Tuesday, October 13, 2009

Small Notes to Rehearse

My profession is petroleum engineer, but my interest beyond hydrocarbon.

Now I live, breathe and grow in energy environment. I studied chemical engineering at Institute Technology Bandung in Indonesia, internationally at Institute Francaise du Petrole for Reservoir Characterization Modeling Mastere Specialise in France, and recently I took Business Leadership MBA at SSBM-ITB. I enjoy engineering post from consider a very low position as field engineer (i.e. nuts and bolts of an engineer could be onboard oil platform) to now as ‘boardroom feeder’ in position as upstream consultant in PT. Pertamina Corporate Business Development Planning and Transformation division.

Type of energy that I have been associated with varies from hydrocarbon to earth thermal. I had experience in most harsh condition in many onshore and offshore fields in Indonesia, and also some international fields. Spent quite significant time in this profession, from one post to another, yet I consider myself is being afar from an expert, for I love learning by doing. I enjoy reading to the max and always think that I know very little. I am not afraid to fall and learn from other's experience at utmost. Never care about own station in career; I let my focus remains at attaining my ultimate goal instead. I consider myself as a lucky one and would like to pay it forward to the community where I am in, and a little bit wary with careless educated people. I am a hard worker and am not easily discouraged when receiving negative responses from others, though sometime a scratch remains but times usually heal it perfectly.

Born as a Christian and respect everyone as God's must-love creatures. My childhood education encouraged me not only to excel the required academic subjects but on top of that ‘teachers in life’ required me to integrate servicing others as part of the process. Serviam becomes my mantra since the first time I know the term in high school and continues as such to this day.

I assume that I have strong and bold character, but soft approach. My tendency to love-to-talk might prejudice some against me wrongly, yet I listen attentively to others with ears and heart, and not easily forgetting their body language message. I can make connection easily, so as for me everyone is a friend at first until proven otherwise. I devote myself to some ‘best friends forever’ who show me the way and eagerly walk beside me, whom I share laughs, tears and money. I respect everyone who is trustable. I am a loyalist and faithful to anyone who treats me equally, for I always aim to treat everyone with respect regardless of one’s station in life.

I like politics but dislike dirty and cheap politicians. Meantime I am a non-partisan, but respect other's ideology. I speak Bahasa Indonesia, Batak, English and French, and also a bit of Japanese & Mandarin that I spent significant time learning them during my teenage. I love most sports, yet golf badly. For me golf is not only a sport but also my life philosophy that all things need to be self-respected 'rules & regulations'. I also love to sing and talk.

I fall in love once to life: carpe diem. I believe in God's will for I only live for once to serve.

Monday, October 12, 2009

Rewind: One Moment in Time

Each day I live
I want to be
A day to give
The best of me
I'm only one
But not alone
My finest day
Is yet unknown

I broke my heart
Fought every gain
To taste the sweet
I face the pain
I rise and fall
Yet through it all
This much remains

I want one moment in time
When I'm more than I thought I could be
When all of my dreams are a heartbeat away
And the answers are all up to me
Give me one moment in time
When I'm racing with destiny
Then in that one moment of time
I will feel
I will feel eternity

I've lived to be
The very best
I want it all
No time for less
I've laid the plans
Now lay the chance
Here in my hands

Give me one moment in time
When I'm more than I thought I could be
When all of my dreams are a heartbeat away
And the answers are all up to me
Give me one moment in time
When I'm racing with destiny
Then in that one moment of time
I will feel
I will feel eternity

You're a winner for a lifetime
If you seize that one moment in time
Make it shine

Give me one moment in time
When I'm more than I thought I could be
When all of my dreams are a heartbeat away
And the answers are all up to me
Give me one moment in time
When I'm racing with destiny
Then in that one moment of time
I will be
I will be
I will be free
I will be
I will be free

Push and Pull Story

Dear chentil-ers...

makasih buat ketertarikannya akan berita kedua gw, tetep yaaa gw menunggu kabar teman2 yg terutama ada korban di Padang, atau Irvan Azhmier, moga2 bisa berkumpul kembali dg keluarganya.

Sehubungan dg move ke PT.Pertamina (Persero), betul ada push and pull, tapi untuk mengetahui seberapa kuat push dan pull faktor itu teman2 kudu kenal gw banget... sepaketnya, alias kecerewetannya, kecentilannya (kadang2), kejahilannya... yg semua itu 'menutupi' kegigihan, kekeraskepalaan dan 'kadar' keseriusan gw dalam menangani masalah... intinya, push & pull faktornya banyak & mostly personal dan bukan sesuatu yg instan, alias tiba2 aja dalam semalam pengen kerja ke Pertamina, bukan sama sekali.

Ada beberapa teman yg tahu bahwa kepedulian Artha akan bangsa ini jauh sebelum 'tulisan ttg bangsa' yg sebelum Pemilu Artha curhatkan juga ke chentil... walaupun itu juga salah satu push faktor. Gak usah dirunut jauh ke belakang karena it's a life story, tapi semakin gencarnya pull faktor dari teman2 'seide' untuk mewujudkan mimpi kami dulu, itu pull faktor terkuat.

Gw minta waktu sampai adek gw paling kecil lulus kuliah, karena idealisme bagaimanapun kalau berbenturan dg kampung tengah apalagi nasib sekolah adek gw, tetap gak akan jadi pilihan gw. Jadi, saat adek gw lulus Januari yg lalu, saat keputusan PNA masih belum berubah untuk 'mengajak' gw bergabung, saat it just feels right to join, jadilah gw join.

Prosesnya tidak sebentar, karena bagaimana pun gencarnya gw pengennya jadi pegawai kontrak dulu *namanya juga penjajagan*, tapi akhirnya gw menyerah pilihan teman2 untuk memperkuat barisan menjadi pegawai permanen, walaupun tetap Artha memilih non-struktural waktu join, untuk menjaga 'free-will' dulu, untuk berapa lama? ya sampai waktunya pas.

Jadi, yg bisa gw share,
-- push dan pull faktor personal
-- pull faktor dari teman2 yg sudah lebih dulu bergabung dg PNA
-- push faktor dari ledekan2 dosen2, termasuk jg ada dosen TK-ITB, 'kelamaan lo kerja di MNA... kapan dong bagi2 ilmu'

-- push faktor setelah 13 tahun di dunia perminyakan, rasanya pengen bagi pengalaman dg mereka yg tidak seberuntung gw dan mau berbagi semangat bahwa di luar PNA pun sebenarnya tidak SELALU lebih baik. Masih ada sisi positif PNA dan kenapa gak kita tingkatkan positifnya dan terus meminimalkan sisi negatifnya, yg most adalah opini. Pertamina dapat dipastikan sulit untuk 100% free dari pemerintahan, jadi kalau PNA sudah tahu kenyataan ini pastinya bisa bekerja within limitation tanpa perlu merasa 'negatif', sayangnya semangat sebagian teman2 sudah kendur. Pertamina banyak dianggap maju 2 langkah lalu mundur 1 langkah, gw melihat kenyataan ini sebagai at least masih maju... bagaiman kalau loncat 2 langkah lalu mundur setengah langkah saja ke depan..... kalau Tuhan ijinkan dan bangsa ini mau, pasti bisa.

Sayangnya terkadang kita terjebak 'stupidity', termasuk mengabaikan sinyal2 yg dikirimkan bumi kita sendiri. Peringatan dari negara lain soal gempa pun tidak digubris, memang takdir tak bisa kita gugat, tapi dg memperingati diri sendiri, mungkin saja di hari pertama di Padang dan Pariaman kita bisa memudahkan penderitaan mereka dg tersedianya dapur umum secara cepat, persedian bahan makanan instan yg cepat dll.. dll... berbuat salah adalah jalan untuk belajar, tapi tidak berbuat apa2 adalah sama dg jalan untuk tertinggal jauuuuhhhh.... Semoga Artha bisa 'bertahan' di dunia yg masih hutan belantara ini... hehehe, but i will survive... tapi tetap bro, profesionalitas dijaga dong, win-win situatio tetap gw mau jaga antara idealisme dan profesionalitas...

-- pull dari PNA: boss yg dedikasinya merekrut gw sangat tough... he shows the way and shows the leadership, it's all take for me not to refuse his offer.

Cita2 gw kan hitam/putih, jadi menteri energi atau pegolf pro... yg penting akan punya "one moment in time" kayak lagunya Whitney Houston sambil mengibarkan bendera merah putih.... hahaha, lebai.... but it's true.


a+

Saturday, October 03, 2009

Minangkabau Menangis

Gempa besar lagi!!!!!!!!!!! Berdasarkan pengalaman bersama IGCers (my new community in golf since out of Total Club):

1. Waktu gempa di Tasikmalaya, gw lagi ngabuburit golf, nothing harmed us - but snakes and ants did get out their homebase dan teman2 sepairing (terutama caddy) merasakan gempa saat meletakkan bola kembali di green tapi bolanya gak mau diem.

2. Waktu gempa di Padang Pariaman, gw lagi 'perpisahan dg weekdays farewell golf krn tgl 1nya mulai kerja lagi' dg IGCers (OmEka+Azzam), nothing harmed us - selain karena gempanya jauh tapi gak ada yg 'ngeh' ada gempa :( **no bb in the course **

Dua2nya di Emeralda!! Moral of the story? *Just to share*: berdasarkan dua pengalaman di atas, dimana saat kedua gempa tersebut sebenarnya nyokap gw nyariin dimana anaknya yg cerewet ini berada, namun beliau selalu (at least di 2 event di atas) mendapat jawaban telat setlh bbrp miscall dalamhitungan jam :(.

Tapi tadi malam, 'selipan ringan' nyokap agak 'perih': 'kamu kebanyakan main golf'. Dan makin mewek liat flash anak2 SD,SMP puluhan jadi korban gara2 mereka lagi les dan gempa.... Gw turut sangat bersedih atas banyak kemalangan akibat gempa di Sumatra. Turut simpati & dukacita mendalam bagi keluarga yg ditinggalkan.

Gempa kali ini membuat gw lebih miris, terungkap oleh media, a/l: 60 anak generasi penerus bangsa yang terperangkap gedung bimbingan belajar tempat mereka menuntut ilmu, dan beberapa anak yang tertimbun sewaktu les bahasa di gedung LIA, dll. *yang tabah ya, bu.............* teman2 yg punya anak mesti bisa turut merasakan kepedihan yg memilukan hati melihat ibu menangis meraung2 di bangunan tersebut*********************** oh God, helps.

-- quote --
Dalam setiap bencana, selalu ada cerita heroik tentang Ibu yang berani menghadang bahaya sampai terkadang mengorbankan jiwanya. Pagi ini saya membaca berita di Kompas sambil berlinang air mata. Ibu Kambang Manis (37thn) segera menyelamatkan anak2nya Cendra (10), Aldi (8) dan Chelsi (4) begitu gempa menggoyang rumahnya dengan dahsyat, dibantu oleh mertuanya. Selamat diluar rumah, Ibu Kambang teringat bahwa si bungsu Yudha (5 bulan) masih tertidur di ayunan. Naluri Ibu membuat dia kembali masuk ke rumah diikuti Mertua. Saat mereka masih di dalam, rumah pun ambruk dan menewaskan ketiganya.
-- unquote --


*kabar kedua yg gak penting, gw sejak 1Okt'09 lalu bergabung di PT.Pertamina (Persero) *
Not even me cares hari ini hr pertama gw di kantor, rasa deg2an gak ada artinya karena yg dibicarain lebih dominan, "gempa.gempa.gempa lagi"... it saved me even during dinner time.

Jadi ingat lagu yg sering kami nyanyikan saat bedoa utk bangsa:
"Ya Tuhan, ku mau lihat kemuliaanMu bersinar terang di atas negri kami, Ya Tuhan ku tidak akan tinggal tenang:
MengingatkanMu akan bangsaku, bekerjalah Allahku, tegakkanlah kemuliaanMu"

Tuhan, tolong selamatkan bangsaku, jg lewati bangsa besar ini, ada anakMu disini, please God I beg You.

Friday, September 25, 2009

Breaking News

Cilangkap, 25 Sept 2009.
By: Neira Moro - freelance writer for IGC News.

Tepat jam 16.49 di green terakhir, Hole 9 Padang Golf Cilangkap, member IGC Fatma Ully Artha berhasil melewati 'milestone' penting bagi para pegolf pemula yaitu 'breaking the100 barrier' alias main dengan skor dibawah 100.

Artha yang bermain bersama Chief IGC (yg main jelek), Teguh dan Santy (juga member IGC), tee off dari Hole 10 dan bermain 53 pada 9 holes pertama.

Berkat determinasi yang tinggi dan dan doa yang tulus dari Chief IGC, pada 9 holes kedua Artha yang bermain sangat rapi dan 'focused' membukukan skor meyakinkan 42, dengan total gross 95.

Yang menarik adalah bahwa 'milestone' ini dicapai lebih cepat 3 bulan dari deadline akhir tahun 2009.

Dalam 'post game interview', Artha dengan sumringah berujar: "Sebenarnya saya ingin main sebagus ini kemaren di Sentul pada waktu acara golf ultah Chief. Jadi saya kesel banget, makanya hari ini saya geber...!"

Chief IGC yang kami kejar sampai ke locker, sambil mengenakan handuk menyampaikan pendapatnya: "Saya senang sekali, karena 1 tugas sudah selesai. Targetnya sih sampai akhir tahun, tapi gue yakin si Artha bisa break 100 lebih awal. Dan terbukti, kan?"

Chief berlalu sambil memegang handuknya yang hampir melorot...

End.
www.golf.com

Monday, September 14, 2009

Spotlight

This afternoon during a round of a sport that I love much, someone asked me this question while responding to my comment, "Are you not comfortable on the spotlight?"

Indeed, it is true. In spite of my capability to be on the spotlight, I am not comfortable being the one on it. It was one of the reasons why I am not ready to take credit for everything I did right solely as mine. I am at one's disposal to give credit to all respective members for projects achievements - no matter how small is his/her contribution.

That's IT. When all of us are happy and no one feels out of the team, that counts as my credit. It's my dream's spotlight, to encourage and motivate myself to strive to do more than I am able to do today, to motivate others and to share 'the drive' I have inside. It's my long belonging crown seeing people that I motivate to do more, this speaks right to myself too. It just feels right.

Thanks for your comment Pak. If you want me to be ready on the spotlight, now I am ready train myself. I don't give a damn, no more. I am ready on the spotlight and being 'egoist' sometime.

Break 100 soon.

Saturday, August 22, 2009

Bloodline

"It's in my blood"......... this phrase has been in my mind for the last two days. No wonder, I read reflection from Joel Osteen for the last two days saying that 'our championship bloodline has been put by God before we're born. It's in our blood, bloodline of Abraham, Moses, David, Daniel, Nehemiah, Esther, Job, Ruth, Jesus,...' A breed of a champion horse will likely sold at a high price, even before winning any championship, cause it's in its blood.

When I quit Schlumberger (my first company) in 2002 during a economy crisis post-911, some said I am crazy and others said I am not strong enough, if only they were me. Then again, during a global economy crisis 2009, I quit from Total (and still owe them a lot of money or in same meaning I still leave in their house). It's very understandable that some say I am stupid, again they judged me rule by my emotions. Poor them to use their ruler when they never live in my life. Who know me would say 'congratulation, as here is one: "I would take it as very positive move for you to release from “total-bondage”.. Congratulations! There are always better life outside..."

True enough that I never intend to make it clear to everyone, coz not everyone should know everything, otherwise there is no meaning of ring-1. Some do have privilege to know the answer to why I did so, and to them it was clear that behind those decision lie in my batak blood, my Indonesia blood and my mainstream bloodline: Karena ku tahu yg ku percaya dan aku yakin kan kuasaNya. Dia menjaga yg kutaruhkan, hingga akhirnya kelak". It's my bloodline that not allow me to be manipulated and brave enough when to say enough and no.

This new thought (of a breed) has put a spot in my mind. Long before I am looking for any 'proves' of a vision, He is never fail. Seems like sunshine and shiny golf club will not be my daily visit. Today I said definite yes to a company who is waiting for me to join, and long, difficult, tough days are waiting for me. I have a long story to tell how the process come this far, but one thing for sure that 'campur tangan' from Almighty God who want to teach me and make me ready to face upon this responsibility.

Am I ready?
Yes, coz it's in my blood, the blood of a champion, King of kings who never fail and Dia harus semakin bertambah, ku harus semakin berkurang. Fear not: I keep saying to myself, cause my life has too many eben ezer stones that I can't deny. I put another one today.

It's indeed only by grace: fully paid.

Tuesday, August 04, 2009

Thursday, July 23, 2009

Indonesia, Mari Bertahan!

Update Joke-of-the-Day 23 July 2009
Pelintir woi, siapa melintir woi?

----------------------------
Original Blog
----------------------------
Quote dr pidato Presiden RI 17 Juli 09 :
"Terhadap semua intelijen itu, saudara-saudara, apakah terkait dengan aksi pemboman hari ini atau tidak terkait, saya menginstruksikan kepada semua jajaran penegak hukum untuk menjalankan tugasnya dengan benar, objektif, tegas, dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum."

Presiden SBY tidak dalam kapasitas cuti saat menyampaikan kutipan pidato di atas, jadi pernyataan beliau adalah sbg Presiden (bukan capres). Pernyataan beliau di layar kaca hanya beberapa jam setelah bom diledakkan di hotel JWMariott-RitzCarlton (2 BOM!!). Teks pidato lengkapnya sudah beredar hanya bbrp menit setelah dibacakan, jadi kalo ada yg dibilang dipuntir dari pidatonya, toh bisa cek saja langsung. Kutipan sangat singkat di atas adalah susunan kata yg dalam bahasa Indonesia sederhana pun IMHO bisa dikatakan bahwa pernyataan yg sebelum kalimat tsb belum diketahui apakah terkait/tidak dg aksi bom, alias pernyataan tanpa bukti!.

Bukan masalah jika pernyataan2 sebelumnya hanya sekedar pernyataan 'ada org membawa tas merah merk A/B/C sesaat sebelum bom' atau 'ada org lari pagi di depan hotel yg tiba2 nyelonong'. Yang menjadi masalah adalah pernyataan sebelumnya adalah sangat tendensius dan menyeramkan.

Gw sendiri tidak terlalu mengikuti masalah intelejen negara walau sehari2 berkutat dg masalah intelejen energi, yg walaupun sudah lebih dari dua tahun ini gw berkutat dg info koran, analisa kebijakan energi, analisa hukum energi, analisa cause-of pengambilan atau penyusunan kebijakan, analisa segala macam deh sampe2 analisa moodnya pak menteri dalam menyikapi satu masalah bagaimana, moodnya pak A/B/C gimana soal berita A/B/C baiknya disampaikan pagi/siang/malam... itulah kerjaan 'intelegen' gw. Berani gw klaim kalo gw 'gak banyak miss-hit' walaupun masih terus gali potensi, gali pengetahuan dan asah lagi kritis untuk petunjuk sekecil apapun. Walau di antara analisa yg banyak benar tetap ada saja yg analisa yg 'miss' hit, dan no surpise kalo itu bisa2 hanya karena satu saja fakta berita yg terlewatkan. Kira2 gimana intel bekerja sekarang gw dah paham karena gw sedikit banyak melakukannya, tapi apa semua orang melakukan kegiatan 'intelegen' tsb sehingga bisa mempunyai analisa yg benar soal keamanan negara, jawabannya adalah tidak. Bahkan boss gw sendiri pun pernah meragukan analisa gw, tapi akhirnya hanya fakta lah yg membuktikan kebenaran analisa tsb.

Ancaman fisik kepada Presiden adalah faktor yg melekat secara otomatis kepada pribadi siapapun yg menjadi Presiden di negara manapun, dan bukanlah satu yg harus dishare secara emosional kepada rakyatnya. Itulah salah satu sebab ada PasPamPres (Pasukan Pengamanan Presiden) yg tugasnya murni mengamankan Presiden, secara fisik! Rakyat telah share penghasilannya utk membiayai pasukan tersebut, jadi rakyat tidak usah lagi dishare haru biru jadi presiden. Capek jadi preseiden, kita tahu. Yang anehnya, di USA kog Obama jadi kurus kayak kecapean ya, tapi Presiden2 di Indonesia rata2 kelihatannya tambah berbobot setelah menjabat, 'analisa' murahan ini masih perlu laporan kesehatan before & after.

Keberadaan inteligen negara pun adalah hal yg biasa. Inteligen membutuhkan bukan sekedar baca koran, dll, tapi juga bergaul, berada di momen2 penting, tidak melewatkan sedikitpun peristiwa penting yg pada waktunya memang belum kelihatan pentingnya. Memang betul pernyataan Presiden tsb bukanlah gosip karena ada hard case yaitu betul, ada laporan inteligen dan betul, ada org2 yg bergerak dalam inteligen (salah satunya BIN, namun inteligen negara harusnya bukan satu sumber - di perusahaan aja banyak sumber). Tapi, Bapak SBY, Presiden RI, tolong jangan sebarkan sesuatu yg sangat sensitif di suasana keruh seperti ini. Gw mengharapkan seorang pemimpin yg bijak, tenangkanlah kami... malahan sekarang gw yg jadi bingung dg adanya skenario "revolusi" baru yg disebut2 Presiden nih, pegimana ceritanya?? Sayangnya, pidato dilengkapi catatan manis di ujungnya yg nantinya bisa dipakai membersihkan nama jika memang ini sekedar 'bunga2 pidato' seperti yg terungkap dari pembelaan salah seorang tokoh mengenai asbun tersebut: terkait/tidak masih perlu dibuktikan.

Weleh.weleh, apaan nih? Kalo belom terbukti, mbok ya jangan disebarkan ke seluruh rakyat.
Sy mengutuk perbuatan pengecut dg bom yg tidak pernah bisa diketahui siapa teman/lawan, namun tidak menerima dg mudah implan skenario2 yg status keterkatitannya pun belum jelas. Gw berharap laporan ini tidak sama atau analog dg "blue energy" ataupun "padi superletoy" versi baru... yg keduanya dulu juga berdasarkan laporan "inteligent" ala istana (pakai bracket).

Ada kutipan awam menulis di internet: "tapi sebagai rakyat yang mencintai perdamaian dan buta akan masalah intelejen, sekiranya Presiden Yudhoyono memilah informasi mana yang pantas dikonsumsi masyarakat pada saat genting seperti itu..." Sayangnya, terlambat sudah 'Bung, nasi sudah menjadi bubur. Sayang sekali, figur yg sempat gw kagumi lagi2 tertelan emosinya belaka.

Gw juga adalah orang yg ekspresif, untungnya usia gw masih di bawah rata2, sifat mengekspresikan emosi ini memang tidak lazim di lingkungan yg majemuk dan high konteks di Indonesia. Tapi, di lingkungan low konteks seperti lingkungan suku gw, tanpa ekspresi adalah sikap 'no-no' alias pengecut, tak tahu mengungkapkan mau. Tidak bisa diingkari bahwa kalau mau bertahan di lingkungan keraton ini gw harus dan gw memang sudah mau untuk belajar dg semakin bertambahnya usia gw ini untuk lebih bisa menata ekspresi emosi di lingkungan high kontes. Bukan 'menyimpan/memendam' emosi alias tidak mengekspresikannya, yg menurut gw berbahaya sebab bisa2 terikut arus, yg gw mau lebih ke 'memanagemen' ekspresi emosi sehingga bisa melawan arus tanpa harus tenggelam. Dalam permainan judi karonya orang Batak, ini dikenal sebagai 'mukamu jg terlalu kelihatan kau punya joker', belajar lah memasang ekspresi tipu... hahaha, gak lah, gw gak mau belajar pasang ekspresi tipu, wong gw jujur aja kadang dikira pasang muka tipu... itulah kalo orang biasa nipu jadinya suka ngirain orang lain nipu... hahaha...

Gw pernah harus melawan arus untuk bisa bertahan hidup th 2006 saat berenang mau menyebrang Sungai Maiting di Sulawesi Selatan, tapi ternyata tiba2 arus menjadi sangat deras. Mereka di tepian yg melihat mengaku langsung lemas, dan seorang yg memang lebih kuat nyaris mau nyebur menjemput gw. Katanya gw terbawa arus sgt cepat, mereka melihat gw berusaha ke tepian tapi katanya arusnya kuat & kelihatan gw tetap berenang seakan gak tahu terbawa arus dan tetap saja ingin segera turun takut gw menyerah kelelahan sebelum tiba. Gw berasa saat arus itu datang & langsung teringat untuk tidak melawan frontal, gw bertahan berenang supaya tetap di permukaan tapi tidak memotong arus, gw berusaha ngambang dg kuat karena saat itu tidak memakai pelampung dan akhirnya sampai di tepian dg selamat.

Melalui pengalaman tersebut, gw belajar bagaiman melawan arus supaya tidak tenggelam adalah dg mengikuti arus tersebut dg tetap fokus menuju tempat ke arah yg kita mau. Untungnya gw gak paksakan 90 derajat memotong sungai, toh mengalah >45 derajat pun gw bisa tetap sampai di tepian tanpa habis tenaga untuk tetap di permukaan. Yang terpenting saat itu gw ingat adalah keinginan kuat untuk bisa berenang dg nafas di atas & sampai di tepian dan ada rasa percaya yg tiba2 muncul bahwa gw belum saatnya mati. Kepercayaan itulah yg menghasilkan tenaga dan keinginan surviving yg ternyata bisa mengalahkan derasnya Maiting saat itu. Gw yakin bukan masalah 'mengalahkan' arus, tapi pengalaman itu membuat gw belajar untuk tidak pernah lagi menyepelekan sungai yg terlihat tenang dan belajar bagaiman melawan arus yg tiba2.... Thanks God, You must be behind that lesson. Tuhan bener2 tahu deh kalo terkadang gw harus ngalamin sendiri. But, it was fun. Yeah, give me a sense of life-surviving & experience of die hard before Thy will complete upon me.

Satu hal dari kejadian bom Mariott jilid 2 tsb yg buat sedikit senyum miris adalah kemenangan tim Garuda dg membuat MU kalah WO. Huh, padahal dah dapat tiket gratis. Indonesia, mari kita bertahan & sigap segera menyusun strategi ke depan. Gw percaya pemimpin dipilih oleh Tuhan (itu sudah tertulis dan bukan untuk gw pertanyakan). Maunya Tuhan, siapa pun Presiden RI harus didukung dalam menjalankan tugas sebaik2nya. Namun gw tidak akan segan untuk 'mengingatkan' jika ada hal yg mengganjal. Gw msk kategori nonpartisan & punya niat mendukung Presiden RI secara berimbang yg mengandung unsur memuji yg benar & mengingatkan yg tidak benar, tentu siapa saya yg hanya bisa menganalisa dalam koridor yg saat ini sgt terbatas.

Silahkan lanjutkan dan perlahan gw memilih mundur saja, tapi tidak mundur untuk mendukung kebijakan pemerintahan yg baik bagi rakyat banyak stakenya, dan kritis terhadap kebijakan bagi stake terbatas ataupun pembunuhan karakter rakyatnya. Kalau ada rakyat yg salah, ingatkan, tangkap & (masyarakatkan) di LP. Jangan umbar ancaman via konferensi pers, sudah basi dan terlalu biasa konferensi dalam lima tahun ini yg tujuannya tidak murni informatif, kita semua sudah tahu yg terbaca di layar kaca. Gw yakin dalam waktu dekat akan ada 'klarifikasi' dari pidato tersebut. Toh, isinya high konteks alias bisa diputarbalikkan (catat: oleh siapa saja) baik oleh pembuat teks pidato, pembaca teks (alias Presiden SBY sendiri) , juga oleh analis kacangan seperti gw.

Hidup NKRI. Mari bertahan, bersama Tuhan kita PASTI bisa. Bukankah masih ada orang2 yg percaya akan keberadaan bangsa ini? Tentunya. Sebab gw adalah salah seorangnya, dan gw tahu ada teman2 gw yg juga percaya bahwa bangsa Indonesia masih ada, bangsa yg bhinneka tunggal ika, perbedaan lah yg harusnya menjadi kekuatan kita. Justru karena perbedaan itu kita bersatu dan itu yg ditakuti oleh negara2 adidaya, ya kita ditakuti saat kita bersatu. Arus terlalu kuat saat ini untuk mencerai beraikan pegangan tangan kita. Tepian impian itu ada yaitu dimana bangsa kita bisa kembali berkarakter kuat di antara bangsa2 lain, bukan bangsa pecundang, bukan juga bangsa budak dari kerakusan akan materi, kekuasaan dan nama baik (hamoraon, hagabeon, hasangapon).

Mari kita bertahan teman, ke tepian dulu kita menuju untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke depan. God helps.

Thursday, July 09, 2009

Roger Who? Roger Crawford?

Who is he?

Dia adalah seorang penulis buku terkenal.

Dia adalah seorang pemain tennis professional.

Dia terlahir tdk sempurna secara fisik.

Dia tidak memiliki tangan yg sempurna dan hanya dengan satu kaki.
Lihatlah foto2nya.

Hari ini gw mendengar suatu berita bahagia yg membuat gw ingin menuliskannya di blog ini. Gw menemukan lagi2 bukti betapa kecacatan bukanlah sesuatu yg terlihat secara fisik dan bukanlah sesuatu yg "DIBERI" Tuhan sehingga seseorang bisa menyalahkanNya, atau pun menyalahkan orangtua bahkan orang yg ada di sekelilingnya.



Iya, gw cacat. Ada cacat fisik yg tidak dapat dilihat kasat mata, namun sama seperti Roger, gw pun tidak pernah menganggap diri cacat. Secara fisik dah gw lawan karena gw yakin gw gak cacat. Gw telah capai banyak puncak gunung (bahkan sampai 3500m - ref.Kinabalu), telah banyak menyaksikan langsung keindahan bawah laut lewat menyelam (lupa terdalam tepatnya brp, >20m), telah ikutan banyak turnamen volley, basket, tennis meja, maraton sejak SD,SMP, SMA, bahkan turnamen golf akhir2 ini. Bahkan untuk basket, tennis meja dan golf, turnamen yg gw ikutin bukan sembarang turnamen. Gw juga pemegang juara go-cart putri Schlumberger di Paris (hahaha.... gelo gak) yg piala nya sampai saat ini bertengger manis di buffet rumah bonyok.



Gw menuliskan ini untuk mengingatkan bahwa "You are not alone" (Michael Joseph Jackson, oh I miss your voice live - yoo hoo, I will not make a tribute since Brooke Shield had done it very beautifully for The Legend, who used to be one of my teen idol). Tulisan ini tidaklah dimaksudkan sebagai unjuk gigi atau pameran orang cacat, kami tidak membutuhkan wall of fame, atau pun holocaust monument telah berjuang dan berhasil dalam hidup. Tapi, apa yg gw dengar hari ini, adalah seorang yg dilahirkan dengan kecacatan yg sama dengannya menemui dia dan marah krn Roger tdk merasakan kesusahan yg dirasakannya. Orang tersebut tidak tahu sebelumnya bahwa Roger tidak pernah "cacat". Betul, dia dilahirkan tidaklah sempurna, namun kedua orang tua yg sangat sangat mengasihinya tidak pernah menganggapnya cacat. Dia disekolahkan di sejolah normal dan mendapatkan perlakuan sangat wajar dari lingkungan terdekatnya dan selalu mendapatkan pengajaran yg positif. Gw bisa membayangkan bullies di sekolah umum yg mestinya once or more Roger pasti juga mengalami perlakuan "kurang adil" atau dilecehkan karena keadaannya.



Tentu sangat2 berbeda dg orang cacat fisik spt dia di Indonesia yg bukannya malah didahulukan malahan dipinggirkan, di US tersedia more than "just a parking spot" untuk mereka yg cacat. Bahkan yg menyedihkan, anak2 kurang dididik di Indonesia ini telah menaruhkan pikiran cacat ke keponakan gw hanya karena dia memiliki rambut yg "kribo" panjang. Di sekolah menurut ceritanya sering mendapatkan ejekan, di jalan pun sering gw menyaksikan kalau pulang berenang dimana dia tidak nyaman untuk menguncirnya selalu ada seorang anak lain yg memberi komentar negatif. "Biar kribo, asal asli buatan Tuhan gw dan gratis", itulah yg gw ajarkan ke dia, dan gw tidak mau putus asa memberinya pengertian bahwa ada orang yg mengeluarkan uang berjuta2 hanya untuk bisa mendapatkan rambut ikal... semoga pengajaran gw yg kelihatannya saat ini lumayan berhasil akan terus berhasil, sehingga jg suatu saat nanti dia membonding rambut karena malu, tapi kalau untuk mode yah silahkan aja (tantenya aja mau... bahkan mamanya dulu adalah ratu salon yg tidak pernah ketinggalan satu mode rambut apa pun).



Melihat perlakuan yg selalu mengistimewakan orang cacat di Indonesia, gw selalu bersyukur kalau kekurangan fisik gw bukanlah sesuatu yg "kelihatan" kasat mata, mungkin orang akan berpikiran lain saat melihat gw. Saat ini pun cacat gw tidak banyak org tah karena cacat yg gw miliki secara fisik ada dibungkus kulit, tulang, dan pemikiran yg sampai saat ini gw bisa bilang 100% sehat. Gw tahu memilikinya sejak umur remaja, tapi gw tidak pernah mau menganggap itu ada dan hanya Mama lah yg benar2 tahu itu, bahkan gw gak yakin bokap tahu. Namun tidak bisa gw hindari sekarang kalau semakin banyak orang yg tahu, minimum dokter2 perusahaan sudah tahu dan mereka mulai membatasi kegiatan fisik gw, tapi mereka tidak bisa membatasi kegiatan otak gw hehehe.



Ada juga anak seorang konglomerat yg kalau makan siang selalu hitung sampai koma bahkan kalau bisa dibayarin... alasan keduanya walau dibahasakan berbeda tapi, maaf ya bukan maksud apa2, kalo memang katanya seneng main golf, kalo memang ngaku anak konglomerat dan gak butuh gaji dari perusahaan yg katanya nipu dia... kog gaya & tingkah keduanya kayak takut kehilangan gaji ya bos.... hahaha, bawa tuh gaji... ukuran yg dipakaikan untukmu akan dipakaikanNya.... gila aja, untung gw gak jadi sama persis kayak gerombolan orang di sana, yg walaupun gaji jut-jut-an tapi rela berbuat curang demi sekian jut lainnya,
what a shame? I can stand up and proudly walk out that door now cause my life never allowed me to be like that. It is the reason why I have no peace in mind seeing those unfortunate colleagues who can only see, who has no choice but work for life. My heart always with you, and you can keep my words dear. God (either through me one day or through others) will lift you guys even higher and higher than me, just passionately wait that happen into reality.



It is true once and even sometimes now I envy who become a doctor, I envy (close to jealous) who become a olimpiade winner. One of my song, "Give me one moment in time..." by Whitney Houston, still valid... this is my long-live request as I know I have given chances to be the winner and keep begging God to give me more and more time... to some of them proven lately that I heard they said that I am a looser... God please, I beg you again, Give me that "one moment in time" to prove to them that I can be someone to their definition. I know that I dont have to do it hard, cause even if it may not happen I would not feel anything less of myself, because I am already someone to me and to You. Special thanks for that, from us.



So, what next in the table?

Minister of Energy (or whatever it will be called in the future) .... OR .... a professional golfer in at minimum regional level, but... it's up to you God, but as I am a naughty daughter You have as always, I am sure You love me so.... I beg in between those option, plissss....

Monday, June 29, 2009

Akhirnya Nangis Juga

Setelah beberapa bulan ini gw terkadang ingin sekali menangis secara 'normal', maksud gw menangis dengan keluar air mata. Banyak peristiwa yg seakan beruntun yg membuat gw lebih menyukai kesendirian, bahkan keberadaan babang pun terkadang membuat gw jadi merasa bersalah krn tidak mampu mengusir rasa ingin tenang dan istirahat.

Kemarin seperti biasa gw gereja bersama teman baik gw dan mendengarkan kotbah yg sebelumnya menurut gw sangat biasa, mengenai 'be a master of our life'. Waktu pengkotbah bilang kalau ada masalah cukup menangis, tapi percaya ada maksud Tuhan dan minta Dia memimpin kita melalui pelajaran menjadi master ini. Langsung gw berbisik ke temen gw, "Vis, sekarang nangis pun gw gak bisa, gak keluar air mata".

Saat kotbah selesai, sebelum doa pendeta mengajak umat merenung sambil mengingatkan halus menyadari penyertaan dan ajaran Tuhan dalam menghadapi masalah dalam hidup. Gw yg tetap percaya Tuhan ada dalam setiap masalah gw, sesaat berguman "Tuhan, kenapa mesti begini 'terus' dan gw gak merasa memenangi ujian2Nya, tapi kog sekarang saat gw sangat2 sedih pun kog gw gak bisa nangis?"

Dalam perbincangan dg Tuhan itulah, gw menyadari betapa hancurnya hati gw dan ternyata saat itulah air mata mulai mengalir sedemikian dan membuat gw terisak dan keluarlah air mata memenuhi rongga di antara mata dan kaca mata gw. Syal yg gw pakai pun berubah fungsi menjadi selampe sesaat.

Akhirnya gw merasa tenang, karena akhirnya gw bisa nangis normal lagi.
Terimakasih Tuhan.

Monday, June 22, 2009

Life is indeed not fair

Hari sabtu gw dating makan siang dengan dua dokter cantik teman2 SMA gw. Udah lama gw pengen makan siang ama mereka tapi jadwal di antara kami susah match, sore mereka praktek sementara sabtu biasanya gw (dulu) kuliah atau sekarang golfing.

Kami ngobrol ngalor ngidul, saling ngupdate, cerita soal diet dan gigi, dan update teman2 lainnya. Sekian jam berlalu ditemani makanan dan minum di sebuah kafe yg lumayan nyaman.



Saat kami berpisah, salah seorang di antara mrk bilang, "what a life, you could have been a doctor like us. We've been known each others for eras, and we know well how much you wanted it."



I said, "hey, I once regret it, but not anymore. I'm moving on. Life indeed is not fair, but I trust God. Look at me now, not bad than a doctor rite and surrounded by you all. Plus, I got very nice bonus, not one but two, God has showed me how to help two of His man become doctors. This even more than an answer to my prayer. Please don't feel sorry for me. I made it this far only by and for His will."



Still the answer, "Lo emang kuat banget 'tha. Good luck 'tha, as you said life isn't fair. Look at those who still gone shopping in spite of economy crisis."



Final answer as I have to go, "Dearest, please stop doing such comment, nobody - not even God - ever promised that our life would be just fair. Bukan kuat gw, but we just have to accept it, our part is just don't do anymore damages to whom feels not as lucky as us. You guys are doctor, be a good one. Not only for me, but also for others."



Cupika cupiki and bye. Yuks, kita stop doing such. Be blessed at anytime, dear. It's true that I once regret it, but I know that my life now surrounded by trusted experts and love. Only God who is able to let me know you both and thanks to Him.



If my life was fair,
I know for sure that I could have lost this excitement of staying alive.

Wednesday, June 10, 2009

Seruuuu

Malam ini gw memutuskan nonton siaran langsung deklarasi pemilu damai dibandingkan tadinya mau makan di luar. Tiap2 pasangan kandidat menyuguhkan 'pertunjukkan kesenian' dan orasinya. Favorit gw dari pertunjukkan yg disajikan adalah:

-- monolog Butet
kreatif menggelitik, sarat 'kritik', disampaikan dg ringan walaupun penuh konten

-- gerak tari dinamis dg irama musik nusantara.
tidak mewakili satu propinsi tertentu, memakai pakaian yg tidak perlu disewa/beli melambangkan kesederhanaan, namun koreografer sulit.

-- orasi JK - Pak Wiranto... JK yg selalu memakai KAMI dan Pak Wiranto yg tanpa nada menggurui, tanpa kilas jumawa, melainkan mengutip apa yg menjadi 'ajakan' umum, seperti bangsa besar adalah bangsa yg menghormati pahlawan, yg ingin hari esok yg lebih baik (bukan yg sama) dan hari esok yg lebih baik. Justru yg umum itulah yg terasa lebih sejuk dibandingkan orasi yg terdengar sebelum2nya. Orasi Ibu Mega terasa emosi 'ndalem', orasi Pak SBY penuh dg janji namun ajakan 'kosong' - wong jabat tangan aja enggak kog apalagi silahturahim.


Duh!


Walau apa yg pernah ditandatangani terkadang dilupakan, dengan amat sangat, jangan berdamai di depan tv saja, dan jangan bosan damai.Terutama ajaklah tim kampanye atau siapa pun yg mendukung untuk damai. Asal jangan 'damai aja lah Pak' sambil menyodorkan uang - seperti saat melanggar peraturan lalu lintas (oops).

Walau kata 'damai' dekat kekerabatannya dengan 'perang', dalam hal ini adalah perang suara rakyat. Jadi, agaklah aneh kalau pemilu yg satu sisi adalah pesta rakyat, di lain sisi adalah 'perang' jendral - mengutip kata2 media. Deklarasi damai yg diselenggarakan KPU ini, buat gw, adalah bukti bahwa betul adanya pemilu adalah peperangan.

Jangan bosan damai Pak, Bu.
Seruu juga 'perang' nya tadi dalam deklarasi damai... hehehe

Friday, May 22, 2009

Kemana kita berjalan?

Barusan selesai penampilan capres terakhir dalam acara dialog dg kadin. Pilihan gw utk best part dari penampilan capres di acara masing2 dg KADIN yg selesai hr ini,

SBY...
becandanya 'keterlaluan' sensitif - surga vs.neraka, mendingan lah daripada becandain rakyat.
JK...
pertanyaannya 'keterlaluan' pribadi - sepatu, tas buatan siapa bu?, mendingan lah bisa membuktikan perkataan dan perbuatan sama (urusan sepatu at least).
MG...
jawabannya 'keterlaluan' tinggi konteksnya - semua pertanyaan sulit atau agak sulit atau gampang2 sulit, mendingan lah perubahan penampilan publik banding imagenya sebelum tadi.

Saatnya sudah sangat mendesak buat gw untuk belajar memakai bahasa Indonesia dengan lebih tepat lebih baik, daripada nanti kalo ditanya njawabnya,

"I dont understand Pak, kebanyakan sepatu & baju saya sich jamin buatan indonesia, tapi tas kipling still my choice, olahraga apalagi sekarang dominan stick golf yg notabene buatan luar negri, laptop teman sehari2 gw mereknya apple dari USA, yaahh... gimana dong?"
'Whatever! I dont understand deh' Pak, I cinta Indonesia tapi masih warga negara dunia juga, boleh dong, ibu dah bantu njelasin kan tadi 'gampang-gampang sulit' buat ganti secara total jadi mesti kita lihat nanti yaaaaa"

Jadi bukan bahasa Indonesia saya yg terlalu jelek... hehehe. Lagian di Jakarta kan 'I don't understand' dan 'whatever' dah masuk bahasa sehari2 lho, nah jakarta di indonesia kan... (excuse, excuse, excuse...oops, hayo bahasanya belajar lagi ya).

Gw jadi ingat Pak Tatang dosen pembimbing penelitian dulu, beliau mengajar selalu menggunakan istilah2 teknik kimia yg diterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia... Saatnya nih kembali ke kampus bahasa Indonesia supaya kata ibu 'yes', kata bapak 'satu kata satu perbuatan'.




Buat sekedar tontonan, gw menunggu debat capres dg tidak sabar. Gutlak deh, kutahu yg kumau sudah (*)

(*) Jangan salah ngerti lho 'mbak Tina, di daerah seputar Kaltim-Kalsel, kata 'sudah' dalam percakapan sehari2 sering diletakkan di belakang memang (kata 'memang' juga).

Wednesday, May 20, 2009

Terlalu Sibuk











"Dengan masuknya para (purnawirawan-red) jenderal itu dalam tim sukses ketiga capres, pilpres mendatang dipastikan akan penuh intrik, adu strategi dan bahkan cara-cara intelijen."

*mungkin* terlalu sibuk adu strategi buat ndukung mantan bos2 mereka a.k.a mereka yg sekarang purnawirawan, dan bisa jadi terlalu sibuk jadi tim sukses 'siluman' atau siluman jadi tim sukses *entahlah*, yg jelas pagi ini satu (lagi) pesawat TNI-AU, kali ini berjenis Hercules, jatuh di Madiun dengan 98 penumpang + 13 kru + 3 rumah warga... sampai tulisan ini sudah 57 korban tewas.

Masih terekam peristiwa jatuhnya pesawat TNI juga di hanggar Nurtanio, dan waktu itu kerugian pesawat yg ada di hanggar saat itu dan tentunya juga nyawa para calon jenderal tersbt.

Hu uh, gemes deh, panglima tertinggi Angkatan Udara lagi dimana dan lagi ngapain ya saat ini 4jam setelah kejadian ? -- atur intrik dan strategi untuk memilukan rakyat kah ? --
Ini nyawa bung, bukan cuma kedukaan korps militer tapi juga adanya korban sipil yg tak berdaya ... *miris* ... dan turut berduka untuk keluarga yg ditinggalkan.

Kalau pesawat itu nabrak Monas, *yakin* langsung tuh para pilpres tampil di TV dengan kata2 paling peduli, tapi ini kan cuman sawah dan rumah2 yg bukan aset strategis *cuma aset rakyat biasa*


------------------------------------------------------------------------------------------------
Perang Para Jenderal di Pilpres 2009
Metro Hari Ini / Election Update / Selasa, 19 Mei 2009 18:44 WIB
------------------------------------------------------------------------------------------------
Metrotvnews.com, Jakarta: Pemilihan Presiden 8 Juli mendatang dipastikan akan berlangsung sengit. Bayangkan, kekuatan tiga jenderal akan saling berhadap-hadapan, yakni Susilo Bambang Yudhoyono, Wiranto dan Prabowo Subianto. Signal pertarungan itu sudah tampak sangat jelas dalam komposisi tim sukses ketiga jenderal yang direkrut dari para jenderal purnawirawan.

Meski beberapa survei lebih mengungguli SBY-Boediono (SBY Berbudi) dalam pilpres mendatang, SBY tidak begitu saja meyakininya. Demikian pula cawapres JK-Win,Wiranto dan Prabowo dari kubu Mega-Pro.

Sebagai seorang jenderal, SBY tampaknya memahami bahwa pilpres mendatang sesungguhnya merupakan pertarungan antara sesama jenderal yang tidak boleh dianggap remeh. Jenderal berpengalaman, Wiranto dan si cerdik nan kaya, Prabowo. Demikian pula Wiranto dan Prabowo menilai kekuatan satu sama lain dan SBY.

Adu kekuatan dan strategi tiga jenderal itu sudah tampak jauh sebelum pilpres digelar dan terkristalisasi dalam pembentukan tim sukses masing-masing. SBY tidak tanggung-tanggung menggaet jenderal yang baru pensiun dan masih memiliki jaringan kuat dalam tubuh TNI dan Polri aktif, yakni mantan Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto dan mantan Kepala Polri Sutanto. SBY juga menempatkan mantan Kepala Staf Umum (Kasum) ABRI Letnan Jenderal Purnawirawan Suyono, Letjen Purnawirawan Agus Widjoyo, Mayor Jenderal Purnawirawan Abikusno dan Mayjen Purnawirawan Sardan Marbun.

Pasangan JK-Win juga tidak mau kalah dengan gertakan SBY. Sejumlah jenderal pun direkrut menjadi tim sukses, seperti mantan KSAD Jenderal Purnawirawan Subagyo H.S., Jenderal Fahrul Rodji, Letjen Purnawirawan Suady Marasabesy, Laksda Abu Hartono, Marsdya Basri Sidehabi, Letjen Ari Mardjono dan Letjen Soemarsono.

Sementara Prabowo lebih merangkul mantan orang-orang dekatnya di Komando Pasukan Khusus (Kopassus), seperti Muchdi Pr dan Kivlan Zen. Mereka akan menyatukan kekuatan dengan barisan Mayjen Purnawirawan Theo Syafe`i sebagai ketua tim. Selain ketiga mayor jenderal purnawirawan itu, juga terdapat nama Letjen Purnawirawan Haryoto P.S., Farid Zaenudin, Yogi Supardi dan Mayjen Purnawirawan Glenny Kairupan.

Para jenderal purnawirawan itu menyebar ke tim-tim kecil masing-masing capres-cawapres, demi merebut kursi nomor satu di republik ini. Dengan masuknya para jenderal itu dalam tim sukses ketiga capres, pilpres mendatang dipastikan akan penuh intrik, adu strategi dan bahkan cara-cara intelijen.(DSY)

*Pictures and text from MetroTVnews.com*


Monday, May 18, 2009

Pilihlah Aku Jadi Presidenmu

aya aya wae... postingan guyon kayak gini ada dimana2, tapi yg nggabungin jadi satu ya ada di sini ini Primbonnya Guskar

Tiga kata penting

"I love you... three words yg sangat disukai wanita,
membuat hati berbunga2,
memberi semangat...."



Kalimat di atas bagian dari jawaban Dewi Sandra di acara Just Alvin waktu ditanya soal lagu barunya "Kapan lagi bilang I Love you?" Gw setuju banget, wi! Tiga kata itu juga masuk dalam my favorite phrases.

Sayangnya, (menurut gw) DS menyanyikan dg somehow terlalu sedih. Yah mungkin itulah pengalaman hidup dia akhir2 ini. Seorang wanita yg tegar dan punya potensi baik yg banyak. Ketidaksukaannya dg handphone sama dg gw, cause we want to enjoy the moment! That's our excuse for world who (sometimes) don't understand how you are busy with it while we're chatting... hehehe. Hope all the best to go thru her problem, keep the spirit up. I agreed that you're a good fighter.


Tapi untuk urusan dinyanyiin, gw lebih seneng tiga kata ini yg dinyanyiin Tiga Diva, yg notabene satu lagunya isinya tiga kata doang dan juga A Lotta Love (*). Some say childish, but menarik.


I love you God, You made my life become so simple

I love you Mom, you fill up my life with serenity with your "almost" agape love

I love you BC, you make my days (most of it !)



Thinking about three of you at same time,

yes, I love that three words too,

make me feel good ...

make me blushingly smiling ...

and give a very special power inside me to my life ...

blessed child, a star power, a lotus power ...

I am the way I am now because You love me.

Y'all irreplaceable to me,

and I love to love you.


(*)I… I, I, I, I… Need A Lotta Love

You… You, You, You, You… Need A Lotta Love

We… We, We, We, We…

Everybody Needs… A Lotta Love

La La La La La La La

Monday, May 11, 2009

Lagi lagi Flu

still you better watch out....................................................


may not safe from R4N1 flu: Hedon Minister
Source: The Post :)


----- Forwarded by Fatma-Ully ARTHA/.../Corp on 11/05/2009 04:34 PM -----
Year XI/0103, Monday, May 11, 2009 (ii)
SOCIAL & POLITIC AFFAIRS
...
Indonesia still safe from H1N1 flu: Health Minister
Source: The Jakarta Post

Health Minister Siti Fadilah Supari said no cases of the H1N1 strain of flu had yet been reported in the country, though the government has taken anticipatory measures.
"Around 100 hospitals have been alerted and prepared for swine flu treatments," Supari told tempointeraktif.com. She added the H1N1 flu was not as dangerous as avian flu. "With swine flu, only two deaths have been reported in every 100 people infected, whereas with avian flu, the mortality rate is 80 percent," she said. Supari, however, continue to urge the public to remain on guard and advised those who had recently fallen ill with the flu or coughs to wear a face mask and contact the nearest healthcare center. (*)
...


Kenali Gejala Flu Babi
Sumber : SCTV (televisi)


Untuk beberapa hari ini, di beberapa siaran televisi ataupun di berbagai surat kabar di Indonesia memuat berita tentang penyakit yang dikenal dengan flu babi atau swine flu. Meski belum sampai ke Indonesia, namun kita harus mewaspadai virus swine flu atau flu babi yang telah merenggut puluhan nyawa di Meksiko.


Untuk itu, kita mesti mengetahui gejala-gejalanya yaitu Pada umumnya, gejala infeksi flu babi pada manusia mirip dengan flu biasa pada manusia, yakni :
- Demam secara tiba-tiba
- Batuk.
- Nyeri otot
- Sakit tenggorokan
- Kelelahan yang berlebih
- Muntah-muntah
- Diare



Namun penyakit ini tidak terdapat pada daerah tropis. Sebab penyakit ini hanya terdapat pada Negara atau daerah yang memiliki 4 musim atau subtropics. Hanya saja kita perlu mewaspadai. Sebab penyakit ini bersifat zoonosis dan juga dapat menular antar manusia.
...

Friday, May 08, 2009

Why, oh why?

AA bikin kasus (lagi), tapi kali ini bukan kasus AA yg berceramah tapi AA yg bercengkrama!
Satu lagi bedanya sama AA di kasus sebelumnya, AA yg satu ini dari dulunya emang dah dah terlanjur dikenal gak "bersih2" amat. Yang menarik di balik riuhnya analisa soal motif di balik penangkapan AA, yg akhir2 ini terlanjur menjadi terkenal sebagai "anti-koruptor", ternyata menimbulkan efek langsung ke gw (hah?), yg antara lain jdai mau2nya meluangkan waktu untuk menulis posting ini.

Efek euforia AA ternyata sama sama dg AA sebelumnya, yaitu berakibat langsung & mengena langsung ke komunitas istri. Satu saja contoh langsung dan nyata yg gw saksikan hari minggu yl dan itu sempat menyiratkan rasa "tak percaya tapi nyata". Fenomena tersebut adalah berdatangannya istri2 menjemput suami2nya yg bermain golf di turnamen resmi perminyakan indonesia yg rutin diselenggarakan setahun sekali. Selesai turnamen dilanjutkan dengan makan siang bersama sekaligus pengumuman pemenang & lucky draw. Tapi siang itu tidak terlalu banyak yg ikutan makan siangnya, atau makan siang terburu2, mereka mohon ijin ga bisa ikutan makan siang bersama atau lebih lama di acara yg diselenggarakan panitia itu dg alasan "sudah dijemput keluarga". Di clubhouse terlihat istri2 yg menjemput suami2nya main golf tentu terlihat sambil bergosip *Oops bukan ngossip, ngobrol*... halah ...

Pemandangan yang tidak biasa. Secara ini acara resmi tahunan diadakan komunitas perminyakan ini, yang walaupun tahun ini jauh dari hadiah2 menarik tapi tetap menyenangkan sebagai ajang reuni. Kapan lagi ketemuan mereka di suasana santai sambil menikmati pujian diselingi tentunya keluhan2 dan evaluasi (tetep) permainan selama 5 jam sebelumnya. Pukulan2 mantap atau hancur saat bermain sebelumnya, dan tentunya soal caddy yg turut membantu keberhasilan atau pun sebaliknya malah bikin gak pede. Namun, penting dicatat, gak pernah dalam acara golf ada caci maki antar pemain yang benar2 golfer - for the love of the game, not business - ungkapan rasa keki biasanya lebih ke diri sendiri yg 'banyak lakukan salah pukul' atau pun 'ah, belum beruntung aja'. Kebanyakan tersenyum gembira, menyalami yg menang, memuji yg longest drive, terdengar tantangan untuk uji keberuntungan lagi di turnamen berikutnya, dan janji untuk bermain lebih baik. Tapi, tidak siang itu. Walau tetap ada keceriaan itu, tapi agak sepi karena banyak yang sudah pulang.

Gw sangat memaklumi tindakan istri2 teman2 itu. Sangat2 dapat dimaklumi kalau di tengah ramainya perbincangan tentang olahraga yg satu ini. Gw sangat setuju dg mereka yg tetap mengijinkan suaminya bermain, sebab "efek bahaya"nya justru bukan saat main golf, tapi memang (terbukti) sesudahnya... hahaha. Boleh dong gw bilang kalau fenomena tersebut adalah bagian dari efeknya Rani, hehehe, kenal Rani Juliani? O,o,siapa dia? Orang terkenal kah yg saudaranya "j"uiliani New York yg terkenal pasca 9-11 kah? Siapa pun yg menonton siaran televisi nasional dalam minggu ini, walau sebelumnya tidak pernah mengenalnya tapi mesti pernah mendengar nama ini yg jelas2 dihubungakan dg AA yg terkenal itu. Perempuan muda yg saat ini menjadi buah bibir nasional.Ada yg memujinya cantik, putih, tapi tidak sedikit yg mencibir. Lagi2 terbukti, lebih sulit buat perempuan untuk mempercayai perempuan lain, lho apa hubungannya yah, ntar deh posting terpisah kapan2.
Selain efek AA yg berasa langsung di atas, dalam euforia ini ada juga teman2 yg nanya langsung ama gw, "Kenapa sih pada suka main golf? Apa enaknya main golf 'tha, perasaan olahraga lo makin tua bolanya makin kecil aja..." Tentu seperti biasanya jawaban gw bisa muncul apa aja tergantung penanya & sikon saat ditanya. Namun semua jawaban bermuara ke satu inti, "Gw suka aja, *continue in whisper voice* so as to me, y'll have the equal right not to agree whatsoever."

Bayangkan! Saat pagi hari jam weker berbunyi tanda saatnya bangun. Setelah melakukan hal2 rutin, dengan spirit "hari ini gw akan mukul lebih baik", gw meluncur di jalan tol dengan jendela terbuka dan menjadi saksi menit2 bergantinya gelap menjadi terang. Terkadang kabut menutupi gunung, tapi lebih seringan enggak. Kurang dari satu jam, gw tiba di tempat tujuan yg disambut senyum teman2 dan memperbincangkan udara yg bagus, segar, mataharinya enak, wah cerahnya gunung, dll. Sepanjang mata memandang pun, hijau pepohonan, warna2 tanaman kacang, terkadang bunga terompet ataupun ada sesekali bunga matahari, air mancur yg gemericik dan juga air meluncur di bebatuan sungai2 di tengah2 padang. Udara pagi yg terhirup pun masih dibubuhi aroma kabut pagi dan menarik nafas dalam menjadi sangat menyenangkan untuk mengisi paru2 dengan udara baru yg jauh berbeda dari hari2 sebelumnya. Hati pun menjadi gembira apa pun masalah yg dialami di hari2 sebelumnya. Itulah suasana pagi yg gw sangat2 nikmatin di saat2 gw bermain golf pada akhir pekan. A true re-treat for my eyes, my lungs and my soul.

Inbox email gw dalam minggu ini menerima banyak email yg bertemakan golf. Ada aja yg meluangkan waktu menulis banyak hal ttg golf, pro-kontra, sejarah, dll. Ada yg mengingatkan kalau "golf effect" yg terungkit oleh kasus AA bukan semata2 terjadi di golf. Ada satu postingan yg menarik gw karena bawa2 fakta sejarah *gak penting banget* yg gw posting di bawah ini - versi ini gw edit sedikit layoutnya tanpa mengubah esensi dari isi email yg beredar di milis teman2 antar pemukul bola kecil di lapangan sangat luas itu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------quote------------------------------
Here are some questions taken from questionnaires in 1923.
Who was: (1.) President of the largest steel company?
2. President of the largest gas company?
3. President of the New York stock Exchange?
4. Greatest wheat speculator?
5. President of the Bank of International Settlement?
6. Great Bear of Wall Street?

These men were considered some of the world's most successful of their days.
That is now, 86 years later, history books owe us the meaning of being successful written in man history if we know: What ultimately became of them?

Here are the answers now, 85 years later:
1. The president of the largest steel company. Charles Schwab, died a pauper.
2. The president of the largest gas company, Edward Hopson, went insane.
3. The president of the e NYSE, Richard Whitney, was released from prison to die at home.
4. The greatest wheat speculator, Arthur Cooger, died abroad, penniless.
5. The president of the Bank of International Settlement, shot himself.
6 The Great Bear of Wall Street, Cosabee Livermore, also committed suicide

Some golfers found the questions are too complicated (yet the answers!). They asked question of what they know best, that is: "In that same year, 1923, the men considered the most successful golfer in that year, was Gene Sarazen, a PGA Champion and the winner of the most important golf tournament, the US Open. What became of him?"

Do take long breath 3 times to prepare for the answer!
**1x…... **
**2x…... **
**3x....... **


Here is the answer that history writes:
Gene Sarazen: played golf until he was 92 and died in 1999 at the age of 95. He was financially secure at the time of his death.

Source: taken from emails chain among golfers
---------------------------------------------------unquote------------------

Some agreed to conclude that the moral of above findings:
*u** work, (i) play golf.

In a golf competition, a golfer is not allowed to seek advise from your his/her pairing about which stick s/he should use to hit next. As this is not a friendly game, be confident, please do check the reality before taking our advise. Of course, please don't seek for us while you do the history checking, coz we're busy in the course playing golf.
For the love of the game, instead.

Tuesday, May 05, 2009

iQuotes Library

After had been listening to unexpected news last night, I pull out some of playlist in my iQuote's Library (the "i" has nothing to do with Apple Inc), look for a magic dose of vitamin that usually strengthen my trained muscles to face life. I pray to beg God to give me peace and serenity to face this foresee problem by believing that "There is nothing that He and I can't solve together." My preferred quotes together with The Bible verses have been allowed me to enjoy my endurance capacity to overcome problems that God allows me to experience in life.

In My Recently Added, added an opinion of a foreigner on Indonesian's Leaders as quoted by Kol. Pitut Soeharto, an ex-intelligent of special-force in recent television’s interview regarding president election (2009): “... Rakyatnya aja dikibuli, apalagi orang lain." Oh well, though it hurts deeply inside for me as being betrayed, but I will end up a fool as to deny that. I witness its correctness, so I couldn't agree more.

Top Most Played quote that I recalled during our conversation: "Everything happens for a reason." Though you’re part of my decision, but definitely not the only one. And I’ve been through failures cause of wrong decisions I made in life. As Fergie sings it nicely, “This is time to be a big girl now and big girls don't cry.” Though I may hate you a bit, but definitely you’re not alone, and it won’t long. You guys bring me this far at when everyone else sees me wrongly cause of his or her limited eyes. Though reality hurts when I kept asking “why now?” but I won’t keep you stay only to be someone else. That now I’ve decided not to move backward for my own dignity. I know that it's personal, myself and I, but I've got to get a move on with my life. I have to believe that it must happen for a reason. I’ve been thinking quite long when the thought strikes me that so do my name happen for a reason!

Myself named after a sacred lotus in Sanskrit language i.e. "Padma”, that cited in Hindu literature as the symbol of the ability to raise above, for although it has its roots in the mud of ponds and lakes, it raises its flower in immaculate beauty above the surface of the water. It has been well defined by Buddha’s in his devoted quotes, "Lotus flower does not grow in the highlands but in the muck of the swamp. Water surrounds the lotus flower, but does not wet its petals." The pond represents the world with all its characteristics. Lotus flower demonstrates how to show our best to the world and bring light out of darkness. It is also a good symbol of purity and of persistence against difficulty because it has its feet in the mud but has pure white petals raised about the surface of the water.

Like a lotus flower, my parents hoped that I would live in the way it demonstrates, that is the art of living the life without getting touched by the dirty world. My two other names also happen to be a perfect match and complement the idea. In Batak language, Ully means good/beauty and Artha means possessions. My destiny has been written in my full name, is to live as a Padma, a sacred lotus - the symbol of the ability to raise - for I am "Ully Artha" - a good/beauty possession - to my parents and family and to the world where I belong.

I believe my parents happened giving my name for a reason. They had a vision that I will be "a lotus flower." Mom was a biology teacher and she perfectly understood this concept. Chinese poets also often use lotus flowers to inspire people to continue striving through difficulties and to show their best part to the outside world, no matter how bad the circumstances may be. Since most ponds in Indonesia are muddy and also the water is dirty to from bottom to surface, so I deliberately translate Buddha’s quote into my context, "Dirty water surrounds me, but does not wet my inner beliefs".

As I’m riding a cart in the middle of life’s roller coaster, lotus conveys the message of detachment. Just like it can't grow further above water, so I can't escape from the world I live in. For although I have my feet in the mud of world - the source of dirty water - but I have the ability to raise in immaculate beauty above the surface of the world I live in.

In addition, come Le Petit Prince quote from My Top Rated, "On n'e voit bien q'avec le coeur et l'essentiel est invisible pour les yeux.” We can only see well with the heart, the essentials are invisible to the eyes. I have to keep my heart, my petals, in the state of correctness and out of the troubled water, only by doing so that I would have the ability to see clearly the essentials that can’t be seen by the eyes. No regrets because I realize very much that I’m different from them. As My Top Most Played, "A great deal of pressure and time are needed to transform carbon to become a 'exclusive and highly valued' diamond. So as without them, it would just an 'abundantly presence and cheap' material." It's my mission in life: be present in rare but highly valued - just like a diamond :))

Thanks God for lessons of life that You allowed me to have in my young age. I trusted that Your will, not mine, must happen. So be it, I accept Your bet and I thank You,
for the tear drops... it shows that I am normal,
for the laughs... it shows that I have voice,
for the pain... it shows that I have a feeling,
for the promise... it shows the destiny of my journey,
and am ready to follow my destiny with You hold my hand, and never let it go. I trust You cause I know You so well. Even sometimes I feel that I know You more than myself. It’s easy cause You’re perfect, and I'm working on my imperfectness to become a better me.

At the end my reflections of today, I whisper my all-time Spider man's mantra “with great power comes great responsibility.” At last, as we always cheer in matches, “Go-go-go, fight-fight-fight, win-win-win”, I would say that I have ‘No Regrets’ that everything happens for a reason to God’s will. My part is just to live like a butterfly that is to live my life according to my destiny, with the spirit of ‘Serviam: I Serve’. Fear not and forget not that I’m also fully granted for ‘Carpe Diem: to enjoy life at the fullest', as it always meant to be by Him to seize my day.

“After you, God.”