Look at me,
You may think you see who I really am,
but, you'll never know me.
Every day, it's as if I play a part.
When will my reflection show, who I am inside... (C.Aguilera)
Monday, August 20, 2012
Merdeka!! - notes from Japan
Tuesday, August 14, 2012
Culinary Freak
Monday, August 13, 2012
Out of Imagination
Back in 1986, my parents (and QQ) were in Osaka for World Expo, and I remembered Dad told me that both had prayed that one of their daughter, pointed to me who at that time had to do my final exam and forget my dream to follow visit them to Japan. And here I am in 2012, "already" an engineer and is working in a "world-class" project in Japan, truly out of imagination!
12.8.2012 @Royal Park Hotel Yokohama - awaiting the closing London Olympics ceremony.
Wednesday, August 08, 2012
Eben Ezer
Monday, August 06, 2012
Korean waves
Sunday, August 05, 2012
2012 London calling
I'm an Olympicaholic during the games ongoing; with enthusiasm I watch the openings and some games of my interest, follow Olympic TV programs like interviews & reviews, last not to miss the closing and final medals tally. This afternoon, the tally recorded China at 2nd rank and South Korea at 3rd! Bref, Asian moves the world...
My favorite Olympic events are when the world records are broken, and all those record-makers provides powerful inspiration. Yup, I agree that most (if not all) Olympians indeed offer reassurance.
That reassurance as for me at most is able to put my jogging shoes and refuel me to run again and again and again.... wish Olympic starts every year so I wont miss any year to have my "months of regular weekend jogging". Ooops!
This season is interesting because I jog through the traffic roads, crossing city's landmarks and statues without disturbing pollutants, thansk to Indonesian gas that fueling clean air in Yokohama, Japan. Wishing one day, I have chance to witness Olympic starts at my home country, big hope it's not a wishful thingking.
Saturday, March 12, 2011
after Facebook exist…
Ada banyak hal yg membuat blog ini menjadi jarang di update, baik external maupun internal influence yg memang melatarbelakangi hal tsb. Satu yg pasti adalah gw tidaklah kehilangan hasrat menulis, baik untuk mencurahkan perasaan sekalipun atau untuk meng-keep record mengenai pemikiran ataupun refleksi terhadap kejadian yg terjadi dalam hidup. Moreover, semata2 for the love of the writing.
Apakah yg dituliskan itu benar2 berguna untuk orang lain, itu bukan sepenuhnya jadi tujuan utama tapi *semoga adalah*, meski mungkin yg dimaksud ‘gunanya’ menjadi sangat personal terhadap pembacanya. Mengingat siapa saja juga bisa membacanya dan tanpa paksaan apa pun. Apakah yg dituliskan itu dapat disalah artikan orang, setelah sebelumnya mengikuti saran orang lain tapi hari ini gw memutuskan*) bahwa risiko itu sama lah dg risiko2 lainnya dalam hidup. Terserah orang mau menginterpretasikan apa ttg gw melalui tulisan ini, toh hanya Tuhan dan fw yg tahu pasti tujuannya. Gw akan tetap melanjutkan, karena gw telah memilih bahwa melakukan sesuatu yg dicintai, akan menjadi sangat berarti sekalipun harus menanggung risiko yg mungkin tidak terlihat kasat mata.
Namun satu yg pasti, setelah keberadaan Facebook yg membuat ‘miniblog’ of thoughts lebih mudah dituliskan, gw tetap berharap bahwa blog ini akan tetap mengisi hari2 dimana gw mempunyai waktu yg lebih panjang untuk bisa menulis panjang online. Waktu menulis ‘bebas’ adalah sesuatu yg sekarang ini menjadi sangat luxury, apa yg dipikirkan dan ditulis saat ini lebih ke itung2an enerji market/teknologi yg sifatnya tidak dapat dimasukkan dalam blog pribadi, hehe…
Keep writing for the love of getting better in ‘putting’ my thoughts in writing.
*keputusan setelah mengikut psychometric… (kapan2 tulis ah apa artinya psychometric)… and thanks to Windows Live yg membuat menulis offline menjadi lebih mudah…
Monday, October 26, 2009
Tetaplah Berlari Anakku
Ini sebenarnya postingan adekku yg paling kecil. Tulisan ini ditulis oleh seorang Pendeta yg selain takut ama Tuhan juga sangat gaul dg anak muda, yg seakan balasan/jawaban surat yg diterimanya. Walaupun Dede gak bilang apakah surat tersebut ditujukan padanya atau memang tulisan umum, tapi yg jelas gw tahu pasti tulisan ini sangat menyentuh gw dan menguatkan langkah kaki gw. Harapan yg sama untuk Dede yg gw cintai, Tuhan beri kekuatan dia jadi lebih kuat. Aku mengenalnya sejak usianya beberapa jam dan sangat mengasihinya, sangat. Bahkan di usia balita pun, akulah yg menggendongnya kesana kemari. Aku mau dukung dia sebagai pelatih, pendukung setia hidupnya. Mari De' kita berjuang di pertandingan ini saling menguatkan, sampai di garis finish nanti dimana Tuhan menanti kita. Bagaimana pun kita dan apa pun yg terjadi dalam hidup kita, rencana Tuhan atas hidup kita MUSTAHIL gagal. Kita percaya ya De.
============================================
AnakKu yang terkasih, Aku hampir tidak percaya ketika membaca suratmu.
Bukankah baru beberapa minggu yang lalu engkau berjanji tidak akan menyerah?
Aku tahu, mungkin minggu-minggu ini terasa sangat sulit bagimu, tapi, anakKu, kuatkan hatimu. Tetaplah berlari dalam track yang sudah kusediakan karena Aku tahu yang terbaik bagimu.
Bila kau merasa lelah, berhentilah sejenak, ambil roti dan air hidup yang PutraKu telah tawarkan dan makanlah.
Aku yakin, setelah kau mendapatkan keduanya, kau akan merasa segar kembali.
Setelah itu, tarik nafas dalam-dalam dan mulai langkahkan kakimu untuk bergerak maju.
Fokuskan pandanganmu pada apa yang ada di depanmu, pada tujuan yang kau miliki, yaitu menyelesaikan perlombaan dan menjadi juara.
Buanglah kemarahan dan sakit hati yang menghantui pikiranmu.
Amarah dan sakit hati itu tidak ada gunanya, hanya menguras tenaga dan menghambatmu mencapai tujuan.
Terkadang Aku mengijinkan hal-hal yang buruk terjadi karena Aku ingin melatihmu.
Aku ingin kaki-kakimu menjadi lebih kuat daripada sebelumnya. Dengan begitu engkau dapat berlari dengan lebih cepat.
Berhentilah mengasihani dirimu sendiri, berdirilah tegap, dan punyailah mental seorang pemenang.
Seorang pemenang, bukan dilihat dari berapa kali ia sukses meraih gelar juara.
Di mataKu, seorang pemenang adalah seorang yang tidak pernah menyerah terhadap kegagalan, yang mau bangkit setiap kali ia jatuh.
Karena itu, jangan pernah menyerah ketika kau jatuh tersandung kerikil-kerikil di sepanjang jalanmu.
Jangan pula kau merasa malu terhadap dirimu sendiri.
Angkat kepalamu dan teruskan perjalananmu mencapai finish.
Ketika pertandingan dimulai, Kuharap kau bisa mengacuhkan omongan orang-orang yang menonton di bangku stadion.
Jangan merasa sombong karena pujian atau karena kau diunggulkan.
Pujian dan pengagungan yang keluar dari mulut mereka terkadang hanya sekedar basa-basi di depan para juara.
Tak jarang, kata-kata manis itu akan segera berubah menjadi kritikan pedas dan kecaman ketika para juara itu gagal.
Karena itu, kau juga tidak perlu risau ketika mendengar pernyataan-pernyataan skeptis yang mengatakan engkau pasti kalah. Kau bukan bertanding atas kemauan mereka. Kau juga tidak hidup berdasarkan omongan mereka.
Pelari yang berpengalaman tahu akan hal itu. Karena itu, tidak usah pusing dengan perkataan-perkataan mereka.
Fokuskan pikiranmu pada tujuan yang semula, bukan untuk mendapatkan pujian atau penghargaan dari orang lain, tapi untuk menyelesaikan pertandingan.
Aku, Pelatihmu, tidak pernah meragukan kemampuan yang kau miliki.
Aku tahu seberapa besar potensi yang ada padamu dan Aku tahu kau pasti bisa mencapai garis finish dengan gemilang.
Selamat berjuang anakKu, Aku menunggumu di garis finish.
Yang mengasihimu,
Pelatihmu, Sahabatmu, Penonton setiamu
Tuesday, October 13, 2009
Small Notes to Rehearse
Monday, October 12, 2009
Rewind: One Moment in Time
I want to be
A day to give
The best of me
I'm only one
But not alone
My finest day
Is yet unknown
I broke my heart
Fought every gain
To taste the sweet
I face the pain
I rise and fall
Yet through it all
This much remains
I want one moment in time
When I'm more than I thought I could be
When all of my dreams are a heartbeat away
And the answers are all up to me
Give me one moment in time
When I'm racing with destiny
Then in that one moment of time
I will feel
I will feel eternity
I've lived to be
The very best
I want it all
No time for less
I've laid the plans
Now lay the chance
Here in my hands
Give me one moment in time
When I'm more than I thought I could be
When all of my dreams are a heartbeat away
And the answers are all up to me
Give me one moment in time
When I'm racing with destiny
Then in that one moment of time
I will feel
I will feel eternity
You're a winner for a lifetime
If you seize that one moment in time
Make it shine
Give me one moment in time
When I'm more than I thought I could be
When all of my dreams are a heartbeat away
And the answers are all up to me
Give me one moment in time
When I'm racing with destiny
Then in that one moment of time
I will be
I will be
I will be free
I will be
I will be free
Push and Pull Story
makasih buat ketertarikannya akan berita kedua gw, tetep yaaa gw menunggu kabar teman2 yg terutama ada korban di Padang, atau Irvan Azhmier, moga2 bisa berkumpul kembali dg keluarganya.
Sehubungan dg move ke PT.Pertamina (Persero), betul ada push and pull, tapi untuk mengetahui seberapa kuat push dan pull faktor itu teman2 kudu kenal gw banget... sepaketnya, alias kecerewetannya, kecentilannya (kadang2), kejahilannya... yg semua itu 'menutupi' kegigihan, kekeraskepalaan dan 'kadar' keseriusan gw dalam menangani masalah... intinya, push & pull faktornya banyak & mostly personal dan bukan sesuatu yg instan, alias tiba2 aja dalam semalam pengen kerja ke Pertamina, bukan sama sekali.
Ada beberapa teman yg tahu bahwa kepedulian Artha akan bangsa ini jauh sebelum 'tulisan ttg bangsa' yg sebelum Pemilu Artha curhatkan juga ke chentil... walaupun itu juga salah satu push faktor. Gak usah dirunut jauh ke belakang karena it's a life story, tapi semakin gencarnya pull faktor dari teman2 'seide' untuk mewujudkan mimpi kami dulu, itu pull faktor terkuat.
Gw minta waktu sampai adek gw paling kecil lulus kuliah, karena idealisme bagaimanapun kalau berbenturan dg kampung tengah apalagi nasib sekolah adek gw, tetap gak akan jadi pilihan gw. Jadi, saat adek gw lulus Januari yg lalu, saat keputusan PNA masih belum berubah untuk 'mengajak' gw bergabung, saat it just feels right to join, jadilah gw join.
Prosesnya tidak sebentar, karena bagaimana pun gencarnya gw pengennya jadi pegawai kontrak dulu *namanya juga penjajagan*, tapi akhirnya gw menyerah pilihan teman2 untuk memperkuat barisan menjadi pegawai permanen, walaupun tetap Artha memilih non-struktural waktu join, untuk menjaga 'free-will' dulu, untuk berapa lama? ya sampai waktunya pas.
Jadi, yg bisa gw share,
-- push dan pull faktor personal
-- pull faktor dari teman2 yg sudah lebih dulu bergabung dg PNA
-- push faktor dari ledekan2 dosen2, termasuk jg ada dosen TK-ITB, 'kelamaan lo kerja di MNA... kapan dong bagi2 ilmu'
-- push faktor setelah 13 tahun di dunia perminyakan, rasanya pengen bagi pengalaman dg mereka yg tidak seberuntung gw dan mau berbagi semangat bahwa di luar PNA pun sebenarnya tidak SELALU lebih baik. Masih ada sisi positif PNA dan kenapa gak kita tingkatkan positifnya dan terus meminimalkan sisi negatifnya, yg most adalah opini. Pertamina dapat dipastikan sulit untuk 100% free dari pemerintahan, jadi kalau PNA sudah tahu kenyataan ini pastinya bisa bekerja within limitation tanpa perlu merasa 'negatif', sayangnya semangat sebagian teman2 sudah kendur. Pertamina banyak dianggap maju 2 langkah lalu mundur 1 langkah, gw melihat kenyataan ini sebagai at least masih maju... bagaiman kalau loncat 2 langkah lalu mundur setengah langkah saja ke depan..... kalau Tuhan ijinkan dan bangsa ini mau, pasti bisa.
Sayangnya terkadang kita terjebak 'stupidity', termasuk mengabaikan sinyal2 yg dikirimkan bumi kita sendiri. Peringatan dari negara lain soal gempa pun tidak digubris, memang takdir tak bisa kita gugat, tapi dg memperingati diri sendiri, mungkin saja di hari pertama di Padang dan Pariaman kita bisa memudahkan penderitaan mereka dg tersedianya dapur umum secara cepat, persedian bahan makanan instan yg cepat dll.. dll... berbuat salah adalah jalan untuk belajar, tapi tidak berbuat apa2 adalah sama dg jalan untuk tertinggal jauuuuhhhh.... Semoga Artha bisa 'bertahan' di dunia yg masih hutan belantara ini... hehehe, but i will survive... tapi tetap bro, profesionalitas dijaga dong, win-win situatio tetap gw mau jaga antara idealisme dan profesionalitas...
-- pull dari PNA: boss yg dedikasinya merekrut gw sangat tough... he shows the way and shows the leadership, it's all take for me not to refuse his offer.
Cita2 gw kan hitam/putih, jadi menteri energi atau pegolf pro... yg penting akan punya "one moment in time" kayak lagunya Whitney Houston sambil mengibarkan bendera merah putih.... hahaha, lebai.... but it's true.
a+
Saturday, October 03, 2009
Minangkabau Menangis
1. Waktu gempa di Tasikmalaya, gw lagi ngabuburit golf, nothing harmed us - but snakes and ants did get out their homebase dan teman2 sepairing (terutama caddy) merasakan gempa saat meletakkan bola kembali di green tapi bolanya gak mau diem.
2. Waktu gempa di Padang Pariaman, gw lagi 'perpisahan dg weekdays farewell golf krn tgl 1nya mulai kerja lagi' dg IGCers (OmEka+Azzam), nothing harmed us - selain karena gempanya jauh tapi gak ada yg 'ngeh' ada gempa :( **no bb in the course **
Dua2nya di Emeralda!! Moral of the story? *Just to share*: berdasarkan dua pengalaman di atas, dimana saat kedua gempa tersebut sebenarnya nyokap gw nyariin dimana anaknya yg cerewet ini berada, namun beliau selalu (at least di 2 event di atas) mendapat jawaban telat setlh bbrp miscall dalamhitungan jam :(.
Tapi tadi malam, 'selipan ringan' nyokap agak 'perih': 'kamu kebanyakan main golf'. Dan makin mewek liat flash anak2 SD,SMP puluhan jadi korban gara2 mereka lagi les dan gempa.... Gw turut sangat bersedih atas banyak kemalangan akibat gempa di Sumatra. Turut simpati & dukacita mendalam bagi keluarga yg ditinggalkan.
Gempa kali ini membuat gw lebih miris, terungkap oleh media, a/l: 60 anak generasi penerus bangsa yang terperangkap gedung bimbingan belajar tempat mereka menuntut ilmu, dan beberapa anak yang tertimbun sewaktu les bahasa di gedung LIA, dll. *yang tabah ya, bu.............* teman2 yg punya anak mesti bisa turut merasakan kepedihan yg memilukan hati melihat ibu menangis meraung2 di bangunan tersebut*********************** oh God, helps.
-- quote --
Dalam setiap bencana, selalu ada cerita heroik tentang Ibu yang berani menghadang bahaya sampai terkadang mengorbankan jiwanya. Pagi ini saya membaca berita di Kompas sambil berlinang air mata. Ibu Kambang Manis (37thn) segera menyelamatkan anak2nya Cendra (10), Aldi (8) dan Chelsi (4) begitu gempa menggoyang rumahnya dengan dahsyat, dibantu oleh mertuanya. Selamat diluar rumah, Ibu Kambang teringat bahwa si bungsu Yudha (5 bulan) masih tertidur di ayunan. Naluri Ibu membuat dia kembali masuk ke rumah diikuti Mertua. Saat mereka masih di dalam, rumah pun ambruk dan menewaskan ketiganya.
-- unquote --
*kabar kedua yg gak penting, gw sejak 1Okt'09 lalu bergabung di PT.Pertamina (Persero) *
Not even me cares hari ini hr pertama gw di kantor, rasa deg2an gak ada artinya karena yg dibicarain lebih dominan, "gempa.gempa.gempa lagi"... it saved me even during dinner time.
Jadi ingat lagu yg sering kami nyanyikan saat bedoa utk bangsa:
"Ya Tuhan, ku mau lihat kemuliaanMu bersinar terang di atas negri kami, Ya Tuhan ku tidak akan tinggal tenang:
MengingatkanMu akan bangsaku, bekerjalah Allahku, tegakkanlah kemuliaanMu"
Tuhan, tolong selamatkan bangsaku, jg lewati bangsa besar ini, ada anakMu disini, please God I beg You.
Friday, September 25, 2009
Breaking News
By: Neira Moro - freelance writer for IGC News.
Tepat jam 16.49 di green terakhir, Hole 9 Padang Golf Cilangkap, member IGC Fatma Ully Artha berhasil melewati 'milestone' penting bagi para pegolf pemula yaitu 'breaking the100 barrier' alias main dengan skor dibawah 100.
Artha yang bermain bersama Chief IGC (yg main jelek), Teguh dan Santy (juga member IGC), tee off dari Hole 10 dan bermain 53 pada 9 holes pertama.
Berkat determinasi yang tinggi dan dan doa yang tulus dari Chief IGC, pada 9 holes kedua Artha yang bermain sangat rapi dan 'focused' membukukan skor meyakinkan 42, dengan total gross 95.
Yang menarik adalah bahwa 'milestone' ini dicapai lebih cepat 3 bulan dari deadline akhir tahun 2009.
Dalam 'post game interview', Artha dengan sumringah berujar: "Sebenarnya saya ingin main sebagus ini kemaren di Sentul pada waktu acara golf ultah Chief. Jadi saya kesel banget, makanya hari ini saya geber...!"
Chief IGC yang kami kejar sampai ke locker, sambil mengenakan handuk menyampaikan pendapatnya: "Saya senang sekali, karena 1 tugas sudah selesai. Targetnya sih sampai akhir tahun, tapi gue yakin si Artha bisa break 100 lebih awal. Dan terbukti, kan?"
Chief berlalu sambil memegang handuknya yang hampir melorot...
End.
www.golf.com
Monday, September 14, 2009
Spotlight
Indeed, it is true. In spite of my capability to be on the spotlight, I am not comfortable being the one on it. It was one of the reasons why I am not ready to take credit for everything I did right solely as mine. I am at one's disposal to give credit to all respective members for projects achievements - no matter how small is his/her contribution.
That's IT. When all of us are happy and no one feels out of the team, that counts as my credit. It's my dream's spotlight, to encourage and motivate myself to strive to do more than I am able to do today, to motivate others and to share 'the drive' I have inside. It's my long belonging crown seeing people that I motivate to do more, this speaks right to myself too. It just feels right.
Thanks for your comment Pak. If you want me to be ready on the spotlight, now I am ready train myself. I don't give a damn, no more. I am ready on the spotlight and being 'egoist' sometime.
Break 100 soon.
Saturday, August 22, 2009
Bloodline
Tuesday, August 04, 2009
Thursday, July 23, 2009
Indonesia, Mari Bertahan!
"Terhadap semua intelijen itu, saudara-saudara, apakah terkait dengan aksi pemboman hari ini atau tidak terkait, saya menginstruksikan kepada semua jajaran penegak hukum untuk menjalankan tugasnya dengan benar, objektif, tegas, dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum."
Presiden SBY tidak dalam kapasitas cuti saat menyampaikan kutipan pidato di atas, jadi pernyataan beliau adalah sbg Presiden (bukan capres). Pernyataan beliau di layar kaca hanya beberapa jam setelah bom diledakkan di hotel JWMariott-RitzCarlton (2 BOM!!). Teks pidato lengkapnya sudah beredar hanya bbrp menit setelah dibacakan, jadi kalo ada yg dibilang dipuntir dari pidatonya, toh bisa cek saja langsung. Kutipan sangat singkat di atas adalah susunan kata yg dalam bahasa Indonesia sederhana pun IMHO bisa dikatakan bahwa pernyataan yg sebelum kalimat tsb belum diketahui apakah terkait/tidak dg aksi bom, alias pernyataan tanpa bukti!.
Bukan masalah jika pernyataan2 sebelumnya hanya sekedar pernyataan 'ada org membawa tas merah merk A/B/C sesaat sebelum bom' atau 'ada org lari pagi di depan hotel yg tiba2 nyelonong'. Yang menjadi masalah adalah pernyataan sebelumnya adalah sangat tendensius dan menyeramkan.
Gw sendiri tidak terlalu mengikuti masalah intelejen negara walau sehari2 berkutat dg masalah intelejen energi, yg walaupun sudah lebih dari dua tahun ini gw berkutat dg info koran, analisa kebijakan energi, analisa hukum energi, analisa cause-of pengambilan atau penyusunan kebijakan, analisa segala macam deh sampe2 analisa moodnya pak menteri dalam menyikapi satu masalah bagaimana, moodnya pak A/B/C gimana soal berita A/B/C baiknya disampaikan pagi/siang/malam... itulah kerjaan 'intelegen' gw. Berani gw klaim kalo gw 'gak banyak miss-hit' walaupun masih terus gali potensi, gali pengetahuan dan asah lagi kritis untuk petunjuk sekecil apapun. Walau di antara analisa yg banyak benar tetap ada saja yg analisa yg 'miss' hit, dan no surpise kalo itu bisa2 hanya karena satu saja fakta berita yg terlewatkan. Kira2 gimana intel bekerja sekarang gw dah paham karena gw sedikit banyak melakukannya, tapi apa semua orang melakukan kegiatan 'intelegen' tsb sehingga bisa mempunyai analisa yg benar soal keamanan negara, jawabannya adalah tidak. Bahkan boss gw sendiri pun pernah meragukan analisa gw, tapi akhirnya hanya fakta lah yg membuktikan kebenaran analisa tsb.
Ancaman fisik kepada Presiden adalah faktor yg melekat secara otomatis kepada pribadi siapapun yg menjadi Presiden di negara manapun, dan bukanlah satu yg harus dishare secara emosional kepada rakyatnya. Itulah salah satu sebab ada PasPamPres (Pasukan Pengamanan Presiden) yg tugasnya murni mengamankan Presiden, secara fisik! Rakyat telah share penghasilannya utk membiayai pasukan tersebut, jadi rakyat tidak usah lagi dishare haru biru jadi presiden. Capek jadi preseiden, kita tahu. Yang anehnya, di USA kog Obama jadi kurus kayak kecapean ya, tapi Presiden2 di Indonesia rata2 kelihatannya tambah berbobot setelah menjabat, 'analisa' murahan ini masih perlu laporan kesehatan before & after.
Keberadaan inteligen negara pun adalah hal yg biasa. Inteligen membutuhkan bukan sekedar baca koran, dll, tapi juga bergaul, berada di momen2 penting, tidak melewatkan sedikitpun peristiwa penting yg pada waktunya memang belum kelihatan pentingnya. Memang betul pernyataan Presiden tsb bukanlah gosip karena ada hard case yaitu betul, ada laporan inteligen dan betul, ada org2 yg bergerak dalam inteligen (salah satunya BIN, namun inteligen negara harusnya bukan satu sumber - di perusahaan aja banyak sumber). Tapi, Bapak SBY, Presiden RI, tolong jangan sebarkan sesuatu yg sangat sensitif di suasana keruh seperti ini. Gw mengharapkan seorang pemimpin yg bijak, tenangkanlah kami... malahan sekarang gw yg jadi bingung dg adanya skenario "revolusi" baru yg disebut2 Presiden nih, pegimana ceritanya?? Sayangnya, pidato dilengkapi catatan manis di ujungnya yg nantinya bisa dipakai membersihkan nama jika memang ini sekedar 'bunga2 pidato' seperti yg terungkap dari pembelaan salah seorang tokoh mengenai asbun tersebut: terkait/tidak masih perlu dibuktikan.
Weleh.weleh, apaan nih? Kalo belom terbukti, mbok ya jangan disebarkan ke seluruh rakyat.
Sy mengutuk perbuatan pengecut dg bom yg tidak pernah bisa diketahui siapa teman/lawan, namun tidak menerima dg mudah implan skenario2 yg status keterkatitannya pun belum jelas. Gw berharap laporan ini tidak sama atau analog dg "blue energy" ataupun "padi superletoy" versi baru... yg keduanya dulu juga berdasarkan laporan "inteligent" ala istana (pakai bracket).
Ada kutipan awam menulis di internet: "tapi sebagai rakyat yang mencintai perdamaian dan buta akan masalah intelejen, sekiranya Presiden Yudhoyono memilah informasi mana yang pantas dikonsumsi masyarakat pada saat genting seperti itu..." Sayangnya, terlambat sudah 'Bung, nasi sudah menjadi bubur. Sayang sekali, figur yg sempat gw kagumi lagi2 tertelan emosinya belaka.
Gw juga adalah orang yg ekspresif, untungnya usia gw masih di bawah rata2, sifat mengekspresikan emosi ini memang tidak lazim di lingkungan yg majemuk dan high konteks di Indonesia. Tapi, di lingkungan low konteks seperti lingkungan suku gw, tanpa ekspresi adalah sikap 'no-no' alias pengecut, tak tahu mengungkapkan mau. Tidak bisa diingkari bahwa kalau mau bertahan di lingkungan keraton ini gw harus dan gw memang sudah mau untuk belajar dg semakin bertambahnya usia gw ini untuk lebih bisa menata ekspresi emosi di lingkungan high kontes. Bukan 'menyimpan/memendam' emosi alias tidak mengekspresikannya, yg menurut gw berbahaya sebab bisa2 terikut arus, yg gw mau lebih ke 'memanagemen' ekspresi emosi sehingga bisa melawan arus tanpa harus tenggelam. Dalam permainan judi karonya orang Batak, ini dikenal sebagai 'mukamu jg terlalu kelihatan kau punya joker', belajar lah memasang ekspresi tipu... hahaha, gak lah, gw gak mau belajar pasang ekspresi tipu, wong gw jujur aja kadang dikira pasang muka tipu... itulah kalo orang biasa nipu jadinya suka ngirain orang lain nipu... hahaha...
Gw pernah harus melawan arus untuk bisa bertahan hidup th 2006 saat berenang mau menyebrang Sungai Maiting di Sulawesi Selatan, tapi ternyata tiba2 arus menjadi sangat deras. Mereka di tepian yg melihat mengaku langsung lemas, dan seorang yg memang lebih kuat nyaris mau nyebur menjemput gw. Katanya gw terbawa arus sgt cepat, mereka melihat gw berusaha ke tepian tapi katanya arusnya kuat & kelihatan gw tetap berenang seakan gak tahu terbawa arus dan tetap saja ingin segera turun takut gw menyerah kelelahan sebelum tiba. Gw berasa saat arus itu datang & langsung teringat untuk tidak melawan frontal, gw bertahan berenang supaya tetap di permukaan tapi tidak memotong arus, gw berusaha ngambang dg kuat karena saat itu tidak memakai pelampung dan akhirnya sampai di tepian dg selamat.
Melalui pengalaman tersebut, gw belajar bagaiman melawan arus supaya tidak tenggelam adalah dg mengikuti arus tersebut dg tetap fokus menuju tempat ke arah yg kita mau. Untungnya gw gak paksakan 90 derajat memotong sungai, toh mengalah >45 derajat pun gw bisa tetap sampai di tepian tanpa habis tenaga untuk tetap di permukaan. Yang terpenting saat itu gw ingat adalah keinginan kuat untuk bisa berenang dg nafas di atas & sampai di tepian dan ada rasa percaya yg tiba2 muncul bahwa gw belum saatnya mati. Kepercayaan itulah yg menghasilkan tenaga dan keinginan surviving yg ternyata bisa mengalahkan derasnya Maiting saat itu. Gw yakin bukan masalah 'mengalahkan' arus, tapi pengalaman itu membuat gw belajar untuk tidak pernah lagi menyepelekan sungai yg terlihat tenang dan belajar bagaiman melawan arus yg tiba2.... Thanks God, You must be behind that lesson. Tuhan bener2 tahu deh kalo terkadang gw harus ngalamin sendiri. But, it was fun. Yeah, give me a sense of life-surviving & experience of die hard before Thy will complete upon me.
Satu hal dari kejadian bom Mariott jilid 2 tsb yg buat sedikit senyum miris adalah kemenangan tim Garuda dg membuat MU kalah WO. Huh, padahal dah dapat tiket gratis. Indonesia, mari kita bertahan & sigap segera menyusun strategi ke depan. Gw percaya pemimpin dipilih oleh Tuhan (itu sudah tertulis dan bukan untuk gw pertanyakan). Maunya Tuhan, siapa pun Presiden RI harus didukung dalam menjalankan tugas sebaik2nya. Namun gw tidak akan segan untuk 'mengingatkan' jika ada hal yg mengganjal. Gw msk kategori nonpartisan & punya niat mendukung Presiden RI secara berimbang yg mengandung unsur memuji yg benar & mengingatkan yg tidak benar, tentu siapa saya yg hanya bisa menganalisa dalam koridor yg saat ini sgt terbatas.
Silahkan lanjutkan dan perlahan gw memilih mundur saja, tapi tidak mundur untuk mendukung kebijakan pemerintahan yg baik bagi rakyat banyak stakenya, dan kritis terhadap kebijakan bagi stake terbatas ataupun pembunuhan karakter rakyatnya. Kalau ada rakyat yg salah, ingatkan, tangkap & (masyarakatkan) di LP. Jangan umbar ancaman via konferensi pers, sudah basi dan terlalu biasa konferensi dalam lima tahun ini yg tujuannya tidak murni informatif, kita semua sudah tahu yg terbaca di layar kaca. Gw yakin dalam waktu dekat akan ada 'klarifikasi' dari pidato tersebut. Toh, isinya high konteks alias bisa diputarbalikkan (catat: oleh siapa saja) baik oleh pembuat teks pidato, pembaca teks (alias Presiden SBY sendiri) , juga oleh analis kacangan seperti gw.
Hidup NKRI. Mari bertahan, bersama Tuhan kita PASTI bisa. Bukankah masih ada orang2 yg percaya akan keberadaan bangsa ini? Tentunya. Sebab gw adalah salah seorangnya, dan gw tahu ada teman2 gw yg juga percaya bahwa bangsa Indonesia masih ada, bangsa yg bhinneka tunggal ika, perbedaan lah yg harusnya menjadi kekuatan kita. Justru karena perbedaan itu kita bersatu dan itu yg ditakuti oleh negara2 adidaya, ya kita ditakuti saat kita bersatu. Arus terlalu kuat saat ini untuk mencerai beraikan pegangan tangan kita. Tepian impian itu ada yaitu dimana bangsa kita bisa kembali berkarakter kuat di antara bangsa2 lain, bukan bangsa pecundang, bukan juga bangsa budak dari kerakusan akan materi, kekuasaan dan nama baik (hamoraon, hagabeon, hasangapon).Thursday, July 09, 2009
Roger Who? Roger Crawford?

Who is he?
Dia adalah seorang penulis buku terkenal.
Dia adalah seorang pemain tennis professional.
Dia terlahir tdk sempurna secara fisik.
Dia tidak memiliki tangan yg sempurna dan hanya dengan satu kaki. Lihatlah foto2nya.
Hari ini gw mendengar suatu berita bahagia yg membuat gw ingin menuliskannya di blog ini. Gw menemukan lagi2 bukti betapa kecacatan bukanlah sesuatu yg terlihat secara fisik dan bukanlah sesuatu yg "DIBERI" Tuhan sehingga seseorang bisa menyalahkanNya, atau pun menyalahkan orangtua bahkan orang yg ada di sekelilingnya.
Iya, gw cacat. Ada cacat fisik yg tidak dapat dilihat kasat mata, namun sama seperti Roger, gw pun tidak pernah menganggap diri cacat. Secara fisik dah gw lawan karena gw yakin gw gak cacat. Gw telah capai banyak puncak gunung (bahkan sampai 3500m - ref.Kinabalu), telah banyak menyaksikan langsung keindahan bawah laut lewat menyelam (lupa terdalam tepatnya brp, >20m), telah ikutan banyak turnamen volley, basket, tennis meja, maraton sejak SD,SMP, SMA, bahkan turnamen golf akhir2 ini. Bahkan untuk basket, tennis meja dan golf, turnamen yg gw ikutin bukan sembarang turnamen. Gw juga pemegang juara go-cart putri Schlumberger di Paris (hahaha.... gelo gak) yg piala nya sampai saat ini bertengger manis di buffet rumah bonyok.
Gw menuliskan ini untuk mengingatkan bahwa "You are not alone" (Michael Joseph Jackson, oh I miss your voice live - yoo hoo, I will not make a tribute since Brooke Shield had done it very beautifully for The Legend, who used to be one of my teen idol). Tulisan ini tidaklah dimaksudkan sebagai unjuk gigi atau pameran orang cacat, kami tidak membutuhkan wall of fame, atau pun holocaust monument telah berjuang dan berhasil dalam hidup. Tapi, apa yg gw dengar hari ini, adalah seorang yg dilahirkan dengan kecacatan yg sama dengannya menemui dia dan marah krn Roger tdk merasakan kesusahan yg dirasakannya. Orang tersebut tidak tahu sebelumnya bahwa Roger tidak pernah "cacat". Betul, dia dilahirkan tidaklah sempurna, namun kedua orang tua yg sangat sangat mengasihinya tidak pernah menganggapnya cacat. Dia disekolahkan di sejolah normal dan mendapatkan perlakuan sangat wajar dari lingkungan terdekatnya dan selalu mendapatkan pengajaran yg positif. Gw bisa membayangkan bullies di sekolah umum yg mestinya once or more Roger pasti juga mengalami perlakuan "kurang adil" atau dilecehkan karena keadaannya.
Tentu sangat2 berbeda dg orang cacat fisik spt dia di Indonesia yg bukannya malah didahulukan malahan dipinggirkan, di US tersedia more than "just a parking spot" untuk mereka yg cacat. Bahkan yg menyedihkan, anak2 kurang dididik di Indonesia ini telah menaruhkan pikiran cacat ke keponakan gw hanya karena dia memiliki rambut yg "kribo" panjang. Di sekolah menurut ceritanya sering mendapatkan ejekan, di jalan pun sering gw menyaksikan kalau pulang berenang dimana dia tidak nyaman untuk menguncirnya selalu ada seorang anak lain yg memberi komentar negatif. "Biar kribo, asal asli buatan Tuhan gw dan gratis", itulah yg gw ajarkan ke dia, dan gw tidak mau putus asa memberinya pengertian bahwa ada orang yg mengeluarkan uang berjuta2 hanya untuk bisa mendapatkan rambut ikal... semoga pengajaran gw yg kelihatannya saat ini lumayan berhasil akan terus berhasil, sehingga jg suatu saat nanti dia membonding rambut karena malu, tapi kalau untuk mode yah silahkan aja (tantenya aja mau... bahkan mamanya dulu adalah ratu salon yg tidak pernah ketinggalan satu mode rambut apa pun).
Melihat perlakuan yg selalu mengistimewakan orang cacat di Indonesia, gw selalu bersyukur kalau kekurangan fisik gw bukanlah sesuatu yg "kelihatan" kasat mata, mungkin orang akan berpikiran lain saat melihat gw. Saat ini pun cacat gw tidak banyak org tah karena cacat yg gw miliki secara fisik ada dibungkus kulit, tulang, dan pemikiran yg sampai saat ini gw bisa bilang 100% sehat. Gw tahu memilikinya sejak umur remaja, tapi gw tidak pernah mau menganggap itu ada dan hanya Mama lah yg benar2 tahu itu, bahkan gw gak yakin bokap tahu. Namun tidak bisa gw hindari sekarang kalau semakin banyak orang yg tahu, minimum dokter2 perusahaan sudah tahu dan mereka mulai membatasi kegiatan fisik gw, tapi mereka tidak bisa membatasi kegiatan otak gw hehehe.
Ada juga anak seorang konglomerat yg kalau makan siang selalu hitung sampai koma bahkan kalau bisa dibayarin... alasan keduanya walau dibahasakan berbeda tapi, maaf ya bukan maksud apa2, kalo memang katanya seneng main golf, kalo memang ngaku anak konglomerat dan gak butuh gaji dari perusahaan yg katanya nipu dia... kog gaya & tingkah keduanya kayak takut kehilangan gaji ya bos.... hahaha, bawa tuh gaji... ukuran yg dipakaikan untukmu akan dipakaikanNya.... gila aja, untung gw gak jadi sama persis kayak gerombolan orang di sana, yg walaupun gaji jut-jut-an tapi rela berbuat curang demi sekian jut lainnya, what a shame? I can stand up and proudly walk out that door now cause my life never allowed me to be like that. It is the reason why I have no peace in mind seeing those unfortunate colleagues who can only see, who has no choice but work for life. My heart always with you, and you can keep my words dear. God (either through me one day or through others) will lift you guys even higher and higher than me, just passionately wait that happen into reality.
It is true once and even sometimes now I envy who become a doctor, I envy (close to jealous) who become a olimpiade winner. One of my song, "Give me one moment in time..." by Whitney Houston, still valid... this is my long-live request as I know I have given chances to be the winner and keep begging God to give me more and more time... to some of them proven lately that I heard they said that I am a looser... God please, I beg you again, Give me that "one moment in time" to prove to them that I can be someone to their definition. I know that I dont have to do it hard, cause even if it may not happen I would not feel anything less of myself, because I am already someone to me and to You. Special thanks for that, from us.
So, what next in the table?
Minister of Energy (or whatever it will be called in the future) .... OR .... a professional golfer in at minimum regional level, but... it's up to you God, but as I am a naughty daughter You have as always, I am sure You love me so.... I beg in between those option, plissss....
Monday, June 29, 2009
Akhirnya Nangis Juga
Dalam perbincangan dg Tuhan itulah, gw menyadari betapa hancurnya hati gw dan ternyata saat itulah air mata mulai mengalir sedemikian dan membuat gw terisak dan keluarlah air mata memenuhi rongga di antara mata dan kaca mata gw. Syal yg gw pakai pun berubah fungsi menjadi selampe sesaat.
Terimakasih Tuhan.
Monday, June 22, 2009
Life is indeed not fair
Kami ngobrol ngalor ngidul, saling ngupdate, cerita soal diet dan gigi, dan update teman2 lainnya. Sekian jam berlalu ditemani makanan dan minum di sebuah kafe yg lumayan nyaman.
Saat kami berpisah, salah seorang di antara mrk bilang, "what a life, you could have been a doctor like us. We've been known each others for eras, and we know well how much you wanted it."
I said, "hey, I once regret it, but not anymore. I'm moving on. Life indeed is not fair, but I trust God. Look at me now, not bad than a doctor rite and surrounded by you all. Plus, I got very nice bonus, not one but two, God has showed me how to help two of His man become doctors. This even more than an answer to my prayer. Please don't feel sorry for me. I made it this far only by and for His will."
Still the answer, "Lo emang kuat banget 'tha. Good luck 'tha, as you said life isn't fair. Look at those who still gone shopping in spite of economy crisis."
Final answer as I have to go, "Dearest, please stop doing such comment, nobody - not even God - ever promised that our life would be just fair. Bukan kuat gw, but we just have to accept it, our part is just don't do anymore damages to whom feels not as lucky as us. You guys are doctor, be a good one. Not only for me, but also for others."
Cupika cupiki and bye. Yuks, kita stop doing such. Be blessed at anytime, dear. It's true that I once regret it, but I know that my life now surrounded by trusted experts and love. Only God who is able to let me know you both and thanks to Him.
If my life was fair,
I know for sure that I could have lost this excitement of staying alive.