Thursday, July 12, 2007

you know who

hahaha... akhirnya gw ngerti juga kapan tuh Yanti selintas pernah ngomong "you-know-who" dilanjutkan dengan penjelasin kalo istilah itu dari film Harry Potter, tapi tetep aja waktu itu gw ga dong. Akhirnya baru tadi malam lah semuanya menjadi agak jelas tentang,
siapa itu Harry Potter
gimana ceritanya
apa kira2nya yg disukai anak2 (oops !)
souvenir apa aja yg mungkin dijual
yup, tadi malam for the first time gw nonton film Harry Potter dan
thanks to you-know-who yg bisa bikin gw bisa2nya nonton film sekuel yg film-1-2-3-nya ga gw tonton, tapi mbela2in nonton yg ke-4, premier lagi :-))

Wednesday, July 11, 2007

life, oh life

I'm afraid of the dark,
'specially when I'm in a park
and there's no-one else around,
oh, I get the shivers

I don't want to see a ghost,
it's a sight that I fear most
I'd rather have a piece of toast,
watch the evening news

Life, oh life, oh life, oh life, doo, doo doo doo...
Life, oh life, oh life, oh life, doo, doo doo doo life...

I'm a superstitious girl,
I'm the worst in the world
never walk under ladders,
I keep a rabbit's tail

I'll take you up on a dare, anytime, anywhere
name the place, I'll be there, bungee jumping, I don't care!

So after all is said and done
I know I'm not the only one
life indeed can be fun, if you really want to

Sometimes living out your dreams,
ain't as easy as it seems
you wanna fly around the world,
in a beautiful balloon

*lyrics from song "Life" by Desree

Monday, July 09, 2007

enough is enough

Baru sempat mbaca kolom parodi nya Samuel di kompas hari minggu kemarin, malahan "terkesima" dengan kutipan tulisan tentang Tukul di majalah Weekender (hidup penyambung lidah... hehehe). Sebenarnya gw udah sering denger kutipan yg mirip2 lah artinya dengan jawabannya Tukul berikut, tapi gw bener2 ndalem dengan kalimatnya yg terakhir. Ini kutipan lengkapnya:
Begini bunyi wawancaranya:
"You have been poor and now you're rich, so what's the meaning of money?"
Tukul menjawab,
"Good question. After I have known what it's like to have money, it turns out that it's nothing special. It's actually a test to have a lot of money. We have to learn to control ourselves with it, to stop us doing things that will be our detriment. Whether we are rich or poor, sugar still tastes sweet."
Kompas minggu, 8 Juli 2007 -hal.19

Nah, itu komentarnya Tukul yg baru kaya :-)
dan bukan kebetulan juga dong abis baca kompas, gw ngebaca email seliweran tentang Warren Buffet, eh di penghujung email tersebut ada advice beliau untuk young people. Nah, kalo yg ini dari yg beneran udah kaya buangetttt:
Stay away from credit cards and invest in yourself, and Remember:
A. Money doesn't create man but it is the man who created money.
B. Live your life as simple as you are.
C. Don't do what others say, just listen them, but do what you feel good.
D. Don't go on brand name ; just wear those things in which you feel comfortable.
E. Don't waste your money on unnecessary things; just spend on them who really in need rather.
F. After all it's your life then why give chance to others to rule our life.
Damn, men tak sobek2, I agree with you guys, and will keep these two reflections of the day,
"Whether we are rich or poor, sugar still tastes sweet - Tukul Arwana";
and "After all it's your life then why give chance to others to rule our life - Warren Buffet."

di persimpangan

Satu hal yg selalu didengung2kan orang2 bijak ke gw,
Tulislah kebaikan di batu karena walau ombak menghantam batu, tulisan kebaikan itu tetap ada dan kau akan terus mengenang kebaikan orang tersebut.
Namun jika kau harus menuliskan kejahatan, tulislah di pasir sehingga saat ombak menyapu pasir, tulisan tersebut akan hilang dan kau pun akan melupakan kejahatan orang tersebut.
Saat ini gw di persimpangan untuk menentukan cara melihat dan melupakan rasa sebel sama orang yg gw anggap melakukan backstabbing ke gw berulang kali. Emosi sesaat seakan membuat gw ingin menuliskan dg cara lain saat ini. Gw pengen menulis kejahatan2 tersebut di sebuah batu sehingga pada saat gw dijahatin (lagi lagi lagi) gw akan bisa lihat batu itu dan mendapatkan kekuatan:

Bahwa ini bukan pertama kali orang itu melakukan hal ini.
Bahwa ini bukan pertama kali orang itu melakukan hal ini.
Bahwa ini bukan pertama kali orang itu melakukan hal ini.
Bahwa ini adalah ”hal biasa”

Orang tersebut toh akan tetap melenggang seperti biasa, berbicara seperti biasa, bahkan ngobrol dan tersenyum manis seakan ”pengkhianatan” itu tidak pernah ada, atau sebenarnya menunggu saat untuk melakukannya kembali?
duh, pikiran gw jahat banget yak

Sekali lagi, tetep aja pendapatnya Babang, "Sudahlah, kerja yg maksimal bukan buat manusia... ihiks... dan tambahnya "toh jawabannya sudah diberikan dalam kotbah kemarin 8/7/7"... hayo, hayo baca lagi catatan kotbahnya... hehehe
Ef.6:10-20 (menjadi kuatlah di dalam Tuhan karena perjalanan kita panjang dan musuh kita jahat)
Luk 17:7 (tuluslah – berilah tanpa mengharap – itu akan membuatmu tidak pernah lelah menunggu balas)
Yoh 5: 19, 30 (bergantunglah pada sumber kekuatan yaitu Tuhan yg hanya sejauh doa)
Mazmur 45:8 (minta urapan Tuhan)
I Tes 5:16 (bersukacitalah senantiasa)

Oke deh, hayo ini hal biasa dan gw sudah melewatinya berulang kali... belajar terus untuk forgiven AND forgotten, ca yo God bless!

Sunday, July 08, 2007

right here right now

Time, sometimes the time just slips away
And you're left with yesterday
Left with the memories
I, I'll always think of you and smile
And be happy for the time
I had you with me
Though we go our separate ways
I won't forget so don't forget
The memories we made

Please remember, please remember
I was there for you
And you were there for me
Please remember, our time together
The time was yours and mine
And we were wild and free
Please remember, please remember me

Goodbye, there's just no sadder word to say
And it's sad to walk away
With just the memories
Who's to know what might have been
We'll leave behind a life and time
We'll never know again

Please remember, please remember
I was there for you
And you were there for me
And remember, please remember me

lyrics from song "please remember" sang by LeeAnnRimes

Thursday, June 28, 2007

teman


kata orang kalo kita lama gak melakukan satu aktivitas tapi gak ada rasa rindu yg berarti, itu sebenarnya kita gak terlalu suka melakukan aktivitas itu. toh kalau kita benar2 suka kita akan rindu melakukannya. kalo itu benar, berarti gw gak benar2 rindu nih nulis di blog, artinya... hehehe
itulah akibatnya kalo sukanya banyak... lagi lagi... padahal waktunya tetep aja 24 jam, artinya...

udah ah, kepanjangan pendahuluannya,
artinya, kalo gw bener2 have passion, ya PASSION untuk menulis blog, mesti gw akan melakukannya sesering mungkin, tapi toh kenyataannya, terkadang waktu menulis blog gw ganti dengan ngedit foto, ngegym, ngobrol di cafe, diskusi yg penting dan gak penting.. de el el de el el

nulis di blog beda dengan teman
terkadang gw mengorbankan menulis di blog demi mendengarkan curhatan teman gw yg sebenarnya sudah berulang kali gw dengar, karena memang gw punya passion tentang pertemanan, itulah sebabnya gw lebih mentingin dengerin curhatan teman2 gw sekali pun gw capek kayak tadi... hehehe, big hug. Sebenarnya tadi tuh gw gak ngomongin soal pertemanan tapi secara ada telpon dari seorang teman di tengah2 pembicaraan tadi, jadinya kita ngobrolin masalah ini. Menulis di blog katanya bisa jadi therapy juga, jadinya gw nulis deh refleksi ini, supaya gak lupa besok2 dan supaya gw bener2 gak sedih lagi..., jangan bilangnya gak sedih lagi tapi setiap ngomongin bikin gw jadi sedih... apaan tuh? hehehe

Apa sih arti pertemanan?

There are many things that catch your eyes, but only few that catch your heart. Pursue those - NN

Gw gak tahu dan gak bisa ingat kapan gw mendapatkan kartu bertuliskan kalimat tersebut, tapi yg jelas udah lama banget. Dan itu (ternyata) berbekas sekali dalam hidup gw, lebih tepatnya terefleksikan dalam hidup gw, salah satu passion itu adalah pertemanan.

Really, gw nerima apa pun yg terjadi dengan teman gw, sekali pun dia berubah atau membuat keputusan bodoh. Tapi hubungan pertemanan bukan hubungan agape, bukan hubungan yg needs no return seperti dengan Tuhan atau ibu. kalo ada yg bilang gitu, sorry, itu bullshit.

Pertemanan adalah seutas tali yg selalu kita pegang dua arah. Tadi Nina bilang pertemanan adalah ship that never sink. Buat beberapa yg mengenal gw, determinasi gw tentang pertemanan agak aneh, sebab gw benar2 membedakan teman dengan kenalan.
jika orang yg gw gak kenal nyebrang mau ketabrak mobil,
paling gw berusaha teriak mengingatkan.
jika ia adalah seorang kenalan,
gw akan meneriakkan namanya.
jika ia adalah seorang teman,
gw berusaha menubrukkan badan gw dan menyelamatkan kami.
dan jika ia cinta agape dalam hidup gw,
gw janji akan berdiri di depannya dan berusaha menyetop mobil tersebut berapa pun harganya.

seorang teman bertanya, REALLY?? my answer is always, "try me, if you're my real friend"

Pertemanan yg gw tahu adalah teman yg menerima gw apa adanya dan demikian juga gw, pertemanan yg bukan berarti harus selalu sepaham, pertemanan yg saling mengisi dan menguatkan, pertemanan yg tidak "aji mumpung", pertemanan yg tak lekang oleh jarak dan waktu, dan yg penting adalah saat kita pegang tali itu kita tidak melepaskannya. Begitu pegangan terasa lemah, yg ada adalah saat saling menguatkan dan bukan menjauh apalagi melepaskannya, karena kita teman, dan itu cukup untuk saling mengingatkan untuk "eratkan peganganmu".

Waktu berlalu, real pertemanan mengisi hidup gw. Terus terang yg gw akui sebagai teman memang tidak banyak, kurang dari 10, tapi mereka benar2 TEMAN yg gw bisa datang ke mereka dalam suasana hati yg senang atau pun amburadul, untuk bercerita, dikuatkan, "dirajam" dengan kritikan, dicela2 bahkan nyombong atau pun narsis2an sekali pun. Menangis bersama, bersedih bersama itu beberapa kali gw lewati dengan teman. Walau gw tetep gw, seorang Artha tanpa embel2, yg tak malu menceritakan cela, namun terkadang sok2 misterius katanya, tapi gw mau ada untuk mendengarkan venting teman2 gw, apa pun itu. Cara berpikir yg kadang nyeleneh dan aneh dan gak ada malunya (which is kalo bukan temen gw pasti akan merasa ter-insult walau gw gak bermaksud gitu), katanya bikin pendapat gw jadi Artha banget... hehehe. Ciri2 khas teman2 gw, cara mereka tertawa, raut muka mereka saat sedih, gembira atau pun surprise, kesukaan2 mereka yg terkadang mereka tidak sadari, hal2 kecil yg membuat mereka senang ataupun sedih, semuanya itu terekam dengan baik di memori gw.

Tapi apa gw pernah gagal?
Jawabannya pernah dan gw merasa sangat sedih. Saat pertama bertemu, gw bener2 gak berniat menambah jumlah teman. Teman gw udah cukup "banyak" untuk menjalaninya dengan full hearted. Namun sejalan dengan sharing stories, spent time together terjalinlah hubungan pertemanan itu, dan itu TIDAK berlangsung singkat. Tapi ternyata hubungan pertemanan itu tidak cukup kuat, atau sebenarnya memang tidak pernah ada. Mungkin ada kebutuhannya yg terpenuhi saat gw ada dulu. Mungkin saat itu dia bertopeng (gak kegerahan yah?). Gw gak tahu jawaban yg sesungguhnya karena memang tidak ada penjelasan. Saat ada teman baru apalagi saat jarak memisahkan, menurut gw saat itulah pertemanan diuji. Dan gw saat ini merasa bersyukur dan tidak mau lagi sedih atau sakit hati karena pertemanan itu tidak lagi terjalin karena ibaratnya I'm not invited in her new world. Gw dah bisa nerima sekarang, ya karena gw toh tetap punya mereka yg benar2 teman2 real sebelum dia masuk dalam hidup gw. Namun tidak gw sesali, karena itu memang pembelajaran hidup. Tanpa itu gw gak akan pernah tahu bahwa sebenarnya hubungan ini satu arah. Gw malah bersyukur kalau ini tidak berlangsung dalam hitungan century seperti teman2 yg udah masuk dalam hidup gw jauh sebelum dia.

Dari obrolan tadi dengan teman gw yg juga adalah seorang psikolog, gw mendapat penjelasan akan pembelajaran tersebut. Kalau dia "berubah" hanya karena bertemu komunitas baru dan tidak lagi "dia" yg dulu kita kenal saat menjadi teman kita, dan however dia tidak mau kita ada dalam dunianya yg baru dinikmatinya itu, ya mungkin itulah kualitasnya. Pertemanan lebih kuat dari sekedar itu. Mungkin nanti saat dia dihadapkan dengan dunia baru dan bertemu dengan komunitas baru lagi, dia akan melakukan yg sama, yaitu melupakan teman2 barunya yg sekarang. Jadi, tidak ada gunanya gw sesali. Mungkin pertemanan yg pernah terjalin dengan gw dulu yah karena dia butuh teman saja di dunia yg dulunya baru buatnya dan kebetulan aja ada gw saat itu, kalau ada orang lain mungkin dia tidak akan pernah jadi teman gw.

Berubah, boleh dong, cuman yg bikin gw masih rada surprise-bingung-gak percaya adalah kenyataan kalau dengan teman2 barunya dia malah melakukan hal2 yg dulu diklaimnya tidak disukainya dengan sangat firm. Kalau dia tiba2 suka hal2 yg awalnya diklaimnya tidak disukainya tapi belakangan jadi disukainya, gw pikir cuman berubah pikiran aja. namun saat dia mengingkarinya harusnya gw dah bisa baca tuh. Nah pengingkaran2 itu, dan beberapa evidences lately kog rada membingungkan yah. Artinya, dia dulu pake topeng atau dia lagi make topeng baru lagi sekarang, atau?

Buka dulu topengmu, buka dulu topengmu, agar ku lihat wajahmu, agar ku lihat wajahmu...

Namun satu hal dalam hubungan pertemanan dengan dia itulah gw mengenal seorang teman yg sampai saat ini tetap menjadi teman gw. Itulah salah satu buah manis peninggalannya dan gw berterima kasih untuk itu dan juga untuk pembelajaran ini. Selamat tinggal sedih.

Tuesday, May 29, 2007

Kapan kawin?

Pertanyaan tersebut dalam sebuah iklan rokok yg diperankan oleh Ringgo, dalam kehidupan sehari2 lebih sering ditujukan kepada kaum perempuan. Hal tersebut menimbulkan secara langsung (menurut gw kurang tepat kalau dibilang tidak langsung) pemikiran bahwa kapan seseorang kawin itu merupakan hal penting. Terkadang disertai dengan imbuhan, “jangan sampai kadaluwarsa lho...”

Yah demikianlah budaya “yg dianggap normal” sebagian besar suku2 di Indonesia, sejalan dengan rentetan pertanyaan2 yg sering terdengar sebagai berikut:
<20 tahun – kapan selesai sekolahnya?
>20 tahun – kapan kawin / menikah lah lebih halus
sesudah menikah – kapan punya anak?
sesudah punya anak – kapan mantu?
sesudah punya mantu – kapan momong cucu nih? Kapan nyusul yg lain?
sesudah punya cucu – udah berapa cucunya? Kapan yg lainnya nyusul
dstnya

Jadi sebenarnya, pertanyaan itu sendiri lah yg dalam konteks kehidupan di lingkungan penuh rasa ingin tahu di atas, menjadi penting. Sepertinya kalau pertanyaan tersebut belum terjawab mengakibatkan pertanyaan2 selanjutnya mandeg. Yah mungkin udah di ujung bibir kali yak :-) iya gak?

Menurut pengalaman gw, toh sebenarnya yg nanya juga terkadang sekedar basa basi. Tidak semuanya benar2 sebagai bentuk perhatian personal yg terdalam. Yang menanyakan pun terkadang sekedar kenalan yg belum tentu tahu sisi pribadi kita atau baru mengenal kita dalam waktu yg tidak terlalu cukup untuk saling mengenal dalam artian personal. Bahkan dalam beberapa kasus ekstrem, terkadang jawabannya pun tidak ditunggu lagi. Bila sang penanya merasa mengenal yg ditanya, ia pun sudah siap dengan rentetan nasihat, misalnya ”ingat lho udah kepala 3”, ”ingat lho ada jam biologi”, ”ingat lho kodrat”...

”Ibu/bapa/tante/om/saudara/teman/handai taulan yg saya hormati, kalau ibu/bapa/tante/om/saudara/teman/handai taulan saja di tengah kehidupan pribadi dan kesibukan masing2 mengurus pekerjaan dan rumah tangga ibu/bapa/tante/om/saudara/teman/handai taulan masih sempat2nya memikirkan umur saya, jam biologis saya, kodrat saya, saya cuman mau bilang: apalagi saya. Jadi terima kasih lho untuk perhatiannya.”

Tante gw pernah marah gara2 gw njawab gitu, katanya nge-nyek, kadang emang jalan pikiran gw yg ruwet ini gak kebaca sih ama mereka. Itu tandanya gw udah capek ditanyain mulu. Yah habis, mau dijawab kayak apa pun mesti ujung2nya sama. Kebanyakan memojokkan dengan ”kamu sih mikirin karir”, ”kamu sih terlalu mandiri". Padahal siapa juga yg mikirin karir, dan kalo dibilang mandiri yah menurut gw gak ada salahnya, toh buat yg kenal gw tahu banget kalo gw juga suka laki-laki – tentunya dalam porsi sewajarnya.

Katanya komentar/nasihat itu tanda sayang, terima kasih. Tanda perhatian, lagi2 terima kasih. Intinya, terima kasih buat rasa sayang dan perhatian semuanya. Gw cuman minta rasa sayang dan perhatian yg sama untuk diri gw, bukan untuk lembaga perkawinan itu sendiri. Sama dengan rasa sayang dan perhatian tersebut, boleh dong gw tetep disayang dan diperhatiin apa pun keputusan gw kalau toh membawa kebaikan buat gw. Sampai saat ini belom ada tuh yg bilang gini misalnya ”Ta, udah kamu pikirin masak2 belom untuk tidak menikah....” hahaha....

Keharusan kawin gw lihat membuat beberapa perempuan yg gw kenal menjadi terkurung dalam pola pikir yg sudah terbentuk sedemikian. Kebanyakan memang anak perempuan sejak masa remaja sudah mempunyai cita-cita (kalau bisa dibilang demikian) untuk menikah di usia tertentu. Kalau perempuan menginjak usia limit menurut pandangan masyarakat belom kawin, terus dibilang kadaluwarsa... kasihan deh yg punya pemikiran begitu, gw bilang sih pemikiran itu tuh yg dah kadaluwarsa.

Thank God yah at least sampai saat ini gw secara sadar belom mau untuk menjerumuskan diri dalam keharusan tersebut. Kalau ditanya mau kawin, ya masih mau sih... hehehe. Kenapa belum kawin, yah pilihan gw saat ini. Kalau gw kawin, maunya yah dengan semangat ”ibadah” dan ”partner in life” dan bukan karna keharusan. Bukan karena gw mandiri atau pun bukan karena udah terbiasa di lingkungan orang asing, walaupun ada hubungannya. Tapi untuk urusan kawin, menurut gw lebih baik kadaluwarsa umur biologis tapi perkawinan bahagia dengan partner in life daripada kawin demi supaya gak kadaluwarsa. Beberapa di tengah2 perkawinan harus bercerai dan (kebanyakan) orang2 toh tetep menyalahkan pihak perempuan ”terlalu mandiri sih”, ”gak mau ngalah sih”, ”mentingin karir sih”, ”gak bisa memaafkan suami sih”(walaupun jelas2 suaminya nakal)... So, what is the meaning of that big ceremony? Eh, abis itu kawin lagi... mandeg lagi, cerai lagi. Kawin lagi.... duh, kasihan deh ”masih belom tahu yah mbak apa yg dimau?”

Gw setuju dengan ide miss kadaluwarsa yg dipentaskan EKI production weekend lalu di GKJ, tema yg up-to-date, lagi in atau dengan kata lain bisa disebut tema yg tidak kadaluwarsa. Sinopsinya bisa lihat langsung di websitenya aja ya.

Hal2 yg kadaluwarsa selalu identik dengan sudah tidak layak. Makanan basi, minuman kaleng basi, obat basi contohnya adalah hal2 yg sudah tidak layak dikonsumsi. Bisa berhubungan dengan rasa (tentunya yg tidak disengaja basi rasanya tidak enak) ataupun berhubungan dengan berbahaya. Yah, obat kadaluwarsa bisa membahayakan kesehatan yg mengkonsumsinya.

Tapi seperti dikuti juga dalam script cerita, yah yg namanya kadaluwarsa gak selamanya gak enak toh, contohnya wine. Semakin kadaluwarsa, (biasanya) semakin enak. Gw pakai kata biasanya karena bagaimana pun juga kualitas wine yg bagus juga salah satu faktornya masih tergantung kondisi awal anggur yg digunakan. Contoh lainnya youghurt, keju dan beberapa produk fermentasi lainnya yg notabene adalah produk2 dari bahan dasar yg sudah basi. Contohnya yoghurt, untuk menghasilkan yoghurt yg enak, susu yg digunakan pun sedapat mungkin yg fresh, dan sama sekali belum basi. Jadi, kalau kondisi awal baik pemikiran, fisik, rohani-jasmani perempuan itu baik atau gak basi, gak ada masalah dong kalau diperam dulu... lhoooooo

Gw suka banget dengan tari2an dalam teater tersebut, sangat menarik. Gerakan tari dibawakan oleh para penari dengan sangat enak dilihat dan koreografer yg apik, tertata baik dengan pemilihan musik dan penguasaan panggung. yang gw agak kurang nyaman dan senang adalah seringnya asap rokok mengebul (emang sih tuntutan skenario yah, tapi pan GKJ itu harusnya bebas asap rokok bukan?), juga pemakaian percakapan dalam bhs inggris yg kadang terasa maksa (apalagi Fauzi itu lulusan Belanda bukan?). Gw sendiri juga sering make bahasa inggris dan gak ada maksud panggagahan atau apa gitu. Overall untuk pertunjukan EKI yg ketiga gw tonton ini tarian2nya selalu oke punya, two thumbs up, idenya juga ok, baik penari2 dan pemain2nya oke, pemain tamu nya pun tidak mengecewakan lah dalam penjiwaan peran. Yang membuatnya asyik banget ditonton itu yah si Sampek Entay yg berhasil membawa pertunjukan menjadi komedi, kocak tanpa perlu adegan2 slapstik gak perlu. Salut deh untuk Loro Blonyo berdua tuh, asliii lucu dan asyik.

Terkadang pemikiran akan keruwetan, kemandirian dan kesadaran penuh akan hak2 dan kewajiban2 yg gw emban sebagai seorang manusia lah, gw ada seperti gw ada. Maaf, gw memang tidak bisa menyenangkan semua orang. Pemikiran yg kadaluwarsa itulah yg selain sudah tidak layak, juga membahayakan. Yang gw percaya, everything happens for a reason.

Nunggu pementasan EKI berikutnya.

Thursday, May 24, 2007

Singing Queen

After Melinda checked out, one can guess that I vote for Jordin.
She's got the voice... though Melinda is much better.
She's got the look... not as skinny as barbie, but though sometimes got makeup like one :-)
She's got the move.
She is charming. Sometimes looks vulnerable but also strong at the same time. Her young blood show up everytime she got not-too-good remarks from Simon. Overall, she shines... have you noticed how often she smiles?

While watching she sang her winning song, I remember the lyrics below from ABBA 'Dancing Queen',

You are the dancing queen, young and sweet, only seventeen
Dancing queen, feel the beat from the tambourine
You can dance, you can jive, having the time of your life
See that girl, watch that scene, dig in the dancing queen

Seems like most american like her. For me, she is not the one with best voice, but overall (performance after performance) I think she deserve to be an idol, a singing queen. Young and sweet, only seventeen. This is her now.

Congratulations Jordin!

Monday, May 21, 2007

Di Bawah Laut Cina Selatan

Bukan pertama kali gw berada di bawah laut. Terowongan di bawah Eurostar juga di bawah Laut Utara, tapi tetep aja pas lewat bawah laut gw gak punya foto.... :-)
Artinya, gw belom bisa mengatasi rasa takut berada di bawah laut dengan baik.
Hayo ngaku... hehehe

Sunday, May 13, 2007

F.L.U kills

Gw flu berat tiga hari ini, bete banget. Tadinya sabtu ini gw mau ikutan bantuin acara mbak linda untuk les enfants dans la rue yg jadinya kudu gw batalin, gak mungkin deh jaga anak2 dalan kondisi meler2. Sebenernya gw tuh jarang banget jadi tepar gara2 flu, bukan takabur tapi fakta. Selama 4 tahun yg bisa gw inget di Balikpapan, paling banter bersin 1-2x langsung dopping EsterC 1-2hari biasanya gw langsung fit lagi tanpa harus pusing-demam-hidungmeler2. Tekanan darah rendah gw lah yg sering membuat gw tepar. Fenomena flu berat ini yg kedua sejak gw di Jakarta. Ada yg bilang karna pengaruh pancaroba dan udara Jakarta yg memang sangat terpolusi. Ada yg bilang "lo sibuk banget sih". Ada yg bilang "lo diet sih". Ada juga yg bilang "lo keluar malam mulu yah". Mereka yg bilang2 gitu bukanlah mereka yg nemenin gw nge-gym, bukanlah mereka yg nemenin gw keluar malam2, bukanlah mereka yg nemenin gw ngelembur, jadi segitu perhatiannya... jadi terharu, ihiks. Temen gw juga sudah lengkap listnya dengan "minum air putih, jus apple yg banyak, jangan nonton malem2, jangan nge-gym dulu, mau ditemenin?". Yang ada gw kangen ditemenin nyokap gw yg lagi nikmatin hari2 di pegunungan dengan adek gw... ma, i miss you so much.

Tapi yg tahu yg sebenarnya ya adalah gw. Gw inget banget kalo pertama kali gw bangkis itu saat latihan yoga hr senin yl. Waktu itu yoga dipindah ke ruangan berkarpet. Begitu gerakan plank dan hidung gw gak tercover matras, saat itu sontak mata gw ngeliat kalo karpetnya kotor. Gak lama kemudian gw bangkis yg pertama. Begitu selesai latihan, gw bilang karpetnya kotor. Itulah awalnya penderitaan seminggu ini. Dilanjutkan bangkis bangkis di senin sore, hari selasa mulai deh hidung meler2. Gw pikir ini reaksi biasa terhadap alergi debu gw yg konyol. Dan nakalnya gw tetep ikutan yoga hari rabunya dengan hidung meler, yg ada tuh setiap down facing dog gw kudu ngeluarin itu ingus dari hidung, gross banget gak seeeh. Barulah semuanya terasa di hari kamis, tapi gw jg ada vicon yg mengharuskan gw hadir, padahal pagi itu gw rada deman dan pusing2. Begitu selesai vicon tanpa ba bi bu gw ijin pulang, itu pun udah jam 5 sore. Langsung tidur dengan badan sedikit deman dibantu dengan neozep forte. Tapi tetep aja hari jumat itu badan gw agak pegel2 - kelamaan tidur kali yah - sampai2 gw gak sadar pas kamis malam itu Jakarta diguyur hujan deras dan sambaran petir yg dahsyat (katanya).

Yang menarik itu komentarnya Bang, "Kog jadi malah flu sih setelah disuntik vaksin flu?". Gw juga ngerti kalo divaksin harus dalam kondisi sehat, dan seinget gw pas divaksin kondisi gw sehat. Jadi??
Gw konsultasi ke dokter kantor deh hari jumat sehubungan dengan vaksin yg diberikannya, jawabnya "Ully, kalo kamu jarang flu ya jelas vaksin itu tidak dikenali oleh tubuh kamu. Jadi yah wajar tubuhmu bereaksi. Mungkin kamu capek pikiran juga. Sudah istirahat aja, akan lebih baik minggu depan". Weleh weleh, yaa ampun, tau gitu gw gak mau2nya deh divaksin flu. Memang gw butuh istirahat juga deh, tu dokter juga tau aja gw lagi capek pikiran... hehehe.

This flu really kills my activities this week. Tomorrow there's gonna be a big petroleum association event, hope this misery will end tonight.

Thursday, May 10, 2007

Office's Politics

Makin hari gw makin geli… terpingkal pingkal
Bahkan sampai tertawa menahan perut dengan air mata di pelupuk
Melihat orang menghalalkan segala cara demi dihormati
Melihat teman tak lagi berani mengatakan yang sebenarnya
Melihat itu semua terjadi di depan mata
Mengalami betapa sakitnya ditusuk dari belakang

Tolong aku, tak mau ada rasa mendendam
Tolong jauhkanlah rasa itu

Saat diri ini tak mampu, biarkanlah kata tolong terucap
Saat itu memang menjadi kemauanku, biarlah kuberkata ”aku mau”
Saat memang harus berkata benar, biarkanlah kubenarkan berita itu
dan setiap saat stand for my friend, aku mau tetap seperti aku adanya

Wednesday, May 02, 2007

Never Ending Battle


Hampir sebulan gw gak bikin posting di blog ini, sekarang pun american idol udah tinggal 6 doang. Gw ngapain aja yah sebulan kemaren kog gak sempat2nya ngeluangin waktu, eh hari ini mendadak jadi kangen nih.

Sometime I praise people.
Some other time I don’t like the same person.
Sometime I depend on prayer.
Some other time I am too much believe in me.
Sometime I have no problem at all to share.
Some other time I feel so egoist.
Sometime I feel that others like me.
Some other time I have only my best friends.
Sometime I don't trust these feet can run that far.
Some other time I forced them to climb the mountain.

Sometime I hate you, but I can't.
Sometime I lost my will, but I can't.
Sometime I fail to love you, but I can't.
Sometime I consciously forget who my biggest enemy is, but I can't.
Sometime I make a promise to always win this never ending battle, but I can't.
It is you, MYSELF, my biggest enemy, and I don’t want to loose so easy.

Sunday, April 08, 2007

Gina Pulang

Gila! Setelah berhasil menahan temptation untuk tidak buka websitenya American Idol beberapa hari ini, hasilnya agak mengecewakan gw. Yang pulang minggu ini Gina Glocksen, si "rocker" yg masih bisa melantunkan lagu Smile menghantarnya pulang tersenyum meski air mata sempat menggenangi matanya - pengaruhnya Haley deh. Nama Gina diumumkan sebagai peraih vote terendah - hampir 33 juta votes! - diiringi Homenya Buble yg nyanyi juga di performance itu ngeggantiin Tony Bennet. Sebeeeeellllll deh, kenapa gak si "Incridible" itu sih yang pulang?

I kindda like Gina, but votes matters.
PF for Melinda, Jordin, Lakisha - you gals deserved those votes.
Men in this season, I am not very much impressed of them, but who I am gitu... hehehe

Kapan yak Indonesian Idol sekeren penampilan mereka yg understate dan lebih memperlihatkan kualitas vokalnya yak... kippon' wishing...

Tuesday, April 03, 2007

Ba-ti-tah Meng-ba-tah

Di kompas edisi minggu (1-apr-07) ada sepotong kalimat tentang anaknya Marcel-DewiLestari yang bisa membaca di usia 2.5 th. Walau artikelnya padahal bukan tentang anaknya, tapi cerita itu berkembang. Lalu di milis ada pertanyaan seputar metode glenn dolman yg katanya bisa ngajarin anak balita membaca. Gak tanggung2 metode itu lagi happening dalam pembicaraan beberapa ibu2 muda, yg notabene adalah temen2 gw :-)). Gak percaya? Coba deh dateng ke bazaar2, udah gencar tuh promosinya.

Tapi, tapi.... apa memang perlu yah anak bisa membaca di usia 2.5 th?
Itu mah jawabannya personal banget yah, terbukti beberapa teman2 gw tertarik tuh, malahan ada juga yg lagi bikin research... hehehe, big hug. Menurut Ruly yg udah mulai searching2, "ada yang bilang kalau teori bapak ini termasuk pseudoscience alias nggak bisa dipertanggungjawabkan, tapi ada juga yang bilang kalau teorinya oke dan bisa diterapkan".

Gimana gak bikin ibu2 muda kebat kebit dan jadi penasaran seeh
(sungguh mati aku jadi penasaran... sampai mati pun akan ku perjuangkan... lho??)

Secara gw belom punya anak tapi diajakin ngobrol yg kayak gini mah, yah pengalaman pribadia aja deh yg dishare.

Adalah bu Lucia - guru biologi gw waktu SMA dan wali kelas ku dulu pernah bercerita (hehehe) tentang ngajarin anaknya mbaca sejak batita. Ibu cantik ini bercerita dengan semangat, sementara kita2 mikir "Ya ampun bu, anak kok jadi sampel penelitian seeeh?!" tapi, hehehe, nyokap gw juga guru biologi dan mungkin gw termasuk sampel penelitian juga kali yah :-)

Pengalaman pribadi gw nih, pas mau masuk teka di usia 5th ternyata gw doang yang udah bisa baca koran, dan itu sudah aneh di masa itu, di TK Kristen Ketapang tahun 1980. Lalu gw dibolehin "skip" tk kecil. Waktu itu ada teka kecil - teka gede - baru SD, yg biasanya dimulai di usia 7 th. Jadi dianggapnya gw kecepetan.

Gw gak tahu nama metodenya apa (areee getoh?) yg gw inget dan selalu diulang2 ceritanya sama mama/tante2 gw, sejak umur 3tahun-an *th.78an, pokoknya sejak umur yg bisa gw ingat* sebelum bobo tiap harinya dibacain majalah bobo sama tante gw, yang menarik perhatian gw adalah cerita2 komik bobo, bona-rong2, donald bebek, dan sejenisnya yang kalimatnya pendek2 di tiap gambar. Pokoknya gak ada cerita tidur tanpa dibacain komik yg satu halaman itu.

Lama2, mungkin karena seringnya denger2, gw bisa melafalkan huruf sesuai dengan text-nya. Setelah bisa membaca pelan2, gw mulai baca text, terus nambah segala yg bisa dibaca jadinya dibaca, dan jadilah sebelum usia 5 tahun gw udah bisa baca koran. Nah, metode itu itu metode apa yah? Yg jelas udah terbukti tuh di gw di umur segitu - waktu itu belom biasa bisa membaca di umur 5 tahun. Menurut gw sih itu "metode bisa karena biasa", jadi yah biasa-biasa aja, kayaknya gak ada tuh metoda aneh2 :-) Gak tahu deh apa Dee ngebiasa-in juga anaknya membaca (secara dia penulis), atau ngikutin metode tertentu *mungkin research-nya temen gw nantinya bisa menjawabnya* Gw bilang ama temen gw, "lo biasain aja membaca buat anak lo ..."

Tapi tetep aja gw mempertanyakan apa perlu yah anak batita bisa membaca?

Gw pribadi sih gak menemukan kebisaan gw membaca sedemikian cepat itu menjadi istimewa (sekarang mah gak cepet yah membaca umur 5 tahun). Maaf lho bukannya gak berarti apa2, tapi malahan gw terkadang jengah pas disuruh mbaca buat contoh. Kelebihan yg terdevelop sih, mungkin/gak mungkin ada hubungannya dengan kecepatan bisa membaca, gw menjadi sangat senang membaca, dan bisa apa aja dari mulai yg ringan banget dan gak penting, sampai artikel "berat" dan penting2.

Gw liat sih ponakan gw yg waktu kecilnya senengnya maeeeennnn mulu dan gak ada deh tanda2 cepet mbaca, eehhh begitu sekolah -mulai usia 5 tahun- cepet banget bisa langsung membaca. Malahan sekarang yg namanya bikin pe-er dan belajar udah gak perlu disuruh2. Gw kadang jadi mikir kasian yah anak2 sekarang, bebannya semakin muda semakin nambah :-( Dulu tuh gw merasa teka = taman kanak2, nunggu ke sekolah buat minum susu bareng teman2, nyodor2in gelas kosong ke petugasnya yg selalu senyum, maeeennnn mulu, dengerin guru ngedongeng, dengerin kaset "sanggar cerita", dan nyanyi di depan piano sama ibu Dora.

Itu dulu deh, sementara sampel gw itu dah gw kasih tahu di milis, mana tahu ada psikolog sanur yg nanggepin :-)) Kalo ada pengalaman2 lainnya dan sampel2nya terus ditambahin, bukan gak mungkin kan bisa ada yang nerapin metode baru nih dan gak perlu import, bukan gak mungkin malahan udah ada yg punya ... hayo para pemerhati anak :-)

Friday, March 30, 2007

Selamat jalan Om!

Masa jatuh cinta adalah masa yg spesial. Gw rasa banyak orang setuju dengan pendapat di atas. Di masa spesial itu lah awal gw mengenal Chrisye lewat lagu2nya. Di lagu Chrisye yg terakhir ada lirik "lupakan aku, kupunya cinta lain yg tak bisa kutinggalkan", mungkin cinta itulah yg mengajakmu pulang pagi tadi. Selamat jalan om, walau kami akui adalah tak mungkin untuk melupakanmu.

Aura cinta dan kesendirian begitu lekat setiap dia menyanyi, walau di balik itu, ada keluarga yg hangat selalu setia menemaninya dan di masa sakitnya, Yanti istrinya terlihat begitu sabar dan "kuat". Seakan tahu bahwa waktu yg tersisa tidak lagi banyak, Yanti menuturkan di femina edisi minggu ini (bukan kebetulan bukan?), "Namun, jauh di lubuk hati saya ingin menemani Chris setiap saat, dengan cinta dan kesetiaan"... wow ibu, doamu menyertai kepergiannya.

Beberapa lagu Chrisye meninggalkan kenangan yg tak mungkin gw lupakan.

Gw masih ingat hari2 pulang sekolah bersama dengan beberapa teman, kami berlatih dan mengarang koreografi tari. Saat itu diantara banyak lagu yang menjadi pilihan, kami memilih lagu chrisye "hip-hip hura" sebagai lagu pengiring. Saat itu semuanya seperti biasa saja dan memang tidak mengherankan, karena lagu2nya Chrisye - Hip hip hura, Nona Lisa, Anak Sekolah - memang sedang in-in nya. Namun lirik di dalam lagu itu menjelaskan suatu rasa yg baru2 saja kami rasakan, yaitu rasa menyukai atau pun disukai lawan jenis. Seringkali lirik lagu tersebut menjadi bahan gurauan dan bagian dari pembicaraan kelompok2 anak muda yg saat itu baru mengenal rasa lain selain pertemanan dan persahabatan, misalnya saja "..ingin hatiku mencium pipinya, tapi malu rasanya" ... lho kog lirik lagunya sama dengan yg kami rasakan ya... hihihi...

Lagu Chrisye juga yang menjadi pilihan guru organ gw saat gw harus memainkan electone di konser pertama gw bersama dengan teman2 seperguruan Yamaha Daan Mogot. Berminggu2 suara organ di rumah cuma memainkan lagu "kisah cintaku".

Lagu Lilin2 Kecil juga punya kesan penting buat gw. Saat itu kelas 2SMP, kami mendapatkan tugas untuk bernyanyi dalam koor untuk perpisahan kakak2 kelas. Itulah kali pertama gw mengenal pembagian suara yang "serius". Gak gampang buat gw selain menghapal lirik juga harus menghapal suara duanya. Waktu itu gw bilang kalau gw lebih senang vokal group, tapi ternyata gw senang juga nyanyi dalam koor, dan selalu suara dua.

Gw bertambah umur dan beranjak dewasa, Chrisye pun tetap bernyanyi. Seakan mengikuti tren, lagu2nya banyak mengisi hari2 pernyataan cinta, patah hati, meninggalkan kekasih untuk merantau, dan banyak lagi. Tidak banyak penyanyi lama berkolaborasi dengan penyanyi2 baru, Chrisye termasuk yg melakukannya. Juga mengawinkan pop dengan musik2 tradisional, baik dengan gamelan maupun sindenan Waljinah.

Lagu "untukmu" juga lah yg menjadi lagu pertama gw merasakan bahwa main gamelan itu menyenangkan. Itu saat pertama gw mencoba memainkan saron dan mengarang aransemen untuk acara di kantor.

Aaah banyak lagi lagu yg kau nyanyikan dengan suara yg unik yg menjadi ciri khasmu, bagaimana mungkin kami melupakanmu. Berulang kali televisi menggunakan lagu2 yg pernah kau populerkan sebagai filling sutu peristiwa, misalnya lilin2 kecil, kidung, badai pasti berlalu, dan itu tidak akan berhenti walau kau tak lagi menyaksikannya. Tidak om, kami tak akan mampu melupakanmu, selamat jalan.

Wednesday, March 28, 2007

Siapa Mereka Pak?

Karakter Manusia Indonesia Picik dan Tak Mau Kalah - ref. Laporan Wartawan Kompas M Zaid Wahyudi

JAKARTA, KOMPAS--Manusia Indonesia dicirikan dengan karakter yang picik, solidaritas rendah, serba instan, dan sulit menerima kekalahan. Kondisi tersebut membuat keadilan dan kesejahteraan sosial di Indonesia sulit diwujudkan.
Penggiat filsafat kebudaayan Tony Doludea di Jakarta, Jumat (16/3) sore mengatakan karakter manusia Indonesia adalah mudah iri hati, picik, dan tidak menyadari solidaritas untuk tujuan bersama. Mereka juga suka memperoleh sesuatu secara instan, mengabaikan proses dan kerja keras, percaya terhadap klenik, dan tidak dapat menerima kekalahan.
”Karakter itu ada dalam diri seluruh manusia Indonesia, mulai dari politisi, akademisi, intelektual, pemimpin, tokoh agama, hingga orang awam dan rakyat miskin,” kata Tony.
Mental manusia Indonesia tersebut membuat masyarakat tidak lagi percaya kepada kebenaran, keadilan, dan kebaikan. Kondisi tersebut membuat keadilan dan kesejahteraan sulit diwujudkan di Indonesia. Artikel

Siapa mereka Pak?

Tentu tidak semua orang harus setuju dengan pendapat bapak itu, nah karna ini blog pribadi sy, saya mau ikutan nulis pendapat saya ah. Saya jg gak ngarepin orang lain pada setuju kok.

Sy keberatan tuh kalo ciri2 yg Pak Tony bilang adalah ciri2 seluruh manusia Indonesia. Sy memang bukan psikolog apalagi ahli filsafat, tapi kayaknya ciri2 itu umum deh, diakuin dong ciri2 (baca: picik dan tak mau kalah) tersebut ada (atau mungkin saja ada) dalam diri siapa pun yg tak mesti manusia Indonesia. Namun seberapa ciri tersebut menjadi dominan dalam pembentukan karakter, pan tidak menjadikan seluruh manusia Indonesia hanya menjadi picik dan tak mau kalah saja. Toh banyak juga yg bisa meredam atau mengendalikan sifat dasar manusia yg memang pada intinya membantunya bertahan hidup sebagai the great survivor di muka bumi ini.

Kalo menurut saya, menurut SAYA lho pake huruf besar, manusia Indonesia adalah manusia yg kebetulan lahir di wilayah teritorial NEGARA Indonesia, atau bapak/ibunya yg lahir di Indonesia. Bagaimana karakternya, menurut SAYA, tergantung bagaimana org tersebut menyikapi kebetulan itu, dan juga bagaimana ia diajar dan dididik menyikapinya. Dan menurut pengamatan sy yg terbatas ini (maksudnya terbatas 32 tahun juga belom nyampe), di antara orang2 sekeliling saya, ada tuh yg menyikapinya sebagai anugerah, dan karakter yg terbentuk dalam diri mereka adalah hasil refleksi penyikapan yg ditanamkan dan disadari benar olehnya. Sungguh jauh dari sekedar picik dan tak mau kalah. Ada juga yg menyikapi kebetulan itu sebagai cobaan, sehingga ia lebih memilih menjalaninya dengan pasrah dan menunggu masa pencobaan itu berakhir meski tanpa tahu kapan dan harus bagaimana (ada juga tuh). Memang sy akui ada juga yg menyikapinya sebagai kebetulan lainnya, misalnya saja yg bapak kutip,

kebetulan aja dia jadi politikus... jadi dia harus licik
kebetulan aja dia jadi akademis... jadi dia harus keliatan pintar dong
kebetulan aja dia jadi intelektual... jadi dia harus keliatan intelek dong
kebetulan aja dia jadi pemimpin... jadi dia harus jaim dong di depan umum
kebetulan aja dia jadi tokoh agama... jadi dia harus rajin2 menjalankan agamanya
kebetulan aja dia jadi orang awam... jadi dia gak harus mikirin yg aneh2 kayak kesejahteraan sosial buat orang lain, apaan tuh?
kebetulan aja dia jadi orang miskin... ya iya lah, siapa yg kalo gak kebetulan mau jadi orang miskin


Jadi, siapa mereka Pak?
mbok yah jangan bilang seluruh manusia indonesia dong - terkesan kog lagi rada emosi jiwa ya (nebak aja sih, biasa pan kalo lagi emosi mungkin pendapatnya subyektif) ... jangan2 nanti komentar saya ditanggapin "tak mau kalah" - cocok kan masuk dalam portfolionya... hehehe (tertawa meringis)

Gw baru pulang dari suatu diskusi dengan beberapa orang yg dengan kapasitasnya sebenarnya bisa merubah negara ini (moga2) ke arah yg lebih baik. Namun kebetulan aja posisinya kurang tepat, dan adalah kebetulan kejegal sama orang2 yg kebetulan ada di posisi yg dinilai penting. Lagi-lagi kebetulan, orang2 penting ini lagi gak mikirin apa yg katanya kesejahteraan bersama, tapi lagi lebih mikirin kesejahteraan kampung tengahnya biasa aji mumpung euy...

Jadi pas kebetulan nih sambil nunggu, gw baca2 koran dan nemuin tulisan di atas. Gemes deh ngeluangin waktu nulis tulisan yg semuanya serba kebetulan ini. Menambah deretan kebetulan, pas gw mencet2 channel tv setelah sedih denger diskusi tentang not-yet-ending-Lusi, eh lewat acara 4Mata dan pas omTukul bilang "no pain no gain"... rasanya kog lama nih gak denger kata2 ini yah (?). Frase itu seringannya sih gw denger dari temen2 gw etnis Cina yg kebetulan nenek-kakeknya udah pada lahir di Indonesia, jadi deh kami manusia Indonesia.

Di kantor gw lagi ada lomba foto yg diberit tema "beauty of Indonesia". Dua hari lagi menjelang penutupan sungguh gw bener2 hilang konsep menerjemahkan "beauty of Indonesia" itu selain panorama yg indah yg kebetulan Tuhanlah penciptanya.

Kebetulan kah gw lahir di Indonesia?
Di pertemuan tadi itu gw ditegur bahwa semuanya yg terjadi di Indonesia dan pertanyaan2 "kenapa gw?" adalah bukan kebetulan. Tapi, pas gw njawab "kebetulan buat gw masih sulit menerimanya" sontak pada tertawa walau ujung2nya dinasehatin. Makasih yaaa for the light at the end of the island.

Sekarang mah daripada musingin kebetulan2 yg nyapein gitu, kebetulan gw mau karaokean bareng, jadi mendingan karaokean dulu aaaaahhhhhhhhhh... Get the music on.

Tuesday, March 27, 2007

21

Minggu ini angka 21 tidak lagi dikait2kan hanya dengan merek dagang bioskop di beberapa kota yg belum lama ini membanting harga tiket masuknya. Namun angka tersebut dikaitkan dengan harga sebuah laptop, 21 juta. Laptop yang katanya ringan dijinjing, menggunakan processor canggih, full databasing dan real time capability, layarnya bisa dibalik2, bisa dipake nelpon, internet, a big joke of the week: termasuk bisa ngintip situs artis2 terkenal.

Membayangkan gw harus melakukan pekerjaan gw sekarang tanpa komputer areee gene kayaknya susah deh. Juga tanpa internet yg menyimpan sebegitu banyak informasi dan bisa benar2 membantu gw melakukan pekerjaan gw. Selain buat belajar, tentunya buat hiburan juga dong. Jadi, gw gak menyalahkan jika ada orang yg mau maju mempunyai pendapat kalau laptop bisa menjadi salah satu alat bantunya untuk maju. Apalagi orang2 itu karena pekerjaanya harus mobile. Gw setuju. Yang bikin gw bingung adalah pendapat ngotot bahwa untuk menjadi maju itu butuh laptop, sementara orang yg sama mengakui belom bisa memakai laptop. Katanya yg penting beli dulu, baru bisa belajar, itu kan urusan training saja nantinya. Jadi, mau beli laptop seharga 21 juta tapi gak bisa makenya, wuiiihhh sok kaya bener yak, padahal masih banyak pan pilihan yg jauh lebih murah. Iyaaaaa bukan???

Katanya sih budget ini sudah digodok selama setahun (ref.komentar ibu Dyah BURT-DPR di tv), cuman gw terkesan kalau berita ini terblowup di era komedian Tukul Arwana yg sedang happening dengan talkshownya yg menggunakan alat bantu laptop. Mungkin buat beberapa orang yg katanya petinggi itu, bete juga kali yah kalo "Tukul aja bisa dapet laptop, masa gw gak bisa!" (padahal dia tahu juga enggak kali yah apa Tukul bisa pake laptop atau enggak... hihihi)

Ada joke2 yg beredar akhir2 ini seputar isue laptop itu, satu diantaranya,


Anggota DPR: "Mba, kalau mau baca blognya si artist anu dimana ya?"
Customer Service: "Bapak cari aja di google."
Anggota DPR: "Tapi si artist anu nggak kerja di google kok mba, saya tahu persis."

Capeeek deeehhh....... !!!!


Konon kabar terakhir rencana pembelian ini tidak akan lagi menggerogoti budget negara, pembeliannya dibatalkan (katanya). Cuman yah - belajar dari pengalaman - kog gw agak yakin bakal ada yg memancing di air keruh dengan sukarela menyediakan laptop untuk 2009.... hehehe boleh2 aja toh?!

Monday, March 26, 2007

Derail

Hmmm, kejadian hari ini mengingatkan gw akan satu pertanyaan yg pernah gw dengar di kalangan orang Perancis di kantor,
"Apa persamaan polytechniciens dengan kereta api?"

(polytechniciens adalah sebutan untuk lulusan salah satu universitas terkemuka di Perancis yg notabene sangat kompetitif – jadi bisa ketebak duong segiumana orang2 lulusannya sudah melalui competitive benchmark :-).

Beberapa orang mencoba menjawab, namun tidak ada satu pun jawaban yg dinyatakan benar oleh si penanya.

Setelah semua menyerah, akhirnya dia menjawab,
"Pada saat kereta api derail (keluar dari rel-nya) dia tidak bisa kembali sendiri ke relnya, melainkan membutuhkan bantuan alat lain untuk meletakkannya kembali, barulah ia bisa melanjutkan perjalanannya. Demikian juga dengan polytechnician."

Kalo gw pikir2 hal tersebut bisa membantu gw mengerti beberapa orang di lingkungan gw selama ini. Terkadang gw merasa dikelilingi orang2 pintar yg beneran pintar, tapi kog jadi hostile atau neurotik saat menghadapi masalah. Mereka boleh jadi pintar dan sering berhasil melalui competitive benchmark, tapi at the time of trouble, ternyata banyak di antaranya yg tidak bisa mengangkat dagunya kembali dan "just be a human". Mereka butuh orang lain untuk membantu meletakkan mereka kembali di relnya, sebenarnya siapa sih yg gak perlu yah (?)
Hayo... hayo, cheer up. To be honest, I can not handle crystal at work place. It's a wild world out there. Hanging tough.

Sunday, March 25, 2007

a.k.a Pudar

Kurasakan pudar dalam hatiku
Rasa cinta kagum yg ada untuk dirimu
Kulelah ingin semua yg (pernah) ada
Ingin ku lepas semua

Setan dalam hati ikut bicara
Bagaimana kalo ku slingkuh lupakan saja
Ku punya banyak teman lelaki yg lain
Sepertinya ku kan bahagia

Mestinya kau ku cari pengganti diriku mu saja
Karna kita sudah tak saling jarang bicara
Pastikan cerita tentang kita yg tlah lalu
Hanya ada dalam ingatan hatimu

Maafkan aku jika kau kecewa (aku juga)
Cintamu dirimu bukanlah untuk diriku
Jika memang semua kan jadi cerita
Kutahu kau kita semakin terluka

* adopted lirik lagu "Pudar" dinyanyikan oleh Rossa

Tetap Berlanjut

Kira-kira sebulan yl gw mengupgrade blog ini, namun ternyata setelah migrasi yang gw dapati adalah blog yang berantakan dibuka di mac. Sebel dong. Setelah tadi "berjuang" dan mengembalikan template ke format lama yg sebelumnya dah gw backup, akhirnya tampilan blog ini bisa kembali ke template lama blog gw dulu dan untuk sementara tidak mengupgradenya ke sistem baru. Hanya sayangnya beberapa posting setelah migrasi yg belum sempat diback-up tidak bisa lagi ditampilkan, untuk ditulis ulang beberapa udah hilang deh momennya. Yah udah deh, di"rela"in aja.

Yg penting buat gw sih blog ini tetap berlanjut, untuk mencatat hal2 yg berlangsung dalam hidup gw, sebagian untuk gw refleksiin, dan sebagian besarnya untuk hal2 yg mungkin gak penting buat orang lain, tapi penting buat catatan gw, karna gw mau kalau gw gak ada nanti, at least ada yg ngangenin dari gw... hihihi, morbid banget gak seeeeh...

Wednesday, January 10, 2007

Live in Public Unease

I was waiting sometime to write my first blog in 2007 with a good news of finding adam air's airplane (that still missing (!) with 102 people onboard). It is damn too long to live in public unease like this, after 10 days it is yet found! Where are you?


That lost airplane accident happenned on the first day of 2007, and just the day before I closed 2006 with reflections of my own accident experiences. I was quite surprise. Life must goes on and it is so priceless.

My sympathy to the passenger's family onboard AdamAir and also to all survivors and family of senopati boat's, ferry's accidents, flood's victim both water and mud.

Welcome 2007

Quite surprisingly, in last few days Jakarta's sky was blue and clear.

Hope this will clearer all bad weather and all bad accidents in the first week of 2007. My great hope that all good things and faith bring a new hope for a better future.

If only I can still hope.

Sunday, December 31, 2006

There's something money can't buy

Akhir tahun 2000 gw lewati bersama pasangan berbahagia yg adalah teman dekat gw, John & Monique. Sungguh waktu yg sangat berarti walau sempat beberapa hari pertama gw mengeluhkan matahari yg hanya bisa gw liat tidak kurang dari setengah jam dan dingin yg sampai -23F. Tapi semangat John untuk mengabadikan momen2 tersebut dengan Patrick yg ternyata sangat kuat di usianya yg baru beberapa bulan, membuat kami selalu berjalan2 di luar rumah bahkan selama beberapa hari menginap di northpole demi melihat aurora.

Gw tidak punya firasat apa2 kalau itu akan menjadi pertemuan terakhir gw dengan Monique, karena di bulan February Monique dipanggil pulang, dan foto itu menjadi bahagian dari foto2 terakhir kami. Saat menjelang akhir tahun 2006 ini, dan menyaksikan bencana dan kecelakaan yg akhir2 ini rasa2nya sangat sering terjadi, hati ini mengingatkan betapa hidup gw ini benar2 priceless.

Sampai saat ini ada beberapa peristiwa yg masih lekat di otak gw tentang kesempatan hidup yg diberikan ke gw. Kecelakaan mobil di purwakarta dimana mobil yg gw tumpangin adalah yg paling ringsek, membuktikan bahwa hanya Tuhan yg mungkin memberikan kembali hidup itu ke gw. Masih teringat pandangan gw saat mobil meluncur ke jurang dan dalam hitungan detik saja ada mobil yg menabrak mobil kami kembali sehingga mobil entah bagaimana berputar dan mundur sehingga jurang pun terhindari. Juga saat helicopter yg membawa gw dan rombongan kembali dari rig di Gulf of Mexico terbawa badai selama 5 menit. Saat itu yg terlihat di mata gw hanya awan putih tanpa menyadari bahwa perjalanan selama 5 menit itu membawa kami seakan telah menempuh 30 menit perjalanan. Gw masih ingat sang pilot yg awalnya tenang menjadi agak panik saat hubungan telekomunikasi terputus dan gw hanya bisa menyebut namaNya. Terasa begitu tiba2 kami keluar dari awan dan cuaca di depan kami menjadi sangat tenang, namun saat gw menoleh ke belakang terlihat lah gulungan awan hitam. Tanpa disadari kami baru saja keluar dari gelombang awan pembawa badai. Tidak ada kata lain selain mensyukuri keajaiban tersebut. Begitu juga saat evakuasi rig setelah ada blow out alarm yg membuat gw kembali disadarkan betapa hidup hanya sekedar menjalankan tugas saja, kapan berakhir adalah bukan urusan gw. Peristiwa2 remarkable dalam hidup gw tersebut menjadi milestone di kala gw merenungi hidup gw yang salah satunya yah menjelang akhir tahun ini.

Di awal tahun 2006 gw mendapatkan rhema bahwa “everything happen for a reason”. Beberapa peristiwa penting dalam hidup gw di tahun ini menyangkut diri gw, keluarga gw dan juga orang2 di sekeliling gw, memang gw akuin happen for a reason, though some of those reasons still not yet clear but I learn (still do) to just accept. Gw belajar mengingatkan bahwa hidup gw ini bukanlah sekedar gw di dalamya tapi juga orang2 yg mencintai gw. Bulan demi bulan berlalu dengan beberapa ups and downs yg gw yakini berakhir dengan manis. Banyak perjalanan yg gw lakukan di tahun ini, dalam dan luar negri. Bisa melakukan hobi gw, bisa berbagi dengan banyak orang, bisa tetap mencintai dan dicintai, terutama bisa belajar mencintai hidup gw secara lebih dan lebih lagi... karena,

apartemen mahal... money can buy
vacation mahal... money can buy
kamera mahal... money can buy

but my life... it's so priceless and indeed,
it's something money can't buy
goodbye 2006!

Monday, December 25, 2006

Natal

Natal adalah perenungan akan kelahiran.
Bukan hanya kelahiran Yesus pribadi.
Namun juga kelahiran kembali suatu niat yg indah untuk melayani dan mengasihi lebih sungguh. Lebih lagi melayani dan mengasihi sesama, seperti yg selalu diajarkan olehNya.

mau kah kau jadi roti yg terpecah bagiKu?
mau kah kau jadi anggur yg tercurah bagiKu?
mau kah kau jadi saksi membritakan firmanKu: melayani, mengasihi lebih sungguh...

Walau ku sering gagal, tapi aku mau belajar terus melayani dan mengasihi lebih sungguh.
Bukan hanya karna ku mau ataupun merasa mampu, tapi lebih karna itu firmanNya.
Ku mencoba untuk jangan sampai pernah artifisial, dan terutama mencoba memberikan lebih kepada mereka yg sering terabaikan.
Semoga lilin tersebut tetap menyala dan dilahirkan kembali saat hati ini merayakannya.

Have yourselves a very merry christmas, with fun and Christ' love.

Thursday, December 21, 2006

me series (3)

I have answered you during lunch time, this also becomes the song of the day, "Yes, I have found it and enjoy it to the last, my greatest love of all. This is why I try to look no more. Then you asked where the ambition is, damn sure I know that it is still there."

I decided long ago,
Never to walk in anyone's shadows
If I fail, if I succeed
At least I'll live as I believe
No matter what they take from me
They can't take away my dignity


Because the greatest love of all
Is happening to me
I found the greatest love of all
Inside of me

The greatest love of all
Is easy to achieve
Learning to love yourself
It is the greatest love of all

* chorus of song title "Greatest Love of All", sang by Whitney Houston.

Monday, December 11, 2006

Sepenggal cerita yg telah lalu


Hari jumat kemarin gw menghadiri sebuah pertemuan penting setelah 20 tahun berlalu sejak lulus SMP, yaitu reuni informal anak2 SMP Lamaholot. Banyak cerita yg kami saling share. Banyak kejadian2 penting yg terlewat dan saling kami ceritakan. Wajah kami tidak banyak berubah, terus terang dari 15 yg hadir, kami dapat saling mengenali satu dengan yg lain walaupun beberapa baru bertemu kembali setelah hampir 20 tahun tidak bertemu. Satu yg kami yakini dalam pertemuan tersebut, ternyata sifat2 dasar yg kami kenal dahulu ternyata tidak berubah. Sepenggal cerita yg telah lalu, telah menjadi bagian dari hidup yg tidak dapat dipisahkan begitu saja. Terimakasih temans.

Wednesday, November 29, 2006

Tak kan kubiarkan

keponakan2 ku tercinta menjadi korban rating Smack Down.

Itulah janji yg gw buat ke diri gw beberapa minggu yl. Saat itu dengan lugasnya mereka bercerita tentang acara smack down. Duh, ciloko. Ternyata mereka memang tidak menonton (jelas2 sudah jam tidurnya), tapi apa mau dikata, ternyata teman2 di sekolahnya lah yg mengajarkan mereka apa itu dan bagaimana caranya meng-smack-down teman. Lagi lagi gw berpikir, duh ciloko.


Nasehat gw:.... (skip)
"... terus kalo aku dismack down temanku, harus gimana dong?"
Tollloooooooooong, saat itu hati gw berteriak.

Sesaat gw diam, lalu lanjut menjawab,
"Gini aja, uel ama uma lebih baik jangan maen dengan mereka yah".
Jawaban short cut yg gw pikir harus gw bilang itu, bisa ditebak dong kelanjutannya, dengan kritis mereka langsung menanyakan kenapa.
"Karena tante sayang kalian. Tante gak mau kalian jadi sakit gara2 maennya kayak gitu, nanti kalo sakit kan kita gak bisa berenang bareng2 lagi. Janji yah ama tante gak main begituan, oche?"
"Oche deh tante"

Gw pikir saat itu biarin deh ponakan2 gw dianggap gak gaul daripada jadi ngelakuin yang enggak enggak. Gw belum bisa menjelaskan alasan2 yg lebih "dewasa" atau yg katanya lebih rasional (catat: dalam kamus anak kecil belum ada kata rasional), biarlah seiring waktu akan mengajarkan mereka.

Hari ini ada laporan:
"Tante, tante, tadi temanku ngajakin main smack-down, tapi aku gak mau, kan aku dah janji 'tan mau berenang lagi di rumah tante."
Tanpa disadarinya senyum di wajah gw mendengarkan laporannya tersebut.

Terlebih setelah acara tersebut sudah jelas2 memakan korban. Apa sebegitu hausnya kah kita akan tontonan kekerasan sehingga dagelan pun harus bertemakan kekerasan? Dan ada lagi orangtua yg tidak mensensor tontonan anaknya... weleh weleh, ini pengenalan kekerasan yak?

Friday, November 24, 2006

Happy ThanksGiving

Although might not for all of us, thanksgiving day is still a good time to express thanks and appreciation.

So to the blog community, I'd like to thank
        • the blogger team for letting me advantage your service by writing whatever I like, and of course
        • to everyone who has been play a part in my life's journey. Cliche to say but true, without you guys I will not the way I am,
so .... thanks a bunch!

Lusi, riwayatmu kini

Lagi lagi ada dongeng yg menjadi kenyataan.

Sulit diterima akal yg sudah tumpul memang, saat orang bicara benar tapi disangka menakut-nakuti. Dan sulit dipercaya akal juga kalau urusan nyawa orang banyak menjadi bahan berantem.

Apa yg bisa gw lakukan? Jangan jadi businesswoman? too far to go. Sekarang at least gw mencoba sebarkan berita ini melalui blog gw ini. Lagi2 kami berduka bukan karna ketidak tahuan tapi lebih karna ignorance.

Turut berdukacita bagi keluarga para korban. God bless you.

Saturday, November 18, 2006

Bicara soal tamu,

gw memutuskan hari gw menerima tamu penting adalah malam minggu. Waktu itu tidak khusus untuk wakuncar, tapi juga untuk tamu2 spesial lainnya. Tanya kenapa? Malam minggu adalah saat dimana apartemen gw rapi, baju2 sudah tercuci bahkan sebagian sudah tersetrika rapi dan lantai pun masih mengkilap dan harum. Berbeda dg hari2 lainnya, tidak lain karena gw memang bertranformasi menjadi upik abu sejak jumat malam sampai sabtu pagi 07.50WIB.

Bicara soal tamu,
capeeeekkk deh (diucapkan dengan gaya yg lagi in) dengerin berita dimana2 cuman tentang tamunya Pak SBY yaitu Pak Bush, yg dari mulai protes sana sini, uang 6 milyard rupiah ludes buat persiapan yg cuman 6 jam, sampai2 katanya KiGendengP juga menyiapkan jurus2 pamungkasnya untuk membuat tamu katanya kehormatan itu tidak nyaman saat berkunjung nanti, tepatnya bagaimana gw gak ngerti juga apa doi jadi buang air kecil mulu, atau jadi gatel2, entahlah. Berlebihan memang, yah persiapannya, yah jurus2 penolakannya, yah semuanya deh. Sekolah yg diliburin gak lebih dari hitungan jari, tapi dalam seminggu ini banyak tuh mahasiswa dan pelajar meliburkan diri untuk berdemo, padahal mungkin saat hari-Hnya sekolah mereka tidak diliburkan secara resmi. Tanya kenapa?


Bicara soal tamu,
gw juga teringat di rumah bonyok gw. Kalau mau kedatangan tamu, mesti deh mama meminta kami beberes. Lantai harus disapu dan dipel bersih, mama akan memasak makanan khusus, dan seperti kebanyakan yg gw amatin setidaknya di lingkungan gw, peralatan makan dan minum untuk tamu hampir selalu berbeda dengan yg biasa dipakai sehari2. Waktu gw kecil dulu gw tanya kenapa, jawaban mama "piring ini, gelas itu, kobokan yg itu, piring saji ini sengaja memang mama beli buat tamu". Suatu hari waktu gw mengajak teman2 ke rumah, gw menyajikan es buah di mangkok coktail yg sering gw lihat dipakai untuk tamu (cocktail disini bukan berarti minuman beralkohol melainkan cocktail yg berarti es buah). Dua dari gelas coktail yg terbuat dari kaca warna warni itu pecah akibat kami asyik bersenda gurau dan menjatuhkannya tanpa sengaja. Mama tidak semarah yg gw duga waktu gw laporan, "yah sudahlah, kalian masih kecil untuk mengerti barang mahal" katanya. Tapi gw jadi tahu kalau gelas2 itu harganya tidak murah, itulah sebabnya lanjut Mama, beliau hanya menggunakannya untuk tamu2 spesial saja. Gw lega karena mama tidak marah dan sejak saat itu, kami anak2nya pun menggunakan barang2 khusus itu hanya untuk tamu2 khusus, termasuk di antaranya tamu2 penting kami di malam minggu. Setelah kami lebih besar, kami lah yg memutuskan tamu yg mana yg mendapatkan privilege menggunakan barang2 khusus tersebut. Kami pun bisa menggunakan barang2 khusus tersebut untuk kami sendiri, toh sekarang kami sudah mengerti caranya menjaga barang mahal.

Lagi bicara soal tamu di rumah gw,
kalau tamunya Pak RT misalnya, persiapannya tidaklah terlalu heboh. Tapi kalau tamunya pejabat kantor bapa, adalah beda persiapannya. Gw juga belajar kalo kedua ortu gw bukanlah orang gila hormat, apalagi mama seorang guru di sebuah SMP negri. Kalau yg bertamu teman2nya mengajar, mama pun memperlakukannya seperti menerima tamu pejabat kantor bapa itu. Namun kalau tamu2 nya saudara dekat, mesti deh persiapannya minimalis, alasannya mereka bisa menerima bagaimana pun keadaan di rumah. Toh mereka tidak berhenti di ruang tamu, melainkan tidur pun bersama2 dengan kami tanpa perlu mengganti sprei kalau memang masih bersih. Suatu hari persiapan menyambut tamu agak istimewa tapi kami jg gak heran, karena yg mau datang adalah keluarga calon kakak ipar gw untuk acara lamaran. Setelah kakak gw menikah, kedatangan keluarga dari suaminya berubah menjadi lebih biasa2 saja, pan sudah menjadi saudara dekat.

Jadi bicara soal tamu di lingkungan terdekat gw itu,
tamu2 disambut berdasarkan kepentingannya. Dalam banyak hal, yg tahu kepentingannya yah mereka itu, kedua ortu gw. Saat itu gw dan saudara2 hanya menjalankan tugas membantu menyiapkan rumah saja. Terkadang yg kami tahu pun hanya terbatas kalau yg mau datang adalah temannya bapa/mama tanpa tahu namanya, apalagi misi kedatangannya. Walau tamunya kami gak kenal, tapi dari persiapannya biasanya kami bisa menebak takaran kepentingan tamu tersebut. Tapi apa yg penting buat ortu gw waktu itu, belum tentu sama penting untuk gw dan saudara2 gw. Juga belum tentu gw mengerti, karna yah gw memang belom saatnya mengerti. Misalnya saja waktu gw masih kecil itu, kedatangan kepala sekolah tempat mama mengajar tentu penting buat mama, tapi buat gw dengan pengertian saat itu, kedatangannya mengganggu waktu gw nonton TV dan bikin capek nyapu dan ngepel rumah saja. Padahal, kalau kami menyambutnya dengan rumah berantakan misalnya saja, adalah mungkin kredibilitas mama sebagai guru bisa saja dipertanyakan dan selanjutnya bisa ditebak. Itu memang hal yg terkadang kami waktu kecil tidak mengerti, kenapa sih harus sudah mandi rapi sebelum jam rutin kami mandi, atau tidak boleh duduk/tiduran di lantai, atau TV yg harus dimatikan dan belajar di kamar, padahal pan enakan ngerjain pe-er sambil nonton misalnya. Tapi yah secara tv ada di ruang tamu, kami deh yg harus ngalah. Nah, begitu ortu bisa membeli rumah yg lebih besar dan ruang TV pun terpisah dari ruang tamu, mulai saat itu kami bisa tetap menonton TV saat bapa/mama menerima tamu.

Kalau gw sangkut pautin bicara soal tamu yg tadi itu tuh,
mungkin yg ngerti cuman Pak SBY dan teman2nya. Tapi, apa kepentingannya buat gw yah? Apa gw harus mendukung gara2 katanya ada kepentingan buat peningkatan kesehatan balita, peningkatan pendidikan, pemerataan kesejahteraan? Secara gw udah membaca "Confessions of an economic hit man" dan juga sering melihat Bush yg awalnya dicaci maki rakyatnya sendiri berubah menjadi super power man tapi dicaci juga, bahkan sekarang partainya mulai digoyang. Gw juga mempertanyakan banyak hal. Apakah hal2 yg dimaksud sebelumnya itu adalah benar bisa dilakukan oleh sang tamu? Walau bagaimana pun, mesti kepentingan yg berbicara, namun bukankan kepentingan adalah salah satu hal yg abadi dalam dunia ini?

Kalau doi namu di rumah ortu gw sih gampang kalau gw harus menentang tamu. Bisa saja dengan tetap menonton TV dan menyetel volumenya keras2 misalnya. Dengan berjalan mondar mandir mengganggu pembicaraan mereka dan membuat jengah sehingga tamu segera pamit. Dengan mencampurkan pencahar ke teh manis/kopi yg mama suruh kami sajikan. Dengan memecahkan peralatan makan/minum khusus secara sengaja, setidaknya mencoba membuat mama jera membeli peralatan makan yg lebih mahal dari yg biasa kami pakai. Namun itu pun tidak pernah bisa kami lakukan, karena pengajaran yg ditanamkan di rumah itu adalah kami harus menghormati tamu salah seorang anggota keluarga. Kalau memang tamunya tidak diundang dan tidak diinginkan, mesti sudah ditolak di pintu gerbang dan tidak bisa masuk ke rumah kog.

Tapi bicara soal tamunya negara,
kalau Indonesia memang benar adalah tanah air beta dan Pak SBY adalah presiden yg dipilih, tentunya berbeda dengan ortu yg tidak bisa dipilih, mempertanyakan kepentingan kedatangan tamunya adalah hal yg sah2 saja. Kalau memang ada kepentingan yg kami belum mengerti, tolonglah kami menjadi lebih dewasa untuk mengerti. Kalau memang kami belum dewasa, terima kasih untuk memperlakukannya dengan arif. Nah saat ini yg gw liat, 6 milyard buat kunjungan 6 jam kayaknya berlebihan deh.


Sunday, November 05, 2006

Je veux vivre

* Courtesy of Faudel

Pada suatu waktu di saat dingin sampai menusuk ke tulang di UK, room-mate gw asal Algeria NadiaLouail bersenandung lagu berbahasa arab dengan riangnya. Tanpa mengerti lagunya, senandung ini menemani kami (+ LiNing) melewati malam bersama bulan purnama (my favorite scene: full moon in winter!). Gw dan LiNing ngikutin senandungnya dengan berdengung2 aja.

Eh pas ngedengerin lagu ini, kebetulan di bawah sinar bulan purnama tapi tanpa winter dan kedinginan, kebetulan lagi penyanyinya rada2 mirip Nadia (pol dengan jaket kulit kebangsaannya), gw jadi teringat senandung itu... quite a chance.

{Refrain:}
Je veux vivre, vivre
Bahri n'hich, n'hich

Je veux vivre pour manger touts les livres
Je veux vivre pour connaître les enfants
De mes petits enfants, pour atteindre 100 ans
Pour atteindre 1000 ans, pour être heureux et libre

Je veux vivre pour courir sur la grève
Je veux vivre pour embrasser mes rêves
Pour embraser mes jours pour connaître l'amour
Et les heures qui enivrent, je veux vivre

{au Refrain, x2}

Je veux vivre toutes les joies de la terre
Je veux vivre et parcourir les mers
Je veux vivre pour sonner la planète
Sans en laisser une miette, je veux voir toutes les villes
Plonger de toutes les îles que leur ciel me délivre

{au Refrain}

Je veux vivre pour avaler le monde
Je veux vivre de mondes qui frissonnent
De milliers de pays de millions de personnes
D'un milliard de récit, je veux pouvoir les suivrent

Je veux vivre sans jamais m'assoupir
Je veux vivre sans jamais me trahir
Pour que chaque saison recolore mes passions
Pour dévorer le temps qui cesse de me poursuivre
Je veux vivre...
Bahri n'hich...

Pour ce que lorsque la mort viendra me faire, un sort
Elle ne puisse jamais, jamais déraciner tout ce que j'ai planté
Tout ce que j'ai semé qui me fera survivre

{au Refrain, x2}

D'après Faudel, cette chanson est écrite et composée par deux jeunes toulousains, est plus qu'une chanson : c'est un véritable hymne à la vie et à l'amour.

Sunday, October 29, 2006

A Day Like Today



I have to admit that a day like today is very difficult for me, may also be for others.

Start to work tomorrow, vacation days suspended until next ones.

vacation.vacation.vacation.vacation.just another vacation please...

Bus Sekolah

yg kutunggu kutunggu
tiada yg datang
ku telah lelah berdiri berdiri
menanti nanti

nyambung cerita tentang bus sekolah yg sempat gw nikmatin pas SMA, ternyata 'terdengar' juga ama yg berkepentingan (apa coba?)

ternyata, bus sekolah yg kutunggu kutunggu sedang dibuat
ku telah siap berdiri berdiri
abis geratis :-))

Tuesday, October 24, 2006

Hari Baik Bulan Baik

Selamat hari raya Idul Fitri 1427 H buat semua handai taulan/kenalan dan teman2 semua yg merayakannya.

Baiklah di hari baik bulan baik ini, Artha mohon maaf lahir dan bathin atas segala kesalahan ucap atau perbuatan yg mungkin telah terucap/terbuat kepada semua handai taulan/kenalan dan teman2 semua. Seperti ada tertulis dalam sebuah kartu ucapan lebaran di tahun ini, demikianlah hendaknya tali silahturahmi di antara kita,

Forgivenesss does not change the past,
but it does enlarge the future


I hope everyone has a good time today, Happy Eid Mubarrak. May God's blessings always be with us and our beloved family, and our beloved extended families, and our beloved nation, and our beloved world.


Sunday, October 22, 2006

Arti Kematangan

Gak tahu apa yg ada di pikiran Melly saat nerima orderan nyiptain lagu untuk film Heart, dan gimana rasanya saat ndengerin lagu ciptaannya sendiri. Tentunya cuma Melly yg tahu yg sesungguhnya. Namun, saat Melly harus ngomentarin cara penyanyi menyanyikan lagu tersebut, tentunya menarik, wajar kan kalau seorang pencipta lagu kurang lebih punya gambaran bagaimana lagunya dibawakan.

Barusan aja gw menyaksikan tatapan pandangan Melly saat lagu "Pencinta Wanita" dinyanyikan oleh Harvey yg berduet dengan Darius dalam acara selebriti jam di antv. Lagu itu aslinya dinyanyikan oleh aktor utama film tersebut, Irwansyah yg notabene baru masuk dunia nyanyi komersil. Tanpa menyaksikan acara itu, bisa ditebak dong kalau Harvey menyanyikannya berbeda dg sang penyanyi aslinya. Walau tidak dengan gaya festivalnya, namun jam terbang memang berbicara. Lagu yg tadinya gw anggap cuma kuat di liriknya - sederhana tapi gak biasa khasnya Melly - menjadi sangat menarik dan lebih enak didengar saat dinyanyikan dengan warna vokal Harvey, plus didukung penampilannya yg chic bergaya anak muda tadi - walau gw akui agak keganggu pas bagiannya Darius nyanyi sih (peace man, wajar aja lo pan bukan penyanyi :-)

Siapa yg bakal nyanyiin lagunya, sepertinya tidak mempengaruhi Melly saat mencipta lagu sesuai orderan. Dan buat Harvey, walau lagunya lagu abegedan selintas bukan "kelas"nya, ia tetap menyanyikannya dengan sangat baik. Keduanya menunjukkan arti kematangan yg jelas tidak didapat di bangku sekolahan, being profesional. Bravo Melly dan Harvey.

"Pencinta Wanita"

ku temukan dalam pencarian
cinta sejati untuk hidupku
kurang lebih yg spt dia
ku harap dlm cintaku

ku tak mau menjanjikannya
pasti bahagia bila denganku
biar dia rasakan sendiri
betapa gilanya cintaku

Chorus:
aku memang pencinta wanita
namun ku bukan buaya
yg setia pada seribu gadis
ku hanya mencintai dia

aku memang pencinta wanita
yg lembut spt dia
ini saat ku akhiri semua
pencarian dalam hidup
cintaku ternyata aku mau hanya dia


Setiawan Djody yg menjadi juri di acara tersebut pun memuji lirik lagu yg katanya rada2 ndalem - berdasarkan pengalaman nih, hahaha. Eniwei, penampilan Harvey membuat gw teringat what a wise man said, "You can take a man from a village, but you can't take a village from a man".

*setelah kejadian Harvey ini, pengen deh denger lagu MyHeart-nya ciptaan Melly untuk film ini juga dinyanyiin KD-Anang ... hehehe

Tuesday, October 17, 2006

Republik Citra

Tadi siang waktu Yanti menelpon khusus memberitahukan tentang keberadaan iklan layanan masyarakat yg gw ceritakan kepadanya sebelumnya, membuat gw cukup lega. Iklan yg dimaksud tentang himbauan pemerintah (BI) untuk tidak melipat ataupun meremas uang secara sengaja merusaknya. Ceritanya bermula saat gw melihat bunga uang di acara pernikahan lulu tobing-danny rukmana di televisi. Bukan kekaguman yg gw lontarkan atas yg (katanya) kreatifitas, melainkan ironi.

Saat menonton acara itu, gw teringat kalau beberapa hari sebelumnya gw baru saja menonton/membaca iklan layanan masyarakat tersebut. Pesan yg disampaikan di dalamnya ditekankan untuk menghargai uang sebagai penghargaan atas hasil keringat sendiri. Tapi selain uang berfungsi sebagai alat pembayaran yg sah seperti tertulis jelas di tiap lembar uang kertas tersebut, uang juga adalah barang kehormatan republik ini secara adanya lambang negara dan ttd pejabat negara. Sayangnya, waktu itu di antara beberapa teman, cuman gw yg merasa pernah melihat iklan tersebut. Ternyata iklan itu tidak setenar iklan layanan masyarakat tentang pengenalan uang palsu dengan kampanyenya yg cukup sering bergaung, "dilihat-diraba-diterawang". Jadi kepastian Yanti tadi cukup melegakan untuk topik yg nyaris terabaikan ini.

Menurut gw, bukan kapitalisasi uang sekedar menggantikan souvenir yg bisa saja dibeli dengan kapital yg sama. Tapi bayangkan, kalau gw gak salah liat waktu itu, berarti baru beberapa hari saja pemerintah berbicara eh tak lama kemudian himbauan tersebut langsung dilecehkan. Dipertontonkan kepada khalayak ramai lagi! Kalau itu dianggap sebagai guyonan saja, duh sayang sekali yah. Tapi toh, menteri2 ataupun tokoh masyarakat yg ada di acara tersebut pun sepertinya menerima saja, atau sudah ada delik aduan? Di tv juga terlihat pandangan celamitan seseorang bercerita tentang bunga uang yg sempat jadi rebutan itu. Duh! Juga kalau yg dipermasalahkan hanya citra keluarga tersohor ini, sayang sekali. Iklan tersebut toh jelas2 dikeluarkan oleh BI which is notabene pemerintahan RI, yg notabene langsung dilanggar oleh salah satu keluarga terpandang, ironi bukan?

Citra jugalah menurut gw yg terwakilkan oleh jajak pendapat 2th pemerintahan SBY-JK yg akhir2 ini dikutip dimana2. 67% rakyat menyatakan kepuasannya dalam hasil jajak pendapat yg dimotori LSI tersebut. Melalui blognya SBY, Pak Andi menyatakan bahwa SBY bersyukur atas dukungan rakyat dan kembali membuat janji untuk masa depan yg lebih sejahtera. Toh perlu dicermati juga bahwa sampai bulan Maret yl, hasil survey yg sama menyatakan penurunan kepuasan yg cukup berarti ke level terendah selama pemerintahan duet tsb. Baru setelahnya, dalam 2 bulan (April-Mei) angka kepuasan tersebut menanjak dan akhirnya mencapai level 67%. Coba liat potretnya di akhir tahun 2005. Oke2 saja sih kalau hasil baru ini menunjukkan peningkatan citra mereka di mata masyarakat saat ini, tapi apa angka tersebut betul adalah laporan pandangan mata rakyat terhadap hasil pemerintahan SBY-JK, atau lebih kepada citra atau karisma figurnya saja?

Sama seperti kamera gw yg memotret sunset yg indah di sebuah pantai yg sebenarnya tak terurus (misalnya). Toh pada kenyataanya, sunset tidak selalu seindah saat gw memotret itu, ada hari2 dimana matahari bersembunyi tanpa semburat warna yg spektakuler. Jika potret sunset yg pas kebetulan bagus itu diletakkan sebagai iklan pariwisata, tentunya akan menarik orang untuk datang berkunjung. Namun, jika yg dihadapinya adalah lokasi pantai yg kotor dan matahari pun bersembunyi, tentunya suasana sunset tidak seindah gambarnya. Hal itu tentu akan menimbulkan rasa kecewa dan tertipu. Nah, untuk bisa mengetahui kebenaran potret pantai tersebut, biasanya beberapa orang akan meminta pendapat teman yg tahu atau pernah ke pantai itu atau membekali diri dengan informasi2 lainnya tentang pantai tersebut.

Dengan analogi memotret pantai tersebut, atas nama perimbangan marilah kita tengok informasi2 lain selain rasa puas melihat gambar hasil pemotretan LSI tersebut. Masih banyak kasus2 yg harus dicermati, sedikit di antara beberapa koleksi potret yg gw kumpulkan,
  • Siapa sesungguhnya mayoritas penduduk negara ini? Kaum petani? Buruh? atau peminta2 terselubung (baca: peminta2 duit proyek).
  • Kasus kemiskinan sebagai centre masalah2 sosial. Pengangguran meningkat terus.
  • Kasus2 negara baik secara undang2 maupun praktisi kenegaraan. Reformasi hukum dan pemerintahan di semua level.
  • Kasus Munir.
  • Kasus Lusi.
  • Kasus Hamid.
  • Kasus Pak Jaksa. Sulitnya mendapatkan hakim agung di negara berpenduduk lebih dari 200juta ini.
  • Kasus Poso, baik sniper dan "penghilangan" orang. Bukan potret baru, sudah berulang kali marak sejak jaman orde baru. Yg sangat hangat di ingatan adalah penembakan seorang pendeta di lokasi umum yg disaksikan oleh istrinya sendiri. Tanya kenapa? Gak ada demonstrasi besar2an oleh pendukungnya atau televisi memang melakukan tebang pilih pengungkapan fakta pada prime time? Apa pendukungnya takut? Atau pengajaran kasih yg nyata dengan "ditampar pipi kiri lalu kita berikan pipi kanan"? Tentunya hal ini sama sekali bukan hal yg mudah dilakukan disaat banyak hal2 yg sudah dimaklumkan oleh rasa ketakberdayaan minoritas yg sudah terkondisikan. Suasana bertambah kisruh dengan keberadaan beberapa bom di beberapa tempat. Dimana rasa aman itu? Tolong Pak SBY-JK, terungkapnya kasus ini adalah secercah harap masih adanya keadilan dan NKRI tidak lagi menjadi wacana yg menyedihkan.
  • Kasus2 kaum minoritas, kaum perempuan dan anak2 misalnya. Persoalan2 sosial dan keadilan yg banyak "belum" menjamah komunitas ini, misalnya saja seputar hak anak, hak anak2 terlantar, hak buruh anak2, dan banyak hak2 lainnya. Toh mereka tidak memilih dilahirkan sebagai anak Indonesia. Jangan berdalih bahwa toh negara juga tidak ada pilihan, ini toh bukan pilihan kalau anak adalah titipanNya.
Tentunya kalau mau ngomongin masalah, itu banyak. Bukan di situ intinya pengumpulan potret2 ini, dan bukan sekedar untuk diklipping dalam album kenangan yg nantinya hanya akan berdebu di pojok lemari. Melainkan ada hal yg menarik gw dari kumpulan potret2 ini, yaitu keberadaan buku yg secara khusus memuat janji2 dan komitmennya duet SBY-JK untuk bangsa ini. Buku tersebut berjudul Janji dan Komitmen yg notabene adalah hasil pengumpulan berita2 di media2 baik saat kampanye maupun awal2 kepemimpinan duet SBY-JK. Disitu tertulis dalam hitam dan putih semua janji dan komitmen yg pernah dilontarkan. Janji dan komitmen yg secara nyata menegaskan bahwa pendidikan, kesehatan, pengangguran, kemiskinan dan reformasi hukum menjadi sasaran utama. Cocok seperti ide penulis, bagaimana bukti janji dan komitmen yg telah membawa mereka meraih suara terbanyak di putaran kedua pemilihan presiden? Bukankah orang dinilai dari apa yg dikatakannya? (atau politikus adalah pengecualian dari bagian hukum karma duniawi ini?)

Ada lagu Vina yg langsung gw ingat tentang citra, judulnya Citra Biru. Begitu liat syairnya, yah sepertinya ini cocok menggambarkan suasana saat gw berpikir tentang yg 67% itu.

Citra khayalku
Membawaku ke alam yang semu berkabut kelabu
Aku semakin ragu, semakin tak tahu
Citra biru datang berlalu
Meninggalkan satu kenangan
yang mungkin berkesan
untuk membuka jalan

Di masa depan sebelum prasangka mengganggu
kutahu ini tak selalu terlupa
menjadi satu kenyataan yang indah
kulihat hari semakin cerah
inikah jawaban bagi hati yang gundah



Moga2 masa depan yg lebih sejahtera ini bisa terealisasi di republik yg mulai meraih citranya di mata DK PBB, pan gak lucu Pak kok ngurusin keamanan dunia sementara keamanan rumah sendiri dipertanyakan. Dan kalau hanya mengandalkan citra, apa negara ini hanya sekedar republik citra?

Dimulai dengan citra yg baik, dilengkapi dengan rahmatNya, tentunya seseorang bisa menghasilkan pekerjaan lebih baik. Terlebih jika pekerjaan itu menyangkut hajat hidup orang banyak. Amin.

Monday, October 16, 2006

me series (2)

Ini di forward ama Nenny beberapa waktu yl.
Di Jepang, ramalan ttg seseorang lebih ditentukan oleh golongan darah daripada zodiak atau shio.
Kenapa?
Katanya, golongan darah itu ditentukan oleh protein-protein tertentu yang membangun semua sel di tubuh kita dan oleh karenanya juga menentukan psikologi kita.

Benar apa tidak?
kata Artha: terserah anda benar/tidak nya, namanya juga ramalan, dan case di Jepang kan belum tentu case di Indonesia atau pun negara2 lainnya. Tapi cukup interesting gw juga saat baca golongan darah O yg case gw banyak yg rada2 bener deh dengan deskripsi golongan darah O :-))

Kata ramalan orang Jepang,
in general
O
berjiwa besar, supel, gak mau ngalah, alergi pada yg detil,
kecenderungan politik: "centro"

Rank (out of 4 among A, B, AB and O blood types)
Yg paling gampang ngaret soal waktu :
--2 O (krn flamboyan)
Yg paling susah mentolerir kesalahan org :
--4 O (easy judging tapi juga easy pardoning)
Yg paling bisa dipercaya :
--2 O (demi menjaga balance)
Yg paling disukai utk jadi teman :
--1 O (orangnya sportif)
Kebalikannya, teman yg paling disebelin/tidak disukai:
--4 O (sulit mengalah)

Brain and Capabilities
Yg paling mudah kesasar/tersesat :
--3 O
Yg paling banyak meraih medali di olimpiade olah raga :
--1 O (jago olah raga)
Yg paling banyak jadi direktur dan pemimpin :
--1 O (krn berjiwa leadership dan problem-solver)
Yg jadi PM jepang rata2 bergolongan darah :
--1 O (berjiwa pemimpin)
Yg paling gampang nabung :
--2 O (suka melihat prospek)
Yg paling kuat ingatannya :
--1 O

Health
Yg paling panjang umur :
--1 O (gak gampang stress, antibodynya paling joss!)
Yg paling gampang gendut :
--1 O (nafsu makan besar, makannya cepet lagi)
Paling gampang digigit nyamuk :
--O (darahnya manis)
Yg paling gampang flu/demam/batuk/pilek :
--3 O (makan apa saja enak atau nggak enak)
Apa yg dibuat pada acara makan2 di sebuah pesta :
--O (banyak ngambil protein hewani, pokoknya daging2an)
Yg paling cepat botak :
--1 O
Yg tidurnya paling nyenyak dan susah dibangunin :
--4 O (baru tidur kalau benar2 capek dan membutuhkan)
Yg paling cepet tertidur :
--2 O (Kalau lagi capek dan gak ada kerjaan mudah ken ngantuk)
Penyakit yg mudah menyerang :
--O (gangguan pencernaan dan mudah kena sakit perut)
Apa yg perlu dianjurkan agar tetap sehat :
--O (Krn daya konsentrasi tinggi, maka perlu juga mengobrol santai, jalan-jalan)
Yg paling sering kecelakaan lalu lintas (berdasarkan data kepolisian) :
--3 O

Sunday, October 15, 2006

C1000

Am I on vacation?
-- no, it's just a sunday

Am I in heaven?
-- not that luck, still on earth

Bali, Maldive, Bahamas kind of place?
-- nope, liquid in my apartment and parents house.

So?

Yeah, this feels like a 1000mg vitamin C. After a busy saturday, today is a kind of self-healing process all over my body and soul. I called this as one of my best days in life.

Started late sunday wake up (which lately difficult to have one), a healthy breakfast with banana-chocolate lumpia and a cup of coffee. Spend morning with mom. Lunch with my lovely one served by my best cook, which is only cook whatever in the fridge that turns to be (just) a nasi goreng. A gooood creambath massage. Full blessing of church service. Eating out for dinner. Listening to Audy singing in antv.

Just as 1000mg vitamin C, I don't take it every day. Only days when I really need it. Days when this body feels tired and exhausted. Days when I am trying to get better after sick.

Love it. Take it. This 1000mg vitamin C which keep me steadfastly cheerful, though in tough times.

Just in time for sleep.

Monday, October 09, 2006

Monday Break



















YOU MOVE

Life is a game, PLAY IT
Life is a challenge, MEET IT
Life is an opportunity, CAPTURE IT

*) phrase quoted from an inspirational card

Dedicated to my best friend in her time of trouble.

You called me in the middle of the night.
Told me problems you have had.
It's just you and I who understand how this feels.
When things go smooth and sunshine, we share smiles.
And when things just like nightmares in the line,
we share the tears.

Go and fight!

Monday, October 02, 2006

Why men need a map?

"maybe because he lives in Jakarta... hehehe"


Weekend lalu gw sempat muter2 di daerah Mampang. Gara2 mau menghindari macet, gw maen belok aja ke salah satu jalan yg entah karna sok tahu atau ngerasa familiar, gw merasa akan terhindar dari macet. Gw mulai nginget2 jalan yg beberapa tahun yl sering gw lewatin secara gw pernah tinggal di Jl.Prapanca. Ternyata, bukannya selamat dari macet, malahan gw cuman muter2 doang selama sejam dan balik2 ke jalan yg sama. Menyebalkan. Et, voila, hari ini gw dapet hibahan map Jakarta dari seorang expat yg mudik ke kampungnya. Segeralah gw buka dan sekarang bisa ngerti deh salahnya dimana. Map online

Itulah, walau ngerasa familiar dalam hal jalanan, Jakarta sudah banyak berubah. Transportasi umum pun demikian. Trayek2 langganan gw dulu sudah tergusur oleh bus2 yg lebih baru dan (tentunya) tarifnya lebih mahal. Ke arah yg lebih baik? Only heaven knows, but let's hope for a better and have trust on it.

Kenapa jalanan di Jakarta semrawut?

Waktu gw SMA, seinget gw ada beberapa jenis bus. Bus sekolah, tentunya sesuai namanya ini bus khusus buat anak sekolahan. Model kedua adalah bus2 kecil seperti kopaja, metro mini dan bus yg biru itu (duh lupa namanya). Bus2 kecil ini terkadang nolak pelajar, kecuali yg mau bayar harga penumpang umum, tentunya bukan harga khusus anak sekolahan. Waktu itu anak sekolah/mahasiswa bayar Rp100,- sedangkan harga biasa Rp 250,-. Yang ketiga, bus tingkat. Bus ini bersahabat dengan pelajar dan termasuk yg paling murah dan pantang menolak penumpang. Nah, akibatnya bus sering (atau selalu) penuh. Bus ini juga bus yg paling lelet, ya karna bentar2 ambil penumpang. Yg berikutnya bus patas biasa. Walau nerima pelajar, terkadang tarifnya kudu tarif normal saat jam2 rame. Bus ini jalannya lebih cepat dibanding bus tingkat. Dan yg terakhir, waktu gw kelas 2 SMA atau tahun 1992 deh baru mulai ada bus Patas AC, jenis ini jelas2 menolak tarif pelajar. Bahkan sangking gak percayanya ada pelajar mau bayar harga normal, bus jenis ini jarang berhenti kalo distop pelajar. Jadi, tentunya sebagai pelajar waktu itu, gw akan memilih bus sekolah atau bus tingkat, sangat jarang gw naik bus patas atau boro2 patas AC yg 10x lebih mahal dibanding tarif bus anak sekolahan yg jadi Rp 100 tahun 1992 (sebelumnya Rp 50:-). Terus sekitar tahun 93-an (ntar deh kalo salah, gw koreksi) baru ada bus gandeng (masih ada gak yak?), sayangnya bus ini gak punya trayek sampai Cengkareng, jadi jarang banget gw naikin waktu itu kecuali mau ke Senen buat ngejar bus tingkat no.26.

Gw bukan orang satu2nya yg memilih bus sesuai dengan keperluan dan juga kemampuan bayar. Jadi, jelas2 bus tingkat itu bus ekonomi dan bus patas dan AC adalah bus eksekutif. Itu juga sesuai dengan fasilitasnya, bus patas ataupun patas AC saat itu jarang sesak2an dibandingkan bus kecil ataupun bus tingkat. Tapi hal itu gak berlaku lagi beberapa tahun kemudian. Banyak orang mulai rela membayar lebih mahal walau berdesak2an di patas AC. Yah, Jakarta mulai macet gak karu2an, tentunya walaupun harus berdiri berdesak2 an masih lebih baik di udara sejuk dibandingkan dengan bus tanpa udara mengalir sama sekali. Ya toh?

Kenapa jalanan di Jakarta semrawut? Kembali ke pertanyaan itu. Menurut gw dan beberapa teman lainnya yg sependapat saat diskusi kemaren, penyebab awalnya adalah jumlah orangnya dah kebanyakan. Akibatnya, jumlah kendaraan umum sudah sangat sulit mengimbangi pertambahan demand, ditambah lagi kendaraan pribadi yg terus bertambah. Rencana kota2 satelit sekarang menjadi agak basi dengan ide "kembali ke kota" seiring maraknya pembangunan apartemen. Mengusir orang2 tak ber-KTP hanya sebulan lah paling lama dilakukan setelah lebaran, setelahnya Pemda hanya bisa mengelus dada karna banyak yg memang masih terpesona dengan lenggak lenggok Jakarta. Walau ibukota itu kejam dan tak menjanjikan pekerjaan atau pun hidup yg lebih baik, tapi yg penting "gak tinggal di kampung" masih terdengar menjadi alasan. Masalah sosial udah seperti "chicken and egg" problem deh, jadi yg mana yg mau diselesaikan duluan?

Mangga Pak Sutiyoso dipraktekkan hasil study bandingnya ke kota2 megapolitan. Tapi, untuk itu butuh map juga tuh Pak, biar gak berantakan kayak sekarang. Syukurlah dengan semakin terbukanya meja gubernur buat masyarakat, hanya sayang penerapannya yg kurang merakyat. Bang Yos, mana jalur penghijauan yg dijanjikan? Mana peta jalur trotoar buat pejalan kaki yg aman dan gak berlobang2? Yang utama, mana jalur penyandang cacat yg selama ini sepertinya selalu kelupaan... kalo kelupaan (lagi), coba ditambain deh di rencana (katanya) keren Jakarta 2010 yg penuh dengan besi2 itu. Yang ditiru jangan modernisasinya kota2 besar itu, tapi juga sisi humanisasinya Bang! Goodluck.

Sapa suruh datang Jakarta
Sapa suruh datang Jakarta
Sandiri suka sandiri rasa... edoe sayang...
*lagunya mama waktu gw kecil... terngiang2 terus di telinga gw kalo pas menghadapi ruwetnya Jakarta ... hehehe