Saat menonton acara itu, gw teringat kalau beberapa hari sebelumnya gw baru saja menonton/membaca iklan layanan masyarakat tersebut. Pesan yg disampaikan di dalamnya ditekankan untuk menghargai uang sebagai penghargaan atas hasil keringat sendiri. Tapi selain uang berfungsi sebagai alat pembayaran yg sah seperti tertulis jelas di tiap lembar uang kertas tersebut, uang juga adalah barang kehormatan republik ini secara adanya lambang negara dan ttd pejabat negara. Sayangnya, waktu itu di antara beberapa teman, cuman gw yg merasa pernah melihat iklan tersebut. Ternyata iklan itu tidak setenar iklan layanan masyarakat tentang pengenalan uang palsu dengan kampanyenya yg cukup sering bergaung, "dilihat-diraba-diterawang". Jadi kepastian Yanti tadi cukup melegakan untuk topik yg nyaris terabaikan ini.
Menurut gw, bukan kapitalisasi uang sekedar menggantikan souvenir yg bisa saja dibeli dengan kapital yg sama. Tapi bayangkan, kalau gw gak salah liat waktu itu, berarti baru beberapa hari saja pemerintah berbicara eh tak lama kemudian himbauan tersebut langsung dilecehkan. Dipertontonkan kepada khalayak ramai lagi! Kalau itu dianggap sebagai guyonan saja, duh sayang sekali yah. Tapi toh, menteri2 ataupun tokoh masyarakat yg ada di acara tersebut pun sepertinya menerima saja, atau sudah ada delik aduan? Di tv juga terlihat pandangan celamitan seseorang bercerita tentang bunga uang yg sempat jadi rebutan itu. Duh! Juga kalau yg dipermasalahkan hanya citra keluarga tersohor ini, sayang sekali. Iklan tersebut toh jelas2 dikeluarkan oleh BI which is notabene pemerintahan RI, yg notabene langsung dilanggar oleh salah satu keluarga terpandang, ironi bukan?
Citra jugalah menurut gw yg terwakilkan oleh jajak pendapat 2th pemerintahan SBY-JK yg akhir2 ini dikutip dimana2. 67% rakyat menyatakan kepuasannya dalam hasil jajak pendapat yg dimotori LSI tersebut. Melalui blognya SBY, Pak Andi menyatakan bahwa SBY bersyukur atas dukungan rakyat dan kembali membuat janji untuk masa depan yg lebih sejahtera. Toh perlu dicermati juga bahwa sampai bulan Maret yl, hasil survey yg sama menyatakan penurunan kepuasan yg cukup berarti ke level terendah selama pemerintahan duet tsb. Baru setelahnya, dalam 2 bulan (April-Mei) angka kepuasan tersebut menanjak dan akhirnya mencapai level 67%. Coba liat potretnya di akhir tahun 2005. Oke2 saja sih kalau hasil baru ini menunjukkan peningkatan citra mereka di mata masyarakat saat ini, tapi apa angka tersebut betul adalah laporan pandangan mata rakyat terhadap hasil pemerintahan SBY-JK, atau lebih kepada citra atau karisma figurnya saja?
Sama seperti kamera gw yg memotret sunset yg indah di sebuah pantai yg sebenarnya tak terurus (misalnya). Toh pada kenyataanya, sunset tidak selalu seindah saat gw memotret itu, ada hari2 dimana matahari bersembunyi tanpa semburat warna yg spektakuler. Jika potret sunset yg pas kebetulan bagus itu diletakkan sebagai iklan pariwisata, tentunya akan menarik orang untuk datang berkunjung. Namun, jika yg dihadapinya adalah lokasi pantai yg kotor dan matahari pun bersembunyi, tentunya suasana sunset tidak seindah gambarnya. Hal itu tentu akan menimbulkan rasa kecewa dan tertipu. Nah, untuk bisa mengetahui kebenaran potret pantai tersebut, biasanya beberapa orang akan meminta pendapat teman yg tahu atau pernah ke pantai itu atau membekali diri dengan informasi2 lainnya tentang pantai tersebut.
Dengan analogi memotret pantai tersebut, atas nama perimbangan marilah kita tengok informasi2 lain selain rasa puas melihat gambar hasil pemotretan LSI tersebut. Masih banyak kasus2 yg harus dicermati, sedikit di antara beberapa koleksi potret yg gw kumpulkan,
- Siapa sesungguhnya mayoritas penduduk negara ini? Kaum petani? Buruh? atau peminta2 terselubung (baca: peminta2 duit proyek).
- Kasus kemiskinan sebagai centre masalah2 sosial. Pengangguran meningkat terus.
- Kasus2 negara baik secara undang2 maupun praktisi kenegaraan. Reformasi hukum dan pemerintahan di semua level.
- Kasus Munir.
- Kasus Lusi.
- Kasus Hamid.
- Kasus Pak Jaksa. Sulitnya mendapatkan hakim agung di negara berpenduduk lebih dari 200juta ini.
- Kasus Poso, baik sniper dan "penghilangan" orang. Bukan potret baru, sudah berulang kali marak sejak jaman orde baru. Yg sangat hangat di ingatan adalah penembakan seorang pendeta di lokasi umum yg disaksikan oleh istrinya sendiri. Tanya kenapa? Gak ada demonstrasi besar2an oleh pendukungnya atau televisi memang melakukan tebang pilih pengungkapan fakta pada prime time? Apa pendukungnya takut? Atau pengajaran kasih yg nyata dengan "ditampar pipi kiri lalu kita berikan pipi kanan"? Tentunya hal ini sama sekali bukan hal yg mudah dilakukan disaat banyak hal2 yg sudah dimaklumkan oleh rasa ketakberdayaan minoritas yg sudah terkondisikan. Suasana bertambah kisruh dengan keberadaan beberapa bom di beberapa tempat. Dimana rasa aman itu? Tolong Pak SBY-JK, terungkapnya kasus ini adalah secercah harap masih adanya keadilan dan NKRI tidak lagi menjadi wacana yg menyedihkan.
- Kasus2 kaum minoritas, kaum perempuan dan anak2 misalnya. Persoalan2 sosial dan keadilan yg banyak "belum" menjamah komunitas ini, misalnya saja seputar hak anak, hak anak2 terlantar, hak buruh anak2, dan banyak hak2 lainnya. Toh mereka tidak memilih dilahirkan sebagai anak Indonesia. Jangan berdalih bahwa toh negara juga tidak ada pilihan, ini toh bukan pilihan kalau anak adalah titipanNya.
Ada lagu Vina yg langsung gw ingat tentang citra, judulnya Citra Biru. Begitu liat syairnya, yah sepertinya ini cocok menggambarkan suasana saat gw berpikir tentang yg 67% itu.
Citra khayalku
Membawaku ke alam yang semu berkabut kelabu
Aku semakin ragu, semakin tak tahu
Citra biru datang berlalu
Meninggalkan satu kenangan
yang mungkin berkesan
untuk membuka jalan
Di masa depan sebelum prasangka mengganggu
kutahu ini tak selalu terlupa
menjadi satu kenyataan yang indah
kulihat hari semakin cerah
inikah jawaban bagi hati yang gundah
Moga2 masa depan yg lebih sejahtera ini bisa terealisasi di republik yg mulai meraih citranya di mata DK PBB, pan gak lucu Pak kok ngurusin keamanan dunia sementara keamanan rumah sendiri dipertanyakan. Dan kalau hanya mengandalkan citra, apa negara ini hanya sekedar republik citra?
Dimulai dengan citra yg baik, dilengkapi dengan rahmatNya, tentunya seseorang bisa menghasilkan pekerjaan lebih baik. Terlebih jika pekerjaan itu menyangkut hajat hidup orang banyak. Amin.












