and indeed,
it's something money can't buy
goodbye 2006!

Monday, December 25, 2006

Natal

Natal adalah perenungan akan kelahiran.
Bukan hanya kelahiran Yesus pribadi.
Namun juga kelahiran kembali suatu niat yg indah untuk melayani dan mengasihi lebih sungguh. Lebih lagi melayani dan mengasihi sesama, seperti yg selalu diajarkan olehNya.

mau kah kau jadi roti yg terpecah bagiKu?
mau kah kau jadi anggur yg tercurah bagiKu?
mau kah kau jadi saksi membritakan firmanKu: melayani, mengasihi lebih sungguh...

Walau ku sering gagal, tapi aku mau belajar terus melayani dan mengasihi lebih sungguh.
Bukan hanya karna ku mau ataupun merasa mampu, tapi lebih karna itu firmanNya.
Ku mencoba untuk jangan sampai pernah artifisial, dan terutama mencoba memberikan lebih kepada mereka yg sering terabaikan.
Semoga lilin tersebut tetap menyala dan dilahirkan kembali saat hati ini merayakannya.

Have yourselves a very merry christmas, with fun and Christ' love.

Thursday, December 21, 2006

me series (3)

I have answered you during lunch time, this also becomes the song of the day, "Yes, I have found it and enjoy it to the last, my greatest love of all. This is why I try to look no more. Then you asked where the ambition is, damn sure I know that it is still there."

I decided long ago,
Never to walk in anyone's shadows
If I fail, if I succeed
At least I'll live as I believe
No matter what they take from me
They can't take away my dignity


Because the greatest love of all
Is happening to me
I found the greatest love of all
Inside of me

The greatest love of all
Is easy to achieve
Learning to love yourself
It is the greatest love of all

* chorus of song title "Greatest Love of All", sang by Whitney Houston.

Monday, December 11, 2006

Sepenggal cerita yg telah lalu


Hari jumat kemarin gw menghadiri sebuah pertemuan penting setelah 20 tahun berlalu sejak lulus SMP, yaitu reuni informal anak2 SMP Lamaholot. Banyak cerita yg kami saling share. Banyak kejadian2 penting yg terlewat dan saling kami ceritakan. Wajah kami tidak banyak berubah, terus terang dari 15 yg hadir, kami dapat saling mengenali satu dengan yg lain walaupun beberapa baru bertemu kembali setelah hampir 20 tahun tidak bertemu. Satu yg kami yakini dalam pertemuan tersebut, ternyata sifat2 dasar yg kami kenal dahulu ternyata tidak berubah. Sepenggal cerita yg telah lalu, telah menjadi bagian dari hidup yg tidak dapat dipisahkan begitu saja. Terimakasih temans.

Wednesday, November 29, 2006

Tak kan kubiarkan

keponakan2 ku tercinta menjadi korban rating Smack Down.

Itulah janji yg gw buat ke diri gw beberapa minggu yl. Saat itu dengan lugasnya mereka bercerita tentang acara smack down. Duh, ciloko. Ternyata mereka memang tidak menonton (jelas2 sudah jam tidurnya), tapi apa mau dikata, ternyata teman2 di sekolahnya lah yg mengajarkan mereka apa itu dan bagaimana caranya meng-smack-down teman. Lagi lagi gw berpikir, duh ciloko.


Nasehat gw:.... (skip)
"... terus kalo aku dismack down temanku, harus gimana dong?"
Tollloooooooooong, saat itu hati gw berteriak.

Sesaat gw diam, lalu lanjut menjawab,
"Gini aja, uel ama uma lebih baik jangan maen dengan mereka yah".
Jawaban short cut yg gw pikir harus gw bilang itu, bisa ditebak dong kelanjutannya, dengan kritis mereka langsung menanyakan kenapa.
"Karena tante sayang kalian. Tante gak mau kalian jadi sakit gara2 maennya kayak gitu, nanti kalo sakit kan kita gak bisa berenang bareng2 lagi. Janji yah ama tante gak main begituan, oche?"
"Oche deh tante"

Gw pikir saat itu biarin deh ponakan2 gw dianggap gak gaul daripada jadi ngelakuin yang enggak enggak. Gw belum bisa menjelaskan alasan2 yg lebih "dewasa" atau yg katanya lebih rasional (catat: dalam kamus anak kecil belum ada kata rasional), biarlah seiring waktu akan mengajarkan mereka.

Hari ini ada laporan:
"Tante, tante, tadi temanku ngajakin main smack-down, tapi aku gak mau, kan aku dah janji 'tan mau berenang lagi di rumah tante."
Tanpa disadarinya senyum di wajah gw mendengarkan laporannya tersebut.

Terlebih setelah acara tersebut sudah jelas2 memakan korban. Apa sebegitu hausnya kah kita akan tontonan kekerasan sehingga dagelan pun harus bertemakan kekerasan? Dan ada lagi orangtua yg tidak mensensor tontonan anaknya... weleh weleh, ini pengenalan kekerasan yak?

Friday, November 24, 2006

Happy ThanksGiving

Although might not for all of us, thanksgiving day is still a good time to express thanks and appreciation.

So to the blog community, I'd like to thank
        • the blogger team for letting me advantage your service by writing whatever I like, and of course
        • to everyone who has been play a part in my life's journey. Cliche to say but true, without you guys I will not the way I am,
so .... thanks a bunch!

Lusi, riwayatmu kini

Lagi lagi ada dongeng yg menjadi kenyataan.

Sulit diterima akal yg sudah tumpul memang, saat orang bicara benar tapi disangka menakut-nakuti. Dan sulit dipercaya akal juga kalau urusan nyawa orang banyak menjadi bahan berantem.

Apa yg bisa gw lakukan? Jangan jadi businesswoman? too far to go. Sekarang at least gw mencoba sebarkan berita ini melalui blog gw ini. Lagi2 kami berduka bukan karna ketidak tahuan tapi lebih karna ignorance.

Turut berdukacita bagi keluarga para korban. God bless you.

Saturday, November 18, 2006

Bicara soal tamu,

gw memutuskan hari gw menerima tamu penting adalah malam minggu. Waktu itu tidak khusus untuk wakuncar, tapi juga untuk tamu2 spesial lainnya. Tanya kenapa? Malam minggu adalah saat dimana apartemen gw rapi, baju2 sudah tercuci bahkan sebagian sudah tersetrika rapi dan lantai pun masih mengkilap dan harum. Berbeda dg hari2 lainnya, tidak lain karena gw memang bertranformasi menjadi upik abu sejak jumat malam sampai sabtu pagi 07.50WIB.

Bicara soal tamu,
capeeeekkk deh (diucapkan dengan gaya yg lagi in) dengerin berita dimana2 cuman tentang tamunya Pak SBY yaitu Pak Bush, yg dari mulai protes sana sini, uang 6 milyard rupiah ludes buat persiapan yg cuman 6 jam, sampai2 katanya KiGendengP juga menyiapkan jurus2 pamungkasnya untuk membuat tamu katanya kehormatan itu tidak nyaman saat berkunjung nanti, tepatnya bagaimana gw gak ngerti juga apa doi jadi buang air kecil mulu, atau jadi gatel2, entahlah. Berlebihan memang, yah persiapannya, yah jurus2 penolakannya, yah semuanya deh. Sekolah yg diliburin gak lebih dari hitungan jari, tapi dalam seminggu ini banyak tuh mahasiswa dan pelajar meliburkan diri untuk berdemo, padahal mungkin saat hari-Hnya sekolah mereka tidak diliburkan secara resmi. Tanya kenapa?


Bicara soal tamu,
gw juga teringat di rumah bonyok gw. Kalau mau kedatangan tamu, mesti deh mama meminta kami beberes. Lantai harus disapu dan dipel bersih, mama akan memasak makanan khusus, dan seperti kebanyakan yg gw amatin setidaknya di lingkungan gw, peralatan makan dan minum untuk tamu hampir selalu berbeda dengan yg biasa dipakai sehari2. Waktu gw kecil dulu gw tanya kenapa, jawaban mama "piring ini, gelas itu, kobokan yg itu, piring saji ini sengaja memang mama beli buat tamu". Suatu hari waktu gw mengajak teman2 ke rumah, gw menyajikan es buah di mangkok coktail yg sering gw lihat dipakai untuk tamu (cocktail disini bukan berarti minuman beralkohol melainkan cocktail yg berarti es buah). Dua dari gelas coktail yg terbuat dari kaca warna warni itu pecah akibat kami asyik bersenda gurau dan menjatuhkannya tanpa sengaja. Mama tidak semarah yg gw duga waktu gw laporan, "yah sudahlah, kalian masih kecil untuk mengerti barang mahal" katanya. Tapi gw jadi tahu kalau gelas2 itu harganya tidak murah, itulah sebabnya lanjut Mama, beliau hanya menggunakannya untuk tamu2 spesial saja. Gw lega karena mama tidak marah dan sejak saat itu, kami anak2nya pun menggunakan barang2 khusus itu hanya untuk tamu2 khusus, termasuk di antaranya tamu2 penting kami di malam minggu. Setelah kami lebih besar, kami lah yg memutuskan tamu yg mana yg mendapatkan privilege menggunakan barang2 khusus tersebut. Kami pun bisa menggunakan barang2 khusus tersebut untuk kami sendiri, toh sekarang kami sudah mengerti caranya menjaga barang mahal.

Lagi bicara soal tamu di rumah gw,
kalau tamunya Pak RT misalnya, persiapannya tidaklah terlalu heboh. Tapi kalau tamunya pejabat kantor bapa, adalah beda persiapannya. Gw juga belajar kalo kedua ortu gw bukanlah orang gila hormat, apalagi mama seorang guru di sebuah SMP negri. Kalau yg bertamu teman2nya mengajar, mama pun memperlakukannya seperti menerima tamu pejabat kantor bapa itu. Namun kalau tamu2 nya saudara dekat, mesti deh persiapannya minimalis, alasannya mereka bisa menerima bagaimana pun keadaan di rumah. Toh mereka tidak berhenti di ruang tamu, melainkan tidur pun bersama2 dengan kami tanpa perlu mengganti sprei kalau memang masih bersih. Suatu hari persiapan menyambut tamu agak istimewa tapi kami jg gak heran, karena yg mau datang adalah keluarga calon kakak ipar gw untuk acara lamaran. Setelah kakak gw menikah, kedatangan keluarga dari suaminya berubah menjadi lebih biasa2 saja, pan sudah menjadi saudara dekat.

Jadi bicara soal tamu di lingkungan terdekat gw itu,
tamu2 disambut berdasarkan kepentingannya. Dalam banyak hal, yg tahu kepentingannya yah mereka itu, kedua ortu gw. Saat itu gw dan saudara2 hanya menjalankan tugas membantu menyiapkan rumah saja. Terkadang yg kami tahu pun hanya terbatas kalau yg mau datang adalah temannya bapa/mama tanpa tahu namanya, apalagi misi kedatangannya. Walau tamunya kami gak kenal, tapi dari persiapannya biasanya kami bisa menebak takaran kepentingan tamu tersebut. Tapi apa yg penting buat ortu gw waktu itu, belum tentu sama penting untuk gw dan saudara2 gw. Juga belum tentu gw mengerti, karna yah gw memang belom saatnya mengerti. Misalnya saja waktu gw masih kecil itu, kedatangan kepala sekolah tempat mama mengajar tentu penting buat mama, tapi buat gw dengan pengertian saat itu, kedatangannya mengganggu waktu gw nonton TV dan bikin capek nyapu dan ngepel rumah saja. Padahal, kalau kami menyambutnya dengan rumah berantakan misalnya saja, adalah mungkin kredibilitas mama sebagai guru bisa saja dipertanyakan dan selanjutnya bisa ditebak. Itu memang hal yg terkadang kami waktu kecil tidak mengerti, kenapa sih harus sudah mandi rapi sebelum jam rutin kami mandi, atau tidak boleh duduk/tiduran di lantai, atau TV yg harus dimatikan dan belajar di kamar, padahal pan enakan ngerjain pe-er sambil nonton misalnya. Tapi yah secara tv ada di ruang tamu, kami deh yg harus ngalah. Nah, begitu ortu bisa membeli rumah yg lebih besar dan ruang TV pun terpisah dari ruang tamu, mulai saat itu kami bisa tetap menonton TV saat bapa/mama menerima tamu.

Kalau gw sangkut pautin bicara soal tamu yg tadi itu tuh,
mungkin yg ngerti cuman Pak SBY dan teman2nya. Tapi, apa kepentingannya buat gw yah? Apa gw harus mendukung gara2 katanya ada kepentingan buat peningkatan kesehatan balita, peningkatan pendidikan, pemerataan kesejahteraan? Secara gw udah membaca "Confessions of an economic hit man" dan juga sering melihat Bush yg awalnya dicaci maki rakyatnya sendiri berubah menjadi super power man tapi dicaci juga, bahkan sekarang partainya mulai digoyang. Gw juga mempertanyakan banyak hal. Apakah hal2 yg dimaksud sebelumnya itu adalah benar bisa dilakukan oleh sang tamu? Walau bagaimana pun, mesti kepentingan yg berbicara, namun bukankan kepentingan adalah salah satu hal yg abadi dalam dunia ini?

Kalau doi namu di rumah ortu gw sih gampang kalau gw harus menentang tamu. Bisa saja dengan tetap menonton TV dan menyetel volumenya keras2 misalnya. Dengan berjalan mondar mandir mengganggu pembicaraan mereka dan membuat jengah sehingga tamu segera pamit. Dengan mencampurkan pencahar ke teh manis/kopi yg mama suruh kami sajikan. Dengan memecahkan peralatan makan/minum khusus secara sengaja, setidaknya mencoba membuat mama jera membeli peralatan makan yg lebih mahal dari yg biasa kami pakai. Namun itu pun tidak pernah bisa kami lakukan, karena pengajaran yg ditanamkan di rumah itu adalah kami harus menghormati tamu salah seorang anggota keluarga. Kalau memang tamunya tidak diundang dan tidak diinginkan, mesti sudah ditolak di pintu gerbang dan tidak bisa masuk ke rumah kog.

Tapi bicara soal tamunya negara,
kalau Indonesia memang benar adalah tanah air beta dan Pak SBY adalah presiden yg dipilih, tentunya berbeda dengan ortu yg tidak bisa dipilih, mempertanyakan kepentingan kedatangan tamunya adalah hal yg sah2 saja. Kalau memang ada kepentingan yg kami belum mengerti, tolonglah kami menjadi lebih dewasa untuk mengerti. Kalau memang kami belum dewasa, terima kasih untuk memperlakukannya dengan arif. Nah saat ini yg gw liat, 6 milyard buat kunjungan 6 jam kayaknya berlebihan deh.


Sunday, November 05, 2006

Je veux vivre

* Courtesy of Faudel

Pada suatu waktu di saat dingin sampai menusuk ke tulang di UK, room-mate gw asal Algeria NadiaLouail bersenandung lagu berbahasa arab dengan riangnya. Tanpa mengerti lagunya, senandung ini menemani kami (+ LiNing) melewati malam bersama bulan purnama (my favorite scene: full moon in winter!). Gw dan LiNing ngikutin senandungnya dengan berdengung2 aja.

Eh pas ngedengerin lagu ini, kebetulan di bawah sinar bulan purnama tapi tanpa winter dan kedinginan, kebetulan lagi penyanyinya rada2 mirip Nadia (pol dengan jaket kulit kebangsaannya), gw jadi teringat senandung itu... quite a chance.

{Refrain:}
Je veux vivre, vivre
Bahri n'hich, n'hich

Je veux vivre pour manger touts les livres
Je veux vivre pour connaître les enfants
De mes petits enfants, pour atteindre 100 ans
Pour atteindre 1000 ans, pour être heureux et libre

Je veux vivre pour courir sur la grève
Je veux vivre pour embrasser mes rêves
Pour embraser mes jours pour connaître l'amour
Et les heures qui enivrent, je veux vivre

{au Refrain, x2}

Je veux vivre toutes les joies de la terre
Je veux vivre et parcourir les mers
Je veux vivre pour sonner la planète
Sans en laisser une miette, je veux voir toutes les villes
Plonger de toutes les îles que leur ciel me délivre

{au Refrain}

Je veux vivre pour avaler le monde
Je veux vivre de mondes qui frissonnent
De milliers de pays de millions de personnes
D'un milliard de récit, je veux pouvoir les suivrent

Je veux vivre sans jamais m'assoupir
Je veux vivre sans jamais me trahir
Pour que chaque saison recolore mes passions
Pour dévorer le temps qui cesse de me poursuivre
Je veux vivre...
Bahri n'hich...

Pour ce que lorsque la mort viendra me faire, un sort
Elle ne puisse jamais, jamais déraciner tout ce que j'ai planté
Tout ce que j'ai semé qui me fera survivre

{au Refrain, x2}

D'après Faudel, cette chanson est écrite et composée par deux jeunes toulousains, est plus qu'une chanson : c'est un véritable hymne à la vie et à l'amour.