Sunday, August 27, 2006

Catatan Pinggir

Hari ini gw berulang tahun yg ke-31 dan offically join "over 30 club" - hehehe. Gw buka hari ini tepat jam 00:00 WITA dengan laporan kepada kepada Sang Pencipta atas keberadaan gw dan ucapan terima kasih untuk kesempatan setahun telah berlalu sejak laporan tahunan yg terakhir. Kami memperbincangkan hal2 yg menurut gw mengecewakan hatiNya karna kenakalan2 gw. Gw juga (tetep) mempertanyakan hal2 yg sampai sekarang pun gw gak ngerti kenapa harus terjadi. Gw minta ampunan untuk kenakalan2 gw, dan (tetep juga) minta pertolongan, perlindungan dan pengertian baru untuk satu tahun ke depan, kalau itu seturut kehendakNya.

Selesai acara ritual tahunan itu, hp gw nyalain dan mulailah masuk 2 sms, tentunya dari orang2 terdekat. Hmm, sempat sedih juga lho - kog sms? Seraya menghibur diri, yah kemajuan teknologi dong! Setelah mebaca dua sms selama beberapa menit, telpon berdering. Hmmm ternyata sms saat gw gak bisa dihubungi. Terima kasih yaa.

Pagi2 sekali gw dibangunkan oleh dering telpon dari mama tersayang. Selamat ulang tahun ya 'nak. Semoga kau senantiasa menghitung hari2mu dan berkat ditambahkan kepadamu. Mama yg tidak pernah berubah, selalu memohon berkat ditambahkan kepada gw terus. Terima kasih ya Ma.
Dilanjutkanlah hari ini dengan telpon, SMS, MMS, email bahkan notifikasi transfer uang hadiah ulang tahun! Ada rasa haru sekaligus bahagia, walau ada juga selintas sedih yg better keep away from this posting.

Seminggu kemaren ini gw habiskan dengan bersosialisasi dengan banyak kalangan yg berbeda2, dari satu farewell ke farewell yg lain sehubungan dengan kepindahan gw ke jakarta. Dari hingar bingar karaoke selama 5 jam nonstop, farewell ala photographer dengan memotret landmark Balikpapan yg telah berubah warna catnya, main bowling yg akhirnya kesampaian juga dengan seorang kenalan yg sudah beberapa kali mengajak dan juga berkenalan dg kenalan2 baru. Dan satu yang tak akan terlupakan tentunya makan2 sederhana masakan para guru SD13 yg mengamini kepergian gw sebagai yg terbaik buat gw walaupun mereka harus "kehilangan". Setelah semuanya itu happening in a short period, sungguh suatu kado ulang tahun yg berbeda, ucapan syukur yg berbeda, kalau di hari ultah gw ini gw pengen just with myself and be the real me. Thanks God It's My Birthday.

Hanya satu catatan pinggir yg sempat gw obrolin dengan seseorang, kog gw kangen yah dengan kartu2 ulang tahun yg sampai saat ini gw keep darinya maupun dari teman2 yg jauh sekali pun. Melo banget gak seh! Gw gak tahu keadaan yg sebenarnya saat teman2 gw itu memilih kartu, membuat kartu atau pun membeli kartu2 itu. Yg gw ingat dulu (gak terlalu lama sebenarnya), gw akan berjalan dari satu toko ke toko lain hanya sekedar mencari kartu yg pas untuk teman yg berulang tahun. Lalu kami masing2 akan menuliskan selamat dengan tulisan tangan masing2. Atau dengan (ya) kemajuan teknologi, gw akan browsing ke greeting card software da memilih kartu yg pas untuk sang penerima.

Dengan rasa penasaran ingin tahu, gw membuka kembali kartu2 yg sudah gw susun rapih untuk packing ke Jakarta dan membacanya kembali. Guess what! Of course, the most interesting are the ones sent by my best friends. Ada kartu yg depannya gambar snowy lagi ngangkat bulan. Gw ingat kartu itu bikin gw terharu banget. Ceritanya beberapa waktu sebelumnya waktu gw ditanya mau kado apa, jawaban gw "mau diambilin bulan". Satu jawaban yg memang ngaco tapi sebenarnya ada latar belakangnya waktu itu. Tapi, tanpa dinyana dan disangka, di hari ulang tahun itu gw beneran dikasih bulan. Tentu Bang senang banget yah waktu bisa nemuin kartu itu. Ada juga kartu dari Erly yg bikin gw terpingkal pingkal dengan gambar dua wanita tua di bagian sampul yg bertuliskan "Let’s be friends until we're old". Kartu tweety dari adek2 gw dengan komentarnya yg bikin gw terharu banget. Ada kartu Forget Me Not dengan ucapan yg gw banget... thanks John, I will stay warm! Ada hati dari karton tebal lengkap dengan gambar2 yg gw suka khasnya Lea-Ardi... uuuuh, miss you guys. Belum lagi Joyce yg memang gak pernah lupa ultah gw yg mengirimkan kartu kecil dengan alasan supaya gw bisa naronya di dompet. Jo, kartunya dah lecek jadinya dah gw laminating tapi gak gw taro di dompet lagi takut rusak, gpp yah. Ini kalo diterusin bisa panjang daftar kartu dan ucapan2nya walaupun daftar pengirimnya memang gak panjang, tapi kirimannya yg rutin dan celotehannya yg bukan contekan ataupun ucapan klasik, meneguhkan satu hal yg gw percaya bahwa true friends make a deep-hard-cement footprints in life.

Kebiasaan mengirim kartu ultah memang sudah gak happening lagi saat ini. Kemajuan teknologi menggantikannya dengan kiriman ucapan via email, SMS, MMS, dll. Sudah jarang (dan memang terbukti jarang) orang akan mencoba memberikan personal touch di hari yg pernah menjadi puncak kebahagiaan pasangan suami-istri yg melihat buah cintanya dalam wujud seorang bayi. Suatu hari yg sampai saat ini gw nikmati betul saat mengunjungi teman2 yg melahirkan dan melihat keajaiban aura muka seorang ibu baru yg tak akan terlupakan.

Gw bukan anti teknologi bahkan termasuk yg sangat peka teknologi untuk mewujudkan billions of possibility. Tapi gw juga orang yg menjunjung tinggi personal touch. Jadi, buat teman2 gw, kalau sampai suatu saat nanti gw ngasih ucapan selamat lewat apa pun: kartu, kado, bahkan email ataupun SMS, MMS tapi gak ada personal touchnya dan yg pasti ucapannya bukan gw banget, tolong diingetin yah :-))

*posting ini gw tuliskan sebelum barusan aja gw baca tulisan parodi gaya hidup ala Samuel Mulia yg di salah satu bagiannya mengutip hal yg kurang lebih sama tentang kiriman kartu ultah. Padahal lo dan gw kan gak kenal ya dan kenapa juga tulisan lo terbitnya pas gw ultah - buat gw ini so coincidence banget gak seehh - ... hehehe...

Sunday, August 20, 2006

Merayakan Kemerdekaan

Tanggal 17 yl sebagai bangsa, bangsa Indonesia merayakan peringatan HARI kemerdekaan. Ulasan di Tempo edisi khusus tentang kemerdekaan cukup membuat hati agak miris dengan kenyataan malam ini kemerdekaan gw untuk berada di rumah gw sendiri di-injak2 atas nama kemerdekaan bertetangga.

Tadi siang gw sudah membayangkan nge-net edisi-weekendnya telkomnet ditemani dengan secangkir kopi dan kripik singkong yg sengaja gw beli, sambil melihat kebolehan keempat raja/ratu SMS AFI di Indosiar. Suatu rencana sederhana untuk menikmati hari-hari terakhir berada di rumah itu. Betapa kagetnya gw saat pulang abis beli kripik singkong itu, menemukan carport rumah gw, yg jelas2 adalah wilayah teritorial rumah gw, sudah tersusun rapi meja2 lengkap dengan tenda di depannya. Tentunya gw yg merasa tidak punya hajatan menjadi heran, kaget namun sempat ge-er berpikir, "wah, ada surprise party nih".

Ternyata bukan surprise party buat gw *kirain, hehehe*, melainkan surprise surprise tetangga2 mau "party" dan pinjam carport rumah gw. *Mengutip istilah beken* IMHO, mbok ya kalau mau memakai teritorial tetangga adalah sepatutnya untuk meminta ijin terlebih dahulu. Ini namanya trespassing, bung.

Tentunya gw menegur dengan baik-baik. Jawaban yg gw terima tidak mengenakkan karna diucapkan dengan nada tinggi, "Lho, selama ini kan 'Mbak ijinkan kami pakai!". Mengulang nada heran yg sama tapi tidak tinggi gw menjawab, "Lho, selama ini kan bapak/ibu meminta ijin sebelumnya untuk memakai. Tentunya selama saya tidak terganggu, saya ijinkan. Tapi hari ini terus terang (maaf) saya kaget menemukan kondisi dalam rumah saya jadi begini. Padahal tadi sebelum saya pergi, saya masih bertegur sapa dengan bapak/ibu, tapi tidak ada pemberitahuan apa2". Jawaban balasannya sungguh mengejutkan, "Yah 'Mbak, beginilah artinya hidup bertetangga". Hmm, permintaan maaf yg sempat gw harapkan pun tidak ada.

Sungguh tidak masuk di akal gw. Namun bukan saat yg tepat kalau gw langsung marah2 dan mengobrak abrik meja2 dan tenda yg telah terpasang rapi. Mereka sedang merayakan arti kemerdekaan hidup bertetangga menurut definisi mereka, dan seakan memaksa gw menerima resiko kemerdekaan mereka itu. Gw tidak mau memperpanjang masalah ini, sebab gw tahu resikonya akan mengarah ke yg tidak2 di negri bhinneka tunggal ika ini. Ambil laptop dan langsung menuju nge-net yg gw idam2kan. Berusaha menikmati efek positifnya kalau gw bisa nge-net dengan sambungan LAN yg jauh lebih cepat dan gratis.

Hanya ijinkanlah gw untuk menjadi heran. Kalau memang inilah artinya hidup bertetangga, apakah sebegitu susahnya "meminta ijin" "kulonuwun" "punten" "permisi". Mereka jelas2 lebih tua dari gw dan sudah banyak makan asam garam kehidupan seperti yg sering dibangga2kan. Tentu banyaknya tidak sebanding dengan generasi tanpa bedil dan bambu runcing seperti gw. Tapi, toleransi bertetangga yg diajarkan di depan mata gw dan anak2 mereka pun menjadi mentah.

Hari ini, tiga hari saja sejak perayaan HUT (HARI ULANG TAHUN) kemerdekaan RI yg ke-61, gw mempertanyakan arti kemerdekaan bertetangga.*sigh*

Monday, August 07, 2006

Bukan 13

Dari ibu2 SD 13 gw tahu keadaan yg sebenarnya terjadi hari Senin minggu lalu di Gunung Bakaran Balikpapan. Di suratkabar daerah memang dituliskan peristiwa angin puting beliung, tapi cerita mereka ini ibaratnya laporan pandangan mata yg tentu buat gw lebih akurat. Saat itu memang terjadi angin "deras" dari arah laut. Percaya akan ada tsunami orang2 berlarian ke daerah yg lebih tinggi ataupun atas rumahnya. Apa mau dikata, ternyata yg datang bukan tsunami melainkan angin puting beliung, mereka pun terluka oleh atap rumah ambruk atau melayang. Barulah terpikirkan bahwa mungkin lebih aman di bawah saja, toh tidak ada air. Tapi kalau benar tsunami, mungkin memang lebih aman di atas. Bagaimana ini? Apa atau siapa pemberi warning yg paling ampuh?

Tiga kejadian besar ini dimulai tanggal 12,
12 Mei 1998 - Tragedi Trisakti
12 Okt 2002 - Bom Bali
12 Jul 2006 - Dimulainya Perang Israel-Libanon
Mahasiswa dan orang2 sipil pun menjadi korban. Mungkin bukan tanggal 13 yg seharusnya ditakuti. Mungkin 12. Mungkin 9. Mungkin juga 31. Atau mungkin sebenarnya setiap hari selalu ada saja "kejahatan" menanti dan tak pandang bulu lagi. Oleh karenanya menurut Bang Napi: WASPADALAH.

Dunia menjadi tidak aman. Kita menjadi benar2 tidak berdaya. Tak mudah untuk benar2 tahu siapa teman atau lawan. Jangankan skala dunia, di sekeliling kita saja menjadi tidak aman. Ada gempa dan letusan gunung api yg setiap saat bisa menghadang. Bukan mau menyalahkan kuasaNya, tapi memang betul2 tidak tertebak "pergerakannya". Belum lagi banjir dan tanah longsor yg adalah notabene ulah manusia juga. Setelah membaca email pertanyaan dan gerutuan seorang teman tentang masalah Israel-Libanon yg semakin brutal, gw menanyakan, "Pembenaran bagaimana kalau perang adalah sama dengan membunuh?"

Penculikan anak yg sedang marak di Jakarta, pemberian narkoba dalam bentuk permen manis atau pun perkenalannya di jajanan anak2, penjambretan membabi buta, bahkan di headline suratkabar daerah "Garong semakin berani". Bagaimana mungkin ini terjadi? Himpitan ekonomi kah sehingga menculik/merampok/menggarong menjadi pembenaran?
-my two cents on this-

Dengan banyaknya kejadian yg berlangsung ini, sungguh bak oase tadi pagi membaca a touching story from India. Walaupun ini fiksi atau bukan memang tidak jelas, tapi sungguh touchy. Gw percaya masih banyak Sindu2 lain di muka bumi ini, to make this world a better place for EVERYONE.


- kutipan cerita dimulai:
Janji

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran, "Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan."

Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu, tampak ketakutan air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India /curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno dan mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada "cooling effect".

Aku mengambil mangkok dan berkata, "Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah." Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku.
Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata, "Boleh ayah, akan aku makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta..." agak ragu2 sejenak... "... akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaanku?"

Aku menjawab, "Oh pasti sayang".
Sindu tanya sekali lagi, "Betul ayah?"
"Yah pasti.." sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.
Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, "Janji" kata istriku.
Aku sedikit khawatir dan berkata: "Sindu jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang." Sindu menjawab, "Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang2 mahal kok."

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya.

Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin pada hari Minggu.
Istriku spontan berkata, "Permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin!" Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita. Aku coba membujuk: "Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak." Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, "Tidak ada 'Yah, tak ada keinginan lain," kata Sindu.

Aku coba memohon kepada Sindu, "Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami." Sindu dengan menangis berkata, "Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya aku menghabiskan nasi susu asam itu Dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan aku kenapa ayah sekarang mau menarik perkataan Ayah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala ) untuk memenuhi janjinya raja rela memberikan tahta, kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri."

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, "Janji kita harus ditepati." Secara serentak istri dan ibuku berkata apakah aku sudah gila.
"Tidak," jawabku, "Kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri."
"Sindu permintaanmu akan kami penuhi."

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus. Hari Senin aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya Dan melambaikan tangan kepadaku sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya. Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak, "Sindu tolong tunggu saya." yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki2 itu botak, aku berpikir mungkin "botak" model jaman sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata, "Anak anda Sindu, benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya. Dia menderita kanker leukemia." Wanita itu berhenti berkata-kata, sejenak aku melihat air matanya mulai meleleh dipipinya. "Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena chemotherapy kepalanya menjadi botak, jadi dia tidak mau pergi kesekolah takut diejek oleh teman2 sekelasnya.
Nah, Minggu lalu Sindu datang ke rumah Dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia."

Aku berdiri terpaku dan tidak terasa air mataku meleleh. Malaikat kecilku tolong ajarkanku tentang arti sebuah kasih.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Wednesday, August 02, 2006

Doing Some Homeworks

Minggu ini adalah minggu medis. Dimulai dengan medical check-up (mcu) tahunan yg harus gw jalanin tgl 25 yl yg dilanjutkan dengan beberapa follow-upnya. Usia bertambah memang. Jika dibandingkan dengan mobil standard sih, onderdil2 tubuh gw masih jauh lebih baik untuk usia yg sama, cuman yah terkadang sang pemiliknya ini lho yg suka masukin bensin kotor, oli2 gak bener, tune-upnya gak teratur, ngukur pressure bannya jg sesekali... intinya, cuman maintenance taonannya doang yg bisa di-two thumbs up. Huuh, mengutip iklan shampo di tv, andai onderdil2 itu bisa bicara... hehehe... dan sekarang, ia mulai berbicara dan gw pun mencoba untuk mendengarkannya.

Seorang teman setelah divaksinasi melihat kejanggalan di pembuluh darahnya yg menjadi terlihat lebih jelas di permukaan kulit. Tentu saja terjadi reaksi jawab gw, vaksin itu kan memasukkan "bibit penyakit" yg telah dilemahkan supaya tubuh membentuk antibodi untuk penyakit tersebut. Maunya sih tubuh benar2 dalam kondisi prima dulu pas dimasukin "bibit penyakit". Namun setelah dilakukan sesuatu yg baik namun sederhana, hal tersebut menghilang. Mau tau lebih lanjut tentang vaksin, ada di sini di antaranya.

Tepat setelah mcu, gw dihadapkan pada seseorang yg kalau dilihat kapasitasnya *menurut gw* seharusnya berpikir dulu sebelum berbicara. Sayangnya lawan bicaranya adalah gw yg tidak dengan mudah menerima mentah2 omongonnya. Please deh areee gene...

"Emang dia ngomong apa sih 'Tha?"
"Dia bilang tanpa ba bi bu kalau gw gak harus konsul ke dokter A, dan dia mempertanyakan keputusan TS-nya di depan gw (TS=teman sejawat). Padahal dia mereksa gw juga kagak dan tahu apa dia tanpa meriksa, toh bukan sesuatu yg kelihatan dengan kasat mata. Duh, kog gak berpikir dulu sebelum bicara yah?"

Omongannya dan omongan2 tanpa berpikir seperti itu, buat gw cukup dikaliin nol aja, yg berarti sama dengan nol.

Kecewa.kecewa.kecewa... Untuk kesekian kalinya dengan orang yg sama, padahal bukan sekali ini saja feedback dilontarkan kepadanya. Gw bilang, tolong jangan asal ngomong dong. Apa salahnya kalau saya ke dokter A untuk memastikan buatanNya masih dalam kondisi baik2 saja, toh dr.A adalah ahlinya yg lebih pantas memastikan jika memang ada apa2. Terlebih gw ngebandingin dengan dia yg hanya ngomong bahkan memeriksa pun enggak. Dia terdiam. Diam. Diam.

Syukurlah gw mengalikan nol omongannya, karena setelah berkonsultasi dengan ahlinya terbukti jelas kalau omongan asbun tersebut (maaf) adalah sampah, dan jika mempercayainya mungkin adalah kesalahan tak termaafkan buat gw. *toeng toeng*

Berpikir dulu sebelum berbicara memang sulit, terutama apabila kita kurang informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam proporsi yang tepat. Gw terkadang terjebak dengan "proporsi yg tepat" ini. Misalnya saja kutipan posting yg diimel teman gw beberapa waktu yl tentang seseorang yg berkomentar "Avian flu saja kok ditakuti, wong cuma 30-an orang yang mati di Indonesia." Komentar tersebut jelas dibahas oleh orang2 yg lebih mengerti hal tsb dg "proporsi yg tepat" yg gw kutip berikut: "Jelas komentar tersebut tanpa berpikir sama sekali karena ia tidak mengenai dasar historis tentang flu yang mematikan (seperti Spanish Flu 1918 yang memakan jutaan korban) dan betapa virus flu yang telah bermutasi akan sangat mudah menular di antara sesama manusia (bayangkan dengan hanya menghirup udara di mana seorang penderita hirup, maka kita semua akan tertulari)". Waduh... bahaya juga yah kalau yg ngomong gak takut itu jadi strategi kesehatan nasional. Berlebihan juga sih kalau terlalu paranaoid, tapi for most of things principal such one's life, better preventive than sorry *I think*.

Gw berusaha at least yah untuk "do my homework", berusaha mengenali latar belakang apa yang dibicarakan, apa suasana berbicara dan dengan siapa gw bicara sebelum membuka mulut. Terkadang with love ones, family and friends, we (somehow allow) to do (lots of) mistakes, but (for example) that will not be the case with the immigration - no visa means no entry *full stop*

Kalau di-ricek ulang hal ini sih pengaruh kebiasaan di rumah dan juga di sekolah, terutama saat gw SMA (dulu). Itu terekam dengan jelas sampai saat ini. Di atas meja kepala sekolah ada plakat bertuliskan "FIKIR" dengan huruf besar, teman2 satu sekolah gw mesti mengenali plakat tersebut dengan sangat baik. Terlepas dari sang kepsek yg memang strength dalam banyak hal, namun satu hal yg melekat di antara kami adalah di saat kami mau menghadap beliau, kami kudu mikir dulu apa yg mau kami omong. Kami tahu kalau asbun mesti kami akan keluar dengan dongkol dan tidak menyenangkan. Kami mencoba mempelajari dulu moodnya beliau walau hal ini sering agak sulit dijadikan patokan. Bahkan ada beberapa teman saat itu melakukan rehearsal dulu sebelum meminta ijin untuk satu acara OSIS atau pun untuk keluar kota dengan orangtua walau ijin orangtua di tangan. Rumit banget yah buat remaja ibukota seusia kami dulu *bandel2 lagi*. Tapi ternyata banyak gunanya setelah menjalani hidup dan di usia saat ini gw sangat bersyukur kalau hal itu gak telat diajarkan. Gw bersyukur kalau itu telah terjadi saat otak ini masih sangat fresh dan mudah diinjeksi hal2 baik.

Kebiasaan itu ternyata telah menjadi suatu kepercayaan. Kejengkelan menghadapi yg tidak berpikir dahulu sebelum berbicara terkadang menjadi sangat mengganggu. Juga keharusan menghadapi pertanyaan2 yg jawabannya sudah ada di depan mata, "kalau saja mau meluangkan waktu untuk membaca baik2 sebelum bertanya, tentu pertanyaan2 seperti itu tidaklah muncul". Yah *sambil menghela nafas* namanya juga pembelajaran. Hanya yg gw sangat sayangkan jika itu dilakukan berulang2 oleh orang yg sama dengan kapasitas yg tidak sembarangan. Lewat pengalaman yg berulang2 tersebut, yah kalau ada postingan yg secara tidak langsung dapat diinterpretasikan ke gw pol dengan "missing the points" tentang apa yg gw sampaikan, sungguh buat gw hal2 seperti itu yah dikaliin nol aja. Toh yg berkomentar telah terbukti berulang2 untuk tidak berpikir dahulu sebelum berbicara dan terlalu sering "missing the points" untuk kapasitasnya yg sekarang gw pertanyakan "tidak sembarangan" itu. So, gw kaliin nol aja kali yeee... yuuks.

Apalagi kalau terjadi ke gw, mesti gw bilang "Stupid doesn't play". Itulah frase joke yg sering gw lontarkan ke diri gw kalau mempertanyakan hal yg padahal gw udah tahu atau gw tahu kemana mencari jawabannya. Jawaban itu bisa saja didapat dengan "mudah" di buku, intranet, internet ataupun kalau mentok2 yah bertanya kepada orang2 yg memang berkapasitas menjawab pertanyaan tersebut. Membaca pun bukan sekedar membaca, tapi berusaha untuk mengerti supaya tidak "missing the points", toh bukan baru belajar membaca. Ada paragraf dan ada inti kalimat, nah intinya yg perlu berusaha dimengerti.

Kemarin ada yg bertanya tentang seringnya gw jalan dengan seorang teman akhir2 ini. Hahaha tertawa juga sih kemaren itu, dan teman gw itu jg langsung nimpalin "huh, kog gak riset dulu sih". Gw jg njawab, "ya ampun, gw kenal dia sejak 2003, tepatnya di airport lounge BS, dia itu temennya temen yg gw kenal di Bpn. Sejak saat itu gw sering banget bareng meluangkan waktu untuk hobi kami ngobrol membahas artikel2, ngopi, nyalon, makan dan berolahraga, dan akhir2 ini hobi kami memotret. Jadi, sebelum lo tuh di Bpn, gw udah sering banget jalan ama dia. Bukan baru akhir2 ini aja". Dijawabnya "oo, gitu toh, kirain..." Hmmm, sepertinya makin banyak nih yg missing the points... hehehe

Tadi siang jg ada kolega yg merasa dirinya selalu menjadi tertuduh jika ada suatu kesalahan, dan ini bukan pertama kali ujarnya. Tanpa mencari tahu lebih lanjut, buat pak boss ternyata seseorang yg salah akan salah terus dan seseorang yg benar *mungkin menurut dia* akan benar terus. "huh, kog gak riset dulu sih, bukan siapa yg salah atau benar, tapi emang enak dituduh mulu'. yg sabar yah.

Setelah kejadian2 yg terjadi berulang2 dalam waktu yg bersamaan ini, gw pikir worth lah to be written that clear (hahaha...). Ini jg buat gw supaya gak jadi amnesia selektif kalau besok2 hal2 yg seperti ini terjadi lagi, tinggal mengalikannya dengan nol saja. Sama dengan nol.

As a wise man said, "be aware of what others think of you based on what you do: the good, the bad and the ugly". Hal yg jg gw sadari adalah bahwa kecerdasan seseorang adalah lewat apa yg tersurat. So, to be able to make a good "suratan", doing some homework will cost exactly nothing but a smart "suratan".

Monday, July 24, 2006

My Shares

Selain motret model, selama dua minggu ini gw nyobain motret moving object dengan kamera Powershot A620 andalan gw selama pertandingan 17-an di kantor. Sadar juga dan udah tahu seeeh, kalo digital zoom emang gak bisa diandalin. Atau emang belom bisa? Ihiks. ..

Ada yg bilang gak fokus megangnya... hu uh
*lensa-nya A620 itu 7.2-29.3mm (equivalent dengan 35-140mm). Nah kalo focal length-nya 17.342mm, berarti masih di sekitar 90mm. So... masih bisa dibuat lebih jauh besar lagi zoom-nya. Thumbs Rule-nya, speed minimum = 1/focal length, tapi untuk kasus pocket kamera menurut gw aturan ini harus ditambah, mungkin sampai 1/(2x focal length) atau 1/(3x focal length). Nah...dari data exif foto ini sudah memenuhi itu semua. Kenapa kok kurang tajem, barangkali waktu motret gak fokus kali mbak he..he.. :P*

Yo wes, cari obyek2 yg mungkin aja kali yeee, contohnya yg satu ini, dengan filter IR (infra-red) pinjeman dari Pudz hasilnya kan lumayan cakep :-)

Lamaru beach


Di flickr gw deh udah ada beberapa foto tuh yg di-upload hasil jalan kesana kemari - mana tahu jadi terinspirasi :-P

More to come.

Enjoy!

Sunday, July 16, 2006

Kecantikan Alternative

update 18/7/06
ternyata, lagi2 seru juga yah seliweran milis tentang putri Indonesia Nadine ini... hehehe, artinya banyak yg peduli lho, walaupun kita sama2 tahu kalau cibiran gak pernah bisa menyelesaikan masalah. Ini catatan terakhir gw tentang hal ini, setelahnya move on, Indo banyak masalah bo, gempa lagi!

"Hujatan" terhadap Artika juga gak kalah dahsyat tahun lalu tapi dia pan tidak menangis dan mundur begitu saja. Saya berharap Nadine berhasil pun bukan di ajang MU ini saja, bahkan selama menjalankan "tugas"nya sebagai PI dan juga seterusnya.

Dengan sudah "mengalahkan" ribuan (bahkan mungkin jutaan!) kontestan PI, Nadine (atau siapa pun yg jadi putri Indonesia) mestinya memiliki modal (apapun itu) yg diharapkan pantas menyandangnya ataupun berada dipentas internasional begini.

Nadine tidak perlu saya bela, dia akan mampu membela dirinya sendiri.

-Artha-
lebih sering dalam keprihatinan saya tertawa *sigh*
======================================================

original posting:

Seru juga yah, di antara heboh2nya "kekonyolan" Nadine di ajang miss universe, siang ini di Oprah show ada enam orang perempuan - yg menurut gw sangat berani - mempromosikan kecantikan "orang biasa". Bentuk tubuh mereka memang tidak seperti yg dimiliki kebanyakan model yg mempromosikan sebuah produk kosmetik. Lebih2 jangan bandingin deh dengan para kontestan miss universe! Namun sang pemiliknya merasa dirinya cantik. Keenamnya di amrik dikenal sebagai Dove's girls, melalui mereka, perusahaan kosmetik Dove memang gencar2nya mempromosikan pesan secara cukup provokatif (even di US sana!). Sebenarnya bukan pesannya tapi caranya. Disebut provokatif lebih kepada penampilan keenam model tersebut dalam iklan billboard memakai underwear putih dengan tubuh yg menurut seorang street-comentator di acara itu "tidak menarik". Diantaranya ada yg memiki perut pasca melahirkan, berwarna kulit terlalu pucat, berbokong bulat, berdada tidak proposional, dlsbnya. Hal2 yg biasa dimiliki perempuan kebanyakan yg memang bukanlah ciri2 seorang model kebanyakan. Namun, hal itu memang disengaja oleh Dove untuk mempromosikan pesannya tentang "real beauty" dan "love your body" attitude. Mengutip penjelasan Oprah, Dove juga melakukan survey sebelumnya dimana hanya 2% perempuan saja yg mengaku dirinya cantik - termasuk ke-50 miss USA kali ya :-) Seru aja sih kalau ada perusahaan kosmetik yg take a risk dan memulai (kembali) this new age in commercial product publication. Will this last soon (like before) or can it survive to be a competitor to provocative "make yourself a barbie" publication? ... hehehe... will see.

Terlepas dari spekulasi komersial semata, gw membuat catatan kalau Oprah juga bilang kalau dia mau jadi bintang iklan produk kosmetik hanya bila perusahaan itu mempromosikan "love your body" attitude. Oprah sendiri pernah gemuk dan she admits that. Billions of woman, at once mesti pernah membandingkan dirinya dengan perempuan lainnya, be it bentuk tubuhnya, kecantikannya, bagian tubuhnya dll. Menurut gw, itu wajar, alamiah, natural, woman-being, tapi harus diakui juga bahwa ada bahaya laten dibalik perasaan alamiah itu. Tanpa "love yourself" and "love your body" attitude, banyak perempuan yg merasa tubuhnya jelek hanya karena "tidak berukuran 2", paha/perut gelambir, muka tidak mulus, warna kulit yg "terlalu", dstnya. Sebagian terbawa pesan komersial semata yg menyatakan harus begini dan begitu dengan tubuhnya. Sebagian bahkan go overboard dan menjadi seseorang yg anti, misalnya anti-kegemukan, anti-kecantikan, dan banyak anti2 lainnya bahkan anti-kekurusan! Padahal semuanya yg anti kan gak selalu bagus. Untuk kasus ini misalnya, kecantikan lahiriah kan anugrah dan menyenangkan untuk dilihat, apalagi kalau sang pemilik menyadarinya dengan sangat baik dan tidak anti orang jelek... hehehe...

Kalau gw sebel dengan kekonyolan Nadine yg bilang kalau Indonesia itu adalah "city", dan Mother Theresa itu adalah "him", itu karna gw menyayangkan kekonyolan tersebut dilakukan oleh seorang putri Indonesia! What a shame! Jangan2 dia gak kenal MotherTheresa? asbun? gak fasih English? nervous? bahkan "ada yg sarkastik bilang" sengaja?. Mendingan pake bahasa Indonesia biar gak belepotan gitu. Emangnya Indonesia ngarepin menang Miss Universe dengan perwakilan kayak gini?

Memang ajang miss2-an gini kadang suka menciptakan persepsi yg berbeda2, misalnya gak penting lah, gak mutu lah, sekelompok barbie melangkah di catwalk lah dan cibiran2 lainnya yg keluar dari orang2 anti. Tapi buat gw, dengan kecantikan lahiriah yg begitu, dengan uang hasil2 promosi sana sini, dengan kesempatan melanglang buana domestik maupun internasional, berbicara di ajang2 penting, - walau hanya setahun - seorang seperti Nadine ataupun kontestan miss2 lainnya itu bisa merubah "dunia". Namun sayangnya, itu hanya bisa terjadi - if and only - dia mau.

Salut untuk Jonathan Pradana Mailoa yg menjadi absolute winner di Olimpiade Fisika dan Indonesia menjadi juara pertama di Oliampiade tersebut dengan meraih 4 medali emas dan 1 medali perak. Menurut Pak Yohanes Surya sang pembina, Jonathan itu baik dalam ujian teori maupun eksperimental. Beliau juga menambahkan kalau siswa2 Indonesia tidak kalah dengan siswa2 di negara2 lebih maju (Olimpiade ini internasional!) asalkan mereka dilatih dan dipersiapkan dengan baik... dalem banget kan komentarnya itu...

Walau jadi juara Olimpiade gak menjadikan Jonathan "Mister Universe", tentunya semoga dia akan bisa merubah dunia lewat dunianya itu. Nah, miss universe juga bisa tuh merubah dunia, tentunya dengan cara yg berbeda. Masa semua orang harus cantik lahiriah, masa semua orang harus jago fisika... hehehe. Ayo Nadine belajar lagi ah supaya bisa berbahasa Inggris dengan fasih, banyak membaca supaya sedikitnya menguasai pengetahuan umum populer dan jangan lupa juga belajar mengatasi nervous di panggung (asking too much?). Nah, dengan modal yg sebenarnya tidak sedikit itu mesti kamu bisa menjawab dengan baik. Pasti bisa, kalau mau. Goodluck.

I need one hectare

Gw baru tahu kemarin kalau beruang madu (in english name as sun bear, latin name: Helarctos malayanus) membutuhkan ruang kurang lebih satu hektar untuk habitat hidupnya. Dalam areal satu hektar itulah ia ber"sosialisasi" dengan dirinya, mencari makanan lewat kulit pohon dan serangga2 tanah yg ada di "daerah kekuasaan"nya itu.

Untuk berbagai tujuan yg semata2 menguntungkan manusia, jenis beruang yg berasal dari pulau Kalimantan ini banyak diburu orang. Mereka diambil dari habitatnya dan hidup dalam habitat baru yg bukan milik mereka. Mereka menjadi tidak lagi mengerti cara hidup di alam, di tempat tinggalnya sendiri. Hal itulah yg memicu Yayasan BOS (the borneo orangutan survival foundation) untuk memelihara dan membina mereka untuk nantinya dilepaskan kembali ke habitat asalnya di hutan. BOS Samboja Lestari yg terletak di Samboja (+/-38km(?) dari Balikpapan) menyediakan tidak kurang dari 58 ha plus suaka beruang madu untuk menampung beruang2 titipan hasil penangkapan liar. Selain beruang madu dan orangutan, kemarin gw juga melihat elang yg terluka sayapnya sedang dalam perawatan. Kalau ingin tahu lebih lanjut tentang apa saja yg dilakukan yayasan ini dan (misalnya) ingin mengadopsi orangutan ataupun berdonasi, silahkan lihat di website yayasan ini, sangat informatif. Menurut Winda yg menjadi guide kami, binatang2 ini sesungguhnya tidak mengganggu manusia, asal saja mereka tidak diusik. Spesies2 ini merupakan kekayaan alam dan kebanggaan pulau Kalimantan, mari kita bantu mereka untuk tetap ada di habitat mereka. Give their one hectare needs!

Gw berseloroh tentang satu hektar tersebut dengan seorang teman. Beberapa bulan ini gw memang mengeluhkan "agak" kehilangan privacy. Bukan gw gak berbuat apa2 untuk itu, gw udah bilang terus terang bahwa ada hal2 yg bukan untuk konsumsi publik. Kalau pun ada yg over-hearing telpon gw atau pembicaraan gw dengan orang2 lain, jadwal2 gw mau kemana aja, biarlah itu menjadi pengetahuan semata. Sekarang ini gw cenderung menjaga jarak dan melakukan saran untuk memperlakukan orang2 sesuai dengan fungsi mereka masing2 (thanks ya Ratih). Ya karena itu, meski gw bukan beruang tapi gw juga butuh that "one hectare". So does everybody. Ini salah satu value yg gw junjung: everyone needs privacy, wherein s/he feels more of themselves, value what they believe, dream what they want, share things they have in passion. Then if we do respect this one hectare, quote and quote what have been said "world peace". We have more than enough space for this. You are you.

Ironis memang saat pelanggaran privacy menjadi persoalan dunia. Ada yg bilang tindakan Zizou kekanak2an. Kalau benar pernyataannya bahwa Materazzi said thing that serious and very personal dan itulah yg membuatnya marah, gw bisa mengerti banget. Dan bila seorang Zinedine Zidane mempertaruhkan "kebesaran" namanya dan rasa cintanya to the game melakukan itu, tentunya tidak main2. Gw memang tidak selalu mengikuti pertandingan sepakbola, tapi gw pernah menyaksikan sendiri betapa French mengelu2kan Zizou dan "seakan2" melupakan kehadiran orang2 lainnya dalam timnya. Mengutip satu tulisan di Kompas 16/7/06 tentang dirinya, Zinedine Zidane disebut sebagai seorang gelandang yg memiliki kemampuan menggiring (dribbling) bola dengan elegan, keseimbangan namun kelincahan luar biasa serta akurasi tembakan tepat. Bahkan ia disebut juga mungkin sebagai salah satu pemain hebat yg pernah ada. Pendapat yg sama bahkan sudah gw dengar sebelumnya lewat Mas Gaby setelah pertandingan France-Brazil di pertandingan perdelapan final. Dia bilang, "nggiring bola kayak gitu cuman punyanya Zidane". Nah, apa yg kayak gitu kekanak2 an. Suatu misteri yg belum benar2 selesai.

Gw juga baru mengalami suatu kemarahan akibat rasa sakit yg tak tertahankan. Mungkin orang lain gak akan bisa mengerti kalau tidak merasakannya sendiri. Yah demikian juga dengan Zizou, kita gak akan bisa merasakan kemarahan yg membuatnya harus "menanduk" Materazzi karna kita tidak merasakan apa yg dia rasakan saat itu. Saat diwawancarai Canal Plus hari Rabu yl, ia mengakui kalau perbuatannya itu unforgivable. Ia meminta maaf kepada anak2 yg seharusnya tidak menerima "pendidikan" seperti itu, namun ia juga menyatakan "but I don't regret anything that happenned, I accept it". Ia merasa harus melakukannya supaya yg melakukannya tidak menganggap bahwa perbuatannya benar.

Saat main bowling sabtu malam yl, ada yg menanyakan kenapa gw bisa marah sebegitunya, gw menjawabnya dengan kalem bahwa dia tidak mengerti masalah yg sesungguhnya. Untuk bisa mengerti alasan kenapa gw bisa sebegitu marahnya, gw menawarkannya untuk melakukan hal yg membuat gw sangat sakit. Sayangnya dia menyerah, jadi (mungkin) dia tidak akan bisa mengerti kenapa gw marah. Namun dia mengakui kalau dia tahu bahwa itu mesti sangat sakit. Terlepas dari rasa bersalah sudah marah2 dan gw jg sudah minta maaf untuk itu, tapi rasa ini gw kenal dengan baik, inilah rasa marah akibat kesakitan.

Tiap2 orang mempunyai ambang marah yg berbeda, ada yg marah karena hal2 sepele, ada yg sangking halusnya mengaku tidak bisa marah, dan ada juga yg tidak bisa mengungkapkan kemarahannya. Kemarahan gw dan Zizou adalah akibat telah lewatnya ambang batas kami, as simple as that. Zizou juga bilang, "Above all, I'm human". So? me too! Above all I'm human, so I do beg you to give my one hectare need. I need it badly. No worries, I'll never take yours.

Tuesday, July 04, 2006

Adu Penalti di Ujian Akhir Nasional ?

Apa persamaan eksekusi adu penalti pada pertandingan sepakbola dengan ujian akhir nasional?

Dua2nya punya aturan main.
Dua2nya membutuhkan keahlian.
Dua2nya membutuhkan courage (baca: readiness to face).
Dua2nya membutuhkan mental.
Dua2nya menentukan kemenangan.
Dan pada saat eksekusi itu tidak berhasil, dua2nya "kalah" !

Hilang sudah keahlian yg sebelumnya ditempa dan dimiliki.
Hilang sudah aturan main yg selama ini dimengerti.
Hilang sudah courage (baca: readiness to face) untuk menang.
Hilang sudah mental yg dipersiapkan.
Hilang sudah semua yg ada di belakang.
Hilang sudah kemenangan itu !

Kontroversi ujian nasional sebagai penentu kelulusan, pada kenyataannya memang mengundang protes sebelum dilaksanakan. Suaranya memang tidak secara terus menerus dan berulang2 di media2 sebagaimana halnya dengan protes ketidaklulusannya akhir2 ini. Walau sebenarnya, menurut Kompas (20/6), siswa yang tidak lulus kurang dari 10% dari keseluruhan yang mengikuti ujian. Itu juga berarti, yang lulus lebih dari 90% dan dengan nilai rata2 yg lebih baik dibandingkan dengan ujian tahun sebelumnya.

Apakah mereka yg gagal melakukan eksekusi itu, yg katanya sebagian notabene anak2 "pintar" dan pemain2 "kelas dunia"*) menyepelekan adu penalti itu dan merasa pasti lulus?

Lain halnya dengan peraturan eksekusi adu penalti pada pertandingan sepakbola yg cukup jelas, ternyata aturan main unas tidaklah jelas. Ini “mengutip” banyak pihak yg merasa baru tahu setelah ujian, bahwa ujian ini (lagi2 ternyata) merupakan penentu kelulusan. *Katakan tidak setuju sebelum terlambat. Jangan No Action Talk Only*

Di pertandingan quarters-final piala dunia 2006 antara England vs Portugal - pertandingan pertama yg gw tonton dengan full, ke-fair-an wasit asal Argentina juga dipertanyakan. Sama halnya dengan kontroversi bahwa sebagian soal2 unas itu "cocok" dengan soal2 Bimbel, ini juga mengundang pertanyaan. Sekedar kesamaan kurikulum yg jadi acuan atau? Bagaimana dengan mereka yg menyontek? Bagaimana dengan kecurangan2 pemain yg tidak terlihat wasit? Misalnya, ada yg menendang sebelum peluit dibunyikan, disengajakah untuk mengecoh kiper? Bagaimana dengan berita salah kertas ujian?

Setelah menonton dan menyaksikan dua perhelatan akbar yg mendapat porsi cukup banyak di televisi2 nasional, terlepas dari kontroversi maupun kecurangan2 yg adalah sah2 aja untuk dipertanyakan, pendapat gw adalah: dua2nya adalah pertandingan. Ada yg menang dan ada yg kalah. Maka, bersiaplah!

Penting untuk tahu medan laga. Faktor apa yg menentukan kemenangan. Siapa sang wasit. Siapkan mental dengan mengetahui aturan mainnya, mencari tahu keahlian2 apa yg diperlukan yg terkadang tidak tertulis. Tak kalah penting dan terkadang menjadi faktor kunci, siapkan mental-bagaimana yg dibutuhkan, tahu dan sadar 100% untuk mempersiapkan diri bahwa eksekusi itu akan menjadi penentu kemenangan!

Kemenangan dalam adu penalti pada pertandingan sepakbola menyangkut bermilyard2 uang taruhan, gengsi sang pemain, gengsi sang pelatih, gengsi negara dan pol dengan gengsi para pendukung fanatiknya di seluruh dunia. Masih dengan analogi yg sama, kemenangan "adu penalti" dalam unas juga menyangkut masa depan sang eksekutor. Jadi, lakukanlah dengan bertanggung jawab!

Courtesy of fifaworldcup.

*) Setelah nonton England vs. Portugal yg dimenangkan 3-1 oleh Portugal melalui adu penalti, Sabtu 1 Juli 2006.

* Penulis adalah seseorang yg pernah mempersiapkan eksekusi "adu penalti" di UMPTN 1993, ujian komprehensif untuk kelulusan Teknik Kimia - keduanya serupa tapi tak sama dengan unas. Dan saat ini mempersiapkan untuk banyak lagi adu-penalti2 lainnya yg menunggu hari ini, besok dan seterusnya.

Sunday, July 02, 2006

Kunci Jawaban

Tanggal 1 Juli identik dengan harinya Polisi. Menurut pengakuan mantan Kapolda Metro Jaya, Pak Firman Gani, rasio jumlah polisi dengan penduduk di DKI Jakarta 1:700 dengan angka kejahatan 120-200 kasus per harinya!

Apa ini kunci jawaban pertanyaan tentang keberadaan polisi pada saat dibutuhkan?

Jadi, kalau lagi ada masalah dan (dengan sangat) mengharapan pertolongan polisi dengan segera, tetapi nihil alias tidak kunjung datang, artinya dia sedang menangani salah seorang di antara 699 orang lainnya.

Sedangkan kalau distop polisi dan kena tilang (yg katanya "lagi apes" padahal udah jelas2 tahu kalo mo nyetir kudu punya sim), artinya sedang menjadi satu orang yg kena perhatiannya polisi, sedangkan diantara 699 orang lainnya bisa saja sedang mempertanyakan "duh, dimana sih polisi saat saya membutuhkannya?"

Atau, masih ada jawaban2 lainnya yg bisa dibenarkan... pan pertanyaannya bukan pilihan ganda atau benar/salah :-)

Hmm, kayaknya gak bisa deh nunggu polisi ada di tempat mulu, saingannya berat. Mendingan lakukan sesuatu supaya gak butuh polisi, yah kalo emang lagi apes memang udah digariskan begitu. hihihi.

Nah, pake helm kan untuk keslamatan sendiri yah, nah misalnya gini terus ada apa2 (misalnya), apa masih nyariin polisi? atau didaerahnya "kapak merah" yah jangan dong pake hp.

Peace yo' bantu polisi!

Thursday, June 29, 2006

Kalo gak penting

buat apa basa basi itu?
buat apa kata2 di belakang?
buat apa cemoohan terhadap "what-so-called management"?
buat apa keluh kesah selama ini?

for the sake of NOTHING?

saat ini gw lagi sebel sama orang yg senengnya mengeluh, tapi pada saat ada kesempatan untuk mengungkapkan keluhannya di tempat yg benar dan baik malah terdiam atau memilih diam untuk ???

mahalkah harga sebuah keterusterangan?
gengsi kah?
beraninya memang cuman di belakang saja?
opportunis hard-core?
hipokrit?

kalo semua itu gak penting, diam saja, baik di depan maupun di belakang - tidak juga menertawakan orang lain yg menganggapnya penting. Toh kalo di belakang mereka, itu juga jadi penting kok.

kalo semua itu penting, DO SOMETHING - that will makes me put (some) RESPECT on you.

! kalo gak penting, DIAM !

*after TOIP presentation*

Wednesday, June 28, 2006

HTML for dumMe

Keingintahuan gw kali ini bermula dari ketidakberhasilan gw ng-upload foto diblog keduakakiku. Penasaran pastinya, apalagi ada yg nyeletuk "kog blognya gak ada gambarnya", "pasang shoutbox dong, mbak", "dihias dong blognya, kak" dan beberapa komen2 lainnya sebagai efek dari sebuah jurnal yg di-online-kan. Jawabannya adalah: gw masih dummy banget nih urusan ginian. *ihiks*

Dunia maya yg bisa dipelajari dengan mau belajar ilmu komputer ini memang bukan expertise gw. *nananananana, lame excuse* Walau gw sering menggunakannya, memanfaatkannya tapi tidak (atau belum?) ada ketertarikan berarti untuk mendalaminya. Yang gw tahu adalah membaca berita online, ng-email, ngeblog dan hal2 lain seputaran menggunakan internet yg memang masih seputaran "halaman depan", bahkan buat para programmer not even the frontyard!

'pan semua ada keahliannya masing2' itulah dalih gw selama ini dan memang, gw rasa gak akan pernah cukup untuk mempelajari semua hal yg terkadang masuk ke neuron2 kecil gw yg memang suka iseng membawa gw ke pertanyaan2 yg gw gak puas kalo belum dapet jawabannya.

Nah, termasuk hal satu ini. Gara2 gak bisa ng-upload foto itu, gw nanya ke Yanti yg memang lebih advance untuk hal ini. Dia ngusulin, "Udah ganti aja ‘Tha templatenya, mana tahu jadi bisa". *okeh deh*

Sebenarnya hari Sabtu kemaren Yanti udah ngsih alamat sitenya, waktu kita nge-browsing gratis di cafe Excelso balikpapan centre. Tapi gw salah ketik, http://blogger-template.blogspot.com yg membawa gw ke site yg berbeda. Gw nanya lagi ke Yanti, dia bilangin lagi dengan sabar (makasih yah), "alamatnya 'Tha: ha te te pe blogger strip template dot blogspot dot com" - Alamat seharusnya: http://blogger-templates.blogspot.com/. Eh, gak cukup sampai di situ, gw nambah nanya, "eh Yan, há te te pe itu apa yah artinya?"

Yaaaaaa ampun, after all gitu loh! Again, ini berarti lepas dari keingintahuan gw selama ini.

Singkat cerita, "thanks to her and Blogger templates", gw ganti template blog gw itu dan jadi bisa deh ngupload foto (duh, jangan diketawain yah the dummy Me). Hal yg sebenarnya kaya’nya gak susah deh (STOP!) - mungkin juga masalahnya bukan di template. *sight*

Tapi, ternyata pertanyaan itu gak stop disitu aja. Pagi ini, adalah Mas Gabi yg selama ini berusaha meng-upgrade ilmu komputer gw yg menerangkan dengan sabar arti http, hubungannya dengan CSS, termasuk teknologi2 apa yg lebih baru. Gw emang approve pendapat Mas Gabi yg punya komen, "aku insomnia 'Tha karna waktu 24 jam itu gak cukup buat belajar" - wow -

Eniwei, walaupun katanya HTML ini udah agak2 teknologi oldies tapi buat gw sih masih lumayan lah ngerti2 dikit (at least biar gak buta2 amat). Gw dapet tutorial yg lumayan menarik, bahasanya mudah. Makasih yah Mas Gabi dan Mas Nur Hasyim. Your brilliant helps this dumMe. Tutorial ini buat gw sih menarik, mana tahu buat kalian juga, HTML for dumMe (PS. bukan judul asli tutorialnya).

Tuesday, June 27, 2006

Ngemsi

Berita kepindahan gw ke Jakarta ditanggapi dengan berbeda2, salah satunya ada yg bilang "yaah, nanti kita susah dong cari mc (master of ceremony)"

Gubrak! emang sih, gw bisa banget ngomong depan umum *narciss mode on* tapi yah gak usah hiperbolik gitu dong - toh sebenarnnya gw gak ngemsi di setiap acara, walaupun emang banyak :-)

Courtesy of Arief Nur-Budiman and Pujo Rahmanto


Apalagi nih tadi pagi, ditelpon panitia acara "Nonton Bareng World Cup 2006" untuk ngemsi sekaligus komentator ... katanya sih permintaan penonton gara2 kesuksesan gw ngemsi di acara "Mahakam Football Competition 2003" yl - padahal jelas2 acaranya beda, gak ngomentarin pertandingan sepakbola!

hahaha... gw langsung terbahak2, bisa2 dikomentarin kayak mbak Titik di SCTV*... hahaha...
*peace, Mbak!*

Monday, June 26, 2006

Nyanyian di Kala Hujan

Begitu memasuki Balikpapan, cuaca buruk (mengutip kata2nya pramugari) menyambut pesawat kami dan itu cukup membuatnya berguncang2 beberapa kali. Takut? ada sih tapi tidak berlebihan.

Begitu mendarat, ada bus yg menyambut kedatangan kami. Hal yg tidak biasa buat maskapai penerbangan yg biasa gw pakai. Itu karna hujan.

Begitu di antrian taxi, petugasnya langsung memberitahukan jalanan banjir dimana2, jadi ada daerah2 yg tidak bisa dilewati. Untungnya tidak termasuk ke arah jl.Minyak. Begitu kami duduk di taxi, pak supir langsung bercerita tentang hujan yg turun sejak tengah malam dan belum berhenti sampai pagi ini. Huuh, hujan yg merepotkan.
Coutersy of NN @ Balikpapan

Begitu nyalain hp, ada sms dari seorang teman yg bilang jalan depan rumahnya banjir sehingga tadi pagi dia harus nebeng. Dasar hujan!

Begitu sampai kantor dan menghirup bau tanah yg segar, disambut pemandangan pohon pinus dari jendela kantor gw ditambah suasana kantor yg sepi. Horreyyy, senangnya hari hujan.



Begitu mendengar ada anak kecil yg larut* karena banjir di daerah DAM (foto di atas), hati terenyuh juga.

Bukankah hujan sering dinanti2?
Mengutip kata2 PDAM Balikpapan, katanya kalau hujan tidak turun maka danau penampungan air menjadi kering dan selanjutnya bisa ditebak, Balikpapan susah air!

Blame it on the rain (rain)
Whatever you do don't put the blame on you
Blame it on the rain (rain) yeah
You can blame it on the rain
Ooh, ooh, I can't, I can't, I can't, I can't stand the rain
(a.k.a Milli Vanilli)

larut = hanyut - walaupun dalam bahasa Indonesia juga mempunyai arti yg sama, kata larut lah yg biasanya dipakai di Balikpapan untuk mengatakan orang hanyut di air, baik di sungai, di laut maupun dalam genangan banjir (sumber: Ririn, born in Balikpapan).

update hari ini, Selasa 27/6/2006:
*yg larut sudah 3 orang!
*ada pengumuman PDAM Balikpapan di SmartFM bahwa selama lima hari ke depan warga Balikpapan akan kesulitan air bersih karena pipa penyaluran PDAM terputus di km10. Diharapkan, pipa tersebut dapat diperbaiki dalam waktu yah lima hari itu.

update hari ini, Minggu 1/7/2006:
*lima hari sudah berlalu. Berbeda dg yg diungkapkan bapak PDAM hr Selasa yl, air di rumah tetap lancaar, syukurlah! Moga2 yg di tempat lain juga gitu yah.

Thursday, June 22, 2006

Motret

Mencoba atau mempelajari hal baru? Itu adalah satu hal yg paling konsisten gw lakukan selama 30 tahun ini, hehehe.

Sejak 2003 gw tergabung dalam Total Photography Club (alias TPC), tepatnya sejak gw ikutan seminar TPC tentang basic photography di tahun yg sama. Nah, waktu itu gw merasa udah bisa lah motret dengan standard yg menurut gw udah cukup bagus. Maksud gw motret gak muluk2, cenderung sangat simple, yaitu mau mengabadikan pemandangan atau suatu kejadian/peristiwa di sekitar gw.

Beberapa fotografer menekankan arti “making a picture”, selain dengan suguhan model (pemandangan alam, manusia, dll), sang fotografer juga menggunakan beberapa teknik2 fotografi untuk membuat foto itu jadi lebih bermakna. Mereka memberikan contoh misalnya untuk menekankan arti satu obyek, maka obyek lainnya yg ada dibuat blur. Konsep itu menarik, making a picture.

Selama ini gw memang masih “taking picture”, alias motret. Setelah mengikuti seminar tersebut, gw jadi tertarik untuk mempelajarinya lebih lanjut dan dengan semangat mau belajar, ikutlah gw ke club ini.

Tiga tahun berlalu. Gw melihat ada perubahan dalam foto2 yg gw ambil. Sekarang, at least gw berusaha untuk tidak lagi ngasal motret, walaupun ada pengecualian ya kalau obyeknya bagus tapi gak ada waktu untuk ‘ngeker’nya atau nyeting2.

Pembelajaran ini rasanya sih belum selesai, gw liat banyak foto2 bagus yg mbuatnya susah, tapi ada juga foto2 bagus dari obyek yg biasa2 aja tapi bisa menyampaikan isi benak sang fotografer ke orang lain yg liat foto itu – nah, polnya itu deh yg gw mau, gw mau foto2 gw bisa menyampaikan isi benak gw ke orang lain yg melihat foto itu – let’s see in the future apa masih ini tujuan fotografi gw.



Foto ini gw ambil di pantai Kuta Lombok. Secara pantainya panjang dan gw mau ngedapetin horizonnya dengan peralatan terbatas, gw motretnya tiga kali (maklum, kamera poket!). Tapi sayangnya di foto itu masih ada batas jelas antar foto 1, 2, dan 3. Katanya yg expert, ini bisa diatasi dengan digital imaging. Weleh weleh, ... tuuuu kan, gimana bisa berhenti mencoba hal baru? Gw mau coba belajar digital imaging aaahhh

Monday, June 12, 2006

Berpesta dalam bencana

Euforia piala dunia diakui dapat membuat sebagian masyarakat larut dalam suasana pesta dunia tersebut. Bencana gempa di Yogya maupun telah dimulainya “langganan” penyakit deman berdarah pun menjadi berita sampingan di media2.

Foto ini gw ambil sebelum memasuki stadion Senayan tempat pelaksanaan pertandingan Persija-Persipura th.2005 yl. Para pendukung Persija rela "menyabung" nyawa dengan duduk di atas bus demi membela kesebelasan tercinta. Yah, demikianlah kalau euforia merasuki raga, terkadang pikiran jernih pun terpengaruhi.

Ada tulisan di Tempo yg mengajak mereka yg tidak menyukai pesta tersebut untuk dapat menerimanya dengan lapang dada dan berlaku santai. Dihimbau untuk tidak mengganggu apalagi menentang mereka yg sedang berpesta. Ada juga seliwerin email yg bertajuk peraturan piala dunia, yang isinya adalah petunjuk berperilaku bagi istri, sahabat dan pacar yg cukup lengkap dengan tindakan2 apa yg harus dilakukan ataupun apa yg tabu dilakukan selama periode satu bulan ke depan ini terhadap para penggemar nonton bola.

Yah, dunia memang begini, asal jangan kebablasan lah santainya toh suasana masih berkabung (belum 40hari-an). Boleh untuk menjadi hiburan sesaat (para pengungsi pun mengakuinya), namun jg berlebihan apalagi sampai membawa bencana baru hanya gara2 keasyikan berpesta.

Sebagai selingan diantara euforia itu, silahkan dibaca artikel berikut yg juga merupakan petunjuk berperilaku jika bumi berpesta seiring irama yg sulit ditebak manusia. Pergerakannya seiring irama waltz yg tiap tiga ketukan, atau 8 beat atau 16beat? Hanya Tuhan yg tahu, namun kita bisa menggunakan ilmu pengetahuan untuk tidak meratapi musibah hanya karna ketidaktahuan.

Senin 12/6/2006 pukul 06:43 WIB gempa tektonik dengan kekuatan 5.9 skala richter dengan episentrum 530km laut barat daya Lampung *petunjuk alam untuk jangan terlena dalam pesta*

Buat mereka yg berpesta, jg sampai mabuk dan lupa pulang ke rumah. Kalau ada panggilan pulang ke rumah sebelum pesta selesai, segeralah pulang.

Thursday, June 08, 2006

Obrolan Pagi Ini

Tadi pagi bincang2 ama kolega kantor tentang pilihan karir yg sekarang ini lagi jadi topik in. Mas yg udah berpengalaman lebih dari 10 tahun di eksplorasi oil dan gas itu sharing kalau dia pernah membaca sebuah tulisan tentang hubungan antara pengalaman seseorang bekerja dengan tujuannya bekerja. Tanpa mengeneralisasi makna dari kata tulisan itu, katanya:

usia bekerja 0-5 thn: tujuannya masih mencari jati diri.
usia bekerja 5-10 thn: value of money menjadi tujuan.
usia bekerja 10-15 thn: FREEDOM --> freedom to express, freedom to make a decision, freedom to (etc in personal means).
di atas 15 thn: tujuannya mencari alternative lain.

Hmmmm, sepertinya pernyataan tersebut mendekati kebenaran deh bahwa age and experience do matter.

Sunday, June 04, 2006

You've Got A Friend

When you're down and troubled
And you need some loving care
And nothing, nothing is going right
Close your eyes and think of me
And soon I will be there
To brighten up even your darkest night

You just call out my name
And you know wherever I am
I'll come running to see you again
Winter, spring, summer or fall
All you have to do is call
And I'll be there
You've got a friend

If the sky above you
Grows dark and full of clouds
And that old north wind begins to blow
Keep your head together
And call my name out loud
Soon you'll hear me knocking at your door

Ain't it good to know that you've got a friend
When people can be so cold
They'll hurt you, and desert you
And take your soul if you let them
Oh, but don't you let them
(Lyrics and Music by Carole King)

Mendapat peneguhan saat dengerin lagu ini di SmartFM tadi siang dalam perjalanan menuju kantor, gw menuliskan lagu ini di blog ini sebagai satu milestone dalam hidup gw.

Yah, terkadang teman, gak semuanya alasan2 "mengapa begini mengapa begitu" tentang tingkah laku dan tindak tanduk gw, bisa gw jelaskan secara langsung dan detail. Tentang mengapa kok kayaknya gw menikmati banget (hehehe), ada apa sebenarnya dibalik keputusan2 gw, apa itu mau gw atau gw harus menekan mau gw dan mengikuti suara mayoritas, tentang hal2 apa yg membuat gw tertawa riang, hal2 apa yg membuat gw bisa menerima apa yg diputuskan orang lain buat gw dan juga tentang hal2 apa yg (ternyata) bisa membuat gw sedih banget.

Sama dengan hidup gw yg selalu penuh dengan pertanyaan, mungkin itulah juga mengapa gw tidak selalu bisa menjadi jelas banget. Itulah gw. Bukan pengingkaran, tapi lebih kepada satu refleksi anak manusia untuk mengenal lebih tentang apa yg ada di dalam hatinya lebih penting daripada apa yg kelihatan. Namun satu hal, gw gak mau putus asa mengingatkan diri gw tentang tiga hal ini dan itu juga yg menjadi salah satu pemikiran di awal mengapa gw menamakan blog ini My Reflection.

Look at me
You may think you see
Who I really am
But you'll never know me
Every day,it's as if I play a part
When will my reflection show, who I am inside...
(edited lyrics from song of Reflection - C.Aguilera)

Walaupun sebenernya masiiiihhhhh jauuuuuhhh lebih banyak lagi yg menjadi my reflections, mungkin hanya Tuhan dan roh gw yg tahu benar tentang gw. Saat ini untuk teman2 gw, baca baik2 lyrics lagu ini and voila, you've got a friend!

Friday, June 02, 2006

Bb (baca: b mol)

Gak jelas berhubungan apa enggak cerita2 di bawah ini.

cerita 1:
kemaren pas mau bikin blog tentang catatan perjalanan, maunya sih nama blognya duakakiku, tapi ditolak sama blogger karna udah ada yg punya blog dg nama itu. Yg punya namanya bibin dan dari cerita2 di blog nya, dia seneng juga jalan2 & moto2.
salam kenal 'bin.

cerita 2:
pagi ini pas bikin kopi, gw mendengar berita gembira putrinya MasBayu-Cyndha sudah lahir tadi pagi jam 03.30, namanya Bydhari Fardhannisa. selesai makan siang di Pasundan, gw bareng May dan Mia njengukkin mereka di RS Pertamina. pas ngomongin namanya, ibunya bilang panggilannya bibit.
selamat datang 'bit.

cerita 3:
nah, sebelum berangkat makan siang di cerita 2, gw bilang ke May dan Mia kalau beberapa hari belakangan ini beberapa orang yg dengan nama berunsur b (bondan, bib, budi) menjadi ramai dibicarakan, hahaha.... what a coincidence of b.


b for bravo
b for brave
b for blessings
b for bidadari cantik MasBayu-Cyndha

Lagi, lagi

Lagi, lagi mikir hal yg sama
Lagi, lagi ngebayangin hal yg sama
Lagi, lagi nge-pengen-in hal yg sama
Lagi, lagi terjadi bencana yg sama
Lagi, lagi terpuruk di pemikiran yg sama
Lagi, lagi hanya bisa berbuat yg sama

Sudahlah De... masih banyak yg bisa dikerjain selain mikirin
"coba kalau aku jadi dokter"

hahaha, lagi, lagi tertawa... itulah yg aku suka dari dirimu De...

Thursday, June 01, 2006

KeduaKakiKu

Tanggal 18 May y.l gw nulis email ini,

kutipan email dimulai...
Hallo mbak Ambar, kenalkan nama saya Artha, saya "kenal" mbak Ambar awalnya dari milis indobackpacker yg membawa saya ke blognya Ambar. Saya mau bilang aja kalau saya salut, mbak Ambar sangat menyempatkan diri untuk menulis dan merekam perjalanan2nya dalam bentuk tulisan dan gambar2 sangat menawan.
Sebenarnya hobby kita lumayan sama... hehehe, jalan2 & fotografi, cuman saya belum mendisiplinkan diri untuk menulis weblog. Setelah melihat2 tulisannya Mbak tentang perjalanan2 yg saya sendiri sebenarnya udah pernah kesana, melalui jalur yg sama, moto2 dg obyek yg sama, udah pernah nulis di jurnal kecil saya(buku yg kecil2 tiap kali perjalanan saya beli, tapi biasanya jadi lecek/basah/gak jelasbentuknya), sayangnya, belum saya tuliskan seperti mbak Ambar tuliskan dengan gambar2 yg menawan.
Mbak memberi inspirasi saya untuk tidak saja menuliskan perasaan2 saya tapi juga mendokumentasikan dengan baik perjalanan2 tersebut....
at least saya mau mulai...hehehe...
kutipan email selesai....

dan siang ini menemukan blognya mai yg baru :-) salut may dah mulai online duluan! may tuh tandingannya edna dalam hal bisa berbagi dengan gw dari mulai jalan2 ngeteng, hotel berbintang-bintang sampai hotel nyaman tanpa bintang sangking jendelanya tertutup satin...

dan beberapa petualangan online membaca jurnal2 perjalanan lainnya. Sampai2 di salah satu milis sempat didiskusikan lonely planet tentang Indonesia suatu saat mungkin bisa dituliskan sama anak bangsa... *surat sahabat di transtv mau dibukukan gitu*
emang sih travelling masih menjadi kebutuhan luxury buat mayoritas kita, tapi tidak dengan menulis... hayo Artha mulai tulis :-) apalagi ntar lagi internet masuk desa (sabar ya dek, pasti kakak bantu nanti)... *salut buat telkom, belum terlalu terlambat Pak!*

mari kita terus menulis, tentang perjalanan2 kita... tentu dengan cara kita sendiri dan rasa kita... hihihi... sekali lagi, saya belum pasang target, at least saya mau mulai.... hehehe... kenalan dengan keduakakiku