Tuesday, May 29, 2007

Kapan kawin?

Pertanyaan tersebut dalam sebuah iklan rokok yg diperankan oleh Ringgo, dalam kehidupan sehari2 lebih sering ditujukan kepada kaum perempuan. Hal tersebut menimbulkan secara langsung (menurut gw kurang tepat kalau dibilang tidak langsung) pemikiran bahwa kapan seseorang kawin itu merupakan hal penting. Terkadang disertai dengan imbuhan, “jangan sampai kadaluwarsa lho...”

Yah demikianlah budaya “yg dianggap normal” sebagian besar suku2 di Indonesia, sejalan dengan rentetan pertanyaan2 yg sering terdengar sebagai berikut:
<20 tahun – kapan selesai sekolahnya?
>20 tahun – kapan kawin / menikah lah lebih halus
sesudah menikah – kapan punya anak?
sesudah punya anak – kapan mantu?
sesudah punya mantu – kapan momong cucu nih? Kapan nyusul yg lain?
sesudah punya cucu – udah berapa cucunya? Kapan yg lainnya nyusul
dstnya

Jadi sebenarnya, pertanyaan itu sendiri lah yg dalam konteks kehidupan di lingkungan penuh rasa ingin tahu di atas, menjadi penting. Sepertinya kalau pertanyaan tersebut belum terjawab mengakibatkan pertanyaan2 selanjutnya mandeg. Yah mungkin udah di ujung bibir kali yak :-) iya gak?

Menurut pengalaman gw, toh sebenarnya yg nanya juga terkadang sekedar basa basi. Tidak semuanya benar2 sebagai bentuk perhatian personal yg terdalam. Yang menanyakan pun terkadang sekedar kenalan yg belum tentu tahu sisi pribadi kita atau baru mengenal kita dalam waktu yg tidak terlalu cukup untuk saling mengenal dalam artian personal. Bahkan dalam beberapa kasus ekstrem, terkadang jawabannya pun tidak ditunggu lagi. Bila sang penanya merasa mengenal yg ditanya, ia pun sudah siap dengan rentetan nasihat, misalnya ”ingat lho udah kepala 3”, ”ingat lho ada jam biologi”, ”ingat lho kodrat”...

”Ibu/bapa/tante/om/saudara/teman/handai taulan yg saya hormati, kalau ibu/bapa/tante/om/saudara/teman/handai taulan saja di tengah kehidupan pribadi dan kesibukan masing2 mengurus pekerjaan dan rumah tangga ibu/bapa/tante/om/saudara/teman/handai taulan masih sempat2nya memikirkan umur saya, jam biologis saya, kodrat saya, saya cuman mau bilang: apalagi saya. Jadi terima kasih lho untuk perhatiannya.”

Tante gw pernah marah gara2 gw njawab gitu, katanya nge-nyek, kadang emang jalan pikiran gw yg ruwet ini gak kebaca sih ama mereka. Itu tandanya gw udah capek ditanyain mulu. Yah habis, mau dijawab kayak apa pun mesti ujung2nya sama. Kebanyakan memojokkan dengan ”kamu sih mikirin karir”, ”kamu sih terlalu mandiri". Padahal siapa juga yg mikirin karir, dan kalo dibilang mandiri yah menurut gw gak ada salahnya, toh buat yg kenal gw tahu banget kalo gw juga suka laki-laki – tentunya dalam porsi sewajarnya.

Katanya komentar/nasihat itu tanda sayang, terima kasih. Tanda perhatian, lagi2 terima kasih. Intinya, terima kasih buat rasa sayang dan perhatian semuanya. Gw cuman minta rasa sayang dan perhatian yg sama untuk diri gw, bukan untuk lembaga perkawinan itu sendiri. Sama dengan rasa sayang dan perhatian tersebut, boleh dong gw tetep disayang dan diperhatiin apa pun keputusan gw kalau toh membawa kebaikan buat gw. Sampai saat ini belom ada tuh yg bilang gini misalnya ”Ta, udah kamu pikirin masak2 belom untuk tidak menikah....” hahaha....

Keharusan kawin gw lihat membuat beberapa perempuan yg gw kenal menjadi terkurung dalam pola pikir yg sudah terbentuk sedemikian. Kebanyakan memang anak perempuan sejak masa remaja sudah mempunyai cita-cita (kalau bisa dibilang demikian) untuk menikah di usia tertentu. Kalau perempuan menginjak usia limit menurut pandangan masyarakat belom kawin, terus dibilang kadaluwarsa... kasihan deh yg punya pemikiran begitu, gw bilang sih pemikiran itu tuh yg dah kadaluwarsa.

Thank God yah at least sampai saat ini gw secara sadar belom mau untuk menjerumuskan diri dalam keharusan tersebut. Kalau ditanya mau kawin, ya masih mau sih... hehehe. Kenapa belum kawin, yah pilihan gw saat ini. Kalau gw kawin, maunya yah dengan semangat ”ibadah” dan ”partner in life” dan bukan karna keharusan. Bukan karena gw mandiri atau pun bukan karena udah terbiasa di lingkungan orang asing, walaupun ada hubungannya. Tapi untuk urusan kawin, menurut gw lebih baik kadaluwarsa umur biologis tapi perkawinan bahagia dengan partner in life daripada kawin demi supaya gak kadaluwarsa. Beberapa di tengah2 perkawinan harus bercerai dan (kebanyakan) orang2 toh tetep menyalahkan pihak perempuan ”terlalu mandiri sih”, ”gak mau ngalah sih”, ”mentingin karir sih”, ”gak bisa memaafkan suami sih”(walaupun jelas2 suaminya nakal)... So, what is the meaning of that big ceremony? Eh, abis itu kawin lagi... mandeg lagi, cerai lagi. Kawin lagi.... duh, kasihan deh ”masih belom tahu yah mbak apa yg dimau?”

Gw setuju dengan ide miss kadaluwarsa yg dipentaskan EKI production weekend lalu di GKJ, tema yg up-to-date, lagi in atau dengan kata lain bisa disebut tema yg tidak kadaluwarsa. Sinopsinya bisa lihat langsung di websitenya aja ya.

Hal2 yg kadaluwarsa selalu identik dengan sudah tidak layak. Makanan basi, minuman kaleng basi, obat basi contohnya adalah hal2 yg sudah tidak layak dikonsumsi. Bisa berhubungan dengan rasa (tentunya yg tidak disengaja basi rasanya tidak enak) ataupun berhubungan dengan berbahaya. Yah, obat kadaluwarsa bisa membahayakan kesehatan yg mengkonsumsinya.

Tapi seperti dikuti juga dalam script cerita, yah yg namanya kadaluwarsa gak selamanya gak enak toh, contohnya wine. Semakin kadaluwarsa, (biasanya) semakin enak. Gw pakai kata biasanya karena bagaimana pun juga kualitas wine yg bagus juga salah satu faktornya masih tergantung kondisi awal anggur yg digunakan. Contoh lainnya youghurt, keju dan beberapa produk fermentasi lainnya yg notabene adalah produk2 dari bahan dasar yg sudah basi. Contohnya yoghurt, untuk menghasilkan yoghurt yg enak, susu yg digunakan pun sedapat mungkin yg fresh, dan sama sekali belum basi. Jadi, kalau kondisi awal baik pemikiran, fisik, rohani-jasmani perempuan itu baik atau gak basi, gak ada masalah dong kalau diperam dulu... lhoooooo

Gw suka banget dengan tari2an dalam teater tersebut, sangat menarik. Gerakan tari dibawakan oleh para penari dengan sangat enak dilihat dan koreografer yg apik, tertata baik dengan pemilihan musik dan penguasaan panggung. yang gw agak kurang nyaman dan senang adalah seringnya asap rokok mengebul (emang sih tuntutan skenario yah, tapi pan GKJ itu harusnya bebas asap rokok bukan?), juga pemakaian percakapan dalam bhs inggris yg kadang terasa maksa (apalagi Fauzi itu lulusan Belanda bukan?). Gw sendiri juga sering make bahasa inggris dan gak ada maksud panggagahan atau apa gitu. Overall untuk pertunjukan EKI yg ketiga gw tonton ini tarian2nya selalu oke punya, two thumbs up, idenya juga ok, baik penari2 dan pemain2nya oke, pemain tamu nya pun tidak mengecewakan lah dalam penjiwaan peran. Yang membuatnya asyik banget ditonton itu yah si Sampek Entay yg berhasil membawa pertunjukan menjadi komedi, kocak tanpa perlu adegan2 slapstik gak perlu. Salut deh untuk Loro Blonyo berdua tuh, asliii lucu dan asyik.

Terkadang pemikiran akan keruwetan, kemandirian dan kesadaran penuh akan hak2 dan kewajiban2 yg gw emban sebagai seorang manusia lah, gw ada seperti gw ada. Maaf, gw memang tidak bisa menyenangkan semua orang. Pemikiran yg kadaluwarsa itulah yg selain sudah tidak layak, juga membahayakan. Yang gw percaya, everything happens for a reason.

Nunggu pementasan EKI berikutnya.

Thursday, May 24, 2007

Singing Queen

After Melinda checked out, one can guess that I vote for Jordin.
She's got the voice... though Melinda is much better.
She's got the look... not as skinny as barbie, but though sometimes got makeup like one :-)
She's got the move.
She is charming. Sometimes looks vulnerable but also strong at the same time. Her young blood show up everytime she got not-too-good remarks from Simon. Overall, she shines... have you noticed how often she smiles?

While watching she sang her winning song, I remember the lyrics below from ABBA 'Dancing Queen',

You are the dancing queen, young and sweet, only seventeen
Dancing queen, feel the beat from the tambourine
You can dance, you can jive, having the time of your life
See that girl, watch that scene, dig in the dancing queen

Seems like most american like her. For me, she is not the one with best voice, but overall (performance after performance) I think she deserve to be an idol, a singing queen. Young and sweet, only seventeen. This is her now.

Congratulations Jordin!

Monday, May 21, 2007

Di Bawah Laut Cina Selatan

Bukan pertama kali gw berada di bawah laut. Terowongan di bawah Eurostar juga di bawah Laut Utara, tapi tetep aja pas lewat bawah laut gw gak punya foto.... :-)
Artinya, gw belom bisa mengatasi rasa takut berada di bawah laut dengan baik.
Hayo ngaku... hehehe

Sunday, May 13, 2007

F.L.U kills

Gw flu berat tiga hari ini, bete banget. Tadinya sabtu ini gw mau ikutan bantuin acara mbak linda untuk les enfants dans la rue yg jadinya kudu gw batalin, gak mungkin deh jaga anak2 dalan kondisi meler2. Sebenernya gw tuh jarang banget jadi tepar gara2 flu, bukan takabur tapi fakta. Selama 4 tahun yg bisa gw inget di Balikpapan, paling banter bersin 1-2x langsung dopping EsterC 1-2hari biasanya gw langsung fit lagi tanpa harus pusing-demam-hidungmeler2. Tekanan darah rendah gw lah yg sering membuat gw tepar. Fenomena flu berat ini yg kedua sejak gw di Jakarta. Ada yg bilang karna pengaruh pancaroba dan udara Jakarta yg memang sangat terpolusi. Ada yg bilang "lo sibuk banget sih". Ada yg bilang "lo diet sih". Ada juga yg bilang "lo keluar malam mulu yah". Mereka yg bilang2 gitu bukanlah mereka yg nemenin gw nge-gym, bukanlah mereka yg nemenin gw keluar malam2, bukanlah mereka yg nemenin gw ngelembur, jadi segitu perhatiannya... jadi terharu, ihiks. Temen gw juga sudah lengkap listnya dengan "minum air putih, jus apple yg banyak, jangan nonton malem2, jangan nge-gym dulu, mau ditemenin?". Yang ada gw kangen ditemenin nyokap gw yg lagi nikmatin hari2 di pegunungan dengan adek gw... ma, i miss you so much.

Tapi yg tahu yg sebenarnya ya adalah gw. Gw inget banget kalo pertama kali gw bangkis itu saat latihan yoga hr senin yl. Waktu itu yoga dipindah ke ruangan berkarpet. Begitu gerakan plank dan hidung gw gak tercover matras, saat itu sontak mata gw ngeliat kalo karpetnya kotor. Gak lama kemudian gw bangkis yg pertama. Begitu selesai latihan, gw bilang karpetnya kotor. Itulah awalnya penderitaan seminggu ini. Dilanjutkan bangkis bangkis di senin sore, hari selasa mulai deh hidung meler2. Gw pikir ini reaksi biasa terhadap alergi debu gw yg konyol. Dan nakalnya gw tetep ikutan yoga hari rabunya dengan hidung meler, yg ada tuh setiap down facing dog gw kudu ngeluarin itu ingus dari hidung, gross banget gak seeeh. Barulah semuanya terasa di hari kamis, tapi gw jg ada vicon yg mengharuskan gw hadir, padahal pagi itu gw rada deman dan pusing2. Begitu selesai vicon tanpa ba bi bu gw ijin pulang, itu pun udah jam 5 sore. Langsung tidur dengan badan sedikit deman dibantu dengan neozep forte. Tapi tetep aja hari jumat itu badan gw agak pegel2 - kelamaan tidur kali yah - sampai2 gw gak sadar pas kamis malam itu Jakarta diguyur hujan deras dan sambaran petir yg dahsyat (katanya).

Yang menarik itu komentarnya Bang, "Kog jadi malah flu sih setelah disuntik vaksin flu?". Gw juga ngerti kalo divaksin harus dalam kondisi sehat, dan seinget gw pas divaksin kondisi gw sehat. Jadi??
Gw konsultasi ke dokter kantor deh hari jumat sehubungan dengan vaksin yg diberikannya, jawabnya "Ully, kalo kamu jarang flu ya jelas vaksin itu tidak dikenali oleh tubuh kamu. Jadi yah wajar tubuhmu bereaksi. Mungkin kamu capek pikiran juga. Sudah istirahat aja, akan lebih baik minggu depan". Weleh weleh, yaa ampun, tau gitu gw gak mau2nya deh divaksin flu. Memang gw butuh istirahat juga deh, tu dokter juga tau aja gw lagi capek pikiran... hehehe.

This flu really kills my activities this week. Tomorrow there's gonna be a big petroleum association event, hope this misery will end tonight.

Thursday, May 10, 2007

Office's Politics

Makin hari gw makin geli… terpingkal pingkal
Bahkan sampai tertawa menahan perut dengan air mata di pelupuk
Melihat orang menghalalkan segala cara demi dihormati
Melihat teman tak lagi berani mengatakan yang sebenarnya
Melihat itu semua terjadi di depan mata
Mengalami betapa sakitnya ditusuk dari belakang

Tolong aku, tak mau ada rasa mendendam
Tolong jauhkanlah rasa itu

Saat diri ini tak mampu, biarkanlah kata tolong terucap
Saat itu memang menjadi kemauanku, biarlah kuberkata ”aku mau”
Saat memang harus berkata benar, biarkanlah kubenarkan berita itu
dan setiap saat stand for my friend, aku mau tetap seperti aku adanya

Wednesday, May 02, 2007

Never Ending Battle


Hampir sebulan gw gak bikin posting di blog ini, sekarang pun american idol udah tinggal 6 doang. Gw ngapain aja yah sebulan kemaren kog gak sempat2nya ngeluangin waktu, eh hari ini mendadak jadi kangen nih.

Sometime I praise people.
Some other time I don’t like the same person.
Sometime I depend on prayer.
Some other time I am too much believe in me.
Sometime I have no problem at all to share.
Some other time I feel so egoist.
Sometime I feel that others like me.
Some other time I have only my best friends.
Sometime I don't trust these feet can run that far.
Some other time I forced them to climb the mountain.

Sometime I hate you, but I can't.
Sometime I lost my will, but I can't.
Sometime I fail to love you, but I can't.
Sometime I consciously forget who my biggest enemy is, but I can't.
Sometime I make a promise to always win this never ending battle, but I can't.
It is you, MYSELF, my biggest enemy, and I don’t want to loose so easy.

Sunday, April 08, 2007

Gina Pulang

Gila! Setelah berhasil menahan temptation untuk tidak buka websitenya American Idol beberapa hari ini, hasilnya agak mengecewakan gw. Yang pulang minggu ini Gina Glocksen, si "rocker" yg masih bisa melantunkan lagu Smile menghantarnya pulang tersenyum meski air mata sempat menggenangi matanya - pengaruhnya Haley deh. Nama Gina diumumkan sebagai peraih vote terendah - hampir 33 juta votes! - diiringi Homenya Buble yg nyanyi juga di performance itu ngeggantiin Tony Bennet. Sebeeeeellllll deh, kenapa gak si "Incridible" itu sih yang pulang?

I kindda like Gina, but votes matters.
PF for Melinda, Jordin, Lakisha - you gals deserved those votes.
Men in this season, I am not very much impressed of them, but who I am gitu... hehehe

Kapan yak Indonesian Idol sekeren penampilan mereka yg understate dan lebih memperlihatkan kualitas vokalnya yak... kippon' wishing...

Tuesday, April 03, 2007

Ba-ti-tah Meng-ba-tah

Di kompas edisi minggu (1-apr-07) ada sepotong kalimat tentang anaknya Marcel-DewiLestari yang bisa membaca di usia 2.5 th. Walau artikelnya padahal bukan tentang anaknya, tapi cerita itu berkembang. Lalu di milis ada pertanyaan seputar metode glenn dolman yg katanya bisa ngajarin anak balita membaca. Gak tanggung2 metode itu lagi happening dalam pembicaraan beberapa ibu2 muda, yg notabene adalah temen2 gw :-)). Gak percaya? Coba deh dateng ke bazaar2, udah gencar tuh promosinya.

Tapi, tapi.... apa memang perlu yah anak bisa membaca di usia 2.5 th?
Itu mah jawabannya personal banget yah, terbukti beberapa teman2 gw tertarik tuh, malahan ada juga yg lagi bikin research... hehehe, big hug. Menurut Ruly yg udah mulai searching2, "ada yang bilang kalau teori bapak ini termasuk pseudoscience alias nggak bisa dipertanggungjawabkan, tapi ada juga yang bilang kalau teorinya oke dan bisa diterapkan".

Gimana gak bikin ibu2 muda kebat kebit dan jadi penasaran seeh
(sungguh mati aku jadi penasaran... sampai mati pun akan ku perjuangkan... lho??)

Secara gw belom punya anak tapi diajakin ngobrol yg kayak gini mah, yah pengalaman pribadia aja deh yg dishare.

Adalah bu Lucia - guru biologi gw waktu SMA dan wali kelas ku dulu pernah bercerita (hehehe) tentang ngajarin anaknya mbaca sejak batita. Ibu cantik ini bercerita dengan semangat, sementara kita2 mikir "Ya ampun bu, anak kok jadi sampel penelitian seeeh?!" tapi, hehehe, nyokap gw juga guru biologi dan mungkin gw termasuk sampel penelitian juga kali yah :-)

Pengalaman pribadi gw nih, pas mau masuk teka di usia 5th ternyata gw doang yang udah bisa baca koran, dan itu sudah aneh di masa itu, di TK Kristen Ketapang tahun 1980. Lalu gw dibolehin "skip" tk kecil. Waktu itu ada teka kecil - teka gede - baru SD, yg biasanya dimulai di usia 7 th. Jadi dianggapnya gw kecepetan.

Gw gak tahu nama metodenya apa (areee getoh?) yg gw inget dan selalu diulang2 ceritanya sama mama/tante2 gw, sejak umur 3tahun-an *th.78an, pokoknya sejak umur yg bisa gw ingat* sebelum bobo tiap harinya dibacain majalah bobo sama tante gw, yang menarik perhatian gw adalah cerita2 komik bobo, bona-rong2, donald bebek, dan sejenisnya yang kalimatnya pendek2 di tiap gambar. Pokoknya gak ada cerita tidur tanpa dibacain komik yg satu halaman itu.

Lama2, mungkin karena seringnya denger2, gw bisa melafalkan huruf sesuai dengan text-nya. Setelah bisa membaca pelan2, gw mulai baca text, terus nambah segala yg bisa dibaca jadinya dibaca, dan jadilah sebelum usia 5 tahun gw udah bisa baca koran. Nah, metode itu itu metode apa yah? Yg jelas udah terbukti tuh di gw di umur segitu - waktu itu belom biasa bisa membaca di umur 5 tahun. Menurut gw sih itu "metode bisa karena biasa", jadi yah biasa-biasa aja, kayaknya gak ada tuh metoda aneh2 :-) Gak tahu deh apa Dee ngebiasa-in juga anaknya membaca (secara dia penulis), atau ngikutin metode tertentu *mungkin research-nya temen gw nantinya bisa menjawabnya* Gw bilang ama temen gw, "lo biasain aja membaca buat anak lo ..."

Tapi tetep aja gw mempertanyakan apa perlu yah anak batita bisa membaca?

Gw pribadi sih gak menemukan kebisaan gw membaca sedemikian cepat itu menjadi istimewa (sekarang mah gak cepet yah membaca umur 5 tahun). Maaf lho bukannya gak berarti apa2, tapi malahan gw terkadang jengah pas disuruh mbaca buat contoh. Kelebihan yg terdevelop sih, mungkin/gak mungkin ada hubungannya dengan kecepatan bisa membaca, gw menjadi sangat senang membaca, dan bisa apa aja dari mulai yg ringan banget dan gak penting, sampai artikel "berat" dan penting2.

Gw liat sih ponakan gw yg waktu kecilnya senengnya maeeeennnn mulu dan gak ada deh tanda2 cepet mbaca, eehhh begitu sekolah -mulai usia 5 tahun- cepet banget bisa langsung membaca. Malahan sekarang yg namanya bikin pe-er dan belajar udah gak perlu disuruh2. Gw kadang jadi mikir kasian yah anak2 sekarang, bebannya semakin muda semakin nambah :-( Dulu tuh gw merasa teka = taman kanak2, nunggu ke sekolah buat minum susu bareng teman2, nyodor2in gelas kosong ke petugasnya yg selalu senyum, maeeennnn mulu, dengerin guru ngedongeng, dengerin kaset "sanggar cerita", dan nyanyi di depan piano sama ibu Dora.

Itu dulu deh, sementara sampel gw itu dah gw kasih tahu di milis, mana tahu ada psikolog sanur yg nanggepin :-)) Kalo ada pengalaman2 lainnya dan sampel2nya terus ditambahin, bukan gak mungkin kan bisa ada yang nerapin metode baru nih dan gak perlu import, bukan gak mungkin malahan udah ada yg punya ... hayo para pemerhati anak :-)

Friday, March 30, 2007

Selamat jalan Om!

Masa jatuh cinta adalah masa yg spesial. Gw rasa banyak orang setuju dengan pendapat di atas. Di masa spesial itu lah awal gw mengenal Chrisye lewat lagu2nya. Di lagu Chrisye yg terakhir ada lirik "lupakan aku, kupunya cinta lain yg tak bisa kutinggalkan", mungkin cinta itulah yg mengajakmu pulang pagi tadi. Selamat jalan om, walau kami akui adalah tak mungkin untuk melupakanmu.

Aura cinta dan kesendirian begitu lekat setiap dia menyanyi, walau di balik itu, ada keluarga yg hangat selalu setia menemaninya dan di masa sakitnya, Yanti istrinya terlihat begitu sabar dan "kuat". Seakan tahu bahwa waktu yg tersisa tidak lagi banyak, Yanti menuturkan di femina edisi minggu ini (bukan kebetulan bukan?), "Namun, jauh di lubuk hati saya ingin menemani Chris setiap saat, dengan cinta dan kesetiaan"... wow ibu, doamu menyertai kepergiannya.

Beberapa lagu Chrisye meninggalkan kenangan yg tak mungkin gw lupakan.

Gw masih ingat hari2 pulang sekolah bersama dengan beberapa teman, kami berlatih dan mengarang koreografi tari. Saat itu diantara banyak lagu yang menjadi pilihan, kami memilih lagu chrisye "hip-hip hura" sebagai lagu pengiring. Saat itu semuanya seperti biasa saja dan memang tidak mengherankan, karena lagu2nya Chrisye - Hip hip hura, Nona Lisa, Anak Sekolah - memang sedang in-in nya. Namun lirik di dalam lagu itu menjelaskan suatu rasa yg baru2 saja kami rasakan, yaitu rasa menyukai atau pun disukai lawan jenis. Seringkali lirik lagu tersebut menjadi bahan gurauan dan bagian dari pembicaraan kelompok2 anak muda yg saat itu baru mengenal rasa lain selain pertemanan dan persahabatan, misalnya saja "..ingin hatiku mencium pipinya, tapi malu rasanya" ... lho kog lirik lagunya sama dengan yg kami rasakan ya... hihihi...

Lagu Chrisye juga yang menjadi pilihan guru organ gw saat gw harus memainkan electone di konser pertama gw bersama dengan teman2 seperguruan Yamaha Daan Mogot. Berminggu2 suara organ di rumah cuma memainkan lagu "kisah cintaku".

Lagu Lilin2 Kecil juga punya kesan penting buat gw. Saat itu kelas 2SMP, kami mendapatkan tugas untuk bernyanyi dalam koor untuk perpisahan kakak2 kelas. Itulah kali pertama gw mengenal pembagian suara yang "serius". Gak gampang buat gw selain menghapal lirik juga harus menghapal suara duanya. Waktu itu gw bilang kalau gw lebih senang vokal group, tapi ternyata gw senang juga nyanyi dalam koor, dan selalu suara dua.

Gw bertambah umur dan beranjak dewasa, Chrisye pun tetap bernyanyi. Seakan mengikuti tren, lagu2nya banyak mengisi hari2 pernyataan cinta, patah hati, meninggalkan kekasih untuk merantau, dan banyak lagi. Tidak banyak penyanyi lama berkolaborasi dengan penyanyi2 baru, Chrisye termasuk yg melakukannya. Juga mengawinkan pop dengan musik2 tradisional, baik dengan gamelan maupun sindenan Waljinah.

Lagu "untukmu" juga lah yg menjadi lagu pertama gw merasakan bahwa main gamelan itu menyenangkan. Itu saat pertama gw mencoba memainkan saron dan mengarang aransemen untuk acara di kantor.

Aaah banyak lagi lagu yg kau nyanyikan dengan suara yg unik yg menjadi ciri khasmu, bagaimana mungkin kami melupakanmu. Berulang kali televisi menggunakan lagu2 yg pernah kau populerkan sebagai filling sutu peristiwa, misalnya lilin2 kecil, kidung, badai pasti berlalu, dan itu tidak akan berhenti walau kau tak lagi menyaksikannya. Tidak om, kami tak akan mampu melupakanmu, selamat jalan.

Wednesday, March 28, 2007

Siapa Mereka Pak?

Karakter Manusia Indonesia Picik dan Tak Mau Kalah - ref. Laporan Wartawan Kompas M Zaid Wahyudi

JAKARTA, KOMPAS--Manusia Indonesia dicirikan dengan karakter yang picik, solidaritas rendah, serba instan, dan sulit menerima kekalahan. Kondisi tersebut membuat keadilan dan kesejahteraan sosial di Indonesia sulit diwujudkan.
Penggiat filsafat kebudaayan Tony Doludea di Jakarta, Jumat (16/3) sore mengatakan karakter manusia Indonesia adalah mudah iri hati, picik, dan tidak menyadari solidaritas untuk tujuan bersama. Mereka juga suka memperoleh sesuatu secara instan, mengabaikan proses dan kerja keras, percaya terhadap klenik, dan tidak dapat menerima kekalahan.
”Karakter itu ada dalam diri seluruh manusia Indonesia, mulai dari politisi, akademisi, intelektual, pemimpin, tokoh agama, hingga orang awam dan rakyat miskin,” kata Tony.
Mental manusia Indonesia tersebut membuat masyarakat tidak lagi percaya kepada kebenaran, keadilan, dan kebaikan. Kondisi tersebut membuat keadilan dan kesejahteraan sulit diwujudkan di Indonesia. Artikel

Siapa mereka Pak?

Tentu tidak semua orang harus setuju dengan pendapat bapak itu, nah karna ini blog pribadi sy, saya mau ikutan nulis pendapat saya ah. Saya jg gak ngarepin orang lain pada setuju kok.

Sy keberatan tuh kalo ciri2 yg Pak Tony bilang adalah ciri2 seluruh manusia Indonesia. Sy memang bukan psikolog apalagi ahli filsafat, tapi kayaknya ciri2 itu umum deh, diakuin dong ciri2 (baca: picik dan tak mau kalah) tersebut ada (atau mungkin saja ada) dalam diri siapa pun yg tak mesti manusia Indonesia. Namun seberapa ciri tersebut menjadi dominan dalam pembentukan karakter, pan tidak menjadikan seluruh manusia Indonesia hanya menjadi picik dan tak mau kalah saja. Toh banyak juga yg bisa meredam atau mengendalikan sifat dasar manusia yg memang pada intinya membantunya bertahan hidup sebagai the great survivor di muka bumi ini.

Kalo menurut saya, menurut SAYA lho pake huruf besar, manusia Indonesia adalah manusia yg kebetulan lahir di wilayah teritorial NEGARA Indonesia, atau bapak/ibunya yg lahir di Indonesia. Bagaimana karakternya, menurut SAYA, tergantung bagaimana org tersebut menyikapi kebetulan itu, dan juga bagaimana ia diajar dan dididik menyikapinya. Dan menurut pengamatan sy yg terbatas ini (maksudnya terbatas 32 tahun juga belom nyampe), di antara orang2 sekeliling saya, ada tuh yg menyikapinya sebagai anugerah, dan karakter yg terbentuk dalam diri mereka adalah hasil refleksi penyikapan yg ditanamkan dan disadari benar olehnya. Sungguh jauh dari sekedar picik dan tak mau kalah. Ada juga yg menyikapi kebetulan itu sebagai cobaan, sehingga ia lebih memilih menjalaninya dengan pasrah dan menunggu masa pencobaan itu berakhir meski tanpa tahu kapan dan harus bagaimana (ada juga tuh). Memang sy akui ada juga yg menyikapinya sebagai kebetulan lainnya, misalnya saja yg bapak kutip,

kebetulan aja dia jadi politikus... jadi dia harus licik
kebetulan aja dia jadi akademis... jadi dia harus keliatan pintar dong
kebetulan aja dia jadi intelektual... jadi dia harus keliatan intelek dong
kebetulan aja dia jadi pemimpin... jadi dia harus jaim dong di depan umum
kebetulan aja dia jadi tokoh agama... jadi dia harus rajin2 menjalankan agamanya
kebetulan aja dia jadi orang awam... jadi dia gak harus mikirin yg aneh2 kayak kesejahteraan sosial buat orang lain, apaan tuh?
kebetulan aja dia jadi orang miskin... ya iya lah, siapa yg kalo gak kebetulan mau jadi orang miskin


Jadi, siapa mereka Pak?
mbok yah jangan bilang seluruh manusia indonesia dong - terkesan kog lagi rada emosi jiwa ya (nebak aja sih, biasa pan kalo lagi emosi mungkin pendapatnya subyektif) ... jangan2 nanti komentar saya ditanggapin "tak mau kalah" - cocok kan masuk dalam portfolionya... hehehe (tertawa meringis)

Gw baru pulang dari suatu diskusi dengan beberapa orang yg dengan kapasitasnya sebenarnya bisa merubah negara ini (moga2) ke arah yg lebih baik. Namun kebetulan aja posisinya kurang tepat, dan adalah kebetulan kejegal sama orang2 yg kebetulan ada di posisi yg dinilai penting. Lagi-lagi kebetulan, orang2 penting ini lagi gak mikirin apa yg katanya kesejahteraan bersama, tapi lagi lebih mikirin kesejahteraan kampung tengahnya biasa aji mumpung euy...

Jadi pas kebetulan nih sambil nunggu, gw baca2 koran dan nemuin tulisan di atas. Gemes deh ngeluangin waktu nulis tulisan yg semuanya serba kebetulan ini. Menambah deretan kebetulan, pas gw mencet2 channel tv setelah sedih denger diskusi tentang not-yet-ending-Lusi, eh lewat acara 4Mata dan pas omTukul bilang "no pain no gain"... rasanya kog lama nih gak denger kata2 ini yah (?). Frase itu seringannya sih gw denger dari temen2 gw etnis Cina yg kebetulan nenek-kakeknya udah pada lahir di Indonesia, jadi deh kami manusia Indonesia.

Di kantor gw lagi ada lomba foto yg diberit tema "beauty of Indonesia". Dua hari lagi menjelang penutupan sungguh gw bener2 hilang konsep menerjemahkan "beauty of Indonesia" itu selain panorama yg indah yg kebetulan Tuhanlah penciptanya.

Kebetulan kah gw lahir di Indonesia?
Di pertemuan tadi itu gw ditegur bahwa semuanya yg terjadi di Indonesia dan pertanyaan2 "kenapa gw?" adalah bukan kebetulan. Tapi, pas gw njawab "kebetulan buat gw masih sulit menerimanya" sontak pada tertawa walau ujung2nya dinasehatin. Makasih yaaa for the light at the end of the island.

Sekarang mah daripada musingin kebetulan2 yg nyapein gitu, kebetulan gw mau karaokean bareng, jadi mendingan karaokean dulu aaaaahhhhhhhhhh... Get the music on.

Tuesday, March 27, 2007

21

Minggu ini angka 21 tidak lagi dikait2kan hanya dengan merek dagang bioskop di beberapa kota yg belum lama ini membanting harga tiket masuknya. Namun angka tersebut dikaitkan dengan harga sebuah laptop, 21 juta. Laptop yang katanya ringan dijinjing, menggunakan processor canggih, full databasing dan real time capability, layarnya bisa dibalik2, bisa dipake nelpon, internet, a big joke of the week: termasuk bisa ngintip situs artis2 terkenal.

Membayangkan gw harus melakukan pekerjaan gw sekarang tanpa komputer areee gene kayaknya susah deh. Juga tanpa internet yg menyimpan sebegitu banyak informasi dan bisa benar2 membantu gw melakukan pekerjaan gw. Selain buat belajar, tentunya buat hiburan juga dong. Jadi, gw gak menyalahkan jika ada orang yg mau maju mempunyai pendapat kalau laptop bisa menjadi salah satu alat bantunya untuk maju. Apalagi orang2 itu karena pekerjaanya harus mobile. Gw setuju. Yang bikin gw bingung adalah pendapat ngotot bahwa untuk menjadi maju itu butuh laptop, sementara orang yg sama mengakui belom bisa memakai laptop. Katanya yg penting beli dulu, baru bisa belajar, itu kan urusan training saja nantinya. Jadi, mau beli laptop seharga 21 juta tapi gak bisa makenya, wuiiihhh sok kaya bener yak, padahal masih banyak pan pilihan yg jauh lebih murah. Iyaaaaa bukan???

Katanya sih budget ini sudah digodok selama setahun (ref.komentar ibu Dyah BURT-DPR di tv), cuman gw terkesan kalau berita ini terblowup di era komedian Tukul Arwana yg sedang happening dengan talkshownya yg menggunakan alat bantu laptop. Mungkin buat beberapa orang yg katanya petinggi itu, bete juga kali yah kalo "Tukul aja bisa dapet laptop, masa gw gak bisa!" (padahal dia tahu juga enggak kali yah apa Tukul bisa pake laptop atau enggak... hihihi)

Ada joke2 yg beredar akhir2 ini seputar isue laptop itu, satu diantaranya,


Anggota DPR: "Mba, kalau mau baca blognya si artist anu dimana ya?"
Customer Service: "Bapak cari aja di google."
Anggota DPR: "Tapi si artist anu nggak kerja di google kok mba, saya tahu persis."

Capeeek deeehhh....... !!!!


Konon kabar terakhir rencana pembelian ini tidak akan lagi menggerogoti budget negara, pembeliannya dibatalkan (katanya). Cuman yah - belajar dari pengalaman - kog gw agak yakin bakal ada yg memancing di air keruh dengan sukarela menyediakan laptop untuk 2009.... hehehe boleh2 aja toh?!

Monday, March 26, 2007

Derail

Hmmm, kejadian hari ini mengingatkan gw akan satu pertanyaan yg pernah gw dengar di kalangan orang Perancis di kantor,
"Apa persamaan polytechniciens dengan kereta api?"

(polytechniciens adalah sebutan untuk lulusan salah satu universitas terkemuka di Perancis yg notabene sangat kompetitif – jadi bisa ketebak duong segiumana orang2 lulusannya sudah melalui competitive benchmark :-).

Beberapa orang mencoba menjawab, namun tidak ada satu pun jawaban yg dinyatakan benar oleh si penanya.

Setelah semua menyerah, akhirnya dia menjawab,
"Pada saat kereta api derail (keluar dari rel-nya) dia tidak bisa kembali sendiri ke relnya, melainkan membutuhkan bantuan alat lain untuk meletakkannya kembali, barulah ia bisa melanjutkan perjalanannya. Demikian juga dengan polytechnician."

Kalo gw pikir2 hal tersebut bisa membantu gw mengerti beberapa orang di lingkungan gw selama ini. Terkadang gw merasa dikelilingi orang2 pintar yg beneran pintar, tapi kog jadi hostile atau neurotik saat menghadapi masalah. Mereka boleh jadi pintar dan sering berhasil melalui competitive benchmark, tapi at the time of trouble, ternyata banyak di antaranya yg tidak bisa mengangkat dagunya kembali dan "just be a human". Mereka butuh orang lain untuk membantu meletakkan mereka kembali di relnya, sebenarnya siapa sih yg gak perlu yah (?)
Hayo... hayo, cheer up. To be honest, I can not handle crystal at work place. It's a wild world out there. Hanging tough.

Sunday, March 25, 2007

a.k.a Pudar

Kurasakan pudar dalam hatiku
Rasa cinta kagum yg ada untuk dirimu
Kulelah ingin semua yg (pernah) ada
Ingin ku lepas semua

Setan dalam hati ikut bicara
Bagaimana kalo ku slingkuh lupakan saja
Ku punya banyak teman lelaki yg lain
Sepertinya ku kan bahagia

Mestinya kau ku cari pengganti diriku mu saja
Karna kita sudah tak saling jarang bicara
Pastikan cerita tentang kita yg tlah lalu
Hanya ada dalam ingatan hatimu

Maafkan aku jika kau kecewa (aku juga)
Cintamu dirimu bukanlah untuk diriku
Jika memang semua kan jadi cerita
Kutahu kau kita semakin terluka

* adopted lirik lagu "Pudar" dinyanyikan oleh Rossa

Tetap Berlanjut

Kira-kira sebulan yl gw mengupgrade blog ini, namun ternyata setelah migrasi yang gw dapati adalah blog yang berantakan dibuka di mac. Sebel dong. Setelah tadi "berjuang" dan mengembalikan template ke format lama yg sebelumnya dah gw backup, akhirnya tampilan blog ini bisa kembali ke template lama blog gw dulu dan untuk sementara tidak mengupgradenya ke sistem baru. Hanya sayangnya beberapa posting setelah migrasi yg belum sempat diback-up tidak bisa lagi ditampilkan, untuk ditulis ulang beberapa udah hilang deh momennya. Yah udah deh, di"rela"in aja.

Yg penting buat gw sih blog ini tetap berlanjut, untuk mencatat hal2 yg berlangsung dalam hidup gw, sebagian untuk gw refleksiin, dan sebagian besarnya untuk hal2 yg mungkin gak penting buat orang lain, tapi penting buat catatan gw, karna gw mau kalau gw gak ada nanti, at least ada yg ngangenin dari gw... hihihi, morbid banget gak seeeeh...

Wednesday, January 10, 2007

Live in Public Unease

I was waiting sometime to write my first blog in 2007 with a good news of finding adam air's airplane (that still missing (!) with 102 people onboard). It is damn too long to live in public unease like this, after 10 days it is yet found! Where are you?


That lost airplane accident happenned on the first day of 2007, and just the day before I closed 2006 with reflections of my own accident experiences. I was quite surprise. Life must goes on and it is so priceless.

My sympathy to the passenger's family onboard AdamAir and also to all survivors and family of senopati boat's, ferry's accidents, flood's victim both water and mud.

Welcome 2007

Quite surprisingly, in last few days Jakarta's sky was blue and clear.

Hope this will clearer all bad weather and all bad accidents in the first week of 2007. My great hope that all good things and faith bring a new hope for a better future.

If only I can still hope.

Sunday, December 31, 2006

There's something money can't buy

Akhir tahun 2000 gw lewati bersama pasangan berbahagia yg adalah teman dekat gw, John & Monique. Sungguh waktu yg sangat berarti walau sempat beberapa hari pertama gw mengeluhkan matahari yg hanya bisa gw liat tidak kurang dari setengah jam dan dingin yg sampai -23F. Tapi semangat John untuk mengabadikan momen2 tersebut dengan Patrick yg ternyata sangat kuat di usianya yg baru beberapa bulan, membuat kami selalu berjalan2 di luar rumah bahkan selama beberapa hari menginap di northpole demi melihat aurora.

Gw tidak punya firasat apa2 kalau itu akan menjadi pertemuan terakhir gw dengan Monique, karena di bulan February Monique dipanggil pulang, dan foto itu menjadi bahagian dari foto2 terakhir kami. Saat menjelang akhir tahun 2006 ini, dan menyaksikan bencana dan kecelakaan yg akhir2 ini rasa2nya sangat sering terjadi, hati ini mengingatkan betapa hidup gw ini benar2 priceless.

Sampai saat ini ada beberapa peristiwa yg masih lekat di otak gw tentang kesempatan hidup yg diberikan ke gw. Kecelakaan mobil di purwakarta dimana mobil yg gw tumpangin adalah yg paling ringsek, membuktikan bahwa hanya Tuhan yg mungkin memberikan kembali hidup itu ke gw. Masih teringat pandangan gw saat mobil meluncur ke jurang dan dalam hitungan detik saja ada mobil yg menabrak mobil kami kembali sehingga mobil entah bagaimana berputar dan mundur sehingga jurang pun terhindari. Juga saat helicopter yg membawa gw dan rombongan kembali dari rig di Gulf of Mexico terbawa badai selama 5 menit. Saat itu yg terlihat di mata gw hanya awan putih tanpa menyadari bahwa perjalanan selama 5 menit itu membawa kami seakan telah menempuh 30 menit perjalanan. Gw masih ingat sang pilot yg awalnya tenang menjadi agak panik saat hubungan telekomunikasi terputus dan gw hanya bisa menyebut namaNya. Terasa begitu tiba2 kami keluar dari awan dan cuaca di depan kami menjadi sangat tenang, namun saat gw menoleh ke belakang terlihat lah gulungan awan hitam. Tanpa disadari kami baru saja keluar dari gelombang awan pembawa badai. Tidak ada kata lain selain mensyukuri keajaiban tersebut. Begitu juga saat evakuasi rig setelah ada blow out alarm yg membuat gw kembali disadarkan betapa hidup hanya sekedar menjalankan tugas saja, kapan berakhir adalah bukan urusan gw. Peristiwa2 remarkable dalam hidup gw tersebut menjadi milestone di kala gw merenungi hidup gw yang salah satunya yah menjelang akhir tahun ini.

Di awal tahun 2006 gw mendapatkan rhema bahwa “everything happen for a reason”. Beberapa peristiwa penting dalam hidup gw di tahun ini menyangkut diri gw, keluarga gw dan juga orang2 di sekeliling gw, memang gw akuin happen for a reason, though some of those reasons still not yet clear but I learn (still do) to just accept. Gw belajar mengingatkan bahwa hidup gw ini bukanlah sekedar gw di dalamya tapi juga orang2 yg mencintai gw. Bulan demi bulan berlalu dengan beberapa ups and downs yg gw yakini berakhir dengan manis. Banyak perjalanan yg gw lakukan di tahun ini, dalam dan luar negri. Bisa melakukan hobi gw, bisa berbagi dengan banyak orang, bisa tetap mencintai dan dicintai, terutama bisa belajar mencintai hidup gw secara lebih dan lebih lagi... karena,

apartemen mahal... money can buy
vacation mahal... money can buy
kamera mahal... money can buy

but my life... it's so priceless and indeed,
it's something money can't buy
goodbye 2006!

Monday, December 25, 2006

Natal

Natal adalah perenungan akan kelahiran.
Bukan hanya kelahiran Yesus pribadi.
Namun juga kelahiran kembali suatu niat yg indah untuk melayani dan mengasihi lebih sungguh. Lebih lagi melayani dan mengasihi sesama, seperti yg selalu diajarkan olehNya.

mau kah kau jadi roti yg terpecah bagiKu?
mau kah kau jadi anggur yg tercurah bagiKu?
mau kah kau jadi saksi membritakan firmanKu: melayani, mengasihi lebih sungguh...

Walau ku sering gagal, tapi aku mau belajar terus melayani dan mengasihi lebih sungguh.
Bukan hanya karna ku mau ataupun merasa mampu, tapi lebih karna itu firmanNya.
Ku mencoba untuk jangan sampai pernah artifisial, dan terutama mencoba memberikan lebih kepada mereka yg sering terabaikan.
Semoga lilin tersebut tetap menyala dan dilahirkan kembali saat hati ini merayakannya.

Have yourselves a very merry christmas, with fun and Christ' love.

Thursday, December 21, 2006

me series (3)

I have answered you during lunch time, this also becomes the song of the day, "Yes, I have found it and enjoy it to the last, my greatest love of all. This is why I try to look no more. Then you asked where the ambition is, damn sure I know that it is still there."

I decided long ago,
Never to walk in anyone's shadows
If I fail, if I succeed
At least I'll live as I believe
No matter what they take from me
They can't take away my dignity


Because the greatest love of all
Is happening to me
I found the greatest love of all
Inside of me

The greatest love of all
Is easy to achieve
Learning to love yourself
It is the greatest love of all

* chorus of song title "Greatest Love of All", sang by Whitney Houston.

Monday, December 11, 2006

Sepenggal cerita yg telah lalu


Hari jumat kemarin gw menghadiri sebuah pertemuan penting setelah 20 tahun berlalu sejak lulus SMP, yaitu reuni informal anak2 SMP Lamaholot. Banyak cerita yg kami saling share. Banyak kejadian2 penting yg terlewat dan saling kami ceritakan. Wajah kami tidak banyak berubah, terus terang dari 15 yg hadir, kami dapat saling mengenali satu dengan yg lain walaupun beberapa baru bertemu kembali setelah hampir 20 tahun tidak bertemu. Satu yg kami yakini dalam pertemuan tersebut, ternyata sifat2 dasar yg kami kenal dahulu ternyata tidak berubah. Sepenggal cerita yg telah lalu, telah menjadi bagian dari hidup yg tidak dapat dipisahkan begitu saja. Terimakasih temans.