Monday, December 19, 2005

Something Good in Monday

Absolutely rewarding being a woman when reading this line in Monday late-afternoon,

"Like anyone else, there are days I feel beautiful and days I don't and when I don't, I do something about it"
(Cherryl Tiegs - Model)

written at femina's give away new calendar 2006.
done by me by putting my lovely pearls' necklace to brighten my black wardrobe today.

Can't wait new year 2006 with its new hopessss(s) and new blessingsssssss(s)

Monday, December 12, 2005

Siapa yang Salah?

Heboh. Benar2 heboh. Saat dia bergoyang, penonton menjadi riuh. Saat dia bernyanyi, suara pas2an pun tak lagi menjadi persoalan. Lagu apa pun tidak menjadi masalah. Lebih penting saat dia bergoyang. Menguasai panggung dengan lekuk tubuhnya yang “tak bertulang”, dengan gerakan2 yg mengundang helaan nafas beberapa orang.

Yang menyukainya segera seakan berlari mendekati panggung. Yang benar2 tidak menyukainya segera beranjak pergi. Ada juga yang tidak mengerti apakah mereka suka atau tidak suka, dan memilih untuk tetap tinggal menonton demi rasa penasaran. Ada juga yang mengaku bingung untuk bereaksi. Dibilang suka tapi yah kog tidak suka. Dibilang tidak suka tapi masih “kuat” untuk menikmati hiburan yang dipertontonkan. Memang, ada yang tidak suka tapi tetap menonton demi rasa penasaran, tapi mungkin juga ada yang suka tetap menonton dengan diam termangu atas nama ja-im (jaga image). Ada juga yang terpaksa menonton demi menunggu pengumuman doorprize memperebutkan home theatre.

Itulah kondisi yang gw liat di penampilan seorang artis dangdut yg tengah naik daun di acara tahunan Ste.Barbe Day 2005 di kantor gw. Menurut sejarahnya. acara Ste. Barbe merupakan budaya di negara2 Eropa Barat (khususnya yg masyarakatnya mayoritas katolik). Pada "Ste.Barbe Day" menurut tanggalan katolik, masyarakat pertambangan (termasuk oil & gas industry) mengucap doa syukur atas hasil tambang selama setahun dan memohon perlindungan sang Sainte Barbe (= Santa Barbara) untuk masa tambang tahun berikutnya. Seiring jaman berlalu, pergerakan budaya pun berubah. Acara Ste.Barbe sekarang ini kebanyakan menjadi ajang pesta, walau tetap ada unsur "laporan hasil tambang" selama setahun. Hiburan dan makan-makan pun menjadi bagian yg lebih penting daripada doa permohonan dan ucapan syukur.

Sama halnya dengan perayaan Ste. Barbe di kantor gw yg sarat dengan suasana hiburan, makan-makan dan door prize. Meski pada hari itu juga, "Bapak Pimpinan" mengumumkan "hasil tambang" tahun lalu dan menghimbau para karyawan untuk bekerja lebih baik di tahun mendatang. Tak ada unsur agamis sama sekali. Wajar saja, Perancis sekarang pun sudah "laique" (= non-religious dalam kegiatan lain selain kegiatan yg ditujukan untuk keagamaan).

Sang artis membuat pernyataan bahwa dia hanya menghibur. Sementara penonton pun membuat pernyataan bahwa mereka hanya menonton sebuah hiburan. Urusan itu maksiat atau bukan, tidaklah menjadi tanggung jawab mereka. Menghibur adalah bagian dari pekerjaan hari2nya, periuk nasi sang artis. Tanpa melihat mengapa dia harus melakukan hiburan seperti "itu". Lalu, siapa yang salah?

Kontroversi berjalan terus tentang pantas atau tidaknya artis “panas” menghibur masyarakat yang (sebagian) mengaku bukan kelas “buruh”. Yang gw sesali, bukanlah nasi telah menjadi bubur karena kekurang pengetahuan penyelenggara tentang kebiasaan panggung sang artis, melainkan noda hitam oleh segelintir orang.

Beberapa menudingnya telah memanaskan birahi selama dua jam meliuk2-liuk. Ia pun dituding pantas menerima perilaku kurang ajar yang terekam oleh gambar2 yang telah beredar luas. Peredaran foto di jaman sekarang ini sangatlah mudah sejalan dengan internet dan email, tapi berpikirkah orang yang mengirim bahwa perbuatannya itu merubah nasib seseorang?

Gw jadi teringat pengalaman mewawancarai dan menyaksikan langsung kehidupan WTS yang dilokalisasi di Kali Jodoh, Jakarta. Walau tidak setuju dengan cara yg ditempuhnya, tapi begitu kuatnya keterdesakan yang membuat mereka mencari jalan keluar yg mudah demi kehidupan yg lebih baik. Kehidupan yang dirasa pantas untuk dirinya, keluarganya, kebanyakan dari mereka untuk anak2nya. Siapa yg salah?

Mungkin demikian halnya dengan para artis atau pun penari latar yang saat ini marak dengan baju minim dan gerakan meliuk2kan tubuh secara sensual. Menjual suara saja menjadi tidak cukup. Ada yang menjual tubuh dan lekukannya dengan elegan dan tidak menjadi tontonan publik, namun tidak sedikit pula yg menjualnya untuk kalangan jutaan penonton televisi.

Masyarakat awam pun mempunyai beragam reaksi. Ada yg suka ada yg tidak suka. Siapa yg salah kalau pornografi dan pornoaksi begitu sulit dihapuskan?
Bukankah ini aksi dan reaksi? Ada gula ada semut.
Salahkah mereka yg menyukai tontonan itu?
Salahkan mereka yg terpaksa mempertontokan tubuhnya (yg awalnya) demi sesuap nasi?
Bisakah mereka yg mencemooh membantu mereka keluar dari lingkaran setan? Bukan dengan doa, namun dengan perbuatan nyata.
Bisakah mereka membantu dengan memutuskan rantai mafia perdagangan artis atau pun WTS?
Bertanggung jawabkah masyarakat terhadap kehidupan anak mereka?

Waktu gw sendiri berada berhadap2an dengan mereka, gw bener2 speechless. Gw gak bisa membenarkan pilihan mereka, tapi saat itu gw juga gak bisa menolong mereka. Namun, saatnya sekarang gw bisa menolong mereka. Gw memang gak bisa terjun langsung seperti beberapa teman gw, tapi moga2 kesempatan membantu di belakang layar bisa memberi mereka pengetahuan, menuju hidup yang lebih bermartabat dan "socially correct".

Gw jadi teringat lagu lama “Kupu-kupu Malam" oleh Mbak Titiek Puspa, yg dinyanyikan (kembali) oleh Ariel Peterpan,

Ada yang benci dirinya
Ada yang butuh dirinya
Ada yang berlutut mencintanya
Ada pula yang kejam menyiksa dirinya

Ini hidup wanita si kupu-kupu malam
Bekerja bertaruh seluruh jiwa raga
Bibir senyum, kata halus merayu memanja
Kepada setiap mereka yang datang

Dosakah yang dia kerjakan
Sucikah mereka yang datang
Kadang dia tersenyum dalam tangis
Kadang dia menangis di dalam senyuman

Oh .. apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tau Tuhan penyayang umatnya
Oh .. apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tau hanyalah menyambung nyawa

7 Desember 2005, Ste.Barbe Day

Monday, November 28, 2005

Kompak


Gw baru pulang dari sports meeting. Agak2 lucu memang di kantor ada "meeting" adu laga cabang2 olahraga. Gw jadi teringat classmeeting waktu jamannya SD/SMP/SMA dulu, dimana gw selalu antusias banget. Sekarang pun antusias gw dengan sports meeting sama aja. Apalagi, acaranya diadain di Lembang yg notabene kota kenangan masa2 indah dan tentunya Bandung, kota kita.

Salut untuk panitia yg telah merancang dan bisa menuntun peserta mengikuti jadwal acara yg padat dengan cukup baik. Thanks guys.

Satu yg gw lihat berbeda dari acara berbau urusan kantor atau pun acara yg melibatkan orang2 kantor, ternyata (memang) kesamaan hobi berolahraga membuat suasana silahturahmi sangat menyenangkan. Kami sangat kompak dalam berbagai hal. Kami bertanding, bertegur sapa, bercanda ria, dengan suatu semangat sportivitas yg kami kenal melalui pengalaman berolahraga.

Sungguh, suatu pengalaman yg menyenangkan. Tentunya dengan bonus foto2 indah trekking di Jayagiri, sekaligus mengenang nostalgia trekking thn 1995.

Monday, November 21, 2005

Tell Nothing but The Truth

It is true that sometimes I lie. In special circumstances, it is most likely because I have to do it. Be it not to hurt somebody or not to hurt myself. But I am not a good liar. Every time I had to lie, I am sad and have to convince myself that the opposite will be even worse. In the other side, when I tell the truth but they don't think that I am telling the truth, I am also sad. So???

Is it so difficult being a purely honest person? When somebody asks this question, I would answer 'yes', of course I am not denying that exceptions exist. But people deal with lies everyday and thank God that we have a choice to believe it or not. We have freedom to choose telling lie or not. Wondering if people always tell the truth I think is too naive.

It applies when we critique on others. Shall we tell the truth though it hurts? Or tell lie since we can't bear to see a disappointed face? When I have a choice, after thinking the consequences, I would rather tell the truth and offer myself to help him/her to remedy the pain it might causes. Though it hurts you, but believe me, I won't let you die *something poetic like that*

For me, it is an arguable statement that we have to accept all the constructive critique about ourselves or about our choice (in anything, most common in life) or about things we've taken for granted. Some say that we should accept constructive critiques for our own good, I agreed. But, who define whether or not it is constructive. When it comes to a personal choice of an adult-minded-person, I believe s/he is the only person who can make this decision, and not anybody else.

Why I say so? When people tend to critique somebody, I assume that it should be a constructive one, forget about an intentional mental-breakdown-er who like to see others fail. But, how the people accept it, is totally depend on his/her current well-being state.

It depends also on how it is delivered. And, who is the talker. One should not be a smoker when preaching a lung cancer prone by smoking hazard (a radical example). Some critique can be in a soft-spoken sound or in a thunder or desperate scream.

I would remind myself that:

1. In several cases it might started from us. We are in position to make others think that we are always in their side almost in anything (ref. Desperate-Housewives 17-11-05) . We have yet previous experience when we have a different opinion with the person.

2. Sometimes, we don't let others know us well to make our points clear. They misjudge that we are only imposing our beliefs and expecting them to be like us. Which is not always the case.

3. and some other times, we have selective amnesia by easily forgetting that we have changed, then so does other.

Oh myself, please remember these three points... always!

* for Inul, it's all up to you on how you accept the critique, but keep smiling and look forward.
** for Yanti, go go go, fight fight fight and WIN !
*** for Elly, my choices might not yours.
**** for my sister, Hana, I am happy that you made that decision.

Wednesday, November 16, 2005

Selingkuh

Ini topik basi setelah bertahun2 gw menyaksikan seliweran perselingkuhan.

Kira2 tiga minggu yg lalu, gw makan malem bareng temen lama yg sedang berkunjung ke Balikpapan. Kami saling mengupdate kehidupan masing2. Dia gak banyak berubah, masih tetap womaniser yg gw kenal; simpatik dan easy to talk to.

Pengalamannya melanglang dunia katanya somehow membuat dia yakin kalau dia harus mencari soulmatenya. Dia bilang, suatu hubungan harus membawa manfaat dan memberikan kebahagiaan *sama dengan prinsip silahturahmi yg baik yg saling membawa berkah*. Tambahnya, kalo hubungan tidak memberi kebahagiaan, alias bikin pusing, berarti hubungan itu harus berakhir. Nah, in the spirit mencari soulmate itulah dia gonta ganti “pacar”, atau yg biasanya dia sebut “teman”, teman tapi mesra.

“Yah, caranya gak gitu dong. Gimana elu mau ketemu yg pas kalo baru ada masalah dikit aja langsung bubar. Hubungan kan harus dipertahankan, bukan cuman dimulai, terus seneng2, eh pas gak cocok dikit aja langsung putus.”
"Iya sih 'Tha, tapi gw gak bisa tuh”
"Bukan gak bisa sih kalo kata gw. Elu aja yg nggak mau bertahan dan kompromi. Mau nyari yg ideal, nah elunya sendiri ideal kagak?”
"Gw nyari yg ideal buat gw”, jawabnya kalem dibarengi dengan senyumnya.

“Iya lah, gw ngerti. Tapi yah elu gak bisa dong baru kenal 2-3 bulan langsung ngarepin bisa ngertiin elu 100%. Butuh proses”, jawab gw berapi2.
“Iya, iya ‘Tha. Gw buktinya bisa cocok ama elu yah 'Tha, selingkuh aja yok”
“Udah deh, jg coba2 bikin gw nyesel nih kenal elu”
“Iya, iya, maap 'Tha. Jg marah yah, jg nyesel kenal gw. Bantuin gw dong nyariin yg cocok. Pliiiissss 'Tha. Pilihan elu kan pasti baik”
“Enggak ah. Elu cari ndiri aja, salah2 nanti pilihan gw dikadalin. Gak mau gw.”

Dia bilang dia merasa telah gagal mengenal perempuan, dan dia akan keep searching dan tetep jadi playboy. Suatu ikrar yg aneh. Gak nyambung deh. Kayaknya emang dia aja yg gak bisa lihat cewek cakep. Tapi biasanya ujung2 curhatnya ke gw akan bilang kalo si A gak enak diajak ngobrol lah, si B cemburuan lah sementara si C doyan belanja. *halah*

Cowok II.
“Halo. Eh, sayang“ ... “Iya, lagi sarapan ama Artha. Kamu dimana?”... “ehhm, bentar yah, ada telpon masuk...

“Halo. Eh, kamu“ ... “Lagi sarapan ama Artha. Kamu baik2 aja kan, suaranya kayak flu yah” …”Eh say, udah dulu yah, dah ditungguin nih buat bayar”

(kembali ke penelpon pertama)
“Maaf sayang, barusan telpon dari kontraktor. Biasa lah. Gimana tadi, kamu dimana?“
Huuuuu, sebel deh. Ngedengerin gombalan temen2 gw itu jadi hal biasa. Gw dah bilang ama temen2 gw yg tipe Don Juan alias buaya darat alias playboy ini kalo gw gak bisa terima dia mainin kaum gw, tapi di waktu yg sama gw juga gak bisa ngelarang. Mereka udah gede ah bahkan banyakan yg lebih tua dari gw. Tapi, gw gak bisa kompromi kalo mereka terus beraksi sesudah menikah. Saklar labrak langsung gw langsung ‘on’.

Bagaimana kalo kita jadi korban perselingkuhan? Kata-kata ini pernah gw berikan ke temen kuliah gw yg dikadalin cowoknya dan merasa dunia akan berakhir tanpa dia. “Ya ampun, masih banyak cowok lain lagi. Mulailah berteman lagi. Jangan berhenti mencinta hanya karna seseorang berhenti mencintaimu” easier to say than to do *sigh*
Dan saat ini dia bisa berbahagia dengan suami yg mencintainya, sementara sang mantan yg akhirnya menikahi selingkuhannya malahan diselingkuhin setelah mereka menikah. Nah lho!

Enggak aja. Gw gak mau selingkuh. Sama seperti kenapa gw gak mau ngerokok atau ngobat. Not even try. Menurut gw, selingkuh itu banyakan gak enaknya daripada enggak selingkuh. Efek samping dan akhirnya pun jelek, dan lebih2 menyakitkan banyak orang lain daripada diri sendiri.

Hindari sedini mungkin. Cobalah untuk setia. Pasti bisa. Kalo gak bisa dan pernah gagal, teruslah menghindar dan mencoba untuk tetap setia.

Stop perselingkuhan, prens.

Friday, November 11, 2005

Pertaruhan yang Mulia

Di era modern ini bisa dibilang menikah, melahirkan dan menjadi seorang ibu adalah suatu pilihan. Meski tidak demikian halnya di masa-masa sebelumnya ataupun di lingkungan masyarakat tertentu. Melahirkan dan menjadi ibu adalah kodrat yg harus dipenuhi seorang wanita dewasa. Ketidakmampuan menjadi seorang ibu pun dianggap suatu cacat.

Nining, teman dari sahabat gw, telah memilih untuk melakukan pertaruhan besar untuk menjadi seorang ibu. Anak pertamanya kembali ke pangkuan Tuhan setelah hanya dua bulan ditimang dan dipangkunya. Kemarin, Nining kembali melampaui pertaruhan mulia itu dengan melahirkan anak keduanya. Namun sebelum semuanya selesai, ternyata Tuhan punya rencana lain, ia harus kembali kepadaNya. Sang anak tidak akan pernah melihat raut wajah ibu yg telah berjuang keras dan kesakitan untuk melahirkannya di dunia ini.

Monic pun demikian. Sebelum semuanya selesai, dia harus pulang tanpa sempat melahirkan Aleyska. Mereka telah bersama abadi. Gw tahu betapa Monic sangat menyayangi Patrick dan meninggalkannya secepat itu mungkin tidak pernah terbayangkan.

Tadi malam dengan bodohnya gw sampai bertanya pada Tuhan, kenapa yah teman2 gw harus mengalami hal itu. Bukankah mereka melakukan pertaruhan nyawa tersebut bukan untuk kebahagiaan mereka semata. Meski gw percaya bahwa semuanya sudah diatur dan jadi seturut kehendakNya, gw masih butuh waktu untuk bisa memahaminya.

Mama, terimakasih yah telah melewati pertaruhan itu buat gw. Terimakasih telah memilih menjadi ibu dan melahirkan gw. Gw memang belum merasakan sendiri sakitnya persalinan, tapi gw tahu, pilihan yg Mama lakukan dengan sadar itu, mempertaruhkan nyawa mama sendiri. Terima kasih Tuhan buat mama.

Buat Nining dan Monic, tiba saatnya nanti, akan gw ceritakan pada anak-anak kalian betapa sayangnya kalian pada mereka. Gw akan tunjukin foto2 saat kita masih bersama, tertawa dan memimpikan mereka. Mereka harus tahu kalau keberadaan mereka adalah wujud cinta kalian yg bisa bersama dengan mereka selamanya. Walaupun bukan mau kalian untuk meninggalkan mereka dalam waktu yang sangat singkat, tapi gw akan sampaikan bahwa menjadi ibu mereka adalah pilihan mulia kalian. Selamat jalan teman, beristirahatlah dengan tenang.

Wednesday, November 09, 2005

Just Married

"At the end of the beginning, we don't know that there will be no the end. We keep continue to regard every step as the end of the beginning. This way we know that there will be no true the end other than faith"

[Artha for Dyah dan Krishna]

Tuesday, November 08, 2005

My simple wish

I'm not a holy one. I'm a sinner. I have God's words in my small brain but I do mistakes anyway. I am alive because I know God's wills have yet finished on me. I don't know why and when it will be. It's His secret. Nobody has right but His will.

I am deeply sad. I am not judging you either; please give me no war but peace and hope. My simple wish.

- In memoriam of two girls at their seventeen were shot by incognitos in Poso 8.11.2005 -

Monday, November 07, 2005

Writeless


Pictures tell thousand words?

My words might not enough to descripe things I explored in this trip. I tried to enjoy it to the fullest as usual though it's a bit pricy to my style. Last time I visited thousand islands was with a backpacker style, apparently not this time. I convinced myself that I deserve it :-)

Thank God, especially this time for the THR and the possibility to enjoy this beauty.

Pulau Putri, 4-6 November 2005

Thursday, November 03, 2005

Selamat Idul Fitri

Maaf. Bukan kata yg susah untuk diucapkan. Namun bukan kata untuk diumbar begitu saja. Kata maaf yg indah mewakili perasaan hati yg tulus dan ikhlas merasa bersalah memohon pengampunan. Saat kita sadar telah salah melangkah, alangkah indah menerima pengampunan dan pelukan erat yg hangat. Walau jarak memisahkan satu dengan yg lain, maaf yg tulus bisa menyatukannya kembali.

Orang marah saling berteriak sedangkan orang pacaran maunya dekat-dekat. Saat hati bersih dan tak terluka, memandang pun bisa menjadi ucapan. Namun saat hati marah dan terluka, sekedar bersuara pun menjadi tak cukup.

"Walau tangan tidak kuasa berjabat, setidaknya kata masih dapat terungkap, setulus hati mengucap: Selamat Idul Fitri, maaf lahir dan bathin."

Memang itu bukan kata-kata ciptaan gw sendiri - terimakasih untuk NN yg telah menuliskannya dengan indah. Tapi dibalik tulisan itu, adalah hati gw sendiri yg tulus meminta maaf lahir dan bathin.

Monday, October 31, 2005

Mimpi dan ambisi

Gw gak kaget waktu pertama kali mendengar berita perpindahan Pak Sas dari ITB ke desa Sitoluama untuk menjadi direktur Politeknik Informatika Del. Komentar gw saat itu, "Wah, Pak Sas pasti senang bisa mewujudkan mimpinya". Walaupun terkesan kalimat itu terlalu cepat diucapkan dan Pak Sas sendiri mungkin juga belum merasa mewujudkan mimpinya, namun itulah yg pertama kali terbersit di pikiran gw.

Beliau salah seorang dosen yg terus terang gw punya mix feelings, antara kesel, sebel, kagum, salut dan juga seneng lihat senyum manisnya (jg ge-er Pak!). Pak Sas lah dosen yg pertama kali memberikan nilai hasil ujian F, waktu itu gw tahunya nilai terburuk itu E. Gw langsung kaget aja dan ngerasa begoooo banget....:-)

Celetukan beliau yg terasa pedas ternyata bisa gw lihat 'mengganggu' telinga beberapa kalangan, baik mahasiswa maupun dosen. Pendapat2nya yg antik dan terkadang nyeleneh memang sulit dicerna. Bahkan di kalangan mahasiswa ada pendapat kalau bicara dengan Pak Sas berarti lawan bicara sedang mengalami pencucian otak.

Suatu pagi sebelum ujian akhir dibagikan, beliau bertanya kepada seorang mahasiswa:
"Kamu lulus ujian?"
"Lho, ini baru mau ujian kan Pak"
"Iya saya ngerti, tapi kamu lulus gak?"
"Belum tahu Pak"
"Ya berarti kamu gak lulus"
"Kenapa gitu Pak?"
Saat mengajukan pertanyaan ini muka sang mahasiswa sudah merah dan kesal. Kelas sangat tenang, kami menunggu jawaban beliau. Dengan santainya Pak Sas menjawab,
"Justru saya bertanya karna ini ujian akhir. Kalau kamu yakin dengan apa yg kamu pelajari selama ini, harusnya kamu yakin lulus. Kamu aja gak yakin, bagaimana bisa lulus?"

Kami terhenyak dan gw menebak2 mesti soal ujiannya susah deh, abis Pak Sas senyum2 gak jelas gitu. Dan ternyata, damn betul. Saat menjawab soal itu gw sendiri jadi gak yakin bakalan lulus. Selesai ujian ternyata temen2 lainnya juga ngerasa hal yg sama. Sebelllll banget saat itu. Syukurlah gw lulus walaupun gak ngerubah sebel gw waktu itu.

Kalau gw melihatnya, beliau memiliki dimensi pandang yg berbeda dengan orang kebanyakan. Namun seperti biasanya, hal yg tidak biasa tentu tidak selalu jadi populer. Beberapa menganggapnya idealis, dan mencap tidak realistis. Kekaguman gw sama dia juga karna dia bisa bertahan menjadi seseorang yg berbeda, yg menurut gw bukan berarti (selalu) lawan arus.

Namun, saat mimpi dan ambisi yg selalu didengung2kan bisa menjadi suatu kenyataan, mungkin ini bisa menjadi secercah harapan untuk bangkit dan membuat mimpi2 baru, mengejarnya, meraihnya dan menyerahkan semuanya pada Tuhan, sang arsitek mimpi.

Bubur Kampiun

In my searching for a good Indonesian dessert, Ramadhan is a worth-mentioned month for that. Public market called “Pasar Ramadhan” in various sizes appears in many 'quartier' in Indonesia, so does in Balikpapan. But unlike Jakarta, people here have enough time to go home for fasting break. So most just come to the market to buy the food and eat them at home.

Not so different with other Ramadhan, this year I also take this opportunity to do my hunting for a good dessert. Though compared to Jakarta, I don't see many families or friends jotted together into the provided tents and break the fasting together. Oh, I miss it!

Many desserts sold in this market. The favorite now and then fasting breaker is 'kolak' (= banana and sweet potatoes in coconut milk-palm sugar soup) and 'whole coconut with ice and syrup" come along with other sweets. But the creativity does not stop there. When one type of food can't be enough, why not mix it all?!

Here it comes, BUBUR KAMPIUN (= champion porridge), name so for that is the champion among sweet porridges! It is blend of other sweet porridges that cooked separately and then mix before serve/eat. Maybe in the past, one guy happened to mix all the porridges served in the table and liked it, and since then it becomes as the tradition. *Maybe, I don't know*

This dessert is famous almost all over Sumatra with some variety, but the original some people say, comes from West Sumatra. I am not disagreed with that; the truth is I like it. Must-there items are kolak, bubur sumsum (= rice-flour cooked in coconut milk), bubur candil (either sweet potatoes or sticky-rice in coconut milk-palm sugar syrup), bubur kacang ijo (= green-bean porridge), bubur pulut hitam (= black-sticky-rice porridge) and srikaya (made of yolk, coconut milk-palm sugar syrup). The modification can include lempok (= durians sweet), ketan uli (= sticky-rice sweet) or wajik (= rice-coconut milk-palm sugar sweet) etc... *nyam nyam*

Some nutrition and dieters will say not-so-good comments about this 'bad' combination of such fat and high content carbo, but I don't think stopping it is an option for everybody. Just be on earth; why not try this not-everyday sweet. If you happen don’t know where to find these sweets, go and search quickly, or just hop into a traditional market. Don’t miss it!

For the sweet lovers, you have to try it! When American is famous of cookies and French is famous of croissant, in fact Indonesian is famous of 'jajanan pasar', name for variety of desserts that (in the old days) being sold in the market. Indonesian makes desserts almost from any fruit, and we are rich in the variety of fruit, this brings us rich in variety of this hors-d'oeuvres jajanan pasar.

Tuesday, October 25, 2005

25.10.2005

Hari ini tepat 12 tahun sudah kita bersama. Kutemui diriku tetap menyayangimu dan tetap merasakan kasih dan sayangmu. Selamat pagi dan selamat ulang tahun telah saling kita sampaikan. Kita saling mengingatkan untuk terus mendukung dan menyayangi seperti saat ini.

Salah satu lagu kita mewakili perasaan hatiku pagi ini. Sejak pertama kali kunyanyikan lagu ini di th'99, lagu ini jadi maskot pernyataan tulus terima kasih buat kasih sayang yg kau tawarkan. Buat hari2 yg kita lalui bersama, dengan tawa terbahak2, dengan senyum dikulum, juga dengan tangis berurai air mata (walau itu sangat kau benci).

Kau, satu terkasih,
kulihat di sinar matamu, tersimpan kekayaan batinmu.
Di dalam senyummu,
kudengar bahasa kalbumu
mengalun bening menggetarkan.

Kupercaya hanya dirimu paling mengerti

kegelisahan jiwaku dan arti kata kecewaku
Kuyakin hanya engkau yg paling memahami besar arti kejujuran diri.
Kasih, (sungguh) indah sanubarimu.
Kini dirimu selalu bertahta di benakku,
dan aku pun berjanji kan mengiringi bersama di setiap langkahmu.

Kau, seseorang yg kukenal tulus hati dan mau menolong siapa saja, datang mengetuk pintu hatiku 12 thn y.l menawarkan untuk melalui hari2 bersama. Kuakui tak ada sesal di hati ini walau banyak rintangan yg kita lewati. Kupanjatkan doa untuk hari2 selanjutnya. Semoga Tuhan mendengar pinta kita.

**) modified [Bahasa Kalbu]. Original lyrics sang by Titi DJ

Monday, October 24, 2005

Sate Padang dan Air Jahe Hanget

Pernah gak kepikiran makanan apa yg paling enak di kala bete?
Catatan: berhubung banyaknya arti kata bete, artinya yg gw pake saat ini *bete = kesal*, kecuali dijelaskan berbeda.

Tadinya gw pikir sih buat gw, semua makanan juga bisa jadi enak kalo gw lagi bete. Sampai akhirnya terpikir lah suatu teori tentang kejadian2 kecil yg kalo dihubung2kan ternyata menjadi suatu kebiasaan rutin (please deh! susah banget nulisnya). Misalnya, kalo kita lagi meler karna pilek mesti nyari tissue, kalo lagi kangen nyokap pasti nelpon, atau misalnya kalo kebanyakan makan sambel pasti bolak balik WC. Maksudnya, ada kejadian2 tertentu menghasilkan respon tertentu juga, yg terkadang sudah otomatis. Pokoknya gitu deh!

Nah, salah satu kejadian2 kecil itu, ternyata...., gw kalo lagi bete pengennya makan sate padang dan minum air jahe hanget. Tadinya gw pikir2 ini mah gw doyan, gak usah nunggu bete juga waktu di Bandung mah makannya sate padang mulu... *langganan gw yg di depan unpad, menuju ke kost2an gw di sukasari*
Dan, ternyata..., setelah gw runut2 bener juga deh, mesti hari biasa gw bisa aja makan apa aja, tapi kalo lagi bete, mesti deh cacing2 gemuk di perut gw minta2 sate padang.

Sebenarnya gw baru kenal (banget) dengan sate padang yah di Bandung itu. Nyokap sih pernah bilang kalo waktu kami tinggal di Roxy, gw beberapa kali juga makan sate padang (yaaahh, gw kan gak inget lagi). Waktu di Bandung, biasalah anak kost, tiap malem nyantengin makanan di tenda2 kecil depan Unpad. Di tempat itu lah pertemuan kembali gw dengan sate padang. Sate padang yg dijual di situ katanya sih gak asli, karna bahannya daging. Katanya kalo yg asli hanya jeroan aja. Lama2 makan sate padang jadi kebiasaan harian, pilihannya kan pecel lele - sate padang - ayam bakar - bakso malang - untuk minggu ini. Minggu depannya diulang dari awal pecel lele - sate padang - ayam bakar - bakso malang ... gitu aja terus cycle-nya, sesekali yah sate kambing atau tongseng di simpang... Bergizzziii, banget kan. Terbukti lulusan ITB banyak didukung oleh pedagang2 kaki lima :-))

Kalo air jahe hanget lain lagi ceritanya. Waktu gw kecil, setiap gw batuk2, Mama pasti bikinin air jahe dari jahe bakar + asam jawa + gula jawa... dan rasa pedas2 hanget nya itu yg selalu gw kangenin kalo lagi bete (= butuh tehangatan) .... Ritual ini jg ngingetin gw sih kalo lagi bete, gak boleh terlalu bete. Kata Mama, nantinya gak siap menerima hal2 yg lebih nge-betein.... (ganti kata bete = kesal, nyokap gw gak ngerti bete).

Slurrrp... slurrp. Hujan2 gini di Balikpapan, paling pas emang minum air jahe hanget. Sate padang? Oh, no! Gw gak lagi kesal, cuman lagi bete = butuh tatih tayang... hehehe...

Boy's Language

Last friday, one old friend called (finally) after 1year in sabbatical "mood". He got a divorce. He said he couldn't be longer talk in the same language with his ex. Everything started perfect. Falling in love at the first sight, then fate brought them to the 2nd meeting, bla bla bla bla bla bla. They got married, have a baby girl. But then, after sometimes, all the nightmares started. He told me stories how things started to be worst in his life.

He called to tell me that he remembered my comment about his ex. I did warn him long before that he needs to understand her 'language' without imposing only his. And he admitted that he has tried but failed. He just could not bear it anymore to understand all the 'touchy' feelings, 'compulsory cuddling', 'crystal tearbox' etc, for the rest of his life. Marriage became no longer enjoyable. Then, they decided to get divorce, though this hurt many people. I did not speak at all when he told the stories. I know how hard this for him.

Is this really something we can avoid before getting hurt?

For the last couple days, I've been going out with boys. I noticed a difference in myself. I am more relax and (suprisingly) more of being myself. Seems that we speak in the 'same' language. The language that both parties know when to speak and what topics no need to be talked, but just accept it. The language that has to be 'right on the money' and 'three strikes you're out'.

This doesn't means that I don't like going out with girls, but it's just different. I think better to balance this both.

Wednesday, October 19, 2005

Original Face**)

One colleague just came back from a trip to Paris. He told me stories and one made me stunt. It is about an Indonesian girl friend "with an original face" - I use his word - being liked over there.

Artha: "Is this original face means that she has a bit brownish skin and a pesek nose, that type of face?"
Reply: "Yes, isn't it the bule's type?"

Whuahahaha...I have to answer him, "Not always, lah"

Let's see, between Ulfa Dwijayanti, Maudy Koesnady, Feby Febiola, just name three here, they are married to an expatriate (though not anymore for Ulfa). They are each unique. They don't have the same type of face. Moreover they are not fall into category "has an original face".

For those who don't have that type of face doesn't mean that they are not an original Indonesian -- o'o', I don't have to go details here -- You are just not fall into category "to be liked by a standard bule :-))

Original = not imitative or derived
Should we not use a word original here, shouldn't we?
I am original...
I am not an imitation...
I am 100% Indonesian...
I am glad to be Indonesian...
but when somebody said that we don't have original face...
(what did I write? Something really not important)

**) Please don't feel offended...

Tuesday, October 18, 2005

Stories to update

Today is my friend's birthday.
I sent her an email with a long blank space before saying "met ultah yah, dst". She did not ask why I did so :-( but I explained her why afterwards.

... the blank space is for...
- many years I have not wished her a happy birthday
- many stories I would like her to update me and,
- many stories about me that I would like to update her

yeaaah, I feel it's necessary to update our friends about us. I feel he/she has the right to know the stories. So, next time when I tell the stories about things that has relation with the past, they will not saying "I don't know that" or "Why did you not tell me before?"

Please do forgive me when not all my stories have been told, but I know this,
when I want to escape to a place where I know I'll be heard,
where I can cry and it will be okay
where I can be myself and that will be okay too
and all I have to do is find you
-- dedicated to all my friends --

Friday, October 14, 2005

Since you are gone

I wonder where are we going after death.
I believe in God, then I should believe that there's life after death.
But, it is not something that I would like to write.

It's about my friends who left me earlier.
God loves them, I suppose they are with Him by now.
I missed you guys. I write this at one of the times when I am thingking as if you guys were still alive.

You all left memories that I won't be able to forget.

Indah rasa itu

ku tau ku tak bisa berharap
ku tau ku tak 'kan bisa sempurna
jangan pernah kau harapkan teman,
ku tak yakin bisa sampai di sana

ku pun tak pernah menaruh harap itu padamu
bukan ku ingkari kemungkinan itu ada
namun kutau,

indah rasa itu,
saat ketidak sempurnaan membuat kita mampu
menertawakan ketidak mampuan kita
melangkahkan kaki lebih pasti di jalan yg kita tahu
mungkin tiada akhir dari ketidak sempurnaan kita

masih ada waktu untuk menjadi yg lebih baik
kita bersama menjadi lebih baik
itu yang kumau

Pengamen Juga Manusia

Tadi pas makan siang, gw agak2 terganggu dengan pengamen.
Suaranya sih gak jelek2 amat, hanya sayang lagu dan suasananya sangat gak mendukung. Mungkin suasana hujan mengguyur Balikpapan dari siang tadi dan keinginan menikmati bakso dengan nyaman, membuat gw merasa terganggu.

Tapi gw sadar kalo pengamen juga manusia, gak bermaksud untuk ikutan latah lho. Jadi yah wajar2 aja lah kalo dia juga mau hidup dengan kemampuan mengamennya, tapi menurut gw mbok yah rada menghibur gitu nyanyinya. Gw minta terlalu banyak yah :-)

Suatu waktu di bus Patas AC08 jurusan Rawa Mangun-Blok M, gw 'kedapetan' pengamen yang suaranya bagus, terus lagu2 pilihannya juga asyik. Gw sangat menikmati. Di lagu terakhir, sang pengamen menawarkan lagu 'pilihan penumpang'. Penumpang ditawarkan memilih satu lagu dari tiga lagu yg bisa dipilih. Seruu kan. Penumpang pun jadi heboh. Ada yg langsung meneriakkan lagu pilihannya, ada juga yg senyum2 saja dengan tetangga kiri kanannya (sekalian JP kali yee). Untuk mengatasi kehebohan sesaat itu, dengan semangat demokrasi yg lagi hot2nya waktu itu, Jakarta 2002, kami diminta voting. Akhirnya terpilih lah satu lagu, sayangnya gw lupa saat ini :-( kalo ingat ntar gw tulis deh.

Setelah selesai menyanyikan lagu terakhir itu, diiringi permainan gitar melodi yang asli assyik, saweran pun diedarkan dan tanpa ragu2 uang 500-an logam pun gw masukkan (pediiit.... iya, harusnya 1000 lho, apalagi itung2 si pengamen dah memberikan hiburan). Ada juga yg kasih 1000-an tanpa ragu2. Ada juga sih, seperti biasa, yang senyum2 aja.

Pengalaman bertemu pengamen bersuara merdu itu menjadi biasa di masa itu. Sehubungan dg krisis ekonomi dan sulitnya mencari kerja, profesi pengamen musiman menjamur rupanya. Bahkan ada beberapa kelompok yang well-equipped, lengkap dengan tamborin, dan drum kecil.

Nah, sayangnya ada juga pengalaman gw dengan pengamen yg reseh. Kalo gw gak ngasih saweran, gw biasanya default bilang "Maaf, Mas". Lebih sering sih, yah karna gw gak merasa terhibur. Jawaban sang pengamen bervariasi, antara lain yg suka bikin spaneng misalnya:
"Mbak, minta maafnya ke Tuhan aja",
"Belum gajian yah, Mbak",
"Ooh, gajiannya yg tanggal 5 yah".

Bahkan pernah gw lagi tidur di KA Bandung-Yogya, dibangunin untuk dimintain saweran. Gw bilang maaf. Reaksi sang pengamen di luar dugaan gw. Dengan tidak sopannya, setengah berteriak, dia bilang ,"Pelit banget sih Mbak, dah capek2 dibangunin!". Aneh gak sih?
Gw kan juga sama2 manusia, yg sama2 punya hak untuk mencari uang dan memberi uang kepada siapa. Saat itu, tanpa peduli gw melotot dan bilang, "Terserah mau dibilang pelit, saya mau tidur, tolong jg ganggu. Saya juga tidak ganggu kamu nyanyi!". Untung cowok di sebelah gw saat itu kooperatif dengan ikutan melotot juga.

Ya gitulah, namanya juga usaha 'Ta.

Anyway, di Balikpapan sih gw belum pernah (yah sampai saat ini sih) ketemu pengamen yg asyik. Yah, mana tahu gw aja yg kurang bergaul di daerah2 yg pengamennya asyik kali yah. Yg jelas, gw gak suka ketemu pengamen yg mengharuskan gw membayar mereka, dengan pelototan kek, apalagi dengan ancaman. Jangan lah ada premanisme di dalam proses ini.

Kalo gw suka, pasti gw sawer :-)